Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 AKHIRNYA MENERIMA
Tiga hari setelah Ara sholat istikharah, pagi itu hatinya terasa jauh lebih tenang. Keputusan yang semula terasa berat kini seperti sudah menemukan tempatnya sendiri di dada.
Malamnya, ia duduk bersama kedua orang tuanya di ruang TV. Lampu temaram menyinari wajah mereka, menciptakan suasana hangat meski ada sedikit ketegangan yang menggantung.
Beberapa detik hening.
“Ayah…” suara Ara pelan nyaris berbisik.
Ia menunduk, lalu menarik napas panjang “Ara terima”
Ayah Hasan terdiam sesaat “Terima… maksudmu, Nak?”
Ara mengangkat wajahnya “Aku sudah yakin sama Mas Danu Yah. Aku siap melangkah ke tahap serius”
Ibu Adis langsung menggenggam tangan Ara “Kalau itu yang kamu yakini, Ibu dan Ayah mendukung”
Ayah Hasan mengangguk pelan“Yang penting hati kamu tenang”
Tak lama kemudian, Ayah Hasan berdiri dan mengambil ponsel.
“Nak… biar Ayah yang bicara”
Ara hanya mengangguk, jantungnya kembali berdebar.
Telepon tersambung.
“Assalamualaikum Pak” suara Mas Danu terdengar dari ujung sana
“Waalaikumsalam Nak Danu. Ayah cuma mau menyampaikan… Ara sudah membuat keputusan”
Hening beberapa detik.
“Ara… sudah yakin sama keputusannya, Pak?” suara Mas Danu terdengar tertahan.
“Iya Ara menerima. Kami mendukung keputusan itu”
Terdengar hembusan napas lega “Alhamdulillah… terima kasih Pak”
Pak Adis tersenyum “Iya Ayah percaya sama kamu”
Ara menutup mata sesaat. Rasanya nyata.
Setelah selesai telpon Ayah menatap Ara sambil berkata “Besok malam, Nak Danu akan datang ke rumah untuk berbicara langsung dan silaturahmi bersama orang tuanya”
Ara tersenyum tipis “Iya Yah… ”
Malam itu, di ruang TV yang sederhana tapi penuh kehangatan Ara merasa damai. Ia sadar meski keputusan besar, ia tidak pernah sendiri dukungan orang tua dan komunikasi yang terbuka membuatnya siap melangkah ke babak baru dalam hidupnya.
Ara baru saja naik ke kamarnya, masih sedikit gelisah setelah percakapan dengan orang tuanya. Ia menutup pintu perlahan lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menarik napas panjang.
Beberapa saat setelah itu, ponselnya bergetar di kamar.
Ara naik ke kamarnya dengan langkah pelan. Ia menutup pintu, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menarik napas panjang.
Ponselnya bergetar.
Mas Danu: Makasih ya udah terima aku. Maaf nggak ada pendekatan panjang, tapi aku niat serius.
Ara menatap layar lama. Ia bisa merasakan ketuluSan di balik kalimat singkat itu.
Ia membalas perlahan.
Ara: Aku kaget, Mas… tapi aku juga yakin. Semoga semuanya dimudahkan.
Balasan datang cepat.
Mas Danu: Aamiin. Aku akan jaga niat ini baik-baik. Aku nggak mau kamu merasa salah pilih.
Ara tersenyum sendiri menaruh ponselnya di atas meja, matanya menatap kosong ke luar jendela. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya, rasa gereget yang manis bercampur lega.
Ia menutup mata sesaat, tersenyum sendiri, merasa hatinya mulai tenang “Jadi… semua ini nyata ya…” gumamnya pelan hampir tak terdengar
Lampu kamar yang lembut memantulkan bayangan Ara di dinding. Malam itu terasa lebih hangat. Ia tahu langkah besar sudah diambil dan meski sedikit kaget dengan keseriusan Danu, ada keyakinan di hatinya bahwa semuanya akan berjalan baik.
Keesokan harinya menjelang malam, suara mobil berhenti di halaman.
Ara langsung tahu siapa.
Ia berdiri, menarik napas panjang.
“Assalamualaikum…” suara pria dewasa terdengar dari luar.
Ayah segera berdiri dan membuka pintu.
“Waalaikumsalam. Silakan masuk”
Di ambang pintu berdiri Mas Danu bersama kedua orang tuanya. Ayahnya mengenakan kemeja rapi, wajahnya teduh. Ibunya tersenyum hangat sambil membawa bingkisan.
