NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Malam yang Harus Diubah

...— ✦ —...

Taman belakang keluarga Valerine lebih indah dari yang pernah Kirana bayangkan.

Ia menuliskannya dalam novel sebagai "taman luas dengan pepohonan tinggi dan kolam kecil di sudut selatan" — deskripsi yang terasa cukup saat diketik, tapi kini, berdiri di antara pohon-pohon yang nyata dengan angin nyata menyentuh kulitnya, Kirana menyadari betapa miskinnya kata-kata itu. Ada bau tanah setelah hujan semalam. Ada suara gemerisik daun yang tidak bisa ia transkripkan ke dalam kalimat apapun. Ada kehidupan di sini yang tidak pernah bisa ia tangkap sepenuhnya di atas halaman putih.

Amethysta berjalan dua langkah di depannya.

Gadis kecil itu masih berhati-hati — Kirana bisa melihatnya dari cara ia sesekali menoleh ke belakang, memeriksa, memastikan bahwa ekspresi "Mama" masih aman untuk didekati. Seperti seekor rusa kecil yang belum memutuskan apakah akan lari atau tinggal.

"Itu pohon pir," kata Amethysta tiba-tiba, menunjuk ke arah pohon besar di pojok kanan. Suaranya masih pelan, tapi setidaknya ia mau berbicara. "Buahnya biasanya matang bulan depan. Pak Ridwan yang merawatnya."

"Pak Ridwan?"

"Tukang kebun. Dia baik." Amethysta menggantung sejenak. "Dia selalu menyimpankan buah pir untukku kalau Mama… kalau Mama sedang tidak di rumah."

Kalimat itu menghantam Kirana tepat di ulu hati. *Kalau Mama sedang tidak di rumah.* Karena ketika sang ibu ada, rupanya, tidak ada ruang untuk hal-hal kecil yang menyenangkan. Tidak ada buah pir. Tidak ada kebaikan sederhana.

"Kalau begitu," kata Kirana pelan, "mulai sekarang Pak Ridwan tidak perlu menyembunyikannya lagi."

Amethysta berhenti berjalan. Ia berbalik, menatap Kirana dengan bola mata ungu yang sulit dibaca — terlalu banyak emosi berlapis di dalamnya untuk seorang anak berusia tujuh tahun.

"Mama bilang apa?"

"Buah pir itu untukmu. Kamu tidak perlu menunggu aku pergi untuk memakannya."

Gadis kecil itu tidak menjawab. Ia hanya menatap, lama sekali, lalu berbalik lagi dan melanjutkan jalannya. Tapi Kirana melihat — ia melihat dengan sangat jelas — bagaimana bahu kecil itu perlahan turun dari posisi tegangnya. Sedikit. Hanya sedikit. Tapi itu sesuatu.

Kirana menghela napas diam-diam dan mengikutinya.

Waktu terus berjalan, dan sementara Amethysta asyik menunjukkan sudut-sudut taman yang ia sukai — batu besar yang ia gunakan sebagai tempat duduk, tanaman lavender yang katanya "baunya seperti tidur siang yang enak", jalur sempit di antara pagar tanaman yang hanya cukup dilewati seorang anak — Kirana sibuk memetakan skenario dalam kepalanya.

Malam ini adalah malam pertama dalam garis waktu yang ia ingat. Dalam novelnya, malam ini adalah ketika Gwyneth — setelah menerima kabar bahwa seorang rekan bisnis Xavier akan datang esok pagi untuk memeriksa "kondisi keluarga" sebagai syarat perjanjian bisnis besar — mengamuk. Bukan amarah biasa. Amarah yang dingin dan terarah, yang dilampiaskan kepada satu-satunya target yang tidak bisa melawan: putrinya sendiri.

Amethysta malam itu, dalam tulisan Kirana, masuk ke kamarnya dengan sebuah memar baru.

Hanya dengan mengingatnya, perut Kirana terasa mual.

