NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mereka berpura pura

Berminggu minggu rencanaku untuk bertemu Gilang tertunda karena kesibukanku. Tapi, hari ini tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Dia duduk manis tepat di meja paling pojok cafe shop ini sendirian. Menatap jalanan di balik kaca jendela dia duduk.

aku perlahan berjalan menghampirinya dia terlihat sibuk memainkan benda pipih di genggamannya hingga tidak sadar kini aku telah di depannya.

" Hai, Lang?" Sapaku dengan hangat.

Dia terkejut melihatku yang tiba tiba di depannya. Pandangannya tak teralihkan dariku. Dia seperti terpaku olehku sesaat tapi dia pandai mengalihkan. Dia teramat tenang menatapku kembali.

" Hai, sudah lama tidak bertemu." Dia mengingatkanku jika pertemuan ini telah lama tidak terjadi. Aku menatapnya lekat. Tidak ada hal yang bisa membuat petunjuk. Dia terlalu tenang untuk di periksa lebih lanjut.

" Kebetulan aku bertemu denganmu Lang, ada yang perlu gua bicarakan." Aku memberikan jawaban mengapa aku  menemuinya.

Seakan dia paham bahwa aku ingin membicarakan hal penting dengannya. Dia mempersilahkan aku untuk duduk di depannya. "Silahkan. Kamu pesan minum dulu. "

Aku memesan minuman untuk teman kita berbicara empat mata saat ini.

Setelah secangkir ice lemon tea ada di depanku kini keadaan hening. Apa yang sedari tadi menari nari dalam pikiran tidak satupun terucap. Keadaan menjadi canggung, Gilang yang tahu suasana semakin canggung mencoba memulai pembicaraan.

" Apa kabar Ila? Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?" Gilang siap dengan kemungkinan selanjutnya.

" Aksara hilang." Aku berucap sambil menghela nafas.

"Aku berharap kamu masih sedikit memiliki kabarnya." Aku berucap sambil menatapnya lekat agar dia tak memiliki ruang untuk menghindar.

" Aku datang kesini belum lama La, tapi untuk kabar Aksa aku baru mendengarnya sekarang. Mungkin kalau kamu mau , aku bantu mencarinya." Ucapnya dengan yakin. Sangat masuk akal bila dia berbicara seperti itu. Terhitung dua tahun dia meninggalkan kota ini dan kini kembali menginjak kota ini. Tapi ada hal lain.

Tersembunyi, walupun sedikit ada jejak.

" Ada yang di tutupi, kamu bukan orangnya" Aku memalingkan wajah ke kanan, pikiranku mencelos. Semua sama bohong.

Aku berlalu dari harapan yang tiada ujung dengan lunglai. Gilang bukan jawaban yang aku harapkan. Ada yang lain dari mereka.

Entah itu apa, tapi mereka tutupi

Sementara di meja tadi Gilang memperhatikan Ila dengan rasa penuh penyesalan.

" La, maaf aku terpaksa berbohong setidaknya sampai dia siap bertemu denganmu." Dalam batin dia berkata.

Sepandainya mereka semua menutupi itu dariku, aku akan tahu. Aku sudah merasakan ada beberapa keanehan pada orang orang sekitarku termasuk sahabatku sendiri. Dia terlalu kentara menutupi sesuatu. Dia gelisah, entah sebab apa.

Sepulang dari coffe shop aku bergegas kembali kerumah karena dalam sekelebat teringat akan sesuatu yang ku temukan di teras rumah minggu lalu.

Aku terburu buru ke kamar untuk mencari barang itu. Sebuah kotak merah dengan pita hijau yang menghiasi nya masih tersimpan rapi. Perlahan aku mulai membuka kotak itu secarik kertas yang dulu ku baca ulang.

Aku adalah angin,

Hadirku terasa tanpa kamu lihat

Jangan takut.

Karena arahku bertiup tak pernah melukaimu

Tulisan itu memiliki tujuan. Bukan sekedar kertas. Punya sesuatu yang membuatku diam. Aku merasakan apa yang dimaksud kertas itu.

" Dia ada di sekitar sini, dia bukan orang jahat."  Aku membacanya setelah faham apa yang di maksud dari kertas itu.

