Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Sabtu, 17 Mei Pukul 14.45 WIB
Jalur Linggarjati, Ketinggian ±2.200 mdpl
Di ketinggian ini, udara sudah berbeda. Lebih tipis, lebih dingin, dengan kelembaban yang menempel di kulit seperti lapisan tak kasat mata. Napas mereka keluar dalam kepulan kecil yang langsung lenyap ditelan angin.
Fajar sudah mengeluarkan drone-nya.
“Ini dia, guys. Saat yang kalian tunggu-tunggu.” Suaranya sedikit mengi karena ketinggian, tapi semangatnya tak berkurang seinci pun. “Footage aerial dari ketinggian dua ribu dua ratus meter. Kalian bakal lihat hamparan hutan Ciremai dari atas. Ini footage yang nggak semua orang punya.”
Drone itu lepas landas dengan suara berdengung halus. Naik, naik, naik menembus celah kanopi, menghilang ke atas.
Di layar controller, gambar yang muncul memang luar biasa. Hamparan hijau pekat hutan lindung yang tak terputus sampai ke cakrawala. Punggungan gunung yang melengkung seperti tulang punggung raksasa yang sedang tidur. Dan di kejauhan, tipis tapi nyata kota-kota kecil di dataran rendah yang dari ketinggian ini terlihat seperti genangan air bercahaya.
Bagas harus mengakui: hasilnya memang bagus.
Tapi Bagas juga melihat hal lain di layar itu.
Di pojok kanan atas controller, ada indikator kecil. Dua garis melengkung yang artinya: kecepatan angin terdeteksi tinggi.
“Jar,” kata Bagas pelan, mendekati Fajar. “Liat indikatornya.”
“Gue tau.” Fajar tak mengalihkan mata dari layar. Jari-jarinya bergerak di stick controller, mengarahkan drone ke angle yang lebih dramatik. “Masih dalam batas toleransi.”
“Di batas toleransi sama dalam batas toleransi itu beda—”
“Gas.” Fajar memalingkan muka sebentar, senyum cepat. “Lima menit lagi. Gue cuma butuh lima menit buat dapetin footage yang gue mau. Terus kita langsung turun. Janji.”
Lima menit berlalu. Menjadi sepuluh. Menjadi lima belas.
Dimas duduk di batu besar, memperhatikan langit di atas dengan ekspresi semakin tidak nyaman. Awan yang tadi masih jauh di barat sudah bergerak dengan kecepatan tidak wajar. Warnanya berubah dari putih ke abu-abu, dari abu-abu ke abu-abu gelap yang keunguan di bagian bawahnya.
“Fajar,” panggilnya. Kali ini nadanya berbeda. Tidak ada tanda tanya di akhir. “Kita harus turun sekarang.”
“Sebentar, angle ini hampir”
“FAJAR.” Suara Dimas naik oktaf dengan cara yang hampir tak pernah terjadi. “Lihat langit. Sekarang.”
Fajar akhirnya mendongak.
Langit yang tadi masih terang sudah berganti dalam waktu yang terasa terlalu cepat. Kabut turun dari arah puncak bukan bergerak seperti awan biasa yang melayang pelan, tapi mengalir, seperti air yang dituang dari tepi tebing. Tebal, berat, putih keabu-abuan yang menelan pohon-pohon di atas mereka satu per satu.
Dan angin yang tadi terasa hembusan biasa sudah berubah menjadi desiran yang berbunyi.
“Oke, gue tarik drone” Fajar mulai menarik stick controller, mengarahkan drone kembali turun.
Tapi angin tidak menunggu.
Satu embusan kencang bukan gradual, tapi tiba-tiba, seperti sesuatu yang sudah menunggu momen lengah menghampar drone yang sedang dalam proses turun. Di layar controller, gambar berputar tiga kali, empat kali, dengan kecepatan yang membuat perut Fajar seperti ikut berputar. Obstacle avoidance berbunyi bip bip bip bip alarm yang artinya sistem sedang kewalahan.
“FAJAR TARIK MANUALNYA!” teriak Bagas.
Fajar sudah menekan semua yang bisa ditekan. Stick-nya bergerak panik, mencoba mengimbangi perputaran drone yang semakin tidak terkendali. Di layar, gambar menunjukkan kanopi pohon semakin dekat, semakin dekat
KRSSHK.
Sinyal di layar controller putus.
Layar hitam.
Fajar mematung. Controller masih di tangannya. Jari-jarinya tak bergerak.
Hening.
Angin masih berdesis.
“Fajar.” Suara Dimas pelan. Sangat pelan.
Tidak ada jawaban.
Drone seharga empat belas juta itu yang belum lunas, yang baru dimiliki dua minggu, yang sudah dia posting unboxing-nya dengan 400 ribu views hilang entah di mana dalam belantara hutan di bawah mereka. Mungkin jatuh ke dalam jurang. Mungkin tersangkut di pohon seratus meter dari sini. Mungkin hancur di bebatuan.
Mungkin.
“Udah, Jar.” Bagas meletakkan tangan di bahu Fajar. “Ikhlasin. Kita turun sekarang. Sebelum kabut-nya makin”
Fajar melepas tangan Bagas.
“Gue cari dulu.”
Bagas dan Dimas menatapnya bersamaan. “Apa?”
“Gue cari dulu.” Fajar sudah memasukkan controller ke saku dan mulai melihat ke arah bawah kanan arah terakhir drone terlihat di layar sebelum sinyal putus. “Drone-nya masih bisa diselamatkan. Mungkin cuma jatuh di balik pohon itu. Tinggal turun dikit, cari, selesai.”
“Jar.” Dimas berdiri, suaranya hati-hati seperti mendekati orang di tepi jurang. “Kabut udah turun. Lo nggak tau medan di sana. Lo nggak bisa”
“Gue tau jalur ini.”
“Lo nggak pernah lewat jalur ini sebelumnya.”
“Gue baca peta-nya kemarin.”
“‘BACA PETA KEMARIN’??” Bagas mengangkat suara, frustrasi yang sudah ditahan sejak pagi akhirnya meledak kecil tapi nyata. “Fajar, ini bukan game. Ini hutan. Kabut di sini bisa bikin lo nggak bisa lihat tangan lo sendiri. Lo mau nyari drone di dalam itu?”
Fajar menatap dua temannya bergantian. Di wajahnya ada perang yang sangat jelas antara yang dia tahu harus dilakukan dan apa yang tak bisa dia terima.
Empat belas juta. Belum lunas. Cicilan yang akan terus jalan meski barangnya sudah tidak ada.
“Gue nggak bisa ikhlasin begitu aja,” katanya akhirnya. Suaranya pertama kalinya hari ini tanpa energi dipaksakan. “Itu tabungan gue dua tahun, Gas. Buat DP-nya aja dua tahun.”
“Gue tau.” Bagas mendekat, kali ini lebih pelan. “Dan gue ikut sedih. Serius. Tapi Fajar nyawa lo lebih dari empat belas juta. Dan kalau lo masuk ke sana sekarang, dalam kabut yang lagi turun cepet begini”
“Sebentar aja. Gue cek radius dua puluh meter dari sini. Kalau nggak ketemu, gue balik.”
Dimas menarik napas panjang. “Gue ikut.”
“Nggak perlu”
“Justru perlu.” Dimas sudah berdiri. “Karena kalau gue biarin lo masuk sendirian dan lo nggak balik dalam sepuluh menit, gue yang nggak bisa ikhlasin itu seumur hidup.”
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