Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga
Saat akhir pekan tiba, tepatnya hari Sabtu, dapur rumah Lala dipenuhi aroma tumisan dan suara panci yang saling bersahutan. Lala berdiri di samping ibunya, membantu mengiris bawang sambil sesekali mengeluh karena matanya perih.
Rambutnya diikat asal, kaus rumahannya sudah sedikit terkena cipratan minyak pemandangan khas Sabtu pagi di rumah.
Belum sempat ia selesai mengiris, suara langkah kaki kecil terdengar mendekat.
“Ka,” panggil adiknya sambil menyodorkan ponsel Lala, “nih handphone lo bunyi terus. Dari tadi geter, kayaknya ada yang nelepon.”
Lala mengelap tangannya dengan serbet, menerima ponsel itu. Layarnya masih gelap, tapi belum sempat ia menyalakannya, ponsel tersebut kembali bergetar. Kali ini lebih lama. Nama di layar muncul jelas. Dan, tanpa perlu banyak ditebak lagi, itu Rendra.
“Halo?” ujar Lala sambil menjauh sedikit dari kompor.
“Halo, La,” suara Rendra terdengar dari seberang, agak berat, tidak seceria biasanya. “Lo hari ini bisa ke rumah gue nggak?”
Lala mengernyit pelan. Ada jeda singkat sebelum Rendra melanjutkan, “Kalau bisa, gue jemput.”
Nada suaranya terdengar... tidak nyaman. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Emang ada apaan, Ren?” tanya Lala, penasaran tapi masih santai.
“Nanti gue ceritain. Sekarang jawab dulu aja, lo bisa apa nggak?” Rendra terdengar sedikit memaksa, lalu menambahkan dengan nada hampir memohon, “Please.”
Lala terdiam sebentar. Ia menoleh ke arah ibunya yang masih sibuk memasak, lalu kembali menatap ponsel di tangannya.
“Yaudah, yaudah. Gue ke sana,” akhirnya ia menjawab. “Tapi gue siap-siap dulu ya.”
“Oke. Gue jemput—”
“Eh, tunggu,” potong Lala cepat. “Maksud gue... nggak usah ke rumah. Kita ketemu di tempat biasa aja. Di stasiun.” Ia tahu rumahnya terlalu jauh,
“Oh... yaudah,” jawab Rendra setelah jeda singkat. “Nanti kabarin gue kalau udah mau sampai.”
“Okeee.”
“Hati-hati, La.”
Telepon terputus.
Lala menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mematikannya. Ada perasaan aneh yang menggelitik, campuran antara penasaran dan sedikit waswas.
“Mah, aku udah ya bantuinnya,” katanya sambil tersenyum kecil. “Mau siap-siap.”
“Mau ke mana?” tanya mamanya tanpa menoleh.
“Ke tempat Rendra.” Gerakan tangan ibunya berhenti sejenak. Lalu membiarkan lala
Setelah selesai siap-siap kalau Lala pamit kepada mama nya
“Mah aku berangkat yaaa”
“Nih,” kata mamanya sambil menyodorkan sebuah goodie bag. “Bawa sekalian buat Rendra. Makan bareng.”
“Ih, repot deh, Mah,” Lala meringis, menerima tas itu setengah hati. “Bawanya ribet.”
“Tinggal bawa doang, apa susahnya sih kamu,” balas mamanya santai tapi tegas.
“Iya, iya,” Lala menyerah. “Aku bawa.”
Ia lalu mendekat, menyalami tangan mamanya. “Udah ya, Mah. Aku berangkat. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan.”
Tak lama kemudian, Lala sudah duduk di atas motor ojek online, goodie bag di pangkuannya, matanya menatap jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang menikmati akhir pekan mereka. Di kepalanya, pertanyaan yang sama berputar-putar.
Rendra kenapa?
—
Saat jaraknya sudah semakin dekat dengan stasiun tempat ia dan Rendra berjanji, Lala mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat.
