Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Rencana Callen Persiapan Festival Olahraga
Sabtu pagi.
Matahari belum tinggi, sinarnya masih malu-malu menembus tirai jendela kamarku. Di luar sana, orang-orang mungkin sedang menikmati akhir pekan dengan jogging atau tidur sampai siang. Tapi di dalam kamar bernuansa monokrom ini, perang sudah dimulai.
Aku duduk di depan meja belajar. Laptop Legion-ku menyala, menampilkan spreadsheet data yang rumit dari flashdisk pemberian Fazi.
Di layar, terpampang jelas peta kekuatan musuh.
"Mari kita bedah," gumamku pelan, mataku bergerak cepat memindai kolom demi kolom.
Aku mulai memetakan demografi lawan.
Kelas 10 (Angkatanku):
· 10-A (Kelasku): 15 Siswa. (Kecil, ringkih, elit akademik, kurang personil).
· 10-B: 15 Siswa. (Struktur mirip kelasku, tapi lebih banyak anak seni).
· 10-C: 22 Siswa. (Mereka punya cadangan pemain yang melimpah).
Kelas 11 (Angkatan Bagas):
· 11-A, 11-B, 11-C: Masing-masing 22 Siswa. Total 66 orang.
Kelas 12 (Angkatan Fazi):
· 12-A, 12-B, 12-C: Masing-masing 15 Siswa. Total 45 orang.
"Masalah utamanya bukan di Kelas 12," analisisku.
Kelas 12 memang punya legenda seperti Fazi, tapi jumlah mereka sedikit dan fokus mereka terpecah ke persiapan ujian akhir. Fisik mereka mungkin matang, tapi mental mereka sudah setengah keluar dari sekolah.
Ancaman sebenarnya adalah Kelas 11.
Aku menatap data statistik tahun lalu. Angkatan ini... mengerikan. Saat mereka kelas 10 tahun lalu, mereka menyapu bersih hampir semua medali emas di kategori beregu.
Ada 16 nama yang ditandai merah oleh Fazi di data ini. "The 16 Titans". Mereka adalah atlet-atlet yang sedang berada di puncak performa fisik masa remaja. Bagas—si preman yang kutidurkan di belakang perpus—termasuk salah satunya di cabang bela diri dan tenis meja.
"Sial," umpatku pelan. "Mereka punya kuantitas dan kualitas."
Lalu, aku beralih ke peraturan turnamen yang ternyata lebih rumit dari dugaan awal.
Sistemnya terbagi dua fase besar untuk menentukan Juara Umum.
Gelar Juara Umum bukan diberikan per angkatan, melainkan dihitung berdasarkan total perolehan medali emas dari seluruh cabang lomba di babak Final. Angkatan mana yang mengoleksi emas terbanyak, mereka yang akan memegang trofi bergilir sekolah.
Fase 1: Babak Penyisihan (Hari 1-4)
Ini adalah perang saudara per angkatan. Kelas 10-A harus melawan 10-B dan 10-C.
"Tidak ada gelar 'Juara Angkatan' di fase ini," gumamku membaca aturan kecil di bawah tabel. "Pemenang penyisihan hanya akan mendapatkan bingkisan hadiah hiburan (makanan ringan, voucher kantin, dll) yang dibungkus kado."
Hadiahnya receh, tapi yang dikejar di sini adalah Poin Kualifikasi. Setiap kemenangan di penyisihan memberikan poin individu. Nilai maksimalnya 100 poin.
Fase 2: Semifinal & Final (Hari 5-7)
Di sinilah letak jebakannya.
Hanya satu perwakilan terbaik dari masing-masing angkatan (Kelas 10, 11, dan 12) yang akan lolos ke fase ini per cabang lomba. Jadi, hanya ada 3 orang di bagan utama.
Aku membaca skema matchmaking-nya yang unik. Lawan di semifinal tidak diundi, melainkan ditentukan berdasarkan Poin Kualifikasi yang didapat di fase penyisihan tadi.
Aku membuat simulasi cepat di kepala:
Misalkan aku memenangkan Lari 400 meter di penyisihan Kelas 10 dengan performa sempurna. Poin: 100.
Wakil Kelas 11 (Misalnya Bagas atau temannya) menang di angkatannya dengan performa sedikit di bawahku. Poin: 90.
Wakil Kelas 12 (Angkatan Fazi) menang di angkatannya, tapi karena faktor usia atau kelelahan, performanya standar. Poin: 50.
