NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 – Kiamat dan Kesempatan kedua

Adalah tahun kelima sejak kiamat melanda dunia. Monster dan iblis dari ras lain jatuh ke bumi, menghancurkan peradaban manusia, dan menguasai seluruh permukaan bumi. Setengah dari manusia telah musnah. Sepertiga yang tersisa hidup di dalam bunker-bunker canggih yang dirancang untuk bertahan di hari kiamat—tentu saja dengan biaya yang sangat mahal. Sisanya bertahan di permukaan bumi yang gelap, dipenuhi monster dan kegelapan yang mencekam.

Namun, di antara manusia yang tersisa, beberapa orang berhasil membangkitkan kekuatan luar biasa. Mereka dikenal sebagai superhuman, manusia yang mampu melawan monster dengan kekuatan yang melampaui manusia biasa.

Di sebuah lorong yang remang di permukaan bumi, beberapa superhuman tengah berjuang mati-matian melawan monster raksasa bertentakel, mirip gurita dengan enam kepala. Tubuhnya besar, setiap tentakel bergerak lincah, siap mencabik siapa pun yang berada di dekatnya. Kelompok itu nyaris hancur. Sisa mereka tinggal dua orang: kakak-adik, Rey dan Sila.

“Bertahan, Sila!! Tolong bertahan! Sebentar lagi… regu penyelamat pasti datang!” teriak Rey, matanya membara dan tangan gemetar.

“Rey… tidak ada regu penyelamat lagi. Hanya kita yang tersisa…” ujar Sila lemah. Tangannya mulai dingin, wajahnya pucat, darah segar terus mengalir dari perutnya yang robek.

“Tidak, Sila… mereka akan datang! Jadi bertahanlah!” Rey mencoba meyakinkan dirinya sendiri seiring lirih suaranya terdengar. Namun tetap tidak ada yang datang.

Sila menghembuskan napas terakhirnya, tubuhnya jatuh tanpa daya. Rey terdiam, tangan gemetar, menatap adiknya yang sudah tak bernyawa. Dunia seakan runtuh untuk kedua kalinya bagi Rey—pertama ketika orangtuanya meninggal, sekarang ketika Sila pergi. Ia menyerah dan kehilangan alasan untuk terus hidup.

Dalam keheningan itu, punggung Rey tertusuk tentakel monster yang selama ini mengamatinya. Darah mengalir deras, ia muntah darah, pandangannya mulai kabur, dan kesadarannya perlahan menghilang.

“Ah… seandainya aku hidup kembali… aku pasti akan berlatih lebih keras agar bisa melindungimu…” bisiknya, penuh penyesalan.

Sejak kiamat tiba, Sila telah membangkitkan kekuatan tempur tipe listrik, salah satu dari sepuluh superhuman elit. Sementara Rey memiliki kekuatan pertahanan berupa tameng, yang dapat menangkis serangan dalam radius sepuluh meter. Namun kali ini, kekuatannya tak cukup untuk menyelamatkan adiknya.

Ketika Rey terkapar di tanah, dunia seakan menghilang dari pandangannya. Gelap, dingin, dan sunyi. Namun kemudian, suara lembut membangunkannya.

“Kak… kakak, cepat bangun! Nanti kita telat!”

Rey membuka mata. Matanya menatap langit-langit kamar yang familiar. Ia kaget—ini adalah kamarnya sebelum rumah mereka dihancurkan monster. Tanggal di handphone menunjukkan satu minggu sebelum kiamat dimulai. Rey tersentak.

“Ternyata aku… terlahir kembali…” gumamnya. “Aku kembali ke satu minggu sebelum bencana ini terjadi.”

“Haloooo, kak!!” suara itu terdengar lagi. Rey mengintip ke pintu dan melihat Sila kecil berdiri, membawa sendok penggorengan.

“Kak, cepat bangun biar kita sarapan,” ajak Sila dengan riang.

Rey menahan napas, jantungnya berdegup kencang, dan ia segera memeluk adiknya.

“Kak… lagi ngapain sih, Kakak?” protes Sila sambil melepaskan dekapan.

“Ok… kakak segera menyusul ke meja makan, kakak siap-siap dulu,” jawabnya dengan suara parau, penuh haru dan kerinduan.

Sila menatap kakaknya dengan curiga. “Hemm… dirasuki apa sih dia?” batinnya.

“Kakak bahagia karena melihat wajahmu,” jawab Rey tersenyum riang.

“Ah… nggak jelas banget deh kakak. Sudah, cepat ganti baju, nanti makanannya dingin,” kata Sila sambil kembali ke dapur.

Rey menarik napas panjang, bertekad: Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya dengan baik kali ini. Aku tidak akan kehilanganmu lagi, Sila.

Tak lama kemudian, Rey keluar menuju dapur. Sila sudah duduk menunggunya, dengan sarapan sederhana di atas meja: ikan goreng, tumisan sayur, dan dua piring nasi. Kedua orangtua mereka telah meninggal akibat kecelakaan pesawat. Sila masih duduk di bangku SMP, sementara Rey berusia 23 tahun dan bekerja di perusahaan konstruksi.

“Kak, Sila berangkat sekolah dulu ya,” kata Sila sambil merapikan piring dan gelas.

“Ok, hati-hati,” jawab Rey, masih menikmati sarapannya.

Baiklah… pikir Rey. Hal pertama yang harus kulakukan adalah mengumpulkan persediaan makanan. Setelah kiamat, manusia akan terpaksa memakan daging monster—pahit, bau, menjijikkan. Sayuran pun tak lagi ada, air tawar tercemar racun monster, dan air laut harus diproses agar bisa diminum, meski masih terasa asin.

“Tapi… bagaimana caraku menyimpan semua persediaan itu?” Rey tampak bingung, berpikir keras.

Tring… tring! Sebuah layar muncul di depannya.

“Haa… layar ini? Seharusnya baru muncul saat kiamat… kenapa sekarang?” Rey terkejut. Ia meneliti layar itu lebih teliti.

“Ehh… tunggu, ini berbeda… lebih mirip pintu?” batinnya ragu.

Ia menyentuh layar itu. Pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan ruang dimensi—berbeda dari yang pernah ia lihat. Biasanya ruang dimensi berupa ruangan tertutup, ada yang seukuran lapangan sepak bola. Tapi ruang ini lebih mirip dunia lain: padang rumput luas, sungai mengalir, bukit hijau, dan udara segar yang menenangkan.

Rey mendekat ke sungai, meminum airnya. “Segar sekali!” Ia merasakan tubuhnya lebih ringan.

Tring… layar muncul lagi. “Daya tahanku naik 10 poin dari 0!” pikir Rey. Kekuatan lain seperti kecepatan dan kemampuan tempur masih 0 poin, tapi setidaknya Ruang Dimensi ini memberinya peluang untuk mempersiapkan diri sebelum kiamat benar-benar terjadi.

Rey tersenyum tipis. Ia tahu, ini adalah kesempatan keduanya. Kali ini, ia akan melindungi Sila, membangun kekuatan, dan menghadapi kiamat dengan strategi yang matang.

Rey keluar dari ruang dimensinya, duduk di pinggir jendela.

Rey melihat keluar jendela, menatap ke langit dan menyadari satu hal: meski dunia saat ini terasa damai, ancaman tak pernah jauh. Monster bisa muncul kapan saja, dan manusia biasa pun akan mulai putus asa.

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!