NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang di Antara Pohon

(Flashback – beberapa hari sebelum keluar Trick Tower)

Raito berlari di antara pepohonan tinggi yang batangnya seperti pilar katedral kuno. Kaki sudah terasa seperti terbakar, setiap langkah membuat tumitnya berdenyut sakit. Napasnya tersengal pendek-pendek, paru-paru terasa seperti diisap api. Di depannya, punggung Mira masih terlihat jelas—jaket kulitnya basah keringat, tapi langkahnya tetap stabil, seperti mesin yang tidak pernah kehabisan bahan bakar.

Hari kedua maraton fase pertama. Examiner Satotz masih berlari di paling depan, kecepatannya tidak pernah berubah, seperti robot yang diprogram untuk tidak pernah lelah. Di belakangnya, ratusan peserta semakin menipis. Beberapa sudah jatuh di pinggir jalan, meringkuk sambil memegang perut atau kaki yang kram. Yang lain berusaha bertahan dengan gigi terkatup, wajah pucat seperti mayat hidup.

Raito tidak tahu berapa kilometer yang sudah mereka tempuh. Matahari sudah naik tinggi, lalu condong ke barat lagi. Waktu terasa melar, seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya.

“Jangan berhenti!” bentak Mira dari depan tanpa menoleh. “Kalau kamu tertinggal dari rombongan examiner lebih dari 50 meter, kamu dianggap gagal. Dan di hutan ini, gagal berarti mati.”

Raito menggertak gigi. Dia ingat kata-kata Mira tadi pagi, saat mereka istirahat sebentar di bawah pohon besar:

“Fase pertama ini bukan cuma tes fisik. Ini tes ketahanan mental. Banyak peserta kuat fisik tapi mentalnya rapuh—mereka menyerah karena pikiran mereka bilang ‘cukup’. Kalau kamu bisa bilang ‘belum cukup’ sampai akhir, kamu lolos.”

Tapi sekarang, pikiran Raito mulai berbisik hal yang berlawanan.

Kamu bukan orang sini. Kamu nggak punya alasan ikut ujian gila ini. Pulang aja. Cari tempat aman. Istirahat. Kamu capek. Kamu sakit. Berhenti saja.

Dia menggeleng keras, mencoba mengusir suara itu. Tapi setiap kali kakinya tersandung akar pohon, suara itu semakin keras.

Tiba-tiba, dari semak di sebelah kanan, terdengar suara rintihan pelan. Raito melirik sekilas—seorang peserta pria paruh baya terduduk di tanah, tangan memegang betis yang berdarah. Ada luka robek panjang, mungkin karena duri beracun atau binatang kecil yang menggigit. Wajah pria itu pucat, keringat dingin mengalir deras.

Raito hampir berhenti. Instingnya bilang tolong orang itu.

Tapi Mira langsung menarik lengannya keras. “Jangan!”

“Ada orang terluka—”

“Kalau kamu berhenti sekarang, kamu nggak akan bisa mulai lagi. Dan dia sudah gagal. Kalau kamu bantu, kamu ikut gagal. Ini aturan tak tertulis di Hunter Exam: selamatkan diri dulu.”

Raito menatap pria itu lagi. Mata pria itu memohon, tapi tidak ada suara yang keluar—mungkin sudah terlalu lemah. Raito merasa perutnya mual.

Mira menariknya lebih kuat. “Ayo. Jangan lihat ke belakang.”

Mereka terus berlari. Rintihan pria itu semakin menjauh, lalu hilang ditelan suara angin dan daun bergesekan.

Raito merasa ada sesuatu yang retak di dalam dadanya. Bukan karena capek fisik, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba menekan seperti batu besar. Di dunia lamanya, dia bukan orang jahat. Dia pernah bantu tetangga angkat barang, pernah kasih makan kucing liar di gang belakang kafe. Tapi di sini… dia harus memilih diri sendiri atau orang lain mati.

“Kenapa dunia ini begini?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Mira mendengar. “Karena Hunter bukan profesi biasa. Hunter harus bisa bertahan di tempat yang tidak ada belas kasihan. Kalau kamu nggak bisa tinggalkan orang yang sudah gagal, kamu nggak akan bertahan di fase selanjutnya.”

