“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 4 - CH 23 : SIA-SIA
Pukul 15.30 WIB. Matahari sore Kota X bersinar terik, seolah mengejek penderitaan tiga manusia yang baru saja turun dari mobil van Si Putih.
Bara berjalan mendahului Lintang dan Mang Ojak, membuka gembok rolling door ruko dengan gerakan kasar. Wajahnya ditekuk parah, memancarkan aura membunuh yang membuat tukang parkir minimarket sebelah enggan menagih retribusi jalan.
Begitu masuk ke dalam ruko, Bara tidak langsung duduk beristirahat. Dia langsung merogoh saku celemeknya yang kotor, mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi mobile banking.
"Den, mau ngapain?" Mang Ojak yang baru masuk sambil memijat pelipisnya bertanya was-was. "Jangan bilang mau booking dukun online lagi. Abah udah trauma liat ulasan Google Maps."
"Nggak ada dukun-dukunan lagi. Mulai sekarang, gue cuma percaya sama sistem perbankan," desis Bara. Matanya menatap tajam ke arah layar ponsel.
Bara mengecek mutasi rekeningnya. Tiga hari lalu, saat menerima pesanan dari Perumahan Asri Indah, ada uang masuk sebesar tiga juta rupiah sebagai DP (Down Payment). Di layar ponselnya, riwayat transfer itu masih ada. Namun, yang membuat bulu kuduk Lintang kembali meremang saat ikut mengintip dari balik bahu Bara adalah nama pengirimnya.
Nama pengirim yang tadinya hanya tertulis 'NN', kini berubah menjadi deretan angka nol: 00000000. Dan di bawahnya, di kolom deskripsi transfer, terdapat karakter teks yang glitchy, berantakan, seolah sistem bank sentral gagal membaca font dari dimensi lain.
"M-mas... nama pengirimnya kok jadi begitu?" Lintang menelan ludah, menunjuk layar ponsel Bara dengan jari gemetar. "Jangan-jangan... duit tiga juta di rekening lo itu bentar lagi berubah jadi angka minus, Mas! Atau malah error nular ke semua saldo lo!"
"Itu yang mau gue cegah, Tang," jawab Bara dengan suara dingin yang mematikan. Otak kapitalisnya berputar dengan kecepatan cahaya. "Kalau duit kertas fisiknya bisa berubah jadi duit tahun sembilan sembilan bau kapur barus, gue yakin duit digital ini juga bawa kutukan bug sistem. Sebelum duit ini narik nyawa gue atau bikin rekening gue diblokir Bank Indonesia gara-gara dianggap transaksi fiktif, gue harus ngelakuin manuver 'Pencucian Uang'."
Mang Ojak melongo. "Pencucian uang? Den Bara mau korupsi?!"
"Pencucian Uang Gaib, Mang," ralat Bara tegas. Jari-jemarinya mulai menari cepat di atas layar ponsel, membuka berbagai aplikasi keuangan. "Sistem demit Kota X mungkin jago mainin ilusi fisik ngerubah daun jadi duit, tapi gue yakin seratus persen mereka gaptek kalau diadu sama server e-wallet dan payment gateway modern. Mereka nggak punya akses OTP."
Dalam waktu kurang dari dua menit, Bara melakukan transaksi keuangan paling sinting yang pernah ada dalam sejarah Bara's Kitchen.
Satu juta pertama: Dia belikan token listrik PLN prabayar untuk rukonya selama setahun ke depan. Klik. Berhasil.Satu juta kedua: Dia gunakan untuk melunasi tagihan paylater supplier tepung dan mentega bulan ini via Virtual Account. Klik. Berhasil.Satu juta terakhir: Dia transfer ke saldo e-commerce, lalu membelanjakannya untuk membeli logam mulia Antam ukuran mini secara online di official store. Klik. Berhasil.
Saldo di rekening bank Bara dari dedemit Blok C itu kini nol rupiah. Bersih. Lenyap tertelan mesin kapitalisme digital.
"Selesai," Bara menghela napas panjang, tersenyum miring layaknya hacker kelas kakap yang baru saja membobol brankas luar negeri. "Gue mau liat, gimana caranya setan kebakaran tahun 1998 bisa narik balik token listrik PLN gue yang udah masuk ke meteran. Emang dia mau nagih ke kantor cabang PLN?! Biar kesetrum dia sekalian!"
