NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:51.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 33

“Ambillah!” ucap Cak Roni memberi perintah.

Dengan langkah gemetar, Miranda melangkah menuju kotak kardus itu. Ia tak mau membukanya, takut apa yang ia pikirkan benar-benar terbukti. Kemudian, ia duduk di hadapan Cak Roni.

“Bukalah,” ucap Cak Roni.

Dengan tangan gemetar, Miranda membuka kardus itu.

“Jas hujan,” ucap Miranda setelah melihat isi kardus itu.

“Itu adalah jualan adik saya. Saya belum sempat menjualnya. Kamu jual sekarang, pasti laku,” ucap Cak Roni.

“Jualan?” gumam Miranda agak ragu.

“Aku tidak pandai jualan, Cak. Bertemu orang saja aku malu, Kak,” jawab Miranda.

Cak Roni terkekeh. “Tidak ada orang kaya yang tidak pandai jualan. Salah satu kemampuan orang kaya adalah berjualan. Kamu harus memulainya, Miranda,” ucap Cak Roni.

Miranda menghela napas panjang. “Aku harus bisa. Aku harus mencobanya,” ucap Miranda dalam hati, bertekad.

“Lalu berapa harga jas hujan ini?” ucap Miranda.

“Ini jas hujan sekali pakai. Dariku harganya Rp3.000. Kamu bisa jual Rp10.000. Ini ada 100 pcs,” ucap Cak Roni.

Miranda tertegun. “Uangku hanya ada Rp192.000, Cak. Kurang, dong.”

“Gampang. Nanti kalau sudah laku, kamu bisa melunasinya,” ucap Cak Roni.

“Terus kalau nanti enggak laku bagaimana, Cak?” tanya Miranda.

“Ya jadi milik kamu, lah,” ucap Cak Roni.

“Terus uangku bagaimana?” tanya Miranda.

“Ya uangnya jadi milikku, lah. Kamu beli dariku,” ucap Cak Roni terkekeh.

Miranda dalam dilema. Ia akan mendapatkan keuntungan Rp700.000, tetapi ia tidak percaya diri untuk berjualan. Namun, Miranda tidak mau kalah. “Aku sudah bertekad untuk menjadi orang kaya. Rasa malu dan takut saja tidak bisa aku taklukkan, bagaimana bisa aku jadi orang kaya?” Miranda bertekad dalam hati.

“Baiklah kalau begitu, Cak. Saya ambil,” ucap Miranda, lalu mengambil uang dan memberikannya kepada Cak Roni.

“Bagus, Mir. Semangat. Pengalaman akan mengajarkan kepadamu bahwa berjualan itu tidak sesulit yang kamu pikirkan,” ucap Cak Roni.

“Semangat, Mir. Kalau tidak laku, balik lagi ke sini,” ucap Rosidah.

Miranda berbinar. Sepertinya Kak Rosidah akan mengganti uangnya kalau tidak laku.

“Mbak mau beli semua jas hujan ini kalau tidak laku?” ucap Miranda.

“Mana ada begitu. Kalau tidak laku, pakailah buat kamu. Aku akan beri kopi dan pisang goreng kalau tidak laku,” ucap Rosidah.

Miranda merengut.

“Lucu sekali kamu, Mir, kalau kesal,” ucap Rosidah. “Semangat, Mir. Yakin, usaha sampai.”

Rosidah memberi semangat pada Miranda dengan mengepalkan tangan lalu mengangkatnya ke atas. “Semangat, Mir!”

“Semangat, Kak!” ucap Miranda.

Miranda melangkah menarik gerobaknya sambil membawa jas hujan. Benar saja, hujan mulai turun.

Miranda duduk di samping jalan, terguyur hujan. Bibirnya gemetar, bibirnya kelu, rasa malu menggelora.

Dengan pelan ia berkata, “Jas hujan Rp10.000.”

Tidak ada yang mampir untuk membeli. Miranda memejamkan mata lalu mengingat semua penderitaannya sejak kecil dan akhirnya diceraikan oleh suaminya.

Dengan lantang Miranda berkata, “Jas hujan Rp10.000!”

“Jas hujan Rp10.000!” teriak Miranda.

Akhirnya beberapa orang menepi dan membeli jas hujan Miranda. Ia tidak menerima uang kembalian; ia meminta uang pas.

Dalam waktu singkat, 20 jas hujan sudah terjual.

“Tinggal 20 pcs lagi. Aku sudah balik modal. Apa sudah saja, ya?” gumam Miranda.

Hujan mulai reda dan Miranda meneruskan berjalan. “Sudah balik modal, jadi sudahlah. Malu aku teriak terus,” ucap Miranda merasa sudah cukup.

Miranda menepi dekat pohon beringin, mengambil air wudu dari kolam, lalu melaksanakan salat Magrib.

Hujan kembali turun. Miranda membeli nasi warteg yang dibungkus, lalu melanjutkan perjalanan menuju tenda pecel lele Apip.

Di sebuah masjid besar, orang-orang berbondong-bondong menuju masjid menggunakan pakaian putih.

Tak kuasa, akhirnya Miranda bertanya, “Ada acara apa ini, ya, Kak?” tanya Miranda.

“Oh, ada acara zikir bersama. Ulamanya dari Timur Tengah,” jawab seorang jemaah.

Merasa tak pantas berada di situ, Miranda terus melangkah. Kemudian, ia melihat seorang remaja sedang menggigil kedinginan.

“Kenapa kamu?” tanya Miranda.

“Aku kabur dari rumah dan belum makan. Boleh aku minta makan? Nanti aku akan mengerjakan apa pun yang Kakak suruh,” ucap remaja itu.

