Kara seorang artis cantik yang mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam novel kebencian memerankan seorang wanita bernama Aleca seorang istri yang di nikahi suaminya karena sebuah dendam.
Dengan jiwa tangguh dan pengalaman hidupnya sebagai pabrik figur, dia mengubah takdir istri yang teraniaya itu dengan kekuatan baru.
Matanya yang dulu bercahaya kini membara, Dan suaranya yang dulu lembut kini tegas. Dia siap melawan suaminya yang menindasnya, dan mengambil kembali kendali kehidupan yang layak untuk sang istri yang lemah.
"Aku sudah siap bermain!” katanya dengan senyum dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Awal Lahirnya Kebencian 1
RENCANA JAHAT LUIZ
2 Minggu terlewati setelah kepergian Ema yang masih membekas di bena Aleca yang kini sudah berbalut cantik dengan gaun pengantin warna putih senada dengan kulitnya.
Aleca memandang cermin di depanya, air matanya mengalir pada saat kedua perias berusaha mengoleskan blash on pada wajahnya.
30 Menit lagi pernikahan nya akan berlangsung sementara dua perias wanita yang bertugas menghiasi calon pengantin yang ada di hadapan nya merasa kewalahan karena sang wanita yang di hias terus saja menangis menghapus sepoles demi poles hasil riasan dari mereka berdua.
Sang wanita perias satu dengan lembut berkata.
"Mbak, jangan nangis yah, nanti hiasan nya jadi luntur dan mbak tidak akan terlihat pangling jika di hadapan semua orang nanti nya"
Bahkan sekuat tenaga wanita itu ingin menghentikan laju tangis nya tapi entah kenapa, ia tidak bisa. Apa harus ia berbahagia atas pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.
Oh tuhan bagaimana ini rasanya ingin sekali ia kabur dari pernikahan yang seharus nya tidak pantas untuk nya ini, tapi ia tidak bisa.
Lalu wanita perias kedua berkata kepada teman nya.
"Tidak ada jalan lain kita harus memberi tahu Bu Widya tentang masalah ini, kemungkinan besar nBu Widya bisa menenangkan Mbak Aleca supaya tidak menangis lagi."
Wanita perias pertama pun mengangguk, lantas pergi meninggalkan temannya.
Tidak membutuhkan waktu lama Perias pertama telah membawa Bu Widya kedalam ruangan itu.
Wanita yang biasa di sapa Bu Widya itu pun duduk menghampiri Aleca yang tengah menangis, beruntung eyeliner dan maskara yang di pakaikan pada wajah Aleca anti air.
Tapi sebelum itu Bu Widya meminta agar kedua wanita itu untuk keluar dulu sementara.
"Aleca sayang, tante tau ini berat untuk kamu. Tapi kamu sendiri tau jika Ema sendiri yang menginginkan agar kamu menikah dengan Luiz, tolong Al menika lah agar Ema juga ikut bahagia di atas sana, ini demi Ema sahabat kamu ALeca" Bu Widya berucap dengan mata berkaca
"Tante aku benar-benar gelisa bagaimana pun Ema adalah sahabat sejati ku,mana mungkin aku mengkhianati nya dengan menikahi kekasih nya Luiz hiks, andai hari itu aku saja yang mati dan bukan Ema mungkin Ema bisa bahagia menyambut Pernikahannya."
Sekuat apapun seseorang manahan air mata maka ujung-ujung air mata akan deras waktu nya.Bu Widya juga ikut menangis.
"Tolong, tante mohon kamu jangan bicara seperti itu Aleca, kematian Ema itu adalah sebuah takdir tolong jangan ungkit lagi nak. Kamu juga anak tante, tante sudah anggap kamu sebagai anak Tante.kamu tau Nak Luiz itu adalah pria yang baik, mapan, dan bertanggung jawab dia juga pasti akan menyangin kamu sama seperti ia menyangin Ema kamu percaya kan omongan Tante."
