NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

BAB 13

PERTAHANAN YANG TAK TERLIHAT

​Sisa malam setelah keributan di aula gala terasa seperti medan perang yang baru saja dijatuhi bom. Adrian tidak membiarkan Aisha pulang dengan taksi begitu saja. Meski Aisha menolak, Adrian menggunakan otoritasnya sebagai CEO untuk memerintahkan supir pribadinya membawa mobil ke lobi depan.

​Namun, di lorong VIP yang sepi menuju lift pribadi, Bianca rupanya belum benar-benar pergi. Ia berdiri menyandar di dinding marmer, menunggu dengan napas pendek yang menunjukkan amarahnya belum padam. Di tangannya, ia memegang sebuah gelas kristal yang entah didapat dari mana, isinya tinggal setengah.

​"Begitu mudahnya kau melarikan diri, Nona Arsitek?" suara Bianca bergema di lorong yang sunyi.

​Adrian, yang berjalan di samping Aisha—dengan jarak satu langkah yang konstan—seketika berhenti. Rahangnya mengeras. "Bianca, aku sudah memintamu pergi."

​Bianca tertawa sumbang, melangkah mendekat dengan langkah yang sedikit sempoyongan akibat alkohol dan emosi. "Aku hanya ingin tahu, Adrian. Apa yang kau lihat di balik kain ini? Apa kau begitu putus asa sampai rela memuja sebuah misteri yang mungkin saja buruk rupa?"

​Tanpa peringatan, Bianca mengangkat tangannya yang bebas. Ia bergerak cepat, jarinya mencengkeram tepian cadar Aisha, bermaksud merenggutnya paksa di depan Adrian. "Buka! Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan!"

​Wush!

​Sebelum jemari Bianca sempat menyentuh kain hitam itu, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol mencengkeram pergelangan tangan Bianca di udara. Gerakannya begitu cepat, seolah-olah Adrian memang sudah waspada terhadap setiap inci pergerakan yang mengancam Aisha.

​"Jangan. Berani. Menyentuhnya."

​Suara Adrian bukan lagi sebuah teguran; itu adalah ancaman murni. Dingin, rendah, dan sangat berbahaya. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Bianca cukup kuat untuk membuat wanita sosialita itu meringis kesakitan.

​"Adrian! Kau menyakitiku!" pekik Bianca terkejut.

​"Rasa sakit di tanganmu tidak sebanding dengan rasa malu yang kau buat malam ini," desis Adrian. Ia tidak melepaskan tangan Bianca, justru menariknya sedikit menjauh dari posisi Aisha. "Sentuh dia sekali lagi, dan aku pastikan ayahmu kehilangan kontrak suplai aspal untuk seluruh proyek Aratama tahun depan. Aku tidak sedang menggertak."

​Bianca mematung. Matanya melebar melihat sorot mata Adrian yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu bukan sorot mata seorang mitra bisnis atau teman masa kecil. Itu adalah sorot mata seorang pria yang sedang melindungi miliknya yang paling berharga.

​Adrian mengibaskan tangan Bianca dengan kasar. "Pergi. Sekarang. Sebelum aku kehilangan rasa hormatku yang terakhir pada keluargamu."

​Bianca mundur dua langkah, menatap mereka berdua dengan kebencian yang berkaca-kaca, lalu berbalik dan lari menuju pintu keluar.

​Hening kembali menguasai lorong. Napas Adrian masih memburu. Amarah yang meledak tadi meninggalkan residu adrenalin yang membuat tangannya sedikit bergetar. Ia berbalik menghadap Aisha, yang sejak tadi berdiri mematung.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian. Suaranya berubah drastis, dari singa yang mengaum menjadi pria yang penuh kekhawatiran.

​Aisha mendongak. Di bawah lampu lorong yang agak temaram, matanya tampak berkaca-kaca. Bukan karena takut pada Bianca, tapi karena ia baru saja menyaksikan seorang pria yang tidak percaya pada Tuhan, bertindak seolah ia bersedia melawan dunia demi menjaga kehormatannya.

​"Saya... saya baik-baik saja, Pak Adrian," suara Aisha hampir berupa bisikan. "Terima kasih. Tapi Anda tidak seharusnya mengancam kontrak Ayahnya. Itu urusan profesional."

​"Persetan dengan profesionalisme jika itu menyangkut keselamatanmu di bawah atapku," sahut Adrian ketus, namun matanya tetap tertuju pada wajah Aisha yang tertutup.

​Tiba-tiba, Adrian melangkah maju. Jarak yang biasanya ia jaga dengan hati-hati kini ia pangkas hingga mereka hanya terpaut beberapa inci. Aisha terdesak hingga punggungnya menyentuh dinding marmer yang dingin.

​"Pak Adrian..." Aisha bernapas pendek. Batasan fisik yang selalu ia jaga kini terasa sangat rapuh.

​Adrian tidak menyentuhnya, namun ia meletakkan kedua tangannya di dinding, mengurung Aisha di antara kedua lengannya. Aroma parfum kayu cendana dari pakaian Aisha dan parfum citrus-musky milik Adrian bercampur di udara yang mendadak terasa tipis.

