Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bermalam di tengah hutan
"Zach kamu kah itu." spontan Carol memeluk Zach. Lalu tiba-tiba Carol menangis sesegukan. Carol benar-benar terguncang dengan insiden di ruang laboratorium.
Zach berusaha menenangkan Carol. Mengusap kepala Carol.
"Sudah. Semua sudah berlalu. Kita selamat. Kamu tenang saja. Besok kita cari jalan keluar dari sini."
Carol mengusap air matanya. "Sebenarnya kita berada dimana? Suara-suara itu sangat menyeramkan, Zach. Aku sangat takut." tubuh Carol bergetar. Dia belum pernah berada di tempat seperti ini. Tempat yang menurutnya sangat menyeramkan. Terlebih ini malam hari.
"Jangan takut. Kita harus membuat api dulu. Supaya kita aman dari binatang buas." Zach meraih ranting kering di sekitarnya.
"Memangnya disini ada binatang buas, Zach?"
"Kurasa gak ada. Sepertinya ini masih milik warga. Karena malam saja, jadi tampak menyeramkan." Carol mepet terus kemana Zach melangkah. Dia sangat takut dengan kegelapan.
"Teman-teman kita yang lain dimana? Kenapa kita bisa sampai disini? Apakah ledakan itu membuat kita terlempar kemari?" cecar Carol saat Zach berhasil menyalakan api. Untunglah ada mancis terselip di kantongnya. Untuk digunakannya saat dia diam-diam merokok.
"Mungkin mereka selamat. Aku sempat melihat Megan,Vivian dan Mario berhasil keluar. Aku kembali ke dalam ruangan saat menyadari kamu tidak ada di antara mereka."
"Jadi, kamu yang telah menyelamatkan aku?" Carol tiba-tiba teringat bayangan sosok di balik asap sebelum dia pingsan.
"Tentang itu aku tidak ingat. Aku hanya ingat kembali ke dalam ruangan mencarimu. Hanya itu saja. Selebihnya aku tidak ingat." Zach melemparkan daun-daun kering supaya api menyala lebih besar.
Zach memang tidak ingat kalau dia lah yang telah menyelamatkan Carol. Sama seperti saat di ruangan Pak Edward. Zach tidak ingat apa yang telah dilakukan gurunya itu padanya.
Entah apa formula obat yang telah disuntikkan Pak Edward pada Zach. Sehingga ingatannya hilang saat dia berubah wujud. Hanya Pak Edward yang mengetahuinya. Sayangnya beliau sudah tewas dengan mengenaskan, membawa serta rahasia dari obat penemuannya.
Pemerintah hanya sempat menyita obat mentahan milik Pak Edward. Tapi tidak dengan formulanya. Apa yang tertulis dalam laporannya itu hanyalah fiktif. Jelas saja Pak Edward tidak mau jujur dengan formula obat hasil penelitiannya. Karena dia sudah mencium konspirasi dari lembaga yang menaunginya.
Bahwa penolakan obat penemuannya itu hanyalah kedok untuk, menjegalnya. Sepertinya ada seseorang atau kelompok yang sengaja hendak memamfaatkannya.
Untunglah beliau mengendus persekongkolan itu. Sehingga Pak Edward menyimpan dan akhirnya membawa mati formula obat yang ditemukannya.
Saat Carol pingsan, Zach yang telah berubah wujud seperti Pak Edward, membawa Carol ke tempat yang aman. Insting mahkluk primata, yang tinggal di hutan. Kesanalah Zach membawa Carol. Sejauh satu kilo meter lebih dari lokasi kebakaran. Setelah itu Zach juga turut pingsan.
"Jadi kàmu tidak ingat apa-apa ya?" guman Carol. Menatap Zach dari samping. Carol melihat bulu halus di bawah dagu Zach. Sejak kapan Zach punya brewok. Mana warna nya kuning kemerahan
"K-rak!"
Tiba-tiba terdengar suara ranting diinjak. Telinga Zach mendadak menangkap getaran gelombang suara. Hidungnya kembang kempis mencium aroma darah. Suara itu semakin mendekat. Mungkin tertarik oleh cahaya api unggun yang dinyalakan Zach. Langkah kaki itu semakin mendekat ke arah mereka. Mahkluk berkaki empat, beratnya tidk lebih dari satu kilo. Data itu terserap otak Zach tanpa melihat target.
Bulu kuduk Zach meremang, saat dia merasakan ada hewan datang menuju ke arah mereķa.