Logika normal turnamen biasanya mempertemukan poin terendah (50) vs menengah (90), sementara poin tertinggi (100) menunggu di final (bye).
Tapi peraturan sekolah ini berbeda.
"Yang melawan Callen (100) di semifinal adalah anak angkatan 12 (50)," bacaku lirih. "Sementara anak angkatan 11 (90) akan otomatis menunggu di Final."
Sistem ini sepertinya dirancang untuk menguji mental sang juara baru. Peraih poin tertinggi dipaksa membuktikan diri dua kali dengan melibas yang terlemah dulu, sementara runner-up poin (yang biasanya dipegang Kelas 11 yang solid) menunggu dengan tenaga penuh di Final.
"Licik," komentarku sambil tersenyum miring. "Ini pasti akal-akalan OSIS tahun lalu untuk memberi keuntungan pada angkatan mereka sendiri."
Artinya, jika aku ingin menang Lari 400 meter, aku harus lari dua kali dalam 1 hari. Sekali melawan Kelas 10 untuk babak penyisihan lalu semifinal juga melawan antara kelas 11 atau 12, dan sekali lagi beberapa hari setelah itu atau besoknya akan final melawan Kelas 11 atau 12 untuk penentuan Emas.
"Peraturan ini benar-benar menguji mental dan stamina individu," batinku.
Jika tidak ada peraturan "satu lawan satu" seperti ini, mungkin aku bisa memenangkan turnamen ini dengan mudah. Tapi dengan sistem gauntlet seperti ini, aku tidak bisa membelah diri.
Rafan harus berjuang sendiri di semifinal karatenya. Zea harus berjuang sendiri di semifinal larinya. Kevin harus berjuang sendiri di basket one-on-one atau three-on-three perwakilan angkatan.
"Semoga mental mereka kuat," harapku cemas.
Aku tidak bisa membantu mereka di arena semifinal dan final. Tugasku hanya bisa maksimal di 4 hari pertama: Memastikan poin mereka setinggi mungkin di penyisihan agar mereka punya mental juara sebelum masuk kandang singa.
"Hah... sudahlah. Mengeluh tidak akan mengubah bagan pertandingan."
Aku menegakkan badan kembali.
Fokusku harus dibagi dua. Pertama, memastikan 10-A lolos penyisihan dengan mulus, mengalahkan 10-C yang menang jumlah. Kedua, mengamankan satu medali emas mutlak yang bisa kupaangku sendiri: Lari 400 Meter.
Kenapa 400 meter? Karena itu cabang "neraka". Kebanyakan orang hebat akan lari ke 100 meter (gengsi tinggi) atau 200 meter. Lari 400 meter adalah sprint jarak jauh yang menyiksa paru-paru. Fazi tidak ikut ini, Bagas tidak ikut ini. Ini celah yang bisa kumasuki untuk mengamankan poin besar di Final nanti.
Tanganku kembali ke keyboard.
Aku mulai menyalin data penting dari flashdisk. Aku memisahkan data-data spesifik: Kelemahan kiper kelas 10-C, pola serangan basket kelas 10-B, dan daftar cedera pemain lawan.
Aku membuka WhatsApp web.
To: Rafan (Ketua Kelas) File attached: STRATEGI_PENYISIHAN_PHASE1.pdf File attached: DATA_TARGET_LAWAN.xlsx
Aku mengetik pesan tambahan.
Me: Raf, ini data mentah dan analisis awal. Pelajari baik-baik. Fokus kita sekarang: Hancurkan mental 10-C di hari pertama. Mereka menang jumlah, tapi koordinasi mereka buruk. Kita serang di situ. Oh ya, jangan kasih tau anak-anak kalau lawan di semifinal nanti seberat itu. Biar mereka fokus lolos penyisihan dulu.
Sent.
Aku menutup laptop. Menghela napas panjang untuk kesekian kalinya pagi ini.
Catur di atas papan kayu sudah kumenangkan. Sekarang saatnya memainkan catur di atas lapangan nyata, dengan bidak-bidak hidup yang punya perasaan dan rasa takut.
Aku berdiri, berjalan menuju cermin lemari. Tanpa kacamata, mataku terlihat lelah namun tajam.
"Ayo mulai," bisikku pada pantulan diri sendiri.
Aku mengambil sepatu lari dari rak. Pagi ini, aku akan mulai memanaskan mesin tubuhku yang sudah lama tertidur. 400 meter itu tidak akan lari sendiri.