NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 11: LUKA YANG BELUM SEMBUH

Tiga bulan setelah Aisha pindah ke Kota S, kehidupan tampak bergerak dalam harmoni yang rapuh. Rumah kecilnya yang hanya berjarak lima menit dari keluarga Rafa menjadi tempat yang nyaman, meski kadang sunyi saat Arka menginap di rumah ayahnya.

Arka tumbuh pesat badannya semakin tinggi, pipinya semakin berisi, dan yang terpenting, ginjal barunya bekerja sempurna. Hasil lab terakhir menunjukkan fungsi ginjal 97%, angka yang membuat dr. Arman berseri-seri bangga.

Tapi harmoni itu seperti kaca tipis. Dan kaca itu mulai retak pada Sabtu pagi yang seharusnya cerah.

Aisha sedang menyapu halaman rumah kecilnya ketika telepon berdering. Rafa. Suaranya aneh tegang, terburu-buru.

"Aisha, kamu bisa datang ke rumah sekarang? Ada... keadaan darurat."

Jantung Aisha langsung berdebar kencang. "Arka? Apa terjadi pada Arka?"

"Bukan Arka. Tapi... tolong datang."

Sepanjang jalan lima menit itu, pikiran terburuk melintas di benak Aisha. Kecelakaan? Sakit mendadak? Penolakan organ setelah sekian lama?

Tapi yang ia temukan di rumah Rafa bukanlah adegan medis darurat.

Laras duduk di sofa ruang tamu, wajahnya pucat, tangan gemetar memegangi selembar kertas. Nadia menangis di sudut ruangan, dipeluk oleh pengasuh. Dan Arka berdiri kaku di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca, bingung.

"Apa yang terjadi?" tanya Aisha, langsung mendekati Arka.

Rafa menghela napas berat. "Kemarin... Laras dapat surel anonim. Isinya... foto-foto."

"Foto apa?"

Laras menatapnya, matanya penuh campuran amarah dan kepedihan. "Foto-foto kamu dan Rafa. Dari sepuluh tahun lalu. Dan... beberapa yang baru-baru ini."

Aisha terdiam. Foto masa lalu. Itu bisa dimengerti. Tapi foto baru-baru ini? Apa maksudnya?

Rafa mengulurkan ponselnya. Di layar, ada beberapa foto:

Aisha dan Rafa di toko kelontong Aisha dua bulan lalu, sedang tertawa membahas sesuatu.

Mereka berdua di mobil minggu lalu, terlihat sedang serius bicara.

Yang paling merusak: foto mereka berdua berpelukan di depan rumah kecil Aisha pelukan yang sebenarnya hanya sebentar, saat Rafa mengantarkan Arka pulang dan Aisha mengucapkan terima kasih atas hadiah ulang tahun untuk Arka.

"Tapi... ini tidak seperti yang terlihat," protes Aisha, suaranya gemetar. "Pelukan itu cuma sebentar! Dan kami hanya bicara!"

"LIMA FOTO BERBEDA, AISHA!" Laras berteriak, bangkit dari sofa. "LIMA! DAN SEMUA TANPA ARKA DI DALAMNYA! HANYA KALIAN BERDUA! SEPERTI... SEPERTI KELUARGA TANPA AKU DAN ANAK-ANAK!"

Arka mulai menangis. "Bunda... Ayah... kalian bohong? Kalian pacaran lagi?"

"TIDAK!" Aisha dan Rafa berseru bersamaan.

Tapi keraguan sudah tertanam. Mata tidak bisa berbohong. Dan foto-foto itu diambil dari sudut yang pas, dengan pencahayaan yang dramatis memang terlihat intim.

"Siapa yang mengirim ini?" tanya Aisha, mencoba tenang.

"ANONIM!" Laras melemparkan kertas itu ke lantai. "TAPI AKU TAHU MENGAPA! UNTUK MENGHANCURKAN PERNIKAHAN KAMI! UNTUK MEMBAWA KAMU KEMBALI KE HIDUP RAFA!"

"Ini tidak benar, Laras," kata Rafa, mencoba mendekati istrinya, tapi Laras menjauh.

"JANGAN MENYENTUHKU! SUDAH BULAN-BULAN AKU BERUSAHA MENERIMA KEHADIRANMU, AISHA! SUDAH AKU COBA TERIMA ARKA SEPENUHNYA! TAPI INI? FOTO-FOTO RAHASIA? PERTEMUAN DI BELAKANG AKU?"

"Kami tidak bertemu diam-diam! Itu semua kebetulan! Aku mengantarkan Arka, atau menjemputnya, atau"

"TAPI MENGAPA TIDAK ADA FOTO DENGAN ANAK-ANAK? MENGAPA SELALU HANYA KALIAN BERDUA?"

