Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Sebuah Larangan.
Rangga membawa Dafa ke rumah orangtuanya karena ingin menjauhkan putranya dari Rania. Dia ingin memberi pelajaran pada wanita itu agar tidak terus melawannya, dan menunjukkan secara langsung jika dia bisa melakukan apa saja yang diinginkan.
"Ma..." suara teriakan Rangga menggema di dalam rumah orangtuanya. Dia bergegas masuk dan mencari keberadaan sang mama seraya menggendong Dafa.
"Mama di belakang," balas Martha saat mendengar teriakan Rangga. Tidak berselang lama, muncullah putranya itu dengan tergesa.
Martha menoleh ke belakang dengan kesal. "Ada apa sih? Masik pagi udah teriak-teriak." ucapnya jengkel, tapi sedetik kemudian dia tersenyum senang karena melihat keberadaan Dafa. "Dafa sayang... " Dia langsung mendekat, mengecup pipi gembul cucunya dengan gemas.
"Aku titip Dafa, Ma. Dia akan tinggal di sini untuk sementara," ucap Rangga, ucapannya membuat Martha langsung menatap heran.
"Memangnya Rania ngasi izin Dafa tinggal di sini?" tanya Martha.
Rangga mengendikkan bahu. "Memangnya Dafa perlu izin?" Dia mendengus, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Tentu saja!" balas Martha cepat. "Dia bisa melaporkanmu ke polisi kalau membawa Dafa tanpa izin." sambungnya kesal.
"Aku ayahnya, aku punya hak untuk membawa putraku ke manapun aku mau," bantah Rangga.
Martha menghela napas kasar. "Udahlah terserah kau aja." Dia memilih untuk bicara dengan Dafa dari pada putranya yang sangat keras kepala itu. "Tapi jangan sampai kau main tangan, Rangga." sambungnya mengingatkan.
"Cih, aku bukan laki-laki kayak gitu!" Dafa mendengus kesal, kemudian beranjak pergi dari tempat itu.
Martha menatap kepergian Rangga sembari menggelengkan kepala, merasa tidak berdaya menghadapi sifat keras putranya, padahal sifat yang dia maksud itu sama persis dengan sifatnya sendiri.
Sementara itu, Rania yang sudah merasa agak tenang beralih membongkar seluruh lemarinya untuk mencari kunci cadangan, walaupun dia sendiri tahu jika kunci cadangan itu tergantung bersama kunci yang dibawa oleh Rangga.
"Aku mohon," gumam Rania dengan serak, tenggorokannya terasa sangat sakit karena terlalu banyak menangis dan berteriak.
"Aargh!" Rania membanting pintu lemari dengan kesal saat tidak berhasil menemukan kunci cadangan. Dia lalu berlari mendekati jendela, di luar hanya terlihat halaman samping rumah yang sepi, lalu berusaha membuka jendela itu dengan lebar berharap bisa keluar dari sana.
"Bagaimana? Bagaimana aku bisa keluar dari sini?" suaranya bergetar, dia terus mendorong jendela itu tetapi hanya bisa terbuka sedikit saja.
Rania melihat ke arah bawah, tinggi dan menjulang. Jika terjatuh dari sana, bisa dipastikan salah satu tulangnya akan patah.
"Tuhan, aku mohon tolong aku," ucap Rania dengan lirih, mulai putus asa. Tidak ada satu pun orang yang bisa dia hubungi, tidak ada pula yang akan menolongnya. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Rania menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi, dia merutuki Rangga yang telah menguncinya seperti ini. Sungguh dia tidak bisa lagi mengenali siapa laki- laki itu, atau mungkin selama ini dia memang tidak mengenalinya.
***
Waktu berlalu dengan cepat, Rania tidak tahu sudah berapa lama ia terkurung. Menit dan jam bercampur menjadi satu rasa yang sama, panjang… dan menyakitkan.
Rania berulang kali mencoba untuk mendobrak pintu, menghancurkan jendela, dan memikirkan berbagai cara untuk keluar dari sana. Namun, tak ada satu pun cara yang berhasil membuatnya keluar, tubuhnya masih tetap terkurung di sana.
