Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 "Menenangkan kamu"
Malam merambat pelan di balik jendela kamar Cherrin.
Lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Jam dinding berdetak dengan suara yang terasa terlalu keras bagi telinga Cherrin—seolah setiap detik mengingatkannya bahwa waktu tetap berjalan, meski dirinya ingin berhenti di satu titik sebelum sore itu terjadi.
Ia masih duduk di ranjang, lutut dipeluk erat.
Tangannya dingin.
Jari-jarinya gemetar kecil, tak sepenuhnya berhenti sejak ia pulang.
Setelah bicara pada ayahnya, Zivaniel kembali ke dalam kamar Cherrin, Zivaniel duduk di kursi tak jauh darinya. Punggungnya tegak, kedua tangan bertumpu di paha. Wajahnya tenang—terlalu tenang, bahkan. Seperti permukaan danau yang menyembunyikan arus kuat di bawahnya.
Ia tidak bicara.
Tidak mendesak.
Tidak bertanya lagi.
Ia tahu, Cherrin belum siap.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang berat namun anehnya… tidak menakutkan. Keheningan yang dijaga.
Cherrin mengusap lengannya sendiri, mencoba menghangatkan tubuhnya.
“Niel…” panggilnya lirih. Hampir seperti bisikan.
Zivaniel langsung menoleh. “Hm?”
Nada suaranya rendah, datar, tapi penuh perhatian.
“Aku… aku takut,” katanya pelan.
Zivaniel mengangguk pelan, seolah pernyataan itu adalah sesuatu yang wajar. “Aku tahu.”
Itu saja.
Bukan kalimat penghiburan panjang.
Bukan janji berlebihan.
Namun entah kenapa, dua kata itu membuat dada Cherrin sedikit lebih lega.
Ia menelan ludah. “Setiap kali aku merem, aku lihat lagi… tangannya. Pisau itu.”
Zivaniel bangkit dari kursinya, bergerak perlahan—sengaja pelan. Ia duduk di tepi ranjang, menjaga jarak satu lengan.
Tidak menyentuh.
Belum.
“Kamu tidak harus tidur sekarang,” katanya. “Kamu juga tidak harus melupakan.”
Cherrin menoleh. Matanya merah. “Kalau aku tidak bisa berhenti takut?”
Zivaniel menatap lurus ke depan beberapa detik, lalu menjawab, “Takut tidak membuatmu lemah. Itu membuatmu hidup.”
Cherrin terdiam.
Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa… benar.
Tangannya mengepal di kain piyama.
“Tante Varla…” Cherrin ragu-ragu. “Dia nanya sesuatu?”
“Tidak,” jawab Zivaniel cepat. “Aku bilang kamu kelelahan.”
Cherrin mengangguk pelan.
Hening kembali jatuh.
Zivaniel menoleh padanya. “Kamu mau tetap di sini, atau keluar sebentar?”
Cherrin mengangkat wajahnya, ia menegang. “Keluar?”
“Udara malam,” katanya singkat. “Kadang membantu.”
Cherrin ragu. Dunia di luar kamar terasa… terlalu besar. Terlalu nyata.
Namun kamar ini juga terasa sempit oleh ingatan.
“Aku… kalau keluar…” suaranya bergetar. “Aku nggak mau sendirian. Aku takut, Niel.”
Zivaniel berdiri. “Kamu tidak akan sendirian.”
Itu bukan janji yang manis.
Itu pernyataan fakta.
Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan mansion dengan mobil Zivaniel. Supir tidak ikut. Lampu kota berganti menjadi jalanan yang lebih sepi. Cherrin duduk di kursi penumpang, memeluk tas kecilnya seolah benda itu bisa melindunginya.
Zivaniel mengemudi tanpa bicara.
Tangannya stabil di kemudi.
Tidak tergesa.
Tidak lambat.
Radio mati.
Hanya suara mesin dan napas Cherrin yang kadang tidak beraturan.
Setelah sekitar dua puluh menit, mobil berhenti di tepi sebuah taman kecil. Tidak besar. Tidak ramai. Lampu taman menyala kekuningan, menerangi jalan setapak dan hamparan rumput yang sedikit lembap.