Lintang menganga lebar, takjub sekaligus ngeri melihat jalan pikiran bosnya yang sudah melampaui batas kewarasan manusia normal. "Gila lu, Mas. Setan aja lu scam balik."
"Ini bukan scam, ini trik," Bara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Namun, wajahnya kembali mengeras. Masalah utamanya belum selesai. Dia masih rugi dua juta rupiah dari uang pelunasan yang terpaksa dia bakar tadi siang. "Tapi... urusan gue sama arwah penasaran itu belum kelar."
Bara berjalan menuju laci di bawah meja kasir. Dia menarik laci itu hingga berbunyi nyaring, lalu mengeluarkan sebuah benda yang membuat Mang Ojak langsung mundur dua langkah.
Sebuah golok daging (meat cleaver) berbahan full stainless steel. Beratnya hampir dua kilogram. Bilahnya sangat tebal dan diasah hingga setajam silet. Ini adalah pisau andalan Bara untuk memotong tulang iga sapi jika ada pesanan katering masakan berat.
Bara meletakkan golok itu di atas meja stainless. KLANK!
"Kalian berdua, pulang sekarang," perintah Bara mutlak. Matanya menatap lurus ke arah Lintang dan Mang Ojak.
"M-mas? Lo ngeluarin golok mau ngapain?!" Lintang memekik panik, matanya berkaca-kaca. "Lo mau nyari Ki Ronggo lagi buat dicincang?! Jangan, Mas! Masuk penjara kita nanti! Nggak ada yang packing brownies!"
"Gue nggak peduli sama dukun abal-abal itu. Urusan gue sekarang sama dedemit Perumahan Asri Indah," Bara mengambil asahan besi silinder, mulai mengasah ujung golok itu dengan gerakan berirama. Sring... Sring... "Gue rugi dua juta gara-gara duit pelunasannya bau anyir. Bikin kue Black Forest tiga tingkat itu capek, Tang. Tangan gue pegel, gas oven gue abis. Gue nggak terima kerja bakti buat arwah penasaran."
Mang Ojak memegang dadanya, jantungnya seakan mau copot. "Den... Den Bara mau... mau nungguin setannya dateng dan diajak berantem?!"
"Iyalah," Bara berhenti mengasah goloknya. Dia menatap bayangan wajahnya yang pucat namun penuh determinasi di bilah pisau itu. Dia lalu mengambil tabung blowtorch gas yang biasa dipakai untuk membakar permukaan creme brulee. "Malam ini, kalau makhluk kebaya hitam itu berani datang ke ruko ini kayak hantu laut kemaren... gue nggak bakal lari. Gue bakal adu mekanik. Kalau dia nggak mau ganti rugi dua juta gue, minimal gue bakar rambutnya pake ini."
Melihat bos mereka sudah benar-benar kehilangan akal sehat dan terbutakan oleh dendam kerugian materi, Lintang dan Mang Ojak tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka tahu, Bara yang sedang dalam mode "Nggak Mau Rugi" tidak akan bisa dibantah oleh siapa pun.
"Udah, pulang sana. Kunci pintu rumah kalian rapet-rapet. Biar ruko ini gue yang jaga," usir Bara sambil menimang blowtorch-nya.
Setengah jam kemudian, setelah perdebatan alot yang diakhiri dengan ancaman potong gaji, Lintang dan Mang Ojak akhirnya pulang dengan berat hati. Mereka terus menoleh ke belakang, menatap ruko Bara's Kitchen seolah itu adalah terakhir kalinya mereka melihat bos mereka dalam keadaan utuh.
Pukul 23.45 WIB. Jalanan di depan ruko sudah sangat sepi. Pintu rolling door terkunci rapat dari dalam.
Bara duduk bersila di atas meja stainless di tengah dapur. Di pangkuannya, tergeletak golok daging yang memantulkan cahaya redup dari lampu neon yang sengaja disisakan satu. Di tangan kanannya, dia memegang erat blowtorch gas. Di sebelah kirinya, segelas kopi hitam pekat yang sudah dingin.
Dia menunggu.
Otaknya terus mensugesti keberanian. “Duit dua juta. Duit dua juta. Mentega mahal. Cokelat impor. Gue nggak boleh rugi. Setan harus bayar.”