Pertanyaan itu masuk akal. Dan Aisha tidak punya jawaban yang memuaskan. Karena memang, sebagian besar waktu mereka berdua memang sendirian saat berpapasan saat pergantian jaga Arka, saat rapat sekolah, saat konsultasi dokter.

Rafa mengambil kertas dari lantai. "Laras, kita perlu berpikir jernih. Seseorang sengaja memotret kami. Seseorang ingin memecah belah kita."

"ATAU MUNGKIN MEREKA HANYA MEMOTRET KENYATAAN!" Laras menangis lagi, suaranya hancur. "Aku lelah, Rafa. Aku lelah merasa seperti orang ketiga dalam pernikahanku sendiri. Aku lelah melihatmu pergi ke rumahnya setiap minggu. Aku lelah dengan... dengan semua ini!"

Arka lari ke kamarnya, menutup pintu keras-keras. Suara tangisnya terdengar dari balik pintu.

Aisha merasa dunia berputar. Ini yang selalu ia takutkan. Kedamaian yang rapuh itu akhirnya pecah.

---

Sepanjang akhir pekan itu, suasana tegang menyelimuti kedua rumah. Arka menolak bicara dengan siapa pun baik Aisha maupun Rafa. Dia hanya mengunci diri di kamar, hanya keluar untuk makan sedikit.

Nadia, yang bingung dengan semua keributan, terus bertanya pada Laras: "Mama kenapa marah? Kakak Arka kenapa sedih?"

Tapi Laras tidak punya jawaban yang tidak menyakitkan.

Aisha mencoba menelepon Arka berkali-kali, tapi tidak diangkat. Pesan teks dibaca tapi tidak dibalas. Anaknya menjauh. Dan itu lebih menyakitkan daripada segala tuduhan Laras.

---

Senin pagi, Rafa datang ke rumah Aisha sebelum berangkat kerja. Wajahnya lelah, ada lingkaran hitam di bawah mata.

"Aku sudah minta bantuan teman di kepolisian untuk melacak pengirim surel anonim itu," katanya. "Tapi butuh waktu."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aisha, suara kosong. "Arka tidak mau bicara padaku."

"Padaku juga. Dia bilang... dia merasa dikhianati. Dia pikir selama ini kita membohonginya tentang hubungan kita."

"Tapi kita tidak punya hubungan! Kita hanya... orang tua yang mencoba bekerja sama!"

"Kita tahu itu. Tapi coba lihat dari mata Arka anak delapan tahun yang baru menemukan ayahnya, yang melihat ibunya dan ayahnya akhirnya dekat lagi... lalu melihat foto-foto seperti itu. Baginya, itu seperti mimpi indah yang ternyata bohong."

Aisha menutup wajahnya. Mereka terlalu fokus pada orang dewasa pada Laras, pada diri mereka sendiri hingga lupa bagaimana ini mempengaruhi Arka.

"Kamu harus perbaiki hubunganmu dengan Laras," kata Aisha akhirnya. "Aku akan... mundur sedikit."

"Jangan bilang begitu"

"Tidak, dengarkan. Selama ini, aku terlalu dekat. Aku terlalu sering hadir. Itu mengancam Laras. Dan sekarang... mengancam Arka juga."

"Apa maksudmu?"

"Aku akan mengurangi frekuensi bertemu. Kamu jemput Arka sendiri, antar sendiri. Aku tidak perlu bertemu kamu setiap kali. Dan... mungkin aku harus batasi waktu Arka di sini. Biarkan dia lebih fokus di rumahmu."

Rafa menggeleng. "Itu tidak adil untukmu. Atau untuk Arka."

"Tapi itu adil untuk Laras. Dan untuk pernikahanmu. Kau sudah memberiku banyak ginjalmu, penerimaan, bantuan. Sekarang waktunya aku yang berkorban."

Pengorbanan. Kata yang sudah sangat akrab dalam hidup Aisha. Tapi kali ini, rasanya lebih pahit. Karena yang harus ia korbankan adalah kedekatan dengan anaknya sendiri.

---

Minggu itu, Aisha menjalankan rencananya. Dia tidak datang ke rumah Rafa saat pergantian jaga. Dia hanya menunggu di rumahnya, dan Rafa mengantar Arka sampai depan pintu saja, tidak masuk.

Arka datang dengan wajah murung. "Bunda kenapa tidak mau ketemu Ayah lagi?"

"Ini bukan tentang tidak mau, sayang. Ini tentang... memberi ruang."

"Ruang untuk siapa?"

"Untuk keluarga Ayah. Untuk Ibu Laras."

"Jadi Bunda bukan keluarga Ayah?"

