Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari ke 2 Bagi Jovan
Siang merambat pelan di Desa Sumberjati.
Cahaya matahari jatuh miring ke lantai rumah, menembus celah jendela. Jovan duduk di kursi dekat meja makan, bahunya masih sedikit kaku, tapi napasnya jauh lebih teratur. Dari tempatnya, ia bisa melihat Mika duduk bersila di lantai, sebuah kain kecil terbentang di depannya.
Uang hasil menjual buah.
Mika menghitungnya dengan teliti, lembaran kecil diluruskan, koin disusun rapi di satu sisi. Bibirnya bergerak pelan, menghitung tanpa suara. Sesekali ia berhenti, mengerutkan dahi, lalu mengulang dari awal.
Jovan memperhatikannya lebih lama dari yang ia sadari.
Di dunianya, uang selalu datang dalam jumlah besar, dibungkus kesepakatan dan ancaman. Tidak pernah dihitung perlahan. Tidak pernah disentuh dengan kehati-hatian seperti ini.
“Kurang sedikit,” gumam Mika pada dirinya sendiri.
Jovan mengangkat kepala. “Kurang untuk apa?”
Mika menoleh, sedikit terkejut. “Oh, untuk pupuk minggu depan. Tapi tidak apa-apa. Nanti aku atur.”
Cara ia mengucapkannya tenang, tanpa keluhan. Seolah kekurangan adalah hal yang bisa dinegosiasikan dengan kesabaran.
Jovan merasakan sesuatu menggeser di dadanya. Ia teringat meja-meja besar di kota, angka-angka yang bisa membeli apa pun kecuali ketenangan seperti ini.
Mika mengumpulkan uang itu, melipat kainnya, lalu berdiri. “Kau lapar? Aku panaskan sisa sup.”
“Tidak perlu repot,” kata Jovan refleks.
Mika menatapnya sebentar. “Di sini, itu bukan repot.”
Jovan mengangguk pelan.
Saat Mika melangkah ke dapur, Jovan menyadari satu hal yang membuatnya tidak nyaman, bukan karena bahaya, tapi karena kebiasaan lama yang runtuh.
Malam turun perlahan di Desa Sumberjati.
Tidak ada suara klakson atau sirene. Hanya jangkrik yang bersahutan dari kebun belakang, sesekali diselingi dengung motor yang lewat jauh di jalan utama. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning lembut ke halaman.
Jovan duduk di dipan kecil di ruang tengah. Luka di bahunya sudah terasa lebih jinak, meski setiap kali ia bergerak terlalu cepat, nyeri itu mengingatkan bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ia tidak menyalakan televisi. Malam di rumah itu terasa cukup tanpa suara tambahan.
Dari sudut ruangan, Mika duduk di dekat meja rendah, melipat pakaian. Kaos yang ia belikan untuk Jovan sudah kering. Ia melipatnya pelan, hati-hati, seolah kain itu lebih rapuh daripada sebenarnya. Gerakannya teratur, satu lipatan, ditekan ringan dengan telapak tangan, lalu disusun rapi di atas tumpukan kecil.
Jovan memperhatikannya diam-diam. Tidak ada percakapan. Tapi keheningan di antara mereka tidak terasa kosong. Lebih seperti ruang yang sengaja dibiarkan ada.
“Bajumu sudah kering,” kata Mika akhirnya, suaranya pelan agar tidak memecah suasana. “Besok bisa kau pakai lagi.”
“Terima kasih,” jawab Jovan singkat.
Mika mengangguk, lalu kembali melipat. Celana itu menyusul, dilipat lebih rapi dari kebiasaan orang yang hanya menganggapnya pakaian biasa.
Jovan menyadari hal kecil itu, dan sesuatu bergerak samar di dadanya. Ia tidak terbiasa diperhatikan dengan cara seperti ini.
Di dunia lamanya, semua perhatian punya tujuan. Mengawasi. Menilai. Menjatuhkan. Di sini, perhatian Mika terasa… tanpa maksud tersembunyi.
Pak Raka sudah masuk kamar lebih dulu. Rumah itu kini hanya diisi oleh suara napas mereka dan bunyi kain yang dilipat.
“Desamu sunyi,” ujar Jovan tiba-tiba.
Mika tersenyum kecil tanpa menoleh. “Kami menyukainya begitu.”
“Tidak pernah takut?” tanya Jovan.
Mika berhenti sejenak, lalu mengangkat bahu. “Takut selalu ada. Tapi hidup juga harus jalan.”
Jawaban sederhana itu menempel di pikiran Jovan. Hidup harus jalan. Kalimat yang terdengar mudah, tapi hampir mustahil di dunianya.
Mika menyusun pakaian yang sudah dilipat ke dalam keranjang kecil. Saat ia berdiri, lampu menggambar bayangannya di dinding, tenang, tidak tergesa. Bayangan itu membuat Jovan teringat betapa asingnya ia di tempat ini. Ia adalah tubuh luka di tengah rutinitas yang utuh.
“Kalau kau perlu apa-apa malam ini,” kata Mika sambil berjalan menuju kamar, “panggil saja.”
Jovan mengangguk. “Baik.”
Mika berhenti di ambang pintu, ragu sejenak, lalu menoleh. “Jovan… kau tidak harus memikirkan apa pun malam ini. Istirahat saja.”
Pintu kamar tertutup pelan.
Jovan tetap duduk beberapa saat, menatap lipatan cahaya di lantai. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, bukan ancaman, bukan bahaya. Melainkan perasaan aman yang terlalu cepat.
Ia berbaring, memandangi langit-langit kayu yang sudah memudar warnanya. Di luar, angin menggerakkan dedaunan. Malam berjalan seperti seharusnya.
Jovan memejamkan mata, mencoba memaksa tubuhnya menyerah. Ia membayangkan dirinya berada di tempat aman—ruang tanpa pintu, tanpa jendela. Tapi bayangan itu selalu retak, digantikan oleh kilas balik cahaya, ledakan, dan suara logam beradu.
Ia membuka mata lagi.
Tangannya refleks bergerak, mencari sesuatu di bawah bantal, senjata yang seharusnya ada. Ia berhenti di tengah gerakan, menyadari kesalahannya. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya kain dan kayu. Dan itu membuat dadanya mengeras.
Ia berguling ke samping. Dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat, cahaya redup dari ruang tengah menyelinap masuk. Jovan menatapnya, seolah cahaya itu satu-satunya penanda bahwa ia masih berada di dunia yang nyata.
Ia mendengar langkah pelan.
Bukan langkah asing. Langkah ringan yang ia kenali sekarang.
Mika.
Jovan menahan napas. Pintu kamar terbuka sedikit, cukup untuk menampakkan siluet Mika berdiri ragu di ambang. Lampu ruang tengah menyinari sisi wajahnya, lembut, tidak mengganggu.
“Kau belum tidur?” tanyanya pelan.
Jovan menggeleng, meski sadar Mika mungkin tidak melihatnya jelas. “Belum. Kamu sendiri?”
"Aku, ambil air minum." Lalu Mika melangkah masuk setengah langkah, lalu berhenti. “Lukamu… apa sakit?”
“Masih bisa ditahan.” Ia tidak berbohong. Ia hanya tidak menceritakan semuanya.
Mika mengangguk, lalu menutup pintu pelan-pelan hingga tersisa celah kecil. “Kalau perlu air… aku masih bangun.”
“Terima kasih.” ujar Jovan.
Mika tidak langsung pergi. Ia berdiri sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya. Akhirnya, ia melangkah mundur dan menutup pintu.
Kegelapan kembali mengisi ruangan.
Ia kembali menatap langit-langit.
Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan mengintip keluar. Halaman tampak sepi. Pagar kayu diam. Jalan desa lengang.
Tidak ada bayangan mencurigakan.
Namun instingnya tetap menolak percaya.
Jovan kembali ke dipan, berbaring lagi. Ia memejamkan mata, membiarkan suara jangkrik mengisi pikirannya. Ia tidak menghitung napas lagi. Tidak mengusir ingatan. Ia membiarkannya lewat, satu per satu.
Pelan-pelan, tubuhnya akhirnya menyerah.
Tapi bahkan saat tidurnya datang, satu bagian dari dirinya tetap terjaga—siap bangun pada bunyi sekecil apa pun.
Karena bagi Jovan De Luca, tidur nyenyak selalu menjadi kemewahan yang belum pernah ia pelajari sepenuhnya.