NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interaksi

|Solo, 2015|

Peluh membasahi dahi Adara. Matahari seolah membakar tubuhnya. Berulang kali ia menghela napas kasar sambil mengibaskan kerudungnya, mencoba memberi sedikit angin pada kulit wajahnya. Sepertinya hari ini matahari sangat mencintai bumi, sebab ia menerangi bumi lebih panas dari biasanya, seolah memeluk bumi dengan erat.

“Huh… panas banget hari ini!” keluhnya, menutup satu mata dengan tangan karena cahaya matahari memantul.

Hari ini para santri Daarul Afkar mengikuti lomba besar yang diadakan di sebuah universitas di Solo. Perlombaan besar yang diikuti ratusan peserta dari berbagai pondok dan sekolah. Ayumi ikut lomba pidato, sedangkan Adara ikut lomba membaca puisi dan cerdas cermat.

Namun karena jadwal lomba tidak bersamaan, Adara keluar ruangan lebih dulu sementara Ayumi masih menunggu gilirannya tampil.

Panasnya kota Solo hari itu, seolah membakar tubuh. Bahkan langkah kaki saja terasa seperti melangkah di atas tungku.

Adara menghela napas panjang, menatap bangunan besar universitas di depan matanya. Acara lomba khusus diadakan di auditorium kampus, tapi di halaman kampus ada bazar makanan yang sengaja dibuka untuk para peserta.

Dan sebagai orang Bogor yang terbiasa cuaca dingin, Adara merasa tempat ini seperti kompor raksasa. Ia memutuskan berjalan menuju deretan tenda makanan, mencari tempat yang sedikit lebih teduh.

Suasana bazar cukup meriah. Ada penjual takoyaki, aneka minuman, sate taichan, pisang coklat, bahkan es kuwut yang sangat menggoda pandangan Adara.

Ia berdiri di depan salah satu gerobak minuman.

“Es kuwut satu, Mas,” ucap Adara.

Penjualnya tersenyum. “Langsung minum sini apa dibawa, Mbak?”

“Dibawa.”

Setelah membayar, Adara menyesap es kuwut dingin itu sambil berjalan pelan menuju masjid kecil yang berada di sebelah kiri kampus. Masjid itu bukan masjid kampus, melainkan masjid umum yang berada di depan gerbang. Tempatnya justru lebih sepi dibanding area kampus yang penuh peserta lomba.

Adara duduk di teras masjid, meletakkan tasnya dan satu map berisi sertifikat pendaftaran lomba. Ia menarik napas panjang, menikmati teduhnya masjid itu.

“Teduh banget…” gumamnya kecil.

Hembusan angin membuat kelopak matanya terasa berat. Tubuhnya mulai melemas. Ia sempat memaksa dirinya untuk tetap bangun karena masih ada pengumuman pemenang lomba sebentar lagi. Namun kantuk itu datang pelan-pelan, seperti selimut tebal yang menutupinya.

Adara menghela napas terakhir sebelum akhirnya matanya tertutup sepenuhnya lalu terlelap.

Adara melenguh kecil saat membuka matanya. Dahinya mengernyit saat melihat cahaya matahari bukan lagi terang keemasan… melainkan oranye yang gelap, mendekati senja.

Ia membelalakkan matanya lalu bergegas berlari keluar masjid dengan ekspresi khawatir.

Sesampainya di kampus, suasana telah sepi. Tidak ada suara bising peserta lomba. Halaman kampus di depan masjid juga terlihat lengang. Sebagian besar tenda makanan telah tutup.

“Ya Allah…” Adara memegangi ponselnya. Layarnya tampak gelap—baterainya habis.

“Astaga, gue tidur berapa lama sih?!” gumamnya panik.

Ia segera berdiri dan berlari ke arah auditorium tempat acara berlangsung. Namun saat tiba di sana, gedung sudah ditutup. Pintu-pintunya terkunci, dan di luar hanya ada beberapa sisa sampah plastik dan brosur-brosur lomba yang tertiup angin.

Adara menatap sekitar dengan panik. Ia bahkan tidak hafal satu pun arah di Solo. Pondoknya saja berada di kota Yogyakarta dan itu tidak dekat. Mobil pondok juga sudah pasti pulang karena ustadzah selalu sangat tepat waktu soal rombongan.

“Gimana cara pulang ke pondok?!” bisiknya. Adara nyaris menangis ketakutan.

Adara mencoba menenangkan diri sebentar. Ia menepuk pipinya, menghela napas panjang, lalu melangkah ke area parkiran kampus, berharap ada seseorang di sana.

Namun tempat itu pun sunyi.

Hanya terlihat beberapa motor yang ditinggal mahasiswa yang mungkin kuliah sore. Tapi tidak ada manusia yang cukup dekat untuk ia tanyai.

Adara menggigit bibirnya, menahan air mata. Kepalanya mulai pusing karena kepanikan.

Ia berjalan ke arah luar gerbang kampus, menengok kanan-kiri. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan karena jam pulang kerja. Namun daerah ini sama sekali tidak Ia kenali.

“Gue harus… gue harus minta tolong ke siapa? Gue nggak berani asal-asalan minta tolong, takut yang nolongin ternyata orang jahat,” gumamnya.

Baru beberapa langkah berjalan, dari arah sebelah kanan kampus terdengar suara riuh, suara sekelompok pemuda tertawa dan bercanda. Adara spontan menoleh, berharap ada siapa pun yang dia kenali.

Namun bukan.

Di trotoar, lima orang laki-laki berjalan santai sambil membawa beberapa minuman dingin. Dan salah satu dari mereka…

Adara sempat terpaku. Karena ia mengenal wajah itu. Dia Rafka—Gus Rafka. Putra bungsu Kyai di Pesantren tempatnya menimba ilmu.

Rafka mendongak sebentar, melihat gadis yang berdiri agak bingung di pinggir trotoar. Cadar Adara sedikit miring karena tertidur.

Namun pakaian seragam Adara jelas membuat Gus Rafka mengenalinya. Pria itu menghentikan langkah. Teman-temannya pun ikut berhenti.

“Kenapa, Gus?” tanya salah satunya.

Rafka melirik samar. “Tunggu sebentar. Aku kayaknya kenal.”

Ia berjalan mendekat. Adara terkejut, mundur setengah langkah.

“Eh… kamu kenapa berdiri di sini sendirian?” tanya Rafka dengan suara khasnya. “Kamu santri Abah saya, kan? Adara?” tanyanya.

Rafka menatap lekat sepasang mata Adara, sepasang mata cantik yang selalu dia kenali. Apa dia salah orang? Kenapa gadis bermata cantik itu ada di sini?

Adara membulatkan matanya. Jelas ia kaget karena Rafka mengenalinya. “Gus Rafka kenal sama saya?”

Begitu mendengar suara Adara—Rafka bergegas mengalihkan pandangannya. “Benar, kamu Adara. Kenapa bisa di sini?” tanyanya.

Rafka tidak menjawab pertanyaan Adara. Pria itu justru memberikan pertanyaan lain kepada Adara.

“Saya… saya ikut lomba di kampus ini… tadi istirahat sebentar di masjid… terus ketiduran…” jelas Adara gugup. Ia takut Rafka akan memarahi kecerobohannya.

“Lama?” Rafka menaikkan alis.

Adara mengangguk.

“Dan sekarang bus pondok sudah pulang?” tanya Rafka.

Adara mengangguk lagi.

“Meninggalkan kamu sendirian?”

Adara mengangguk lebih kuat. “Iya.”

Rafka terkekeh kecil. “Terus gimana caranya kamu bisa balik ke pondok? Perjalanan dari sini ke pondok 1 Jam, lho. Kamu mau jalan kaki?”

Adara menggeleng pelan. “Nggak tau…” cicitnya.

Rafka menahan tawanya, dia tidak habis pikir karena gadis itu bisa ketiduran dengan nyenyak di masjid.

“Gus Rafka ngetawain saya?” tanya Adara. Ia menatap pria itu dengan tatapan galak, seolah tidak terima ditertawakan seperti itu.

“Iya!” jawab Rafka dengan nada mengejek.

“Huh! Nyebelin banget orang jelek ini!” gerutu Adara.

“Apa? Gimana-gimana?” Rafka mengernyitkan dahinya. “Kamu manggil saya jelek?” wajah pria itu tampak kaget.

“Iya! Emangnya kenapa? Dasar J.E.L.E.K!” sahut Adara semakin mengejek.

Empat teman Rafka yang menyaksikan pertengkaran itu hanya tertawa melihat interaksi mereka. Tentunya mereka mengenali gadis itu—adik kelas mereka yang sangat berprestasi.

Adara Naqia Selvira.

***

Bersambung…

1
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!