"Kamu kenapa, Zach?" seru Carol saat melihat Zach yang mendadak tegang. Zach, melekatkan jari telunjuk ke bibirnya isyarat supaya Carol diam.
"Kamu dengar sesuatu?" bisik Carol. Zach mengangguk.
"Tapi aku tidak dengar apa-apa."
Zach berbalik. Sekali lompat tubuhnya telah menghilang dalam kegelapan. Melihat gerakan Zach yang melesat, Carol teringat kejadian sore tadi. Saat dia melihat mahkluk yang melompat ke tengah kobaran api.
"Aku berhasil menangkapnya." Zach kembali dengan seekor kelinci di tangannya. Carol shok! Bagaimana mungkin Zach bisa menangkap seekor kelinci dalam kegelapan. Dalam hitungan detik!
"Kita tidak akan kelaparan malam ini Carol. Aku akan memanggangnya." Zach menguliti kelinci itu di depan Carol.
"Zach, kamu?" Carol tidak melanjutkan ucapannya. Sepertinya Zach yang di hadapannya itu. Bukan Zach yang dikenalnya selama ini. Banyak pertanyaan dibenak Carol. Tapi tak satupun mampu dia ajukan.
"Kenapa? Kamu tidak suka kelinci ya? Kamu akan kelaparan sepanjang malam, Carol." kekeh Zach datar.
Bukan soal makan kelinci itu yang membuat Carol takut. Tapi, ada sisi liar yang tidak dimengerti Carol. Yang ditunjukkan Zach. Sepertinya, ah! Carol menggelengkan kepalanya.
Setau Carol Zach tidak pernah berburu. Menangkap ayam saja dia tidak pernah berhasil. Ini malah menangkap kelinci. Ditengah gelapnya malam pula.
"Ayo, makan!" Zach menyerahkan sepotong paha kelinci kepada Carol. Setelah selesai memanggang daging kelinci. Carol ragu untuk menerimanya.
"Kamu tidak suka? Cobalah, daripada kamu kelaparan sepanjang malam." akhirnya Carol menerima tawaran Zach.
"Hem, enak 'kan?" Carol hanya mengangguk pelan. Sebenarnya kalau bukan karena lapar. Carol tidak tega memakan daging kelinci itu. Carol teringat dengan Si Putih, kelinci peliharaannya.
"Mau lagi?" Carol menggeleng. Perutnya mendadak sudah penuh. Malah dia merasa mual. Terutama saat melihat masih ada darah melekat dibagian tulangnya. Daging kelinci itu memang belum matang sempurna.Carol bergidik ngeri melihat cara makan Zach yang tidak seperti biasa.
"Kamu kelaparan sekali, ya?" ucap Carol saat melihat Zach tidak menyisakan daging kelinci itu.
"Lumayan." Zach cegukan. Tapi tidak ada air untuk diminum. Zach melihat ada pohon kelapa. Tanpa bicara apa-apa, Zach memanjat kelapa itu.Dan berhasil memetik dua buah kelapa muda.
Zach mmengggigit tangkai buah kelapa.. Mencongkelnya dengan sepotong ranting hingga berlobang. Lalu mereguk air kelapa muda itu. Melakukan hal yang sama untuk Carol juga.
Semua tingkah Zach di luar kebiasaan Zach. Entah sejak kapan Zach bisa memanjat kelapa. Padahal setaunya Zach gamang pada ketinggian.
"Apa kita akan bermalam di hutan ini Zach? Aku cemas orang tua kita pasti sudah mencemaskan kita."
"Kita hanya bisa menunggu sampai pagi. Terlalu berbahaya kalau kita mencari jalan pulang sekarang."
"Coba kamu hubungi keluargamu, Zach.. Katakan kalau kita selamat dari kebakaran itu."
"Tidak ada signal. Tadi aku sudah mencobanya. Sudahlah, kita bermalam di hutan ini saja. Karena kita memang tidak bisa kemana-mana."
"Ponselku tertinggal di dalam tas. Pasti sudah dimakan api." guman Carol.
"Kamu tidur disini saja." Zach menawarkan pahanya sebagai bantal. "Aku akan berjaga sepanjang malam. Kamu istirahat saja."
Carol merebahkan kepalanya di atas paha Zach. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri supaya hangat.
Api unggun perlahan mulai padam. Tinggal bara api saja. Zach mengusap kepala Carol yang tertidur di atas pahanya. Memandangi wajah Carol yang tertidur pulas. ***
"