NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kompetisi Antar Lelaki

Sinar matahari pagi menyinari lereng bukit, membawa aroma pinus dan tanah basah yang masuk melalui jendela dapur. Esme sedang sibuk memasukkan beberapa botol pupuk cair ke dalam tas kanvasnya. Penampilannya hari ini terlihat lebih rapi dengan pita merah pemberian AL yang terikat manis di rambutnya. Di sudut meja, AL sedang berusaha keras memahami konsep kancing kemeja. Otot lengannya yang besar membuat lubang kancing itu terlihat sangat sempit dan rentan robek.

"Moa, apakah kancing ini memang diciptakan untuk menguji kesabaran manusia?" tanya AL dengan dahi berkerut. "Aku merasa benda bulat kecil ini ingin melompat keluar setiap kali aku menarik napas."

Esme menoleh, melihat AL yang sedang berjuang dengan kemeja biru barunya. Wajah pria itu terlihat sangat serius, seolah sedang menjinakkan bom. Esme mendekat, jemarinya yang ramping bergerak lincah membantu AL memasangkan kancing kemejanya. Jarak mereka begitu dekat hingga AL bisa mencium aroma sabun mawar dari kulit Esme, sementara Esme harus menahan napas karena dadanya tepat berada di depan otot bidang AL.

"Jangan ditarik terlalu keras, Aleksander. Kau harus melakukannya dengan perasaan," ucap Esme lembut. "Nah, selesai. Sekarang kau terlihat seperti pria terhormat, bukan lagi seperti orang yang baru keluar dari gua."

AL menatap pantulannya di cermin kecil. Rambutnya yang sudah rapi, kemeja yang pas di tubuh, dan tatapan matanya yang kini lebih tenang membuatnya terlihat sangat gagah. "Terhormat. Aku suka kata itu. Apakah pria terhormat boleh pergi ke kebun Paman Silas hari ini? Aku ingin mengumpulkan lebih banyak kertas ajaib itu untuk membeli meja baru yang tidak goyang saat kita makan."

Esme tersenyum tipis. "Boleh. Tapi ingat, jangan terpancing oleh Jaka atau siapa pun. Jika ada yang mengganggumu, abaikan saja. Kau jauh lebih kuat dari mereka, tapi kekuatanmu bukan untuk pamer."

"Aku mengerti, Moa. Aku akan setenang air di danau," jawab AL mantap.

----

Namun, ketenangan AL kembali diuji saat ia sampai di perkebunan. Kabar tentang AL yang merupakan "suami idaman" telah membuat para pemuda desa merasa terancam. Terutama Jaka, yang masih tidak terima karena dipermalukan di depan umum kemarin. Kali ini, Jaka membawa tantangan baru. Di tengah kebun, sudah ada tumpukan kayu gelondongan besar yang baru saja ditebang.

"Hei, Aleksander!" seru Jaka dengan nada menantang. "Warga desa bilang kau sangat kuat. Bagaimana kalau kita lihat, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membelah tumpukan kayu ini menjadi kayu bakar? Kalau kau kalah, kau harus mengakui bahwa kau hanya besar badan tapi tidak punya teknik!"

AL menatap tumpukan kayu itu, lalu menatap kapak besar yang disodorkan Jaka. Di dalam batinnya, AL teringat kata-kata Esme tentang menjadi pria terhormat. Ia juga teringat bagaimana Esme harus membungkuk-bungkuk lelah saat memotong kayu bakar di rumah.

"Aku akan melakukannya," ucap AL datar. "Bukan untuk bertaruh denganmu, tapi karena Moa butuh kayu bakar untuk memasak sup ayam nanti malam."

Penduduk desa mulai berkumpul. Para ibu-ibu membawa kipas sambil berbisik-bisik kagum melihat AL melepaskan kemeja birunya-hanya menyisakan kaos dalam putih yang ketat-untuk mulai bekerja. AL mengambil kapak itu, namun ia merasa benda itu terlalu ringan di tangannya.

"Ini... terlalu kecil," gumam AL.

Dia meletakkan kapak itu kembali. AL berjalan ke arah tumpukan kayu, mengambil sebuah gelondongan kayu besar, lalu dengan sekali sentakan tangan kosong, dia memukul bagian tengah kayu tersebut.

"BRAKK!"

Kayu itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi. Penduduk desa terdiam. Tidak ada suara kapak, hanya suara hantaman tangan manusia yang terdengar seperti ledakan kecil. AL terus melakukannya, membelah kayu-kayu itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal menggunakan teknik tangan kosong yang ia temukan secara instingtif dari memori ototnya yang purba.

"Astaga! Dia tidak pakai kapak!" teriak salah satu pekerja kebun. "Dia membelahnya seperti membelah kerupuk!"

Jaka berdiri mematung, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia baru saja menantang sesuatu yang levelnya jauh di atas manusia biasa. AL menyelesaikan seluruh tumpukan kayu itu hanya dalam waktu sepuluh menit. Dia berdiri tegak, napasnya tetap teratur, sementara keringat berkilat di tubuh atletisnya.

"Selesai," ucap AL sambil menatap Jaka. "Apakah ini sudah cukup teknis bagimu, Paman Jaka?"

Jaka tidak menjawab, dia segera mundur dan menghilang di antara kerumunan. Sementara itu, Bibi Sarah datang membawa segelas air dingin dengan wajah yang sangat sumringah.

"Aleksander, kau luar biasa! Kau baru saja menghemat pekerjaan kami selama satu minggu!" puji Bibi Sarah. "Nanti pamanmu akan memberikan upah tambahan. Kau benar-benar berkat bagi desa ini."

"Aku hanya ingin Moa bangga," jawab AL polos, meminum air itu dalam sekali teguk.

---

Sore harinya, AL pulang dengan membawa sekantong besar kayu bakar berkualitas tinggi dan upah yang cukup banyak. Di jalan pulang, dia melihat sebuah toko kecil yang menjual barang-barang antik. Matanya tertuju pada sebuah sisir rambut yang terbuat dari kayu cendana dengan ukiran bunga mawar.

"Itu... sangat cocok untuk rambut Moa," pikir AL.

Dia masuk ke toko tersebut dengan langkah hati-hati agar tidak merusak lantai kayu. Penjual toko itu, seorang wanita tua, tersenyum melihat AL. "Mau cari hadiah untuk istri tercinta, ya?"

"Iya. Aku ingin benda ini. Berapa kertas ajaib yang harus aku berikan?" tanya AL sambil menunjuk sisir mawar itu.

Setelah melakukan transaksi pertamanya secara mandiri, AL keluar dengan perasaan menang. Dia merasa benar-benar menjadi "kepala rumah tangga". Namun, saat ia mendekati pondok, instingnya tiba-tiba menangkap sesuatu yang tidak beres. Bau asing. Bukan bau Paman Silas atau orang desa. Ini bau bahan kimia yang sangat tajam, mirip dengan bau yang ada dalam mimpi buruknya.

AL segera mempercepat langkahnya. Dia melihat sesosok pria asing berpakaian hitam sedang berdiri di dekat jendela pondok, mengintip ke dalam.

Pupil mata AL seketika menyempit. Aura pelindungnya bangkit. Kuku-kukunya mulai memberikan sensasi panas di ujung jari.

"Apa yang kau lakukan di rumah Moa?" suara AL terdengar sangat rendah dan berbahaya, seperti gemuruh guntur sebelum badai.

Pria asing itu tersentak dan berbalik. Saat melihat AL, pria itu tampak ketakutan sekaligus terpesona. "Subjek 01? Kau... kau masih hidup?"

Kata "Subjek 01" memicu kilatan memori di kepala AL. Bayangan jarum suntik, sel kaca, dan rasa sakit yang luar biasa menghujam otaknya. AL mengerang kesakitan, memegangi kepalanya, namun insting predatornya justru memerintahkannya untuk menyerang ancaman di depannya.

"JANGAN SEBUT NAMA ITU!" teriak AL. Dia menerjang pria itu dengan kecepatan kilat.

Beruntung bagi pria itu, Esme baru saja sampai di halaman dan melihat kejadian tersebut. "ALEKSANDER! BERHENTI! JANGAN!"

Suara Esme seperti rem darurat bagi sistem saraf AL. Dia berhenti tepat satu senti sebelum tangannya merobek tenggorokan pria asing itu. AL menoleh ke arah Esme dengan napas terengah-engah, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan liar dan ketakutan anak-anak.

"Moa... dia... dia memanggilku dengan nama aneh. Dia bau seperti tempat gelap itu," ucap AL dengan suara gemetar.

Esme segera berlari dan berdiri di antara AL dan pria itu. Esme mengenali pria itu-dia adalah mantan asisten juniornya di Leb City yang entah bagaimana berhasil melacaknya.

"Pergi dari sini sekarang, Rian! Atau aku tidak akan bisa menjamin nyawamu!" ancam Esme dengan mata yang berapi-api. "Jangan pernah kembali lagi!"

Rian, pria asing itu, segera melarikan diri tanpa menoleh lagi. Esme kemudian berbalik menghadap AL, yang kini terduduk lemas di tanah, masih memegangi kepalanya yang berdenyut.

"Aleksander, kau tidak apa-apa?" Esme memeluk kepala AL, mencoba memberikan ketenangan.

"Moa... siapa Subjek 01? Kenapa aku merasa sangat sakit saat mendengar nama itu?" tanya AL dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah aku bukan suamimu? Apakah aku benar-benar monster?"

Esme terdiam, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Rahasia yang ia jaga dengan sangat rapi mulai retak. Ia menarik napas dalam, mengusap punggung AL dengan lembut. "Kau adalah Aleksander. Kau suamiku. Pria itu hanya orang gila yang salah mengenali orang. Jangan dengarkan dia, oke?"

AL menatap mata Esme, mencari kebenaran di sana. Setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan dan mengeluarkan sisir kayu mawar dari sakunya. "Aku membelikan ini untukmu... tadi aku ingin memberikannya saat suasana sedang bagus."

Esme menerima sisir itu dengan tangan bergetar. Ia merasa sangat berdosa, namun ia tidak punya pilihan lain selain terus memupuk kebohongan ini demi keselamatan AL dan dirinya sendiri. "Sisir ini sangat indah, Aleksander. Terima kasih... terima kasih banyak."

Malam itu, pondok terasa lebih dingin. Esme menyadari bahwa waktu kedamaian mereka mungkin akan segera berakhir. Para pemburu dari masa lalu mulai mendekat, sementara AL mulai meragukan jati dirinya sendiri. Esme harus bergerak lebih cepat dengan penelitian penawarnya, atau ia akan kehilangan "suami" lugunya itu selamanya.

Akankah Esme berhasil menenangkan keraguan AL, atau apakah AL akan mulai menyelidiki sendiri siapa sebenarnya dirinya? Dan bagaimana reaksi penduduk desa jika mereka tahu ada orang asing yang mencari AL?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!