​"Kenapa kau membiarkannya?" tanya Adrian, suaranya kini serak dan sangat dekat di telinga Aisha. "Kau punya otak yang bisa menghancurkan argumen siapa pun. Kenapa kau diam saja saat dia mencoba menyerangmu?"

​"Karena saya tahu ada Anda di sana," jawab Aisha jujur, sebuah kejujuran yang membuat jantung Adrian seolah berhenti berdetak sesaat. "Dan karena bagi saya, kemarahan yang dibalas dengan kemarahan hanya akan membakar rumah yang sedang kita bangun."

​Adrian menunduk, menatap mata Aisha dengan intensitas yang menyakitkan. Di posisi sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata Aisha yang lentik dan panjang, serta getaran halus pada kain cadarnya yang dipicu oleh napas wanita itu.

​"Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk tidak melakukan ini?" bisik Adrian. Tangannya bergerak turun dari dinding, jemarinya menggantung di udara, sangat ingin menyentuh pipi Aisha—meski terhalang kain. "Aku terbiasa mendapatkan apa yang kuinginkan, Aisha. Dan saat ini, aku ingin meruntuhkan semua dinding yang kau bangun di antara kita."

​Aisha bisa merasakan panas dari tubuh Adrian. Ini adalah momen yang paling romantis sekaligus paling menegangkan dalam hidupnya. Ia tahu ia harus menjauh, ia tahu aturannya, namun untuk sesaat, ia merasa seolah gravitasi Adrian terlalu kuat untuk dilawan.

​"Dinding ini bukan untuk memisahkan kita, Pak Adrian," ucap Aisha pelan, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. "Dinding ini adalah pelindung. Jika Anda meruntuhkannya sekarang, Anda tidak akan menemukan apa pun kecuali kehancuran. Sesuatu yang berharga harus dijaga dengan cara yang benar, bukan dengan paksaan."

​Adrian menatap bibir di balik kain itu—atau setidaknya ia membayangkannya. Kata-kata Aisha seperti air dingin yang menyiram api di kepalanya. Ia perlahan menarik tubuhnya kembali, memberikan ruang bagi Aisha untuk bernapas.

​Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengembalikan kewarasannya. "Kau selalu punya jawaban untuk segalanya, bukan?"

​"Itu karena saya punya panduan, Pak."

​Adrian tersenyum tipis, senyum yang getir namun penuh pengakuan. "Panduanmu itu... sangat sulit bagi pria sepertiku. Aku tidak suka aturan yang tidak bisa kubahas lewat negosiasi."

​"Beberapa hal di dunia ini tidak bisa dinegosiasikan, Pak Adrian. Salah satunya adalah harga diri seorang wanita," Aisha merapikan pakaiannya, mencoba menguasai diri kembali. "Mobil Anda sudah menunggu?"

​"Ya," jawab Adrian pendek. Ia berdeham, berusaha mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih menyengat di antara mereka. "Ayo. Aku akan memastikan kau sampai ke depan pintu rumahmu dengan selamat. Dan jangan protes, ini adalah perintah CEO."

​Selama perjalanan di mobil, tidak ada kata-kata yang terucap. Adrian menatap ke luar jendela, memandangi lampu-lampu kota yang buram, sementara tangannya masih mengepal erat di atas pangkuan. Ia menyadari bahwa melindungi Aisha bukan lagi soal menjaga "aset perusahaan". Ia menyadari bahwa setiap inci dari dirinya telah terikat pada wanita yang tidak bisa ia sentuh ini.

​Sedangkan Aisha, ia meremas tasnya di sudut kursi. Ia menyentuh lengan atasnya yang tadi sempat ingin disentuh Adrian. Ia merasa takut—takut karena ia mulai menyukai rasa aman yang diberikan oleh pria skeptis ini. Ia tahu, di depannya ada badai besar yang menanti: ibunda Adrian, Bianca, dan yang paling berat... ayahnya sendiri.

​Saat mobil berhenti di depan rumah Aisha yang sederhana, Adrian tidak turun. Ia hanya menurunkan kaca jendela.

​"Aisha," panggilnya sebelum wanita itu turun.

​Aisha menoleh. "Ya, Pak?"

​"Terima kasih untuk malam ini. Dan maaf... jika aku terlalu melampaui batas di lorong tadi."

​Aisha menatap mata Adrian lama, mencari sisa-sisa kedinginan yang biasanya ada di sana, namun ia hanya menemukan ketulusan yang telanjang. "Tidurlah yang nyenyak, Pak Adrian. Anda sudah menjadi perisai yang baik hari ini."

​Pintu mobil tertutup. Adrian memperhatikan Aisha masuk ke rumahnya hingga lampu teras menyala.

​"Perisai, ya?" gumam Adrian pada kegelapan di dalam mobil. "Masalahnya, Aisha... perisai ini mulai retak karena dia sendiri ingin menyerah pada orang yang dilindunginya."

​Ia memerintahkan supirnya untuk jalan. Di dalam kepalanya, rencana baru mulai tersusun. Ia tahu Bianca tidak akan diam, dan ibunya pasti akan bertindak. Jika dunia ingin menyerang Aisha, maka Adrian akan membangun benteng yang lebih tinggi lagi—meskipun itu berarti ia harus bertaruh dengan seluruh harta dan logikanya.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!