Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu Yang Tak Disengaja
Tengah malam, aku masih menatap layar ponsel. Percakapan kami semalam terus berputar di kepala, seperti lagu yang tak kunjung usai. Aku ragu-ragu ingin mengetik sesuatu, tapi takut salah kata.
Rasa itu… entah kapan mulai muncul lagi. Bukan direncanakan, bukan disengaja, tapi di sini, di detik yang sepi ini, aku menyadari: aku merindukan Hana. Rindu yang tak sengaja, tapi terasa begitu nyata.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati. Di satu sisi, aku ingin membalas DM-nya lagi, tapi di sisi lain… aku ingin menunggu, menikmati momen ini, membiarkan rindu itu tetap lembut, tak terburu-buru, seperti lagu lama yang terdengar di ruang yang sunyi.
Wah, sepertinya aku menjadi gila. Iya, gila. Kenapa aku harus sibuk memikirkan Hana? Siapa dia sebenarnya? Dia bukan siapa-siapa… hanya teman dunia maya, teman cerita biasa. Tidak lebih dari itu. Wahai Raka, sadarlah… huftt.
Dalam kekacauan pikiranku, aku memutuskan pergi ke gym hari ini, berharap bisa melepaskan gelisah dan pikiran kacau sejak kemarin. Sungguh, kacau sekali. Sebulan sudah berlalu sejak terakhir kami saling sapa di DM atau messenger pribadi. Aku lebih memilih memantau dia dari status-statusnya. Kadang Hana komen juga di statusku, tapi hanya komentar biasa. Namun, cukup membuat hatiku tersiksa.
Tiba di gym, aku bertemu temanku.
“Gila sih gue rasa… masa gue kepikiran bini orang terus, ya?” celetukku sambil tertawa getir.
Temanku, laki-laki yang sudah menikah, hanya menatapku. Aku sadar, sepertinya hanya aku yang telat menikah. Usia 36tahun dan Hana 34tahun. Hanya beda dua tahun.
Dia mengangkat alis, lalu berkata santai, tapi tegas:
“What? Sejak kapan? ”
“Sejak lama… lama banget,” jawabku, setengah tersenyum, setengah menahan gelisah.
“Lepasin… ikhlasin… lupain. Masih banyak perempuan lain loh!! Di dunia ini lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Jadi buat apa lo kejar perempuan yang udah menikah, bahkan udah punya anak? Jangan nambah beban hidup lo sendiri!!"
Aku tersenyum pahit. Nasihatnya benar… tapi entah kenapa, hatiku tetap menoleh ke masa lalu, pada nama yang tak pernah bisa kulupakan.
Aku menghela napas panjang, menatap rak dumbbell. Rasanya seperti semua energi gelisah ini menumpuk di dadaku, menunggu untuk dilepaskan. Tapi, meski otot bekerja, pikiranku tetap berputar, Hana, namanya selalu muncul di kepala.
Aku mencoba fokus ke latihan, tapi ponselku tetap terbayang. Bagaimana dia sekarang? Apakah dia bahagia? Apakah dia benar-benar melupakan masa lalu, atau hanya terselip sedikit rasa penasaran seperti aku?
Temanku sudah pergi, meninggalkanku sendiri di antara bunyi besi dan musik latar yang berirama cepat. Aku menepuk-nepuk dada, menenangkan diri.
“Raka… ini hanya rasa penasaran. Itu saja. Jangan terlalu serius.”
Tapi kemudian, rasa itu menempel lagi lebih tajam, lebih hangat. Aku teringat SMS lama, puisi yang kuposting, semua percakapan yang dulu terasa begitu dekat tapi kini hanya tinggal kenangan. Aku menyadari, rasa ini bukan sekadar nostalgia. Ada sesuatu yang lebih, tapi aku belum bisa menamai itu.
Aku menatap layar ponselku. Notifikasi masuk, tapi kali ini bukan dari Hana. Aku tersenyum getir. Rasanya lucu, karena perasaan ini begitu riil, tapi juga begitu tidak bisa kugapai. Aku berjanji dalam hati aku akan sabar, menikmati setiap detik, tapi tetap menjaga jarak. Menjadi pengamat, tapi tidak melangkahi batas.
Malam nanti, aku mungkin akan membuka DM Hana lagi, hanya untuk memastikan namanya benar-benar masih sama di layar itu. Tapi untuk sekarang aku hanya akan menutup mata, menghirup udara dalam-dalam, dan berusaha menenangkan diri.
Entah kapan ini akan berakhir, tapi satu hal yang pasti: setelah 16 tahun, sesuatu telah kembali mengetuk hatiku, dan aku tidak bisa lagi pura-pura tak merasakannya.
"Panah apa yang kau berikan padaku, wahai Hana..."
Ini benar-benar gila.
Tanpa kusadari, aku sedang menatap wajahnya… bahkan ku-save fotonya.
Wajahmu yang cantik itu, dengan senyum manismu, membuatku yakin bahwa rasa ini… sepertinya memang sulit untuk kulupakan.
Entah bagaimana caranya, Hana… entah bagaimana.