Miranda mengernyitkan dahi lalu bertanya, “Siapa nama kamu?”

“Nama saya Kevin, Kak,” jawab remaja itu. Bajunya basah, mukanya pucat. Miranda tidak tega.

“Ini, makanlah,” ucap Miranda memberikan nasi yang ia beli di warteg tadi.

Dengan tangan gemetar, Miranda melihat Kevin makan dan hendak berlalu meninggalkannya. Ia harus segera ke tenda Apip. Lumayan, sampai jam 12 malam ia akan mendapat uang Rp30.000.

“Tunggu, Kak. Aku harus membalas jasa Kakak. Jangan sampai aku punya utang,” ucap Kevin.

“Makan saja yang kenyang. Jangan anggap utang,” jawab Miranda.

Kevin mempercepat makannya lalu berdiri. “Kak, apa yang bisa aku lakukan?” tanyanya sambil mengusap sudut bibirnya yang masih ada nasi.

Miranda melihat gerobaknya. “Anak ini terus memaksa. Apa aku coba saja dia suruh jualan?” ucap Miranda dalam hati.

“Di sana ada jas hujan 80 pcs. Apa kamu bisa bantu aku jualan?” ucap Miranda.

Mata Kevin berbinar. “Serahkan padaku, Kak,” ucapnya bangga lalu mengambil jas hujan itu.

Kemudian, Miranda melihat Kevin berdiri di pinggir jalan lalu berteriak-teriak.

“Berdoa waktu hujan akan cepat terkabul! Jangan takut kehujanan, ada jas hujan Rp10.000!”

“Jangan takut hujan, jas hujan solusinya! Mari raih keberkahan hujan!” ucap Kevin percaya diri.

Satu per satu orang membeli jas hujan Kevin.

“Ulama mulia datang, hujan turun, berkah pun turun! Jas hujan solusinya!”

Miranda tertegun. Begitu percaya diri Kevin menjual jas hujan. Miranda pun mencobanya.

“Jas hujan Rp10.000, hati senang, doa tenang!” teriak Miranda.

Dalam waktu singkat, Miranda sudah menjual 30 pcs. Setelah membeli, tak lupa Miranda memberikan senyumnya, mengikuti Kevin.

“Kak, jualannya jas hujannya sudah habis,” ucap Kevin sambil memberikan uang kepada Miranda.

“Sudah kuhitung jumlahnya Rp500.000, Kak,” lanjut Kevin.

Miranda tertegun. Menghasilkan Rp1.000.000 hanya dalam waktu dua jam, bagi Miranda ini luar biasa. Hingga ia hanya bisa bengong.

“Ambillah setengah uangnya untuk kamu,” ucap Miranda.

“Tidak ada hal seperti itu, Kak. Beri saja saya Rp2.000 per pcs sebagai komisi. Tadi saya menjual 50 pcs, jadi beri saja saya Rp100.000, Kak,” ucap Kevin.

“Tapi kamu banyak membantu saya, Kevin,” ucap Miranda.

“Kakak memberi saya makan, saya sudah bayar pakai tenaga. Kalau saya meminta lebih, berarti saya orang tidak tahu diri.”

Miranda akhirnya memberikan uang Rp100.000 kepada Kevin.

“Terima kasih, Kak,” ucap Kevin.

“Habis ini kamu mau ke mana?” tanya Miranda.

“Saya di sini menunggu bubaran. Nanti saya akan bantu memarkir mobil,” jawab Kevin.

“Daripada di sini, lebih baik kamu ke sana saja ikut jemaah berzikir. Mungkin dengan ikut berzikir hati kamu akan tenang,” ucap Miranda.

Kevin tersenyum kepada Miranda. “Aku ini Kristen, Kak. Masa aku ikut berzikir?”

Miranda tertegun, menutup mulutnya. “Maaf, maaf. Aku tidak tahu, Kevin,” ucap Miranda tak enak hati.

“Tidak masalah, Kak. Uang itu universal, semua suka uang. Berbeda-beda agama dan suku, tetapi semua suka uang,” ucap Kevin terkekeh.

“Oh begitu, ya,” ucap Miranda.

“Iya, Kak. Ibuku itu kalau Natal bikin parsel Natal, kalau Lebaran bikin parsel Lebaran. Dan Kakak tahu siapa tokoh favorit saya siapa?” ucap Kevin.

“Siapa?” tanya Miranda.

“Nabi Muhammad,” jawab Kevin.

Mulut Miranda menganga. “Kenapa?” tak kuasa Miranda bertanya.

“Karena beliau pemimpin adil, pandai berdagang dengan semua suku dan semua agama,” jawab Kevin.

Miranda hanya tersenyum. Banyak pelajaran hari ini yang ia dapatkan.

“Kevin, aku harus berangkat dulu,” ucap Miranda berpamitan kepada Kevin.

“Baik, Kak. Hati-hati di jalan,” ucap Kevin.

Miranda melangkah menuju lapak pecel lele Apip.

Di jalan yang sepi, Miranda dihadang dua pria besar.

“Cepat serahkan semua uang kamu!” ucap pria besar itu.

1
Lies Atikah
semoga kena hukum tabur tuay untuk si Raka dan keluar ga nya
Lies Atikah
semoga Miranda nya tidak bodoh apalagi oon
nunik rahyuni
lanjuuut triple up thor
nunik rahyuni
tampak kan pesonamu mira...mantan lg curi curi pandang...dikiranya orang g punya pendidikan g bisa hisup...pemikiran picik..di mana ada kemauan di situ ada jalan
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!