Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Keputusan keluarga Martinez sudah bulat. Setelah diskusi panjang yang melibatkan tangisan haru Isabella dan ketegasan Julian, mereka sepakat untuk mengumumkan pernikahan Edgar dan Leonor secara resmi ke publik, namun untuk resepsi besar-besaran akan ditunda hingga setelah persalinan.
Prioritas utama mereka adalah kesehatan Leonor. Julian tidak ingin risiko sekecil apa pun mengancam menantunya, terutama setelah drama keguguran pertama yang sempat membuat jantung seluruh penghuni mansion hampir berhenti.
Pagi itu, atmosfer kampus terasa sedikit berbeda. Edgar melangkah masuk dengan aura yang lebih dominan dari biasanya. Ia tidak lagi tampak seperti mahasiswa bisnis yang tertekan oleh angka, melainkan seperti seorang pria yang telah memenangkan lotre kehidupan.
Di koridor menuju kelas, Edgar melihat Ethan yang sedang berjalan sambil membaca buku. Tanpa ragu, Edgar merangkul bahu adik ipar rahasianya itu dengan sangat akrab, hampir menyeret Ethan yang tampak risih.
"Ethan, kau tahu tidak? Semalam aku tidak bisa tidur," bisik Edgar tepat di telinga Ethan.
Ethan menghela napas panjang, mencoba melepaskan rangkulan Edgar yang sangat erat. "Kenapa lagi, Ed? Saham teknologi turun? Atau kau baru saja menyadari kalau kau butuh psikiater?"
"Bukan!" Edgar tertawa renyah. "Aku pusing, Ethan. Benar-benar pusing memikirkan nama untuk anakku. Aku ingin nama yang berawalan huruf M agar sama dengan Martinez, tapi istriku ingin nama yang unik. Bagaimana menurutmu? Kau kan calon pamannya... eh, maksudku, kau kan temanku."
Ethan berhenti melangkah, menatap Edgar dengan tatapan datar yang mematikan. "Edgar, sumpah, kalau kau bahas istri dan anak lagi, aku akan pindah universitas hari ini juga."
Percakapan konyol itu berlanjut hingga mereka sampai di depan kelas, di mana Jannet dan beberapa mahasiswa lain sudah berkumpul. Jannet, yang masih merasa Edgar hanya sedang melakukan teknik rejection paling ekstrem untuk menghindari gadis-gadis, akhirnya kehilangan kesabaran.
"Edgar Martinez," Jannet melangkah maju, melipat tangan di dada dengan gaya menantang. "Berhenti bersikap konyol. Seluruh kampus sudah tahu kau punya imajinasi liar tentang rumah tangga. Tapi kalau kau memang benar-benar sudah menikah dan punya istri, buktikan!"
Edgar menaikkan sebelah alisnya. "Buktikan bagaimana, Jannet?"
"Post foto istrimu di akun media sosialmu!" tantang Jannet dengan nada tinggi. "Tidak perlu terlihat wajahnya kalau kau memang sangat posesif. Cukup tunjukkan keberadaannya secara fisik. Jika kau tidak melakukannya dalam lima menit, kami semua akan sepakat bahwa kau butuh perawatan di rumah sakit jiwa."
Ethan tertawa mengejek di samping Edgar. "Ya, benar! Ayo, wahai Tuan yang sudah tidak perjaka! Tunjukkan pada kami sosok wanita yang menggempur mu setiap malam itu. Atau setidaknya tunjukkan kalau kau memang punya kehidupan selain di depan layar laptop."
Tawa teman-teman Edgar meledak. Mereka semua yakin Edgar akan terpojok. Edgar hanya tersenyum miring, sebuah senyum yang mengandung rahasia besar.
"Hanya foto? Baik. Berikan aku satu menit," ucap Edgar santai.
Edgar merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya, dan mulai mengotak-atik galeri pribadinya. Ia mencari sebuah foto yang diambilnya dua hari lalu di depan cermin besar kamar mereka, foto yang ia ambil saat mereka sedang bersiap untuk makan malam romantis di mansion.
Lima menit kemudian, dentingan notifikasi mulai terdengar dari hampir setiap ponsel di koridor itu. Jannet segera membuka ponselnya, begitu pula Clark, Jackson, dan Ethan.
Mata mereka membelalak sempurna.
Di akun Instagram Edgar yang biasanya hanya berisi foto gedung pencakar langit atau jam tangan mewah, kini terpampang sebuah foto baru.
Foto itu diambil di depan cermin, mirror selfie. Edgar berdiri di belakang seorang wanita, mengenakan jas hitam tanpa dasi, sementara tangannya melingkar sangat posesif di pinggang wanita itu. Wajah sang wanita tertutup oleh kepala Edgar yang menunduk untuk mencium pelipisnya, dan rambut hitam panjang sang wanita menutupi sebagian identitasnya.
Wanita itu mengenakan gaun sutra yang memeluk tubuhnya dengan indah, dan meski wajahnya tak terlihat, aura keanggunan dan keintiman di antara mereka sangat nyata. Pose itu begitu sempurna, begitu mesra, dan begitu... nyata.
Caption-nya singkat namun mematikan: "Pemilik hati❤️."
Suasana koridor yang tadi ramai mendadak sunyi selama beberapa detik, sebelum akhirnya kekacauan pecah.
"Tunggu, tunggu!" Clark berteriak sambil memperbesar foto tersebut. "Ini pasti editan! Lihat pencahayaannya, terlalu sempurna! Edgar, kau pasti membayar model profesional dan mengedit kepalamu di sana supaya drama Daddy-mu tetap berlanjut!"
"Benar!" Jackson menimpali, suaranya naik satu oktav. "Lihat bagaimana tangan itu melingkar. Itu pasti hasil CGI atau semacamnya. Tidak mungkin Edgar Martinez yang kaku ini bisa berpose se-posesif ini di depan kamera!"
Ethan menatap foto itu dengan kening berkerut. Ada sesuatu yang sangat familiar bagi Ethan pada sosok wanita di foto itu, terutama pada perhiasan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, tapi pikirannya menolak untuk menghubungkannya dengan Leonor.
"Edgar, kau benar-benar butuh obat," ucap Ethan sambil tertawa hambar, meski hatinya sedikit ragu.
"Kau bahkan sampai menyiapkan foto romantis dengan pose sempurna hanya untuk mendukung drama gilamu. Kau benar-benar niat sekali ya berbohong pada kami?"
Jannet hanya diam membisu. Ia menatap foto itu dengan perasaan remuk. Jika itu editan, itu adalah editan terbaik yang pernah ia lihat. Tapi jika itu asli... maka hatinya baru saja hancur berkeping-keping.
Edgar hanya memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan gaya santai. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun. Biarlah mereka menganggap itu editan, biarlah mereka menganggapnya gila. Toh, ia tahu siapa wanita yang berada di pelukannya saat itu.
"Terserah kalian mau bilang apa," ucap Edgar sambil merangkul Ethan kembali. "Editan atau bukan, yang jelas pemilik hati itu sedang menungguku di rumah dengan teh hangat. Ayo masuk kelas, Ethan. Aku tidak mau telat, nanti istriku marah kalau aku tidak segera pulang setelah kuliah selesai."
Ethan hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah ditarik oleh Edgar masuk ke kelas. Di dalam hati, Edgar tertawa puas. Ia membayangkan bagaimana reaksi mereka jika suatu saat nanti Leonor benar-benar muncul di kampus dengan perut yang membuncit dan menggandeng tangannya.
"Tunggu saja hari mainnya, Teman-teman," gumam Edgar dalam hati.
Di mansion, Leonor yang juga melihat postingan itu melalui akun rahasianya hanya bisa tersipu malu sambil mengelus perutnya yang kini sudah mulai terasa ada kehidupan kecil di sana. Ia tahu, suaminya memang sedikit gila, tapi kegilaan itulah yang justru membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