*Itu tidak akan terjadi,* tegasnya dalam hati. *Tidak malam ini. Tidak selama aku yang ada di sini.*

"Kak Seren!" teriak Amethysta tiba-tiba, berlari ke arah seorang wanita muda yang keluar dari pintu samping rumah. "Kak Seren, lihat — Mama ikut ke taman!"

Wanita muda itu — sekitar dua puluh lima tahun, rambut cokelat dikuncir rapi, seragam pengasuh yang bersih — langsung memasang ekspresi waspada saat matanya bertemu dengan Kirana. Naluri profesional yang sudah terlatih lama: di sekitar Gwyneth Valerine, selalu waspada.

"Selamat pagi, Nyonya Valerine," sapanya dengan nada netral. Tidak terlalu hangat, tidak terlalu dingin. Nada yang aman.

Kirana mengingat-ingat. Seren — pengasuh Amethysta yang ia ciptakan sebagai karakter latar, wanita yang diam-diam melindungi Amethysta semampu yang ia bisa, yang sering menjadi saksi bisu dari kejadian-kejadian yang tidak seharusnya dilihatnya.

"Selamat pagi," balas Kirana. Ia melihat alis Seren naik tipis — mungkin karena jarang mendapat balasan yang sopan. "Amethysta menunjukkan tamannya padaku."

"Oh." Seren melirik ke arah Amethysta, lalu kembali ke Kirana. "Baik, Nyonya."

"Seren," kata Kirana, "malam ini tolong pastikan Amethysta sudah di kamarnya sebelum jam delapan. Kunci pintunya dari dalam. Apa pun yang terjadi di luar, jangan keluar sebelum aku yang datang menjemput."

Keheningan.

Seren menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Kirana artikan sepenuhnya — campuran terkejut, curiga, dan sesuatu yang mungkin adalah harapan yang belum berani menampakkan dirinya sepenuhnya.

"Mengerti, Nyonya," jawabnya akhirnya, pelan.

Amethysta yang berdiri di antara mereka menatap Kirana dengan bola mata ungunya yang besar. Ia tidak bertanya apa-apa. Tapi Kirana bisa melihat roda-roda kecil berputar di balik mata itu — memproses, menimbang, mencoba memahami sesuatu yang tidak sesuai dengan pola yang sudah ia pelajari tentang ibunya.

*Baik, Amethysta,* batin Kirana. *Ambil waktumu. Kamu tidak harus mempercayaiku hari ini. Atau besok. Tapi aku tidak akan pergi kemana-mana, dan aku tidak akan menjadi monster yang kamu kenal.*

✦  ✦  ✦

Sore hari membawa surat.

Seorang asisten membawanya ke ruang kerja — ruangan yang penuh buku tebal dan dokumen berserakan, tempat yang rupanya sering Gwyneth gunakan. Kirana membuka surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Seperti yang ia ingat dari plotnya: pemberitahuan kunjungan dari Direktur Hansel, rekan bisnis Xavier, yang akan datang esok pagi untuk "pertemuan informal keluarga."

Dalam novel, surat ini adalah pemicu. Gwyneth yang selalu mengutamakan citra sempurna, yang panik dengan kunjungan mendadak ini, yang melampiaskan ketegangan dan kemarahannya dengan cara yang paling merusak.

Kirana meletakkan surat itu di meja.

Ia duduk di kursi besar kulit yang terasa terlalu luas untuk tubuhnya — atau mungkin tubuh Gwyneth yang terasa terlalu luas untuk jiwanya. Ia menatap langit-langit ruangan, mencoba berpikir jernih.

Kunjungan Direktur Hansel besok bisa menjadi peluang, bukan ancaman. Xavier pulang lusa. Artinya ia punya waktu untuk membangun fondasi — untuk setidaknya mulai memperlihatkan bahwa ada perubahan, sekecil apa pun, sebelum sang suami tiba dengan segala ekspektasi dan kebiasaan lamanya.

Tapi malam ini adalah ujian pertama.

Karena dalam plot yang ia tulis, malam ini adalah malam di mana segalanya pecah.

Kirana menarik napas panjang. Ia membuka laci meja, menemukan kertas kosong dan pena, dan mulai menulis — bukan fiksi kali ini, tapi daftar nyata. Daftar apa yang harus dilakukan. Apa yang harus dihindari. Siapa yang harus dilindungi.

Nama pertama di daftar itu sudah jelas.

*Amethysta.*

✦  ✦  ✦

Malam datang dengan pelan.

Kirana makan malam sendirian di ruang makan besar yang terasa terlalu luas untuk satu orang. Seren sudah membawa Amethysta ke kamarnya sejam yang lalu — gadis kecil itu, kata Seren dengan nada yang sedikit tidak percaya, "tidak protes sama sekali, Nyonya."

Kirana tidak menjawab. Ia hanya mengangguk.

Pukul delapan malam, telepon berdering.

Ia mengangkatnya. Suara di seberang adalah suara yang ia kenali dari tulisannya sendiri — suara Direktur Hansel, berat dan bisnis, mengkonfirmasi kunjungan besok pagi pukul sepuluh. Menanyakan apakah semuanya baik-baik saja di rumah.

"Semuanya baik," jawab Kirana dengan suara Gwyneth yang dingin itu. "Kami menantikan kunjungan Direktur."

Setelah menutup telepon, ia berdiri di tengah ruang kerja yang sunyi dan membiarkan dirinya merasakan sepenuhnya keanehan situasi ini. Ia — Kirana Seo, gadis tiga puluh tahun yang hidup dari nulis novel dengan bayaran tidak menentu, yang makan mi instan tiga kali seminggu, yang terakhir kali keluar rumah untuk bersosialisasi adalah... ia sudah tidak ingat kapan — kini berdiri di dalam tubuh seorang wanita kaya raya, dalam rumah mewah yang ia ciptakan, menghadapi plot yang ia tulis sendiri.

Lucu, kalau tidak terlalu menakutkan.

Ia berjalan ke atas, melewati lorong yang panjang, berhenti sejenak di depan pintu kamar Amethysta. Dari balik pintu, tidak ada suara. Hening. Mungkin sudah tidur, atau mungkin hanya diam, seperti yang sering dilakukan anak-anak yang belajar bahwa diam adalah cara paling aman untuk bertahan.

Kirana mengangkat tangannya, hampir mengetuk, lalu menurunkannya lagi.

*Belum waktunya,* pikirnya. *Satu langkah dulu. Malam ini cukup sudah — tidak ada yang terluka malam ini. Itu sudah lebih dari cukup untuk hari pertama.*

Ia melanjutkan langkahnya ke kamarnya sendiri.

Berbaring di atas ranjang yang terlalu mewah untuk ukuran kenyamanannya, menatap langit-langit putih yang sama dengan yang ia lihat pertama kali membuka mata pagi ini, Kirana Seo membuat janji pada dirinya sendiri.

Xavier akan pulang dua hari lagi. Direktur Hansel akan datang besok pagi. Amethysta tidur aman malam ini, pintu terkunci, Seren berjaga.

Dan malam yang dalam novel seharusnya menjadi malam tergelap dalam hidup Amethysta kecil — malam itu telah berlalu tanpa insiden.

Satu titik alur telah berubah.

Kirana menutup matanya. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dalam tubuh ini, ia merasa napasnya sedikit lebih longgar.

*Besok,* pikirnya saat kantuk mulai menariknya. *Besok kita hadapi Direktur Hansel, dan kita lihat bagaimana aku bisa memainkan peran ini tanpa menghancurkan segalanya.*

*Dan besok malam — mungkin — aku akan mengetuk pintu kamarnya.*

Mata ungu itu masih membayangi pikirannya saat ia akhirnya tertidur — mata yang masih penuh ketakutan, tapi di sudutnya, mungkin, ada satu kilatan kecil dari sesuatu yang lain.

Sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang belum berani menamakan dirinya.

Tapi Kirana sudah cukup lama menulis cerita untuk tahu: bahkan harapan yang paling kecil pun, jika dijaga dengan cukup hati-hati, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang nyata.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!