Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 Ancaman Xavier
"Apa kau menyukai hadiah dari Nenek?" Tanya Xavier sambil menatap Bintang dengan tajam.
"Suka..." Sahut bintang dengan tersenyum kecil.
Bintang sangat menyukai hadiah itu, karena selama 18 tahun dirinya hidup, tidak pernah memiliki satu pun sepatu baru, atau sepatu yang benar-benar miliknya, karena, sepatu yang dipakainya selalu sepatu bekas milik Aurora, dan itu sudah usang.
Bahkan dalam kehidupannya sebelumnya, dirinyapun meninggal dengan memakai sepatu yang sudah robek-robek. Itulah sebabnya Dia menyukai sepatu itu.
"Hahh... Tidak aku sangka, kau selain sangat pandai mencari muka kau juga pandai dalam hal menjilat," Ucap Xavier datar.
"Maksud Kakak?" Tanya Bintang sambil mengangkat wajahnya dan menatap Xavier dengan tidak mengerti.
"Jangan panggil aku Kakak, aku bukan Kakak mu, panggil aku seperti yang lainnya." Sarkas Xavier sambil mendekati Bintang.
"Baik... Tuan... Tuan muda.." Sahut Bintang sambil kembali menundukkan kepalanya.
"Kalau kau sangat menyukai maka jaga baik-baik hadiah ini, jika sampai hadiah ini rusak itu akan membuat hati Nenek menjadi sedih." Ucap Xavier lagi lalu dengn gerakan cepat tangannya melemparkan kotak yang ada ditangan Bintang hingga jatuh ke air yang berada disamping mereka.
"Nona... Sepatu anda tidak ketemu, kami sudah mencarinya, mungkin hanyut di awa arus..." Teriak kepala pelayan mansion itu.
" Akhhh... Padahal ini kali pertamanya aku memiliki sepatu atas namaku sendiri, tapi dia malah sudah menghilang, mungkin benar yang diucapkan oleh Aurora, jika aku memang tidak pantas untuk barang-batang baru, hanya pantas memakai barang bekas yang sudah tidak diinginkan oleh orang lain." Gumam Bintang lirih sambil memandang sungai kecil itu dengan tatapan yang nanar.
Flashback on.
"Kakak... Mengapa Kenzo selalu mengabaikan Rora, bahkan terlihat sangat enggan untuk menatap Rora, apakah rora ini sangat menjijikkan..." Ucap Aurora saat berkunjung kekediaman Miller di kehidupannya yang lalu.
"Beraninya mereka mengabaikan adikku ini, kau sangat cantik dan manis Sayang, tidak menjijikkan sama sekali..." Hibur Dewa sambil mencium dahi Aurora dengan sayang.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti matamu bengkak, sayang, kakak juga tidak mau karena kebanyakan menangis, membuat penyakitmu kambuh lagi, oke..." Timpal Saka yang ikut mengelus kepala Aurora dengan lembut.
"Xavier itu bukan manusia, Dia itu iblis, iblis yang berwujud manusia." Ucap Aurora dengan tatapan yang penuh kebencian, serta senyuman licik.
Bintang hanya memandangi mereka dengan hati yang pedih, Dia ingin merasakan bagaimana hangatnya pelukan dari ketiga Kakaknya itu, satu kali saja, itu sudah cukup untuk dikenang nya selama hidupnya.
Tapi, Dia tahu jika itu hanya sesuatu hal yang mustahil Dia dapatkan sekalipun itu Dia tukar dengan nyawanya.
Lagi-lagi Bintang hanya memandang itu dengan tersenyum miris, dan menghibur hatinya, jika suatu saat semua keinginannya itu bisa tercapai, setelah itu Bintang berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju dapur untuk memasak makan malam.
Aurora Jingga Miller, Anak keempat sekaligus saudara kembar Bintang, tinggi badan 165, berambut hitam dan sedikit bergelombang diujung rambutnya.
Bermata sipit berwarna coklat, berhidung mancung dengan bibir yang mungil, berkulit putih terang, wajahnya terlihat cantik dan manis, namun sorot matanya selalu menampakkan kelicikan dan ambisinya.
Flashback off.
"Sepertinya jika aku ingin bertahan ditempat ini, maka mulai besok aku harus menjauhi dan menghindari Tuan muda Alexander." Ucap Bintang sambil mengelus tengkuknya yang terasa dingin dan merinding.
Setelah itu Bintang berbalik dan melangkah dengan gontai kembali menuju ke kamarnya, dengan diantarkan oleh seorang pelayan.
Namun baru saja hendak masuk ke kamarnya, ada seorang pelayan datang menyampaikan pesan, jika dirinya ditunggu dikamar Xavier.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Ucap Xavier dari dalam kamar.
Setelah masuk Bintang dapat melihat kemewahan kamar itu.
Kamar itu berada di lantai kedua, sangat megah tak kalah dari kamar utama.
Didalam kamar itu terdapat fasilitas setingkat hotel bintang 5, ada ruang kerja yang dibatasi dengan dinding kaca, dari tempatnya berdiri, bintang dapat melihat indahnya hutan kecil serta taman bunga dan satu danau kecil.
Bