"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Sanzio menyilangkan kakinya dan menutup buku di tangannya. Dia menatap Seana dengan kilatan penuh amarah di matanya, membuat Seana menundukkan kepalanya. Seana hampir tidak bisa bernapas di hadapannya. Semuanya sudah berakhir. Seana menyadari bahwa dirinya mungkin sudah memprovokasi kemarahan Sanzio. Kemarahan pria itu saja susah lebih cukup untuk mengguncang seluruh kota.
Tepat ketika Seana ingin meminta maaf atas ketidaksopanannya, Sanzio lebih dulu buka suara. "Kamu berani mengancam saya?."
"Ng-nggak kok, Pak. B-buka gitu maksud saya." Jawabnya dengan tergesa-gesa. Seana tidak bisa mengancam pria yang menjadi atasannya, tetapi dia juga tidak ingin kehilangan jati dirinya.
Sikapnya yang penurut, membuat Sanzio menyeringai. "Benarkah?."
'Menarik. Apa Seana mencoba jual mahal? Kayaknya ngga mungkin! Dia gadis yang pemalu dan ngga mungkin mencoba hal semacam itu.' Batin Sanzio. Dengan melihat betapa takutnya Seana, itu menegaskan bahwa Seana bukan wanita dari malam itu.
Pembersihan menyeluruh terhadap lingkaran sosialnya perlu dilakukan! Tetapi sepertinya dia telah meremehkan asistennya. Beraninya wanita itu bernegosiasi dengannya?.
Telapak tangan Seana berkeringat setiap kali dia merasa gugup, dan tidak berani buka suara.
Sanzio memutuskan untuk berhenti membuat Seana ketakutan, setelah melihat waktu dijam tangannya. "Sudah malam, waktunya istirahat."
Seana menarik napasnya dalam-dalam. "Mengenai kebutuhan fisik--"
Tatapan tajam dari mata Sanzio membuat Seana terdiam karena ketakutan. "Kamar kedua di sebelah kirimu."
Seana tahu itu kamar tamu, tetapi rasa cemasnya tidak berkurang. Melihat kotak k0nd0m tergeletak diatas meja, membuat jantung Seana berdebar tak karuan. Tanpa tahu apa maksud Sanzio dan tanpa keberanian untuk bertanya, Seana berlari masuk ke kamar dan segera menutup pintu. Suara pintu dikunci terdengar setelah itu, menandakan bahwa Seana telah mengunci pintu kamar.
Sanzio terkejut saat menatap pintu yang tertutup rapat. "Dia kenapa? Apa dia mencoba melarikan diri dari binatang buas?." Monolog Sanzio. Memikirkan betapa penakutnya Seana membuat senyum tipis muncul diwajah Sanzio, pemandangan langka yang jarang terlihat.
Velia mengirim pesan singkat pada Seana, tepat ketika Seana sudah masuk ke kamar tamu. Velia telah belajar dari kesalahannya setelah kejadian terakhir, dimana dia mengirim pesan dan Sanzio yang membaca pesan tersebut. Kini Velia lebih berhati-hati dengan apa yang dia ketik dalam pesan-pesannya.
[Velia: Seana?].
[Seana: Iya].
[Velia: Lo sekarang baik-baik aja, kan?].
Velia sejak tadi tidak berhenti memikirkan Sanzio yang mungkin menyiksa Seana. Velia sudah lama bekerja diperusahaan Sanzio dan mengenal pria itu dengan baik. Seana akan hancur jika hal ini di teruskan.
[Seana: Aku hampir mati karena ketakutan!]
Velia akhirnya bisa memastikan bahwa ponsel Seana memang ada di tangannya. Kekhawatirannya sangat terasa bahkan melalui layar.
[Velia: Lo harus bisa bertahan]. Sejujurnya, Velia tidak kalah takutnya ketika mengetahui bahwa Sanzio tiba tiba menjemput Seana dan membawanya ke penthouse nya.
Seana adalah wanita yang berpikiran sederhana. Kemungkinan besar dia akan menyerah dibawah tekanan hanya dengan satu kata dari Sanzio dan langsung mengakui yang sebenarnya. Velia takut jika sahabatnya itu akan melibatkan dirinya dan otomatis itu juga akan menyeret bisnis keluarganya.
[Seana: Iya, aku tau]
[Velia: Ngga, lo ngga tau. Betapa seriusnya masalah ini, Seana. Gue khawatir banget!].
[Seana: Kamu tenang aja. Dan cukup percaya sama aku]
Bagaimana mungkin Seana tidak tahu konsekuensinya melawan iblis seperti Sanzio? Seana tidak hanya harus menutupi apa yang terjadi malam itu, tetapi dia juga harus lebih berhati-hati sekarang karena mereka tinggal dibawah satu atap yang sama. Jika ini terus berlanjut, kewarasan Seana mungkin akan hancur berantakan!
Meskipun Seana berbicara dengan tegas, Velia tetap meragukannya.
[Velia: Inget ya jangan sebutin apa pun tentang kejadian dimalam itu. Bahkan kalau lo secara ngga sengaja menyinggung Pak Zio. Hindari dia sebisa lo!]
Singkatnya, Seana tidak boleh berlama-lama membahas topik tentang apa yang terjadi dimalam itu. Seana seperti kelinci yang terperangkap, dijerat oleh harimau yang licik. Satu-satunya jalan keluar adalah mencari celah agar lolos dari jebakannya!