Lala:
Ren, gue udah mau sampe yaa.
Tak lama, balasan masuk.
Rendra:
Okeee.
Beberapa menit kemudian, Lala benar-benar tiba di stasiun tujuan. Ia melangkah keluar, berdiri di titik jemput sambil menggeser tas di bahunya. Matanya menyapu sekitar, mencari-cari sosok yang sudah sangat familiar baginya. Tidak sampai lima menit, suara motor terdengar mendekat.
Rendra berhenti tepat di depannya.
“La, ayo,” ucapnya singkat sambil menurunkan standar motor dan menyerahkan helm.
Lala menerima helm itu tanpa banyak bicara, lalu naik ke jok belakang. Begitu Rendra mulai mengendarai motor dengan kecepatan sedang, angin sore menyapa wajah Lala. Jalanan cukup lengang, tapi pikirannya justru ramai.
“Ren,” panggil Lala di tengah perjalanan, suaranya sedikit tertahan oleh helm. “Emang ada apaan sih sampai gue harus ke rumah lo?”
Rendra tidak langsung menjawab. Ia hanya sedikit menoleh, lalu berkata, “Nanti aja gue ceritain pas udah sampe.”
Lala menghela napas kecil. Ia ingin memaksa, tapi dari nada Rendra, ia tahu percuma. Justru itu yang membuat rasa penasarannya semakin menguat.
Sesampainya di rumah Rendra, motor berhenti di halaman. Rendra turun lebih dulu lalu mempersilakan Lala masuk. Rumah itu sebenarnya tidak asing bagi Lala. Ia sudah beberapa kali datang bersama teman-teman mereka dulu. Tapi kali ini berbeda tidak ada suara ramai, tidak ada orang lain. Hanya mereka berdua.
Canggung.
Itu kata yang paling pas.
Lala melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu, meletakkan tas dan goodie bag di sampingnya. Rendra berjalan ke dapur.
“Lo mau minum apa, La?” tanya Rendra dari dalam.
“Apa aja deh,” jawab Lala sambil bersandar. “Asal bukan racun.”
“Hahaha, yakali gue kasih racun,” balas Rendra sambil tertawa kecil.
Ia kembali dengan dua minuman kaleng, meletakkan salah satunya di meja depan Lala.
“Thanks,” ucap Lala sambil membuka kalengnya dan meneguk beberapa kali.
Hening sebentar. Lala menatap kaleng minumnya, lalu meletakkannya kembali di meja. Kali ini ia menegakkan duduk, ekspresinya berubah lebih serius.
“Oke, sekarang gue tanya lagi,” ucapnya. “Ada apa sih sebenernya?”
Ia menatap Rendra lurus. “Gue nggak terima ya kalau lo cuma becanda.”
Rendra terdiam. Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Ekhm… jadi gini,” katanya akhirnya. “Gue punya tetangga. beneran ya, gue serius, nggak becanda.”
Lala mengangkat alis. “Terus urusannya sama gue apa—”
“Ya sebentar,” potong Rendra cepat, nadanya sedikit ngegas. “Gue belum selesai cerita. Jangan dipotong dulu.”
“Oke, oke. Sori,” Lala tersenyum kecil, meski rasa penasarannya makin memuncak.
“Dia sering ke sini,” lanjut Rendra. “Ngajak ngobrol. Kadang pulang kerja bawain gue makanan. Awalnya gue ngerasa biasa aja. Gue pikir yaudah, itung-itung nambah temen lah di sini.”
Rendra menatap lantai, lalu melanjutkan, “Dia juga seumuran sama kita makanya gua ngerasa kapan lagi punya tetangga seumuran, disaat hampir semua laki-laki tetangga gua udah bapak - bapak rumah tangga.”
Lala mengangguk pelan, menunggu.
