Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gus Kecil
Tahun-tahun berlalu dengan cepat di Pondok Pesantren Al-Azhar. Muhammad Zavier Aydan kini telah tumbuh menjadi balita berusia tiga tahun yang sangat aktif.
Ia adalah perpaduan sempurna yang berbahaya, memiliki wajah tampan dengan garis rahang tegas seperti ayahnya Zayn, namun dengan mata besar yang cerdas dan rasa ingin tahu yang tinggi milik Abigail.
Zavier bukan hanya menjadi kesayangan ndalem, tapi juga menjadi "idola" sekaligus "teror" lucu bagi para santri.
Zavier memiliki kebiasaan aneh. Alih-alih bermain mobil-mobilan di halaman, ia lebih suka membuntuti ayahnya ke perpustakaan kitab kuning. Dengan baju koko kecil dan peci yang sering miring, ia akan duduk di lantai meniru gaya Zayn membaca kitab.
Suatu hari, Zayn sedang memberikan pengajian privat kepada beberapa santri senior. Suasana sangat khidmat sampai tiba-tiba Zavier naik ke atas meja, merebut pulpen ayahnya, dan mulai mencoret-coret kertas kosong sambil berteriak, "I am writing a letter to Grandpa in New York, Mas Daddy!"
Zayn hanya bisa menghela napas, sementara para santri menahan tawa. Panggilan "Mas Daddy" adalah hasil ajaran Abigail yang menggabungkan sebutan "Mas" dan "Daddy". Zayn yang biasanya tegas, hanya bisa pasrah saat Zavier menggunakan sorbannya untuk dijadikan jubah pahlawan super.
Darah petualang Zayn dan Abigail ternyata menurun kuat. Zavier tidak takut pada apa pun.
Suatu sore, pesantren gempar karena Zavier menghilang. Seluruh santri dikerahkan untuk mencari.
Zayn dan Abigail menemukan putra mereka sedang berada di kandang kuda milik pesantren, mencoba memanjat punggung kuda besar sambil membawa wortel.
"Zavier! Turun, Sayang! Bahaya!" teriak Abigail panik.
Zavier justru menoleh dengan senyum lebar, persis seperti senyuman miring Zayn saat sedang menantang orang. "Look, Mas Daddy! I am a cowboy like in the movies!"
Zayn mendekat, bukannya memarahi, ia justru menggendong Zavier dan mendudukkannya dengan benar di atas kuda sambil menjaganya. "Kalau mau jadi ksatria, harus belajar tekniknya dulu, Jagoan. Jangan asal panjat," ujar Zayn tegas namun bangga melihat keberanian anaknya.
Zavier tumbuh dengan dua bahasa. Ia bisa fasih mengucap "Assalamualaikum, Kyai" kepada kakeknya, namun sedetik kemudian bisa protes kepada paman-pamannya di New York lewat video call dengan bahasa Inggris yang sangat lancar.
"Sayang," bisik Zayn suatu malam saat melihat Zavier tertidur pulas dengan memeluk sebuah Al-Qur'an kecil dan sebuah mainan pesawat dari New York. "Anak ini akan menjadi lebih hebat dari kita. Dia punya iman pesantren, tapi punya mental penakluk dunia."
Abigail menyandarkan kepalanya di bahu Zayn. "Itu karena dia punya ayah yang luar biasa, Mas. Kamu sudah mengajarkannya bagaimana menjadi pria yang kuat tapi tetap berhati lembut."
Zayn merangkul Abigail, menariknya lebih dekat. "Dan ibu yang sangat cantik yang mengajarinya cara mencintai."
Gairah di antara Zayn dan Abigail tidak pernah luntur oleh waktu. Di tengah keramaian mengurus Zavier, mereka selalu menemukan waktu untuk saling mencintai, membuktikan bahwa pernikahan yang diawali dengan badai fitnah dan perbedaan budaya justru berujung pada kebahagiaan yang tak tergoyahkan.
Sepuluh tahun telah berlalu, dan Pondok Pesantren Al-Azhar kini semakin berkembang. Zavier tumbuh menjadi sosok Gus Kecil yang dikagumi, ia cerdas, fasih berbahasa Inggris, dan sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an.
Namun, kejutan terbesar hadir saat Abigail, di usianya yang semakin matang dan anggun, dinyatakan hamil kembali.
Tepat di saat Zavier merayakan ulang tahunnya yang ke-10, sebuah kado istimewa dari langit tiba.
.
.
Suasana persalinan kali ini jauh lebih tenang dibandingkan saat Zavier lahir. Gus Zayn, yang kini terlihat lebih berwibawa yang justru menambah ketampanannya, setia berada di samping Abigail.
Ketika tangisan bayi yang lebih lembut dan melengking terdengar, dokter tersenyum. "Selamat, Gus, Abigail... putrinya cantik sekali."
Lahir seorang bayi perempuan dengan kulit seputih susu dan bibir merah mungil. Jika Zavier adalah fotokopi Zayn, maka bayi perempuan ini adalah kembaran Abigail versi kecil.
Zavier masuk ke ruang perawatan dengan langkah yang tegap. Ia mengenakan sarung instan dan koko moderen, terlihat sangat dewasa untuk usianya. Begitu melihat sosok mungil di dekapan ibunya, matanya yang biasanya tajam mendadak melunak.
"Mas Daddy... apa itu adikku?" tanya Zavier pelan.
Zayn merangkul bahu putra sulungnya. "Iya, Jagoan. Namanya Zahra Alexandria Hernandez. Cahaya murni yang akan kita jaga bersama."
Zavier mendekat, ia menyentuh jari mungil adiknya dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba, sisi protektif yang menurun dari Zayn muncul.
"Mulai hari ini, tidak ada santri putra yang boleh mendekati kamarnya tanpa izin dariku," ucap Zavier dengan nada serius yang membuat Zayn dan Abigail tertawa.
"Dia baru lahir satu jam, Zavier! Masa sudah kamu pingit?" goda Abigail sambil mengecup dahi putra sulungnya.
Malam itu, Zayn duduk di sofa ruang rawat sambil memandangi kedua dunianya, Abigail yang sedang menyusui Zahra, dan Zavier yang tertidur di sofa sambil memegang buku doa.
Zayn menghampiri Abigail, mengecup kening istrinya lama sekali. "Terima kasih, Mas Zayn," bisik Abigail. "Sepuluh tahun bersamamu adalah petualangan terbaik dalam hidupku."
Zayn mengusap pipi Abigail, tatapannya masih penuh gairah dan cinta yang sama seperti saat mereka pertama kali bulan madu di New York. "Dan sepuluh tahun ini hanyalah awal, Mas akan menjagamu, Zavier, dan Zahra sampai napas terakhir. Kamu adalah ratuku, selamanya."
Dengan kehadiran Zahra, pesantren bukan lagi sekadar tempat belajar bagi mereka, tapi sebuah istana cinta yang menyatukan dua benua dalam satu doa.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading❤