Mas Danu menunduk sopan “Assalamualaikum, Pak”
Ara yang berdiri sedikit di belakang Ibu ikut menjawab pelan “Waalaikumsalam…”
Semua duduk di ruang tamu. Suasana hangat tapi penuh kehati-hatian.
Ayah Danu Pak Hadi membuka percakapan dengan suara tenang.
“Kami datang ke sini membawa niat baik. Anak kami sudah menyampaikan keinginannya, dan sebagai orang tua, kami ingin menyampaikan langsung”
Ayah Ara mengangguk “Silakan Pak”
Ayah Danu menoleh sekilas pada putranya, lalu kembali berbicara.
“Mas Danu berniat melamar Ara secara resmi. Kami ingin semuanya jelas, terhormat, dan sesuai adat”
Ruangan sempat hening beberapa detik.
Ara menunduk, jantungnya berdetak kencang.
Ayah Ara memandang Mas Danu “Kamu yakin dengan keputusanmu?”
Mas Danu duduk lebih tegak “InsyaAllah yakin, Pak. Saya sudah pikirkan matang-matang”
Ibunya Danu Alya menambahkan dengan lembut “Kami tidak ingin anak kami main-main. Kalau sudah melangkah, harus bertanggung jawab”
Ibu Ara tersenyum tipis “Ara juga sudah mempertimbangkan, Bu”
Semua mata sempat tertuju pada Ara.
Ia menarik napas pelan lalu mengangguk “Ara siap”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat suasana berubah. Tegang berganti haru.
Ayah Ara tersenyum “Kalau begitu mari kita bicarakan rencana selanjutnya”
Pembicaraan pun berlanjut tentang waktu lamaran resmi, tentang rencana pertemuan keluarga besar, dan hal-hal teknis lainnya. Semua dibahas dengan tenang dan penuh saling menghormati.
Di sela percakapan, sesekali Ara dan Mas Danu saling mencuri pandang. Tidak lama hanya sekilas tapi cukup untuk saling meyakinkan.
Beberapa saat kemudian, Mas Danu meminta izin. “Pak… boleh saya ngobrol sebentar dengan Ara? Di sini saja”
Pak Hasan tersenyum “Silakan”
Ara duduk perlahan di sampingnya, menjaga jarak sopan.
“Ara…” suara Mas Danu rendah tapi mantap “Aku tahu ini cepat tapi aku tidak mau setengah-setengah. Kalau aku datang, berarti aku siap dan sudah memikirkan segala sesuatu yang mungkin akan terjadi nantinya ketika bersama”
Ara tersenyum kecil, masih ada sisa gugup “Aku memang kaget, Mas. Tiba-tiba kamu langsung bicara ke Ayah.”
Mas Danu mengangguk “Karena aku tidak mau kamu merasa digantung kalo nantinya cuma pendekatan tanpa niat serius jadi aku langsung minta ke Ayah untuk setius tanpa pacaran. Aku ingin semuanya jelas”
Hening beberapa detik, bukan hening canggung, melainkan hening yang penuh makna.
“Aku percaya” akhirnya Ara berkata pelan.
Sorot mata Mas Danu melembut “Terima kasih sudah percaya”
Tak lama kemudian, setelah kesepakatan awal dicapai, keluarga Mas Danu pamit.
“Terima kasih sudah menerima kami dengan baik” ucap Ibu Danu hangat.
“Kami juga berterima kasih atas niat baiknya” jawab Ayah Hasan.
Di depan pintu, sebelum masuk ke mobil, Mas Danu sempat menoleh ke Ara “Terima kasih sudah percaya”
Ara tersenyum tipis “Sama-sama”
Mobil itu perlahan menjauh dari halaman.
Ara berdiri di teras, hatinya campur aduk antara lega, haru, dan takjub karena semuanya berjalan lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Namun tidak ada lagi rasa ragu.
Ibu mendekat dan menggenggam tangannya “Nak… ini awal perjalanan panjang. Pernikahan bukan hanya tentang hari bahagia, tapi tentang komitmen setiap hari”
Ara mengangguk “Ara tahu Bu. Doakan saja Ara bisa menjalaninya dengan baik”
Ayah Hasan berdiri di samping mereka “Selama niatnya baik dan dijaga, InsyaAllah jalannya dimudahkan”
Malam semakin larut. Lampu teras memantulkan cahaya hangat di wajah mereka. Ara menatap langit yang sama seperti malam sebelumnya, tapi kini rasanya berbeda.
Langkah itu bukan lagi sekadar rencana.
Ia adalah kenyataan yang benar-benar sedang dimulai.