Pertanyaan itu menusuk. "Bunda... keluarga yang berbeda, sayang. Seperti pohon yang punya dua cabang besar. Kamu ada di kedua cabang itu."

Arka tidak puas dengan jawaban itu. Tapi dia juga tidak memaksa.

Hubungan antara Aisha dan Rafa menjadi formal, dingin. Hanya berkomunikasi lewat pesan singkat tentang jadwal Arka atau kebutuhan medisnya. Tidak ada lagi obrolan santai. Tidak ada lagi tawa.

Dan Laras... tetap dingin. Tapi setidaknya dia tidak lagi berteriak. Dia menerima "jarak baru" ini dengan diam-diam lega.

---

Dua minggu kemudian, saat Aisha sedang belanja bulanan di supermarket, seseorang menepuk bahunya.

"Aisha?"

Dia berbalik. Dan dunia seolah berhenti.

Rangga. Teman sekampus dulu. Orang yang dulu pernah dekat dengan Rafa, tapi juga pernah... menyukai Aisha. Dan yang paling Aisha ingat: Rangga adalah satu-satunya orang yang tahu tentang surat yang tidak pernah dikirim itu. Karena dialah yang meminjamkan pulpen pada Aisha saat menulis surat itu di perpustakaan.

"Rangga? Lama sekali," kata Aisha, berusaha tenang.

"Memang. Aku lihat kamu di sini beberapa kali. Tapi baru berani tegur sekarang." Rangga tersenyum, tapi matanya tajam. "Dengar-dengar kamu dan Rafa... reuni ya?"

"Apa maksudmu?"

"Oh, jangan sok polos. Aku tahu semuanya. Tentang anak kalian. Tentang transplantasi ginjal. Dan... tentang foto-foto itu."

Darah Aisha membeku. "Foto-foto? Kamu yang—"

"Yang mengirim? Iya." Rangga masih tersenyum, tapi sekarang senyum itu terlihat jahat. "Aku kerja sebagai fotografer freelance sekarang. Dan kebetulan dapat job memotret beberapa acara di sekitar sini. Lalu... nemu kalian. Sangat fotogenik."

"KENAPA? APA YANG KAU INGINKAN?"

"Tenang, suaramu." Rangga mendekat, bisik-bisik. "Aku hanya ingin... mengingatkan Rafa tentang masa lalu. Tentang bagaimana dia dulu memilih teman-temannya daripada pacarnya. Dan bagaimana dia meninggalkanmu saat hamil."

"Itu tidak benar! Dia tidak tahu!"

"Oh, dia tahu. Aku yang sengaja tidak memberikan suratmu itu dulu. Karena waktu itu... aku suka padamu, Aisha. Dan aku pikir, kalau Rafa pergi, kamu akan beralih padaku."

Aisha merasa mual. Rangga. Dia yang menyembunyikan surat itu. Dia yang menyebabkan delapan tahun keterpisahan. Dan sekarang... dia yang mengirim foto-foto itu.

"Tapi kamu tidak pernah datang padaku," lanjut Rangga, nada sinis. "Kamu malah menghilang. Dan sekarang, ketika kamu kembali, kamu dan Rafa seperti keluarga bahagia? ITU TIDAK ADIL!"

"Jadi ini balas dendam?"

"Ini... keadilan. Rafa harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga. Seperti kamu dulu."

Aisha menarik napas dalam. "Apa yang kau inginkan? Uang?"

"Oh, bukan hal vulgar seperti itu. Aku hanya ingin... melihatnya menderita. Seperti dulu kamu menderita."

"Arka tidak bersalah! Laras tidak bersalah! Kenapa melibatkan mereka?"

"Karena itu cara terbaik menyakiti Rafa melalui orang-orang yang dia cintai sekarang."

Rangga mengangguk sopan, lalu berbalik pergi. "Sampai jumpa, Aisha. Dan sampaikan pada Rafa... aku belum selesai."

---

Aisha pulang dengan tubuh gemetar.

Dia langsung menelepon Rafa. "Kita harus ketemu. Sekarang. Tidak bisa lewat telepon."

Mereka bertemu di taman kecil di antara kedua rumah mereka tempat netral.

"Rangga," kata Aisha begitu Rafa datang. "Dia yang mengirim foto-foto itu."

Rafa membeku. "Rangga? Teman kita dulu?"

"Ya. Dan... ada sesuatu yang belum pernah kukatakan padamu." Aisha menarik napas. "Dulu, Rangga yang meminjamiku pulpen untuk menulis surat untukmu. Dan dia... dia mengaku sengaja tidak memberikan surat itu padamu. Karena dia suka padaku."

Rafa terduduk di bangku taman, wajahnya pucat. "Jadi... selama ini... itu bukan salahmu yang tidak berusaha? Bukan salahku yang tidak mencari cukup keras?"

