NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Mau Lagi Berbohong

Suatu sore, saat Ririn sedang menyusun ulang jadwal minggu depan, Baskara tiba-tiba bersandar di tepi mejanya. Nada suaranya santai, terlalu santai untuk topik yang berkaitan dengan perasaan tiga orang perempuan.

“Ririn,” katanya, “menurut kamu cara paling rapi buat putus sama mereka gimana?”

Ririn berhenti mengetik matanya membelalak ke arah Baskara kaget.

“Putus… Pak?” kata Ririn memastikan.

“Iya,” jawab Baskara ringan. “Putus dengan mereka semua,”

Ririn mengangkat wajah, jelas terkejut. Ririn pun membatin benar kata Kak Dewi, Baskara paling tahan tiga bulan dengan ketiga gadis itu.

“Anna, Rosie, sama Rika,” lanjut Baskara seolah sedang membicarakan tiga ekor binatang peliharaan. “Kayaknya udah cukup.”

Ririn menelan ludah. “Cukup… maksudnya?”

Baskara tersenyum kecil. “Bosan.”

Ririn menarik napas panjang, mencoba tetap profesional. “Terus… rencana Bapak bagaimana?”

Baskara menatapnya lurus. “Bilang aja ke mereka… aku udah punya pacar dan aku mau serius.”

Dunia Ririn seperti berhenti berputar hatinya mengutuk Baskara dengan umpatan kasar, Bajingan brengsek, mati saja, masuk neraka.

“Pacar?” suaranya nyaris tak keluar.

“Iya Kamu, yang jadi pacar saya,” kata Baskara santai terlalu santai seolah semua ini hanya permainan.

Ririn membeku jantungnya berdegup keras gila dia gila, dalam bayangannya Ririn dia sudah meninju wajah Baskara sekali dua kali sampai tumbang.

“Pak,” Ririn berhenti dia tahu bantahan di depan Baskara hanya akan jadi bumerang buat dirinya sendiri.

"Gimana aman kan,” lanjut Baskara. “Kamu tinggal ikut skenario, saya yang tanggung jawab.”

Enak aja, maki Ririn dalam hati dia mau numbalin gue ketiga perempuan itu pasti bakal nyerang gue habis habisan.

Wajahnya tetap tenang senyum kecil yang sudah dia kuasai selama tiga bulan terakhir kembali terpasang.

“Iya, Pak,” katanya akhirnya. “Kalau itu maunya Bapak.”

Baskara mengangguk puas. “Bagus. Aku tahu kamu bisa diandalkan”

Saat Baskara kembali ke ruangannya, Ririn duduk diam cukup lama tangannya mengepal di bawah meja dia bergumam dalam hatinya jadi pacar pura-pura yang benar saja.

Kepalanya langsung dipenuhi bayangan tatapan marah, suara tinggi, tuduhan, drama yang pasti akan menimpanya.

Oke, Baskara, batinnya dingin lu mau main aman kan?

Senyum tipis muncul di wajah Ririn bukan senyum pasrah tapi senyum seseorang yang baru saja menemukan ide enak aja mau numbalin gue.

Kalau lu mau putus ya silakan tapi jangan bikin gue jadi tumbal.

Ririn menyandarkan punggung ke kursi, menatap kalender di layar laptopnya jadwal yang selama tiga bulan ini dia susun rapi bisa dia acak dengan sangat mudah.

Gue bikin bentrok aja sekalian biar lu yang babak belur. Dan tentu saja, itu semua masih Ririn simpan rapat-rapat di dalam pikirannya.

Di luar, dia tetap terlihat sebagai asisten yang patuh.

tetap Ririn yang selalu berkata iya pak, siap pak, laksankan pak.

Sementara di dalam dirinya, sebuah skenario lain mulai tersusun dan sore itu, Ririn akhirnya memainkan rencananya.

Jam menunjukkan hampir pukul lima ketika pintu ruang kerja Baskara tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara rendah Baskara disusul tawa kecil Anna yang manja.

Ririn berdiri di meja resepsionis, di depan ruangan itu wajahnya tenang, terlalu tenang. Tangannya sibuk merapikan berkas padahal pikirannya tajam menghitung detik.

Langkah sepatu hak terdengar mendekat Rosie mendekat ke aranya Ririn tersenyum licik.

“Mbak Ririn,” katanya dengan senyum tipis. “Mas Baskara ada?”

Ririn mengangkat wajah biasanya, di titik ini, dia akan langsung mengalihkan perhatian mengatakan Baskara sedang meeting, berbagai kebohongan Ririn rangkai dengan rapih.

Tapi kali ini tidak! Ririn hanya diam dari balik pintu, menunggu momen yang pas dan akhirnya suara Baskara terdengar jelas.

“Anna…”

Nada suaranya rendah, lembut, berbeda dari suara dinginnya kepada karyawannya di kantor.

Rosie mengernyit. “Itu Mas Baskara?”

Ririn menatapnya tak berkata apa-apa hanya mengangguk, Rosie melangkah lebih dekat ke pintu, wajahnya menegang.

“Dia sedang dengan perempuan di dalam, kan?”

Ririn mengangguk lagi, wajahnya terlihat polos tanpa dosa.

Detik itu juga raut Rosie berubah, rahangnya mengeras, matanya memanas belum sempat dia berkata apa-apa, langkah lain terdengar dari lorong.

Ririn tersenyum tipis Rika gadis nomer tiga datang di saat yang tepat.

“Mas Baskara ada?” tanyanya ringan, belum menyadari apa pun.

Rosie langsung menoleh. “Mas Baskara Kamu siapa?”

Rika berhenti menatap Rosie seketika, “Aku Rika. Kamu?”

“Rosie.”

Hening sejenak wajah mereka menegang saling mengamati satu sama lain.

“Mas Baskara lagi di dalam?” tanya Rika lagi kepada Ririn, matanya tertuju pada pintu.

Rosie tertawa pendek dan tajam masih menatap Rika.

"Akrab banget kayanya?.”

Rika langsung menoleh cepat. “Maksud kamu?”

“Aku pacarnya Mas mu,” jawab Rosie dingin.

Rika terbelalak. “Hah? Kamu pacarnya? Aku juga pacarnya.”

Wajah Rosie berubah drastis. “Apa?”

Belum sempat mereka mencerna kalimat satu sama lain, dari dalam ruangan terdengar suara Anna lembut dan manja, dan sangat jelas terdengar.

“Mas, jangan gitu dong…”

Darah Rosie dan Rika langsung mendidih.

“Itu Siapa?" Tanya Rosie dan Rika hampir bersamaan menatap Ririn, Ririn hanya terdiam berakting panik, padahal dalam hati dia tertawa melihat situasi ini.

Rosie melangkah maju, tangannya gemetar karena marah membuka pintu itu tanpa aba aba.

“Mas Baskara”

Ririn mundur selangkah, memberi jarak dia tidak berkata apa-apa, lebih baik Ririn tidak perlu berkata apapun.

“BRUK!”

Pintu didorong dengan keras.

“BASKARA!”

Teriakan itu memecah ruangan Anna terlonjak dari pangkuan Baskara wajahnya pucat. Baskara berdiri kaku, ekspresinya berubah dari santai menjadi terkejut lalu panik.

“Rosie? Rika?” suaranya tercekat. “Kalian ngapain di sini?”

“Ngapain?” Rosie tertawa keras. “Itu yang harusnya saya tanyakan sama kamu,”

Rika menunjuk Anna. “Dia siapa?”

Anna balas menunjuk. “Kalian siapa?!”

Keributan pecah seketika, suara tinggi, tuduhan, emosi yang selama ini disembunyikan akhirnya meledak tanpa sisa.

“Kamu bilang aku satu-satunya!” kata Anna terisak.

“Kamu janji mau serius!” kata Rosie tak kalah Drama.

“Kamu bilang lagi sibuk meeting!” sambung Rika kemudian.

Baskara berdiri di tengah-tengah, mencoba bicara tapi tak ada satu pun yang mau mendengar.

Ririn berdiri di luar, bersandar pada dinding lorong. Tangannya dingin, tapi wajahnya tetap datar senyum kecil terukir di wajahnya.

Dari dalam ruangan, suara bentakan dan tangisan bercampur jadi satu seperti drama di sinetron batin Ririn berkata pelan sekarang rasain akibatnya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, Ririn tidak merasa bersalah dia tidak berbohong dia hanya berhenti menutupi.

Tamparan pertama mendarat keras di pipi Baskara.

Plak!

Ruangan itu mendadak sunyi sepersekian detik sebelum tamparan kedua dan ketiga menyusul hampir bersamaan.

“Kurang ajar!”

“Brengsek!”

"Bajingan!"

Baskara terhuyung setengah langkah. Napasnya memburu, matanya merah menahan emosi yang bercampur aduk marah, malu, dan lelah.

“Cukup!” teriaknya akhirnya, suaranya menggema. “Oke! Aku capek! Aku putusin kalian semua!”

Kata-kata itu tidak meredakan apa pun. Justru membuat amarah ketiga gadis itu meledak semakin keras.

Rosie menatapnya dengan mata basah tapi penuh benci.

“Ingat ya, Baskara,” katanya dingin, setiap katanya seperti pisau. “Kamu nggak bakal dicintai.”

Rika melangkah mendekat, menunjuk dadanya sendiri.

“Kamu bakal ngerasain sakit kayak aku sekarang.”

Anna tertawa getir, air matanya jatuh.

“Dan percaya deh,” katanya pelan tapi kejam, “kamu bakal jomblo seumur hidup.”

Mereka bertiga berbalik hampir bersamaan.

Hak sepatu berdetak cepat di lantai marmer pintu dibanting keras, meninggalkan ruangan dalam keadaan porak-poranda kursi bergeser, napas Baskara tersengal, dan harga diri yang hancur berantakan.

Baskara mengusap wajahnya, rahangnya mengeras.

“RIRIN!” teriaknya keras, suaranya menggema di ruangan itu.

Tak ada jawaban dari sana Baskara melangkah keluar ruangan dengan cepat, menatap lorong kosong di depan matanya.

Meja resepsionis sudah rapi tak ada berkas tak ada sosok yang biasanya berdiri tenang di sana Ririn sudah tidak ada di tempat saat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!