“Tapi lama-lama sikapnya beda,” kata Rendra dengan nada lebih pelan. “Bukan cuma sekadar ngobrol. Cara dia lihat gue, cara dia ngomong... gue ngerasa risih.”
Ia terdiam sejenak, seperti sedang menimbang kata-katanya sendiri.
“Dan gue nggak nyaman, La.”
Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu, membuat suasana yang tadinya canggung berubah jadi berat seolah cerita yang sebenarnya baru saja dimulai sudah tidak ada canggung lain melainkan lebih serius.
Rendra menghela napas panjang sebelum melanjutkan. Tangannya bertaut, jarinya saling menekan seperti sedang menahan sesuatu.
“Masalahnya,” ucapnya pelan, “dia itu cowok, La.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dibuat-buat, tapi cukup membuat Lala terdiam sejenak. Cukup kaget, dan mencoba untuk mencerna.
“Oh,” Lala akhirnya bersuara. Singkat. Netral.
“Dan gue bukannya gimana-gimana ya,” Rendra buru-buru menambahkan, seolah takut disalahpahami. “Gue nggak mau nge-judge gapeduli juga sama orientasi orang lain. Gue cuma... nggak nyaman. Cara dia ke gue udah lewat batas temen antar laki-laki”
Lala menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan tangan di dada. “Dia pernah ngomong langsung?”
Rendra menggeleng. “Nggak secara gamblang. Tapi intens. Terlalu intens. Chat hampir tiap hari, suka nungguin gue pulang, sekarang malah beberapa kali nyeletuk hal-hal yang bikin gue bingung harus nanggepin gimana.”
Ia menatap Lala. “Gue nggak mau kasar. Tapi gue juga nggak mau ngasih harapan yang salah.”
Lala mengangguk pelan. Dalam hati, ia paham posisi Rendra. Serba salah. Menolak takut menambah masalah lain, diam malah makin bikin orang salah paham.
Lala menghela napas pelan, lalu menoleh ke Rendra.
“Ren,” ucapnya hati-hati, “lo udah coba ngomong ke RT sini belum?”
Rendra langsung menggeleng. Cepat.
“Belum. Dan gue nggak kepikiran ke situ juga,” jawabnya. “Gue nggak mau ribet. Lagian belum ada yang aneh-aneh secara fisik. Cuma... sikapnya aja yang bikin gue nggak tenang.”
“Takut kalo dibesar-besarin malah jadi cerita ke mana-mana?” tebak Lala.
“Iya,” sahut Rendra. “Gue cuma pengen hidup gue di sini tenang. Pulang kerja, istirahat. Bukan malah mikir, ‘nanti ketemu dia lagi nggak ya’.”
Lala mengangguk pelan. Ia bisa membayangkan betapa melelahkannya rasa waswas yang datang tiap hari, tanpa kejadian besar tapi terus menggerogoti pikiran.
Lala mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Sesering apa orang itu ke sini, Ren?” tanyanya pelan, tapi jelas.
Nada suaranya terdengar netral, tidak menghakimi, hanya ingin tahu. Namun di balik itu, ada kewaspadaan yang perlahan muncul. Bukan karena panik, melainkan karena ia sadar, detail kecil sering kali justru menentukan seberapa jauh batas itu sudah dilewati.
Tatapan Lala tertuju pada Rendra, menunggu jawaban.
“Awalnya sesekali aja,” jawab Rendra sambil menghela napas.
“Cuma nyapa, basa-basi dikit. Kadang bawain makanan, kadang cuma numpang ngobrol sebentar.”
Ia mengusap tengkuknya, seperti sedang mencari kata yang tepat.
“Tapi lama-lama jadi makin sering. Hampir tiap hari.”
Rendra berhenti sejenak, lalu melirik jam di dinding ruang tamunya.
“Dan anehnya, hampir selalu di jam yang sama.”
“Jam tujuh malam,” lanjutnya pelan.