“Ini tempat apa?” tanya Cherrin pelan.
“Taman lama,” jawab Zivaniel. “Jarang orang datang malam.”
Mereka turun.
Udara malam menyentuh kulit Cherrin—dingin, tapi segar. Ia menghirup dalam-dalam tanpa sadar.
Langkah mereka pelan.
Zivaniel berjalan setengah langkah di belakangnya.
Menjaga.
Tidak mengekang.
Cherrin berhenti ketika melihat sesuatu di antara rerumputan.
Cahaya kecil.
Berkedip.
Satu.
Lalu dua.
Lalu puluhan.
“Kunang-kunang…” gumamnya.
Zivaniel mengangguk. “Masih ada di sini.”
Cherrin menurunkan tasnya ke tanah, berjongkok perlahan. Ia takut membuat gerakan tiba-tiba, seolah cahaya-cahaya kecil itu akan pergi jika ia bernapas terlalu keras.
Kunang-kunang beterbangan rendah, cahaya mereka lembut—tidak menyilaukan. Seperti bintang yang jatuh dan lupa kembali ke langit.
“Cantik,” bisik Cherrin.
Untuk pertama kalinya sejak sore itu, bahunya turun sedikit.
Zivaniel berdiri di sampingnya. Tangannya masuk ke saku jaket. Wajahnya tetap datar, tapi matanya mengawasi setiap gerakan Cherrin.
“Kamu aman di sini,” katanya.
Cherrin menoleh. “Kamu yakin?”
Zivaniel menatap sekeliling taman—setiap bayangan, setiap sudut gelap. “Yakin.”
Ia tidak berkata, karena aku di sini.
Namun Cherrin merasakannya.
Mereka duduk di bangku kayu. Jarak di antara mereka cukup dekat untuk berbagi kehangatan, namun tetap sopan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada desakan.
Kunang-kunang menari di udara.
Cherrin menatapnya lama. “Kalau dunia bisa seperti ini terus… pelan. Tenang.”
Zivaniel tidak langsung menjawab. “Dunia tidak selalu kejam,” katanya akhirnya. “Tapi kadang kalau kejam, kejamnya lebih keras.”
Cherrin tersenyum tipis—senyum yang rapuh. “Kamu selalu bicara seperti orang dewasa.”
“Aku memang begitu.”
Ia tertawa kecil. Suara itu nyaris tak terdengar, tapi nyata.
Dan Zivaniel membeku sepersekian detik mendengarnya.
Cherrin menyandarkan punggungnya ke bangku. “Kalau aku nggak berani pulang nanti gimana dong?”
“Kita pulang pelan-pelan,” jawabnya. “Tidak ada yang mengejar.”
Cherrin menoleh padanya. "Niel…”
“Hm.”
“Kamu… selalu terlihat tidak takut apa pun.”
Zivaniel menatap ke depan. Cahaya kunang-kunang memantul samar di matanya. “Itu karena aku tahu apa yang harus ditakuti.”
Yaitu kehilangan kamu, Cherrin.
Kata-kata itu hanya mampu di ucapkan di dalam hati, tidak bisa di ucapkan secara langsung, dan Zivaniel hanya mampu memendamnya.
Cherrin tidak bertanya lebih jauh.
Malam terus berjalan.
Dan di antara cahaya kecil yang beterbangan, Cherrin akhirnya—perlahan—merasa napasnya kembali normal.
Tidak sepenuhnya sembuh.
Tidak lupa.
Namun cukup untuk bertahan satu malam lagi.
Sementara di dalam dirinya, Zivaniel berdiri di antara dua dunia—
satu yang penuh darah dan bayangan,
dan satu yang duduk di sampingnya sekarang, memandangi kunang-kunang, tanpa tahu bahwa monster yang paling ingin melindunginya…
adalah monster yang sama yang ia lihat sore itu.
Dan untuk pertama kalinya, Black Wolf berharap—
agar malam ini bisa berhenti selamanya.