Rasa putus asa mulai menyelimuti Rania, pikirannya berubah gelap dan tak tau apalagi yang harus dilakukan, sampai akhirnya dia mendengar suara dari arah pintu dan langsung memalingkan wajah. .
"K-kau," suaranya bergetar, kemarahan kembali menyeruak.
Rangga datang kembali untuk melihat keadaan Rania, dia berjalan santai masuk ke dalam kamar tanpa merasa bersalah sedikitpun, sebelah tangannya membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa berpikir dengan benar?" tanya Rangga, dia meletakkan nampan berisi makanan itu ke atas ranjang, lalu melirik ke seisi kamar yang tampak sangat kacau.
Rania terdiam, menatap Rangga dengan nyalang. Dia ingin langsung berlari keluar saat melihat pintu sudah terbuka lebar, tapi dia tahu jika laki-laki gila itu pasti akan kembali menahannya.
"Aku membawa makanan untukmu, apa kau ingin aku suapin, Sayang?" ucap Rangga kembali saat tidak mendengar jawaban istrinya.
Tubuh Rania bergetar, perutnya terasa mual mendengar kata demi kata yang laki-laki itu ucapkan. "Aku mau keluar, Rangga. Aku mau bersama Dafa." suaranya lirih.
Rangga menggelengkan kepala. "Tidak... tidak, kau tidak bisa keluar sebelum memperbaiki tingkah lakumu, Rania."
Rania menggigit bibir, merasa geram dan muak melihat Rangga. Namun, dia memilih untuk diam dan mencoba mengikuti keinginan laki-laki itu agar bisa segera keluar dari sana.
"Sekarang makanlah dulu, keadaanmu sangat kacau, Rania," ucap Rangga, tanpa sadar jika dialah yang telah membuat Rania kacau seperti itu.
Rangga menghampiri Rania, membawa nampan itu dan meletakkan tepat di hadapan istrinya. "Aku membeli makanan kesukaanmu, jadi makanlah." Dia tersenyum, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Rania.
Rania sekuat tenaga menahan segala amarahnya agar tidak meledak, mencoba mencari celah agar Rangga lengah, walau saat ini dia ingin muntah melihat makanan dan minuman yang laki-laki itu sodorkan padanya.
"Ayo, buka mulutmu." Rangga mengangkat sendok penuh makanan ke depan mulut Rania, sampai akhirnya mulut itu terbuka dan membuatnya tersenyum senang. "Bagus, habiskan semuanya yah, Sayang." satu kecupan mendarat di kening Rania, lalu turun ke pipinya juga membuat tubuh Rania bergidik jijik.
Rania tidak bergeming, menahan segala amarah dan kebenciannya dalam hati. Namun, dia bersumpah akan mengingat semua ini, dia bersumpah akan membalasnya suatu hari nanti.
"Kau tunggu saja, Rangga. Aku akan membalas semuanya dengan berlipat ganda." Kedua tangan Rania mengepal erat.
Setelah selesai, Rangga menyuruh Rania untuk membersihkan diri. Mau tidak mau, suka tidak suka, Rania tetap mengikuti keinginan laki-laki itu agar bisa segera terbebas.
"Di mana Dafa?" tanya Rania pelan, dia berdiri di samping Rangga yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
Rangga mendongak sebentar, kemudian beranjak dari kursi. "Dia di rumah mama," jawabnya jujur.
Rania bernapas lega saat mendengarnya, setidaknya Dafa berada di tempat yang aman. "Kalau gitu aku mau ke sana, aku mau-"
"Kau di larang menemuinya, Rania."
Deg.
Tubuh Rania menegang, kemarahan dan kebencian yang sejak tadi dia tahan langsung meledak tak terkira.
"Apa maksudmu, Rangga?" tanyanya dengan tajam.
Rangga tersenyum, kemudian menggenggam kedua tangan Rania yang sedang terkepal. "Kau tidak boleh menemuinya sebelum membatalkan niatmu untuk berpisah denganku."
"Apa?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda