Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Sabtu, 17 Mei : Pukul 15.20 WIB
Hutan Lindung Ciremai, 80 Meter dari Jalur Utama
Dua puluh meter terasa berbeda di dalam kabut.
Mereka baru berjalan delapan puluh meter dari jalur utama Fajar menghitung langkahnya tapi jalur itu sudah tak terlihat. Bukan karena jauh, tapi karena kabut yang turun dengan kecepatan tak wajar telah mengubah dunia di sekitar mereka menjadi dinding putih tanpa kedalaman.
Pohon-pohon muncul tiba-tiba dari keputihan, berdiri diam seperti penjaga tak diundang.
“Dua puluh meter lo bilang,” bisik Bagas, berjalan rapat di belakang Dimas.
“Ini masih”
“Kita sudah delapan puluh langkah, Jar.”
“Langkah gue pendek.” Tapi suara Fajar sudah berubah. Ada sesuatu di sana yang tak mau dia akui.
Dia tak tahu di mana dia.
Bukan tersesat kata itu terlalu dramatis, terlalu final. Tapi dia tak tahu di mana jalur utama sekarang. Dia tak tahu dari arah mana mereka datang. Pohon-pohon di sekitarnya terlihat sama semua: batang berlumut, akar mencuat, dan di atas, kanopi yang sekarang tak terlihat karena kabut sudah setinggi dada.
“Jar.” Dimas memegang bahu Fajar dari belakang. “Kita balik.”
“Iya.” Fajar mengangguk. Akhirnya, tanpa argumentasi. “Iya. Kita balik.”
Mereka berputar.
Berjalan.
Lima menit.
Tiga pohon besar yang Fajar yakin sudah pernah dilewatinya. Atau pohon yang terlihat persis sama. Atau dia sudah memutar tanpa sadar.
“Ini…” Bagas berhenti. Mengelilingi diri dengan pandangannya. “Ini bukan jalur yang kita lewati tadi.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena tak ada yang bisa memastikan apa yang seharusnya dijawab.
Sabtu, 17 Mei : Pukul 16.40 WIB
Lokasi Tidak Diketahui, Hutan Lindung Ciremai
Mereka sudah berhenti berjalan.
Bukan karena sudah menemukan jalur tapi karena Dimas, yang dari semua orang paling sedikit panik, sudah memutuskan bahwa berjalan tanpa arah dalam kabut hanya akan memperjauh mereka dari titik yang dikenal.
“Diam di tempat. Keluarkan peluit. Itu SOP dasar ketika tersesat.”
Tiga kali tiupan peluit. Berhenti. Tiga kali lagi. Berhenti. Berulang sampai suara serak.
Tidak ada respons.
Sinyal ponsel Bagas menunjukkan satu bar yang berkedip tidak konsisten ada, tidak ada, ada, tidak ada di ketinggian ini dan dalam kabut setebal ini. Pesan yang dia kirim ke nomor darurat pos pendaki tak bisa dipastikan terkirim.
Fajar duduk di atas akar pohon besar, lututnya dipegang dengan kedua tangan. Action cam di dadanya masih menyala mungkin sudah terekam semua ini, mungkin nanti bisa jadi konten, mungkin juga tak ada yang peduli soal konten lagi sekarang.
Dia menatap kabut.
Kabut menatap balik.
“Jar.” Dimas duduk di sampingnya. “Baterai headlamp lo berapa?”
“Penuh.”
“Bagus. Kita tunggu sampai kabut sedikit menipis. Kalau sudah bisa lihat jarak cukup, kita cari jalur utama.” Dimas berbicara pelan dan terstruktur, seperti seseorang yang sedang membaca panduan darurat di kepalanya. “Jangan pisah. Apapun yang terjadi, jangan pisah.”
Fajar mengangguk.
Bagas mengangguk.
Dan mereka menunggu.
Kabut tidak menipis.
Sabtu, 17 Mei : Pukul 19.15 WIB
Satu hal yang tak pernah dijelaskan dalam video-video outdoor survival yang Fajar buat adalah ini: malam di dalam hutan tanpa tanda-tanda jalur bukan hanya gelap.
Ia berbunyi.
Setiap suara yang di siang hari terdengar seperti latar belakang menyenangkan kicau burung, gemerisik daun, suara air entah dari mana di malam hari menjadi sesuatu yang berbeda. Lebih dekat. Lebih tak bisa diidentifikasi arahnya. Lebih tak bisa diprediksi artinya.
Mereka membuat bivak darurat dari terpal kecil yang ada di carrier Dimas. Tenda tidak ada ini harusnya day hike, naik-turun dalam satu hari, tak ada yang bawa perlengkapan bermalam penuh.
Suhu turun.
Jaket lapis dua sudah terpasang. Tapi angin yang bertiup dari celah-celah pepohonan menembus dengan cara yang jaket tak bisa sepenuhnya hentikan.
Fajar menggigil.
Bukan menggigil biasa menggigil yang mulai dari tulang, bukan dari kulit. Yang mengencangkan rahang tanpa bisa ditahan.
“Jar, lo oke?” tanya Bagas, menatap temannya dari seberang api kecil yang mereka nyalakan dari kayu-kayu kering yang untungnya masih bisa ditemukan.
“Dingin.” Fajar menggosok-gosok kedua lengannya.
“Minum air hangat, gue punya thermos kecil”
“Gue oke, Gas. Gue oke.”
Tapi Bagas melihat sesuatu yang membuat perutnya tak nyaman: bibir Fajar sudah keunguan. Bukan dingin biasa. Fajar memang lebih kurus dari rata-rata, lebih sedikit lapisan lemaknya, dan suhu tubuhnya dari tadi sudah terasa rendah saat Bagas memegang bahunya.
Hipotermia awal, pikir Bagas, tanpa mengatakannya keras.
“Minum termos-nya dulu ya, Jar. Bukan saran, ini perintah.”
Fajar menerima thermos itu tanpa banyak bicara. Itu sendiri sudah tanda yang tak biasa.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