“Jam orang baru pulang kerja, jam rumah lagi sepi-sepinya.”
Nada suaranya terdengar datar, tapi ada kegelisahan yang jelas terasa. Bukan marah, bukan juga takut berlebihan lebih ke rasa tidak nyaman yang dipendam terlalu lama.
“Terus niat Lo bawa kesini buat cerita itu aja” tanya Lala yang merasa tau kalau sebenernya Rendra mengajaknya kerumahnya bukan hanyak untuk sekedar menceritakan hal itu saja
“Ngga la”
“Gue mau minta tolong Lo”
Lala menoleh cepat. “Tolong apaan?”
“Bantuin gue bikin jarak,” jawab Rendra jujur. “Entah itu pura-pura kalo gue udah deket sama lo, atau lo sering ke sini, atau apa pun yang bikin dia paham kalo gue nggak available.”
Lala menatap Rendra lama. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia bicara lagi.
“Ren,” katanya akhirnya, suaranya lembut tapi tegas. “Lo tau kan, gue nggak suka drama.”
“Gue tau,” jawab Rendra cepat. “Makanya gue minta bantuan lo. Karena lo orang yang paling aman buat gue mintain tolong.”
Kalimat itu membuat Lala terdiam. Aman. Kata itu terasa berat.
Lala menghela napas, lalu bersandar ke sofa. “Lo ngerasa terancam?”
“Nggak sampai gitu,” jawab Rendra jujur. “Tapi gue ngerasa... ruang gue diambil. Dan gue nggak nyaman.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Kali ini Lala yang berpikir.
Lala mengangkat wajahnya, menatap Rendra lurus. “Gue nggak janji bisa beresin semuanya. Gue juga nggak mau jadi alesan buat nyakitin siapa pun.”
Rendra mengangguk pelan. “Gue ngerti.”
Lala menghela napas panjang, seolah baru saja mengambil keputusan yang sejak tadi ia tahan.
“Yaudah,” katanya akhirnya. “Gue bantuin.”
Nada suaranya datar, tapi keputusannya bulat.
“Pelan-pelan aja. Kita cari cara yang paling aman, paling minim drama.”
Wajah Rendra langsung berubah bukan senyum lebar, tapi ekspresi lega yang susah disembunyikan.
“Makasih, La,” ucapnya lirih. “Serius.”
Lala mengangguk kecil. “Iya. Tapi abis ini lo juga harus berani jujur sama diri lo sendiri. Jangan terus-terusan ngandelin orang lain buat nutupin ketidaknyamanan lo.”
Rendra tertawa kecil, kali ini lebih ringan. “Siap, Bu Lala.”
Lala memutar mata. “Ih, jangan lebay.”
Dan meski keputusan itu terlihat sederhana, Lala tahu, sejak kalimat gue bantuin keluar dari mulutnya posisinya dalam hidup Rendra pelan-pelan bergeser.
Setelah percakapan itu, suasana sempat kembali hening. Bukan hening yang canggung, tapi lebih ke jeda seolah masing-masing butuh waktu buat mencerna apa yang barusan dibicarakan.
Lala menghela napas pelan, lalu tiba-tiba berdiri kecil dari sofa.
“Oh iya,” katanya, nada suaranya kembali santai, berusaha menggeser suasana yang tadi sempat berat. “Makan yuk. Gue laper.”
Ia menunjuk goodie bag di atas meja yang sejak tadi tergeletak begitu saja.
“Ini dibawain makanan sama mama gue.”
Rendra langsung menoleh, matanya berbinar sedikit saat melihat Lala membuka isi tas tersebut.
“Wuih,” ujarnya spontan. “Kayanya enak nih.”
“Ya iyalah,” balas Lala sambil nyengir kecil. “Masakan mama gue tuh gapernah gagal.”
