NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Berondong / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga / Komedi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arion memperhatikan Liora. Ia heran melihat perempuan itu mengobrol sambil tertawa seolah tidak pernah terjadi apa-apa minggu lalu.

"Bisa kita bicara?" ujar Calvin, membuat tatapan Arion dari Lydia teralihkan.

Mereka sedang berada di apartemen Lydia. Arion terpaksa ikut masuk ke sana karena Aletta menarik tangannya.

"Ada apa, paman?" tanya Arion, bingung melihat wajah pamannya yang mendadak serius.

"Ada yang perlu paman bicarakan," Calvin beranjak lebih dulu dan memberi sinyal agar Arion bisa mengikutinya.

Sebenarnya, ia bisa bicara langsung di sana, tapi yang ingin dibicarakan lumayan pribadi. Ia juga tidak mau tiga perempuan yang sedang mengobrol seru itu terganggu oleh obrolannya dengan Arion.

"Oke," Arion mengerti dan ikut beranjak dari tempat duduknya.

Sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah Lydia. Perempuan itu masih asik mengobrol bersama Aletta dan Rina.

"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja," gumamnya dalam hati sebelum pergi menyusul Calvin.

Sebenarnya, Lydia sadar Arion terus memperhatikannya. Namun, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya dan fokus mengobrol dengan kedua sahabatnya.

"Ternyata Pak Calvin benar, Arion merasa bersalah sudah memecatku," batinnya.

***

"Paman sudah mewakili kamu meminta maaf kepada Lydia," ucap Calvin, tepat saat mereka tiba di ruang tamu apartemen Lydia-tempat yang ia anggap aman untuk mereka bicara.

Lydia, Aletta dan Rina berada di ruang makan, jadi tidak ada yang bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan di sana.

"Terima kasih, paman. Tapi pekerjaan Lydia?" tanya Arion. Ia masih kepikiran dengan berita di televisi, dan merasa bahwa Lydia perlu menyibukkan diri agar tidak sampai berpikir untuk bunuh diri.

"Dia menolak kembali bekerja," jawab Calvin seadanya. Ia sudah menawarkan agar Lydia kembali ke Adhivara Grup, tapi perempuan itu menolaknya.

"Kenapa?" Arion menatap Calvin penuh tanya.

Calvin mengangkat bahunya.

"Paman tidak tahu, mungkin alasan pribadi," jawabnya sekenanya, itu alasan paling masuk akal yang bisa ia pikirkan sekarang.

Lydia sendiri tidak menjelaskan alasannya menolak bekerja kembali, perempuan itu hanya mengatakan akan memikirkan tawarannya untuk kembali dan meminta waktu berpikir.

Namun, Calvin dapat menyimpulkan kalau Lydia tidak mau kembali. Lydia hanya merasa tidak enak jika langsung menolak.

"Paman tidak bertanya?" Arion tampak belum puas dengan jawaban Calvin.

"Apa kamu menyukai Lydia?" bukannya menjawab pertanyaan keponakannya, Calvin justru bertanya dengan nada penasaran.

Tidak ada alasan yang tepat yang bisa ia pikirkan setelah melihat Arion memeluk dan terus memperhatikan Lydia.

Calvin mengenal keponakannya, Arion tidak pernah seperti itu pada perempuan sebelumnya. Kemungkinan paling masuk akal adalah Arion menyukai Lydia.

"Apa yang paman bicarakan? Bagaimana mungkin aku menyukai Lydia," sangkal Arion cepat.

Calvin mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali bicara, "Tidak apa-apa kalau kamu menyukai Lydia, tapi sekarang dia baru membatalkan pertunangannya," ujarnya.

Ia tidak akan melarang kalau memang Arion menyukai Lydia, tapi Arion perlu tahu bahwa Lydia baru membatalkan pertunangannya dan ada kemungkinan Arion hanya akan dijadikan pelampiasan.

"Aku benar-benar tidak mengerti yang Paman bicarakan. Aku tidak menyukai Lydia," tegas Arion disertai senyuman agar terlihat meyakinkan.

Arion sendiri sangat yakin dengan perasaannya. Ia tidak sedang menyukai siapa pun, termasuk Lydia. Pamannya hanya salah paham dan salah mengartikan tindakannya terhadap Lydia.

"Mungkin sekarang belum, tapi paman bisa melihat kamu mulai tertarik."

***

Arion tidak ingin memikirkan perkataan pamannya, tapi entah kenapa pikirannya terus terganggu sejak pamannya mengatakan dirinya mulai tertarik pada Lydia. Terlebih setelah hari itu ia jadi sering berpapasan dengan Lydia.

"Kak Arion," panggil perempuan di samping Arion sambil memukul pelan bahu laki-laki itu.