Pukul 23.55 WIB. Bara mulai berkeringat dingin. Dia menatap ke arah bayang-bayang di dekat wastafel. Dia membayangkan sosok ibu berkebaya hitam itu akan muncul, meneteskan darah, dan membawa bau kapur barus yang mencekik. Otot-otot lengannya menegang. Pemantiknya sudah siap ditekan.
Pukul 00:00 WIB. Tepat saat jarum detik berdetak ke angka dua belas. Waktu paling horor dalam sejarah dunia gaib.
Bara menahan napas. Matanya melotot mengawasi sekeliling. Telinganya dipasang tajam-tajam untuk menangkap suara langkah kaki, suara rintihan, atau suara barang jatuh.
...Hening.
Satu menit berlalu. Tidak ada lampu yang berkedip. Tidak ada suhu ruangan yang mendadak turun. AC portable-nya masih menyala dengan normal, mengeluarkan udara sejuk yang nyaman, bukan hawa dingin dari alam baka.
Pukul 00.15 WIB. Bara mengedipkan matanya yang mulai perih karena terlalu lama melotot. Dia mengubah posisi duduknya karena kesemutan. "Lagi otw kali ya," gumamnya pelan, mencoba menjustifikasi keterlambatan sang hantu. "Namanya juga setan, mana kenal macet."
Pukul 01.30 WIB. Kopi hitam di sebelah Bara sudah habis. Rasa kantuk mulai menyerang dengan brutal. Bara menguap lebar. Golok daging di pangkuannya mulai terasa berat. Dia menatap blowtorch di tangannya dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan dari arah sudut ruangan. Srek... srek...
Bara langsung siaga satu. Adrenalinnya kembali naik. Dia mengangkat blowtorch dan goloknya, siap menerjang. "Maju lu sini, Setan! Bayar utang lu!"
Dari balik tempat sampah... muncullah seekor kecoa raksasa yang terbang dengan panik dan mendarat tepat di atas celemek Bara.
"ANJIR!" Bara melompat dari meja stainless, membanting blowtorch-nya ke lantai, dan menepuk-nepuk dadanya histeris seperti orang kesurupan tarian daerah. Kecoa itu terbang menjauh menuju celah rolling door.
Bara berdiri di ruangan, terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang, tapi bukan karena hantu, melainkan karena serangga prasejarah.
Dia melirik jam dinding. Pukul 02.45 WIB.
Suasana ruko masih sama seperti biasa. Damai. Bau vanila dan ragi tepung. Tidak ada bau kemenyan, apalagi bau mayat hangus.
Tiba-tiba, sebuah kesadaran yang sangat logis, namun sangat menampar harga dirinya, menghantam otak Bara.
Bara perlahan menurunkan golok dagingnya. Dia menatap senjata tajam di tangannya itu, lalu tertawa hambar.
"Bego..." gumam Bara pada dirinya sendiri. "Gue bego banget, ya Tuhan."
Dia menepuk jidatnya keras-keras. Kenapa dia berekspektasi hantu itu akan datang ke rukonya?!
Dalam dunia bisnis mistis ataupun nyata, Perumahan Asri Indah Blok C Nomor 4 adalah pihak pembeli. Bara's Kitchen adalah pihak penjual. Barang sudah diantar. Kue Black Forest legam sudah diletakkan di meja batu. Dan sebagai gantinya, pembeli sudah memberikan bayaran lunas di tempat (meskipun bentuknya adalah uang emisi 1999 berbau formalin yang terpaksa dibakar).
Transaksi telah selesai. Kontrak gaib telah tertutup.
Ibu berkebaya hitam itu tidak punya urusan lagi dengan Bara. Makhluk gaib itu tidak peduli dengan nilai tukar rupiah saat ini, yang dia tahu, dia sudah membayar kuenya dengan uang yang dia miliki saat dia mati puluhan tahun lalu. Hantu itu tidak merasa punya hutang.
Lagipula, untuk apa hantu mendatangi ruko bakery bawa-bawa fisik? Memangnya setan bisa dipotong pakai golok daging? Memangnya setan yang sudah mati terpanggang bakal takut sama blowtorch mini murahan?