Lala mengeluarkan beberapa kotak makanan dan meletakkannya di meja. Aroma masakan rumahan langsung memenuhi ruangan, sederhana tapi hangat berbanding terbalik dengan cerita rumit yang tadi baru saja mereka bahas.
“Gila,” Rendra terkekeh kecil. “Rumah gue udah lama nggak bau makanan kaya gini.”
Lala menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali merapikan makanan. “Makanya, makan. Jangan banyak mikirin yang enggak-enggak.”
Mereka pun berpindah ke meja makan. Rendra mengambil piring, sementara Lala membagikan makanan dengan gerakan santai, seolah ini bukan rumah orang lain, seolah mereka sudah terbiasa melakukan hal ini bersama.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, Rendra menghela napas puas.
“Ini enak banget sih, La.”
“Kan gue bilang,” jawab Lala singkat, tapi ada nada puas di suaranya.
Untuk beberapa saat, mereka makan tanpa banyak bicara. Sendok dan piring beradu pelan, ditemani suara kipas angin dan lampu dapur yang menyala hangat.
Masalah tadi tidak benar-benar hilang, tapi untuk sementara, mereka membiarkannya menunggu. Di antara makanan sederhana dan obrolan ringan yang mulai kembali mengalir.
“Mas-mas itu kira-kira malam ini bakal dateng nggak?” ucap Lala sambil mengunyah pelan.
Rendra berhenti makan. “Kok nanyanya kaya gitu sih.”
“Jujur,” Lala melanjutkan, matanya berbinar sedikit, “gue penasaran sama orangnya.”
Rendra mendecak kecil. “Gue berharap sih enggak.”
“Hmm,” Lala menahan senyum. “Tapi?”
“Tapi kemungkinan besar dia ke sini,” jawab Rendra pasrah. “Biasanya jam segini atau agak maleman.”
“Ohhh,” Lala memanjangkan nada suaranya, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Okeee. Gue mau liat.”
Rendra langsung menoleh cepat. “Apaan sih, La. Jangan gitu dong.”
Lala makin tertawa melihat ekspresi Rendra yang jelas nggak nyaman. “Santai aja kali. Gue kan cuma liat, bukan mau ngapa-ngapain.”
“Justru itu,” balas Rendra. “Gue aja udah risih, lo malah excited.”
“Ya kan beda,” jawab Lala santai. “Gue cuma pengen tau orang yang bikin lo sekhawatir ini tuh modelannya kaya gimana.”
Rendra menghela napas panjang, lalu kembali memasukan makanan kedalam mulutnya. “Doain aja dia nggak dateng.”
“Enggak ah,” Lala nyengir. “Gue malah pengen.”
Rendra menggeleng, setengah pasrah, setengah bingung. “Heran gue sama lo.”
Tawa kecil mereka kembali mengisi ruangan, bercampur dengan suara alat makan.
Tidak lama setelah mereka selesai makan, Lala dan Rendra membereskan meja makan bersama.
Sisa-sisa makanan dipindahkan, piring ditumpuk rapi, lalu dibawa ke dapur. Rendra mencuci, sementara Lala membantu membilas dan menyusun piring di rak.
Suasana sebenarnya cukup santai. Namun, di tengah kegiatan itu
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan terdengar dari arah pintu depan.
Lala refleks berhenti membilas piring. Tangannya masih memegang satu piring basah. Rendra pun langsung menoleh, gerakan tangannya terhenti di bawah aliran air.
Mereka saling pandang.
Ketukan itu terdengar lagi, sedikit lebih tegas dari sebelumnya.
Rendra menarik napas pelan.
“Sebentar,” katanya, entah ke Lala atau ke dirinya sendiri.
Lala meletakkan piring perlahan, mengeringkan tangannya di serbet, lalu berkata pelan, “Itu...?”
Rendra mengangguk kecil. Wajahnya berubah kaku.
“Kayaknya dia lagi.”
Dan untuk sesaat, dapur itu terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.
semangat kak... salam dari Edelweiss...