Raito tidak menjawab. Dia hanya fokus ke depan, mencoba mengabaikan rasa sakit di kaki dan di hati.

Beberapa jam kemudian—atau mungkin hanya terasa begitu—mereka melewati sebuah sungai kecil. Airnya jernih, mengalir tenang di antara batu-batu licin. Beberapa peserta berhenti sejenak untuk minum, meski itu berisiko tertinggal.

Mira berhenti juga. “Minum cepat. Jangan banyak.”

Raito berlutut di tepi sungai, menciduk air dengan tangan gemetar. Air dingin menyentuh bibirnya, menyegarkan tenggorokan yang kering seperti pasir. Saat dia mengangkat kepala, dia melihat sesosok anak kecil di seberang sungai.

Gon.

Anak itu sedang jongkok, memandang ikan kecil di air dengan mata berbinar. Tongkat memancingnya disandarkan di batu, tapi dia tidak memancing—hanya menikmati pemandangan. Wajahnya cerah, seperti tidak ada maraton maut yang sedang berlangsung.

Gon menoleh ke arah Raito. Mata mereka bertemu sejenak.

Gon tersenyum lebar, melambai kecil. “Hei! Kamu masih kuat ya? Jangan menyerah!”

Raito terpaku. Senyum itu… terlalu tulus untuk situasi seperti ini. Seperti cahaya kecil di tengah hutan gelap.

Sebelum Raito bisa balas melambai, Gon sudah berdiri dan melanjutkan larinya—ringan, riang, seolah maraton ini cuma permainan.

Mira menepuk bahu Raito. “Jangan terlalu kagum. Anak itu abnormal. Tapi… mungkin dia yang paling kuat di antara kita semua.”

Raito mengangguk pelan. Dia berdiri, air menetes dari tangannya. Rasa bersalah tadi masih ada, tapi sekarang ada sesuatu yang lain—sedikit harapan. Kalau anak sekecil itu bisa bertahan dengan senyum, mungkin dia juga bisa.

Mereka melanjutkan lari.

Malam mulai turun saat rombongan examiner akhirnya berhenti di sebuah lapangan terbuka. Satotz berbalik, suaranya tetap datar.

“Fase pertama berakhir di sini. Selamat kepada yang masih berdiri.”

Raito jatuh berlutut di rumput. Tubuhnya gemetar hebat. Mira duduk di sampingnya, membuka botol air dan menyerahkannya tanpa kata.

Raito minum pelan. Matanya memandang ke langit yang mulai bertabur bintang.

Di kejauhan, dia melihat Gon duduk di batu, masih tersenyum sambil mengobrol dengan Killua yang baru saja menyusul. Killua kelihatan kesal, tapi tidak pergi.

Raito tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak terbangun di hutan ini.

“Mungkin… aku bisa bertahan sedikit lagi.”

Mira meliriknya. “Itu sudah cukup untuk hari ini.”

(Flashback berakhir – kembali ke masa kini, di kereta menuju Yorknew, setelah perampokan malam sebelumnya)

Raito membuka mata perlahan. Kereta masih bergoyang pelan. Cahaya pagi menyusup melalui jendela, menerangi wajah Mira yang sedang tidur di kursi seberang. Tas ranselnya dipeluk seperti bantal.

Raito memandang tangannya. Cahaya kecil yang kemarin menyilaukan perampok sudah hilang, tapi sensasinya masih terasa—hangat, ringan, seperti janji.

Dia ingat senyum Gon di tepi sungai. Ingat rintihan pria yang ditinggalkan. Ingat betapa dia hampir menyerah.

Tapi dia tidak menyerah.

Dan sekarang, di kereta ini, menuju kota yang asing, dia merasa ada sesuatu yang berubah.

Cahaya di dadanya bukan lagi hanya insting bertahan hidup.

Itu mulai terasa seperti… tujuan.

Raito menutup mata lagi, tapi kali ini bukan karena lelah—tapi karena dia ingin mengingat.

Meng ingat bahwa, meski dunia ini kejam, ada orang-orang seperti Gon yang masih bisa tersenyum.

Dan mungkin, suatu hari, dia juga bisa tersenyum seperti itu.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!