Bu Widya mengusap air matanya dan juga air mata di wajah ."Baiklah tante aku akan melaksanakan pernikahan ini, aku juga tidak ingin jika Ema merasa bersedih, aku janji aku akan menyayangi dan juga menghormati Luiz sebagai calon suami ku"Ujar ALeca dengan senyuman tipis.
"Wajah mu sangat cantik dan berkilau saat di rias walau tanpa di Rias pun kamu juga tetap terlihat cantik. Tapi Aleca sayang, ini adalah hari pernikahan kamu, hari bahagia kamu jadi tolong jangan hapus make up mu lagi dengan air mata yah, kan kasian sih mbak-mbak yang rias wajah kamu."
*
*
*
*
*
Di ruangan lain juga terlihat seorang pria tinggi yang sudah lengkap dengan pakaian pengantin pria. Pria tampan tersebut menatap kaca jendela dengan pikiran kosong dia adalah Luiz calon suami Aleca.
Luiz yang terbilang seorang pria yang ceria awalnya, namun semenjak kematian Ema kekasihnya kehidupan nya menjadi berubah, sudah hampir dua minggu ini ia hanya diam dan tidak banyak bicara. Dari tatapan tajam itu terlihat kedua tangan nya saling mengepal, ia seperti menahan sebuah amarah. Tapi dapat di tebak jika pria tinggi bertubuh kekar itu sedang menyimpan sebuah rencana entah itu apa, yang jelas ini akan terkait dengan pernikahan ini.
Seorang pria tinggi berjas serba hitam pun menghampiri Luiz dia adalah Bima asisten Luiz di perusahaan.
"Pak tugas saya datang kemari adalah untuk memanggil mu agar turun ke bawah aula pernikahan, pendeta dan para tamu sedang menunggu kehadiran mu" kata Bima sembari membungkuk hormat.
Luiz membalikan tubuhnya menghadap Bima"Jangan terlalu formal jika tidak ada orang lain di antara kita Bima!" Cetus Luiz.
Bima membuang tawa.“ aku hampir lupa, tapi aku berkata benar Lu kamu harus turun kebawah. Berbahagia lah pernikahan mu akan segera di mulai."
"Chiih aku tidak berharap akan berbahagia dengan pernikahan ini, kepergian Ema masih membekas di hati bahkan aku masih berduka karena kehilangan wanita yang aku cintai"
“Percaya lah Aleca pasti bisa menggantikan posisi Ema di hati mu bahkan seperti nya Aleca itu wanita yang baik dia juga cantik sama seperti Ema. Yah walau aku dan kamu baru mengenal ALeca belum sampai sebulan." Kata Bima memuji ALeca.
seketika itu Luiz geram langsung menarik kerah kemeja Bima, tatapan nya kian tajam nan menusuk. la tidak suka jika Bima membanding-banding kan Ema dan Aleca.
"Ema dan Aleca itu berbeda!, aku mencintai Ema dan aku tidak mencintai ALeca, Aku bisa bahagia dengan Ema dan jangan bermimpi jika pernikahan ku dengan Aleca akan tumbuh bahagia, setitik pun tidak akan ku beri cinta serta posisi Ema untuk wanita yang telah membuat Ema tiada!"
“Ets Ok aku paham. Maaf aku salah bicara, aku tidak menyangka jika ini akan menyinggung mu teman." Ucap Bima seraya menjauhkan tangan Luiz yang berada di kerah baju nya.
Bima kembali merapi kan baju nya, sementara Luiz sudah turun kebawah tanpa dampingi oleh dirinya. Bima berdiam diri di tempat tidak menyusul Luiz.
"aku merasa jika Aleca akan tersiksa selama menjadi istri Luiz entah apa yang akan pria itu lakukan kepada Aleca nanti nya, tapi sebelum itu aku juga kasian terhadap Aleca coba aja dia tau jika sikap Luiz asli nya memang seperti itu dingin, egois, keras kepala, pemarah ah sudah lah lebih baik aku berdoa saja agar semua nya baik-baik saja." Ucap Bima dalam hati.
smgt nulisnya di tunggu selalu up ny