"Ia sengaja memisahkan kita. Dan sekarang... ia kembali. Untuk menghancurkan kehidupanmu yang sekarang."

"Tapi kenapa sekarang? Setelah sepuluh tahun?"

"Karena dia melihat kita 'bahagia'. Karena dia masih sakit hati baik padamu karena 'mengambil' aku dulu, atau padaku karena tidak memilihnya."

Rafa mengusap wajahnya. "Ini gila. Kita harus laporkan ke polisi."

"Tapi tidak ada bukti. Hanya kata-kataku melawan katanya. Dan foto-foto itu... itu memang foto kita, Rafa. Tidak direkayasa. Hanya diambil dari sudut yang jahat."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

Aisha memandangi rumah Rafa di kejauhan. "Kita harus cerita pada Laras. Semuanya. Tentang Rangga. Tentang masa lalu. Dan kita harus... bekerja sama untuk melindungi keluarga kita."

"Keluarga 'kita'?" Rafa menekankan.

"Ya. Keluargamu dengan Laras. Dan Arka. Karena Rangga tidak akan berhenti di sini. Aku bisa merasakannya."

---

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak skandal foto, Aisha masuk ke rumah Rafa lagi. Laras menyambut dengan wajah masam, tapi setidaknya tidak mengusirnya.

Mereka duduk di ruang tamu Rafa, Laras, Aisha. Sebuah trio yang tidak pernah mereka bayangkan akan duduk bersama seperti ini.

Aisha menceritakan semuanya: pertemuannya dengan Rangga, pengakuan tentang surat, motivasi balas dendam. Laras mendengarkan dengan ekspresi yang perlahan-lahan berubah dari marah menjadi... simpati.

"Jadi selama ini," kata Laras perlahan, "kalian berdua adalah korban? Korban dari teman yang sakit hati?"

"Sepertinya iya," jawab Rafa. "Dan sekarang, dia ingin menghancurkan kebahagiaan kita semua kebahagiaan kita."

"Termasuk kebahagiaanku dengan Arka," tambah Aisha. "Arka sudah menjauh karena foto-foto itu. Dan itu yang Rangga inginkan memisahkan kita semua."

Laras menatap mereka berdua, lalu menghela napas panjang. "Aku... aku minta maaf. Karena langsung menuduh. Karena tidak memberi kalian kesempatan menjelaskan."

"Kami juga minta maaf," kata Rafa. "Karena tidak lebih berhati-hati. Karena tidak memikirkan perasaanmu."

Aisha mengangguk. "Dan aku minta maaf karena terlalu dekat. Aku tidak menyadari betapa mengancamnya itu bagimu, Laras."

Untuk pertama kalinya, ketiga orang dewasa dalam drama ini duduk sejajar bukan sebagai musuh, tapi sebagai sekutu yang menghadapi ancaman yang sama.

"Lalu apa rencananya?" tanya Laras, suaranya lebih tegas sekarang.

"Pertama," kata Rafa, "kita harus cerita pada Arka. Jelaskan semuanya. Bahwa ini bukan salahnya, bukan salah kita, tapi ada orang jahat yang ingin menyakiti kita."

"Kedua," tambah Aisha, "kita harus lebih berhati-hati. Tidak bertemu berdua saja. Selalu pastikan ada orang lain kamu, Laras, anak-anak jika kami harus bertemu."

"Dan ketiga," simpul Laras, "kita harus mencari bukti. Agar Rangga bisa ditangkap."

Mereka saling memandang. Musuh yang dulu kini bersatu. Karena ancaman dari luar lebih besar daripada perbedaan di dalam.

---

Saat Aisha pulang, dia melihat ada cahaya di kamar Arka di rumah Rafa. Anaknya masih terjaga. Dia mengirim pesan:

"Arka, sayang. Besok kita bicara ya? Bunda mau jelaskan semuanya. Dan Bunda janji tidak bohong."

Beberapa menit kemudian, balasan datang:

"Janji?"

"Janji. Selalu."

---

Tapi di kegelapan malam, di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, Rangga sedang melihat foto-foto lain di komputernya foto-foto Arka pulang sekolah, foto Nadia di taman bermain, foto Laras masuk ke supermarket.

Dia tersenyum, mengetik pesan anonim baru:

"Pertunjukan baru akan segera dimulai. Dan kali ini... tidak akan ada yang selamat."

---

(Di kamarnya, Arka terbaring terjaga, memegangi perutnya di mana ginjal ayahnya berdetak. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres seperti firasat anak-anak yang tajam. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri: tidak peduli apa yang terjadi, dia akan melindungi keluarganya. Semua keluarganya.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!