Arion sedang makan malam bersama adik dan kedua orang tuanya, tapi ia sama sekali belum menyentuh makanannya. Bahkan, Arion diam saja saat ibunya, Namira, bertanya padanya.

"Ah, iya?" sahut Arion menatap semua orang yang ada di meja makan. Ia terlihat seperti orang linglung karena terlalu lama melamun.

"Kenapa, kak? Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu," ujar Namira, menyadari putranya tidak terlihat seperti biasanya.

Arion menoleh sebentar ke arah Xavier yang terlihat sedang fokus makan. Sepertinya ayahnya itu tidak memberitahu ibunya tentang masalah yang telah ia buat di Adhivara Grup.

Sebelum pulang ke rumah orang tuanya, ia sudah menyiapkan diri mendengar nasehat panjang ibunya. Namun, sang ibu masih belum berkata apa-apa, selain bertanya bagaimana keadaannya dan kuliahnya.

"Apa ada masalah?" tanya Namira, menunggu Arion yang masih belum mengatakan apa pun.

Arion spontan menatap Namira, perempuan yang sudah melahirkannya dan cinta pertamanya. Ia bisa melihat kekhawatiran di wajah ibunya itu.

"Tidak ada, Mah," jawabnya lembut, tidak ingin membuat ibunya hanyut dalam kekhawatiran.

Arion tidak berbohong, memang benar tidak ada masalah yang terjadi. Ia hanya tidak bisa berhenti memikirkan apakah benar dirinya mulai tertarik pada perempuan.

"Kalau begitu makanlah. Kamu minum vitamin yang mamah kasih, kan?" kata Namira sambil meletakan daging ke atas piring Arion.

Arion mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Tidak lupa ia juga berterimakasih pada ibunya yang sudah memberinya daging.

"Iya, aku minum kok. Terima kasih Mamah sayang," serunya mendadak lupa dengan apa yang mengganggunya.

Xavier yang melihatnya mendecih pelan. Arion tidak berubah dari kecil, selalu menjadi kesayangan Namira dan kadang membuatnya merasa tersisihkan.

"Aku juga mau dagingnya, Sayang," ucap Xavier pada Namira. Ia tidak mau kalah dari Arion, meskipun Arion anaknya.

Arion dan Airin saling menatap. Hal seperti ini sudah biasa terjadi. Ayah mereka sering bersikap kekanak-kanakan hanya demi mendapatkan perhatian.

"Dagingnya ada di dekat Papah loh," kata Airin sedikit mencibir ayahnya.

"Memang kenapa? Mamah juga tidak keberatan mengambilkan daging untuk Papah," sahut Xavier tidak peduli. Sikapnya membuat Arion dan Airin menggelengkan kepala mereka.

***

"Lydia!"

Lydia menghentikan langkah saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia baru keluar dari coffeeshop favoritnya, dan disambut dengan kehadiran Marvin di sana.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengan hubungan mereka, Marvin berjalan menghampiri Lydia dengan senyuman di wajahnya.

"Aku tahu kamu akan datang ke sini," ucap Marvin, tepat setelah berdiri di hadapan Lydia.

"Oh ya, aku mau mengembalikan ini," Marvin mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang selalu ia bawa untuk jaga-jaga barangkali dirinya bertemu dengan Lydia.

"Apa ini?" tanya Lydia menatap cincin yang marvin sodorkan padanya.

Ia sudah dengan jelas mengakhiri hubungan di antara mereka, bisa-bisanya sekarang Marvin mengembalikan cincin pertunangan padanya.

"Cincin tunangan kamu. Waktu itu cincinnya hilang, jadi aku membeli cincin baru yang motifnya sama," jawab Marvin, berniat memasangkan cincin di jari manis Lydia.

Namun, Lydia langsung menepis tangan Marvin sebelum tangan itu menyentuhnya. Ia sudah merasa lebih bahagia setelah menjadi pengangguran dan mengakhiri pertunangan mereka. Ia tidak mau kembali pada masa ia harus merasakan sakit hati dan kecewa terhadap laki-laki.

"Aku tidak butuh cincin kamu. Lagipula, hubungan di antara kita sudah berakhir," ucapnya mengingatkan barangkali Marvin lupa.

Marvin terkekeh, seolah Lydia baru saja mengucapkan sebuah lelucon lucu. Ia tidak pernah menganggap hubungan mereka berakhir, meski setelah yang terjadi di parkiran apartemen Lydia.

"Aku bisa menjelaskan tentang Airin. Kami sudah putus dan aku sama sekali tidak mencintai anak kecil seperti dia," ungkapnya.

1
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Resa05: bakal jadi pembaca setia, semoga ceritanya seru terus ya thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!