"Gue begadang... nungguin setan... sambil bawa-bawa golok kayak Kang Jagal..." Bara meratapi kebodohannya sendiri. Rasa malunya mengalahkan rasa takutnya. "Asli, kelakuan gue lebih badut dari badut Dufan."
Bara menjatuhkan golok itu kembali ke atas meja stainless. Dia tidak diganggu hantu malam ini. Dia diganggu oleh ekspektasinya sendiri dan rasa tidak ikhlasnya kehilangan uang dua juta. Dia menghukum dirinya sendiri dengan kurang tidur.
Bara mengusap wajahnya yang kuyu, berjalan gontai menaiki tangga menuju mezzanine. Malam ini tidak akan ada adu mekanik. Tidak ada jumpscare. Hanya ada seorang koki muda yang sangat lelah dan harus merelakan bahwa dia baru saja memberikan layanan katering gratis untuk warga alam barzakh.
Keesokan paginya. Pukul 08.00 WIB.
Lintang dan Mang Ojak mendorong rolling door ruko dengan sangat perlahan dan hati-hati. Mereka sudah siap secara mental jika harus menemukan bos mereka terkapar di lantai dengan luka bakar gaib atau mulut berbusa karena dicekik penunggu Perumahan Asri Indah.
"Bismillah... Mas Bara... lo masih hidup, Mas?" panggil Lintang dengan suara gemetar, mengintip dari balik pintu.
Ruangan lantai satu bersih. Tidak ada tanda-tanda pertarungan epik. Golok daging dan blowtorch tergeletak rapi di atas meja stainless.
"HOAAAM..."
Dari atas mezzanine, muncul kepala Bara. Rambutnya berantakan seperti sarang burung, matanya sayu, dan wajahnya dipenuhi beberapa bentol merah akibat gigitan nyamuk. Dia menatap Lintang dan Mang Ojak dengan tatapan datar yang menyiratkan seribu penyesalan.
"Den Bara! Alhamdulillah!" Mang Ojak sujud syukur seketika. "Aden selamat! Semalem dedemitnya ngamuk nggak, Den? Abah sampe baca Yasin tiga kali buat keselamatan Aden!"
Bara turun dari tangga dengan gontai. Dia menarik celemeknya dan memakainya dengan malas.
"Nggak ada dedemit. Nggak ada ibu-ibu kebaya hitam. Nggak ada bau kapur barus," jawab Bara datar, mengambil mangkuk mixer.
"Loh? Serius, Mas? Dia takut sama golok lu?" Lintang melongo, tidak percaya.
"Setan mana peduli sama golok," Bara mendengus pelan, menakar tepung terigu dengan measuring cup. "Kita aja yang kegeeran. Transaksi kita sama dia udah kelar pas kita nganter kuenya. Dia ngerasa udah bayar lunas, jadi ya dia nggak ada urusan lagi sama kita. Gue begadang semaleman cuma buat jadi samsak nyamuk ruko doang."
Lintang dan Mang Ojak saling pandang, lalu tanpa bisa ditahan lagi, keduanya meledak dalam tawa yang sangat keras. Tawa lega, sekaligus menertawakan keabsurdan bos mereka yang terlalu overthinking memikirkan kerugian finansial sampai lupa logika basic perhantuan.
"Sialan lo berdua, jangan ketawa. Gue potong gaji lu pada," gerutu Bara, meskipun ujung bibirnya ikut berkedut menahan senyum miris.
Bara menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di badan mesin mixer KitchenAid. Dia selamat. Rukonya aman. Saldo elektroniknya berhasil diamankan. Meski dia harus merelakan uang dua juta rupiah menjadi abu di tong sampah, setidaknya dia tidak perlu berurusan dengan rumah Blok C itu lagi.
"Oke, briefing pagi!" Bara bertepuk tangan sekali, mengembalikan mode bos tirannya. "Arc jualan sama alam gaib resmi ditutup. Jangan ada yang bahas Blok C lagi. Hari ini kita buka normal, fokus cari duit halal dari manusia hidup. Tang, nyalain oven! Mang Ojak, sapu depan!"
Kehidupan Bara's Kitchen kembali bergulir. Di tengah deru mesin mixer dan aroma manis yang mulai menguar, Bara belajar satu pelajaran berharga: Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan adu mekanik. Terkadang, mengikhlaskan kerugian adalah cara paling waras untuk tetap bertahan hidup di Kota X.