Goresan pena itu tampak tak asing jika di perhatikan dengan jelas olehku. Kemungkinan tulisan itu dari orang yang dia kenal.

Hatimu lembut,

Tapi kamu berada dalam ketakutan

Harimu terasa gelap

Tapi aku akan jadi penerangmu

Tenanglah.

Kertas selanjutnya mulai aku baca satu persatu. Dari sekian banyak tumpukan kertas yang aku baca seseorang itu mengisyaratkan bahwa dia sangat dekat denganku. Aku bertanya tanya siapa sebenarnya pemilik tulisan itu. Aku sangat amat penasaran siapa penulis kertas itu dan butuh jawaban kenapa dia tidak langsung datang menemui bukan hanya sekedar tulisan.

Goresan pena itu telah aku Terima sejak 5 bulan yang lalu. Saat itu, aku sedang terburu buru berangkat ke sekolah. Karena  aku sibuk begadang dan menangis semalaman karena bertengkar dengan mama dengan alasan seorang Aksara yang di rindukan ya.

Hingga saat ini tidak ada hal yang menjadi petunjukku untuk menemukannya.

" Aksara tidak meninggalkan jejak apapun. Kecuali di kamar nya. Pasti dia memiliki barang yang bisa menjadi petunjuknya. " Aku berjalan sambil bergumam menuju kamar Aksara.

Aku terdiam saat sampai di kamar Aksara yang sudah lama tidak aku kunjungi. kamar ini tidak pernah berubah masih sama seperti waktu dulu Aksara masih ada.

Sesuai tata letak Aksara , kamar itu masih rapi dan bersih sepertinya setiap hari kamar itu di bersihkan.

Aku mendekat ke meja belajar Aksara dan melihat sebuah buku yang amat familiar di mataku. Buku harian Aksara yang selalu dia sembunyikan dan dia bawah kemanapun tapi kini tertinggal.

6 Maret 2019

Dia gadis yang mampu membuatku tersenyum dan kembali semangat untuk masih ada di sini.

Aku mencintainya tapi...

Kenapa harus dia yang menjadi sainganku.

Apa aku harus merelakan gadis itu untuknya.

Aksara.

Tulisan tangan Aksara sangat rapi dan terasa familiar di ingatanku. Aku tersenyum mengejek ketika seorang Aksara memiliki buku harian buat dia cerita seperti itu. Selembar kertas jatuh dari dalam buku itu saat aku ingin mengembalikan buku itu.

Formulir pendaftaran atlet Basket telah jatuh tergeletak di meja itu.

" Jadi dia masih menginginkannya?? " Perasaan marah muncul dalam diriku saat menemukan itu.

Setiap jengkal Bait catatan buku harian Aksara selalu ku baca hingga tidak sadar hari mulai larut.

Tapi, aku menemukan satu petunjuk yang mungkin bisa membuatku menemukannya. Aksara masih ada di sekitarku . Aksara tak pernah jauh, karena tulisan yang ada dalam kertas itu adalah tulisan indah seorang Aksara Bintang Gautama. Tapi mengapa dia tak pernah mau menemuiku apa yang terjadi, apakah dia baik baik saja atau sebaliknya. Berarti benar selama ini mereka menyembunyikan sesuatu dariku.

Darahku bergemuruh hebat, nafasku sesak. Aku mengendalikan itu semua dengan hati hati.

Mengingat hari sudah larut, aku memutuskan untuk beranjak dari kamar Aksara dan kembali ke kamar ku sendiri. Aku mulai membaringkan badanku yang mulai terasa lelah. Dan mencoba beristirahat untuk mengurangi beban dalam pikiran yang semakin menumpuk.

"Haruskah aku menanyakan ini pada mereka besok pagi?? " . Aku bergumam memikirkan langkah selanjutnya.

"Apakah ini keputusan tepat atau aku hanya akan mendapatkan kebohongan lainnya sama seperti yang sebelumnya. Ku harap mereka ada yang jujur padaku. " Pikiranku terus berkecamuk antara aku harus percaya atau sebaliknya.

Terkadang aku belajar bahwa yang kamu genggam terlalu erat akan menyakitkan. Dan belum tentu orang yang di dekat kita bukan orang yang menyakiti kita.

Lama aku berperang dalam pikiran membuatku tertidur pulas meninggalkan bebanku.

                             ****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!