*
Malam semakin dalam.
Kunang-kunang masih beterbangan, namun jumlahnya berkurang perlahan—seolah mereka pun lelah menari. Udara menjadi lebih dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Lampu taman berdengung pelan, konstan, seperti napas yang dijaga agar tidak terlalu keras.
Cherrin duduk diam cukup lama.
Matanya mengikuti cahaya kecil yang sesekali melintas di depan wajahnya. Kelopak itu berkedip lebih sering. Bahunya yang tegang sejak sore, perlahan mengendur. Napasnya tak lagi tersengal—berubah menjadi tarikan pendek yang teratur.
Zivaniel menyadarinya lebih cepat dari siapa pun.
Ia tidak bergerak.
Tidak ingin mengganggu keseimbangan rapuh itu.
Namun ketika kepala Cherrin miring sedikit—lalu jatuh perlahan ke bahunya—Zivaniel menahan napas.
Beratnya ringan.
Hangat.
Nyata.
Cherrin tertidur.
Bukan tidur nyenyak yang dalam, melainkan tidur kelelahan—jenis tidur yang datang setelah tubuh tak sanggup lagi menahan rasa takut. Alisnya masih sedikit berkerut, seolah mimpi yang datang belum sepenuhnya ramah.
Zivaniel menatapnya lama.
Untuk sesaat, dunia berhenti.
Tidak ada suara jeritan dalam ingatan.
Hanya seorang gadis yang tertidur di bahunya, mempercayakan dirinya tanpa sadar.
Sudut bibir Zivaniel terangkat sedikit.
Senyum yang hampir tak pernah ada.
Senyum yang bahkan dirinya sendiri lupa bagaimana rasanya.
Ia mengangkat satu tangan, ragu sesaat—seperti takut melanggar sesuatu yang suci. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan, ia mengelus rambut Cherrin.
Ujung jarinya menyentuh helai-helai lembut itu, nyaris tak terasa.
Cherrin bergumam kecil, menggeser wajahnya lebih dekat.
Zivaniel berhenti bergerak.
Namun ketika napas Cherrin kembali stabil, ia melanjutkan—lebih hati-hati, lebih pelan. Seolah setiap sentuhan adalah janji yang tidak boleh dilanggar.
Ia menunduk sedikit.
Suaranya rendah. Hampir tak terdengar oleh malam.
“Selama aku bernapas,” katanya, pelan namun tegas,
“aku tidak akan pernah membiarkan kamu menderita, Cherrin Lemira.”
Tidak ada saksi.
Tidak ada yang mendengar.
Kecuali malam.
Kecuali kunang-kunang terakhir yang berkelip pelan sebelum menghilang.
Waktu berjalan tanpa ia sadari.
Zivaniel tetap duduk di sana, membiarkan bahunya pegal, membiarkan dingin merayap ke tulang. Ia tidak peduli. Ada hal yang lebih penting dari kenyamanan—menjaga tidur seseorang yang rapuh namun berani.
Sesekali, Cherrin mengernyit dalam tidurnya.
Zivaniel langsung berhenti bernapas lebih dalam, menenangkan ritmenya sendiri, seolah ketenangannya bisa merambat ke tubuh gadis itu.
Dan entah bagaimana—
Kerutan di dahi Cherrin menghilang.
Malam hampir habis ketika Zivaniel akhirnya bergerak.
Ia melepaskan jaketnya, menyampirkannya perlahan ke bahu Cherrin. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia mengangkat tubuh itu—ringan, lebih ringan dari beban yang ia pikul setiap hari.
Cherrin tidak terbangun.
Wajahnya tersembunyi di dada Zivaniel, napasnya hangat menembus kain kemeja.
Zivaniel menunduk menatapnya sekali lagi.
“Tidurlah,” gumamnya. “Aku jaga.”
Dan untuk malam itu—
monster memilih menjadi perisai.
Bukan karena perintah.
Bukan karena tugas.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia ingin menjaga sesuatu
bukan karena harus—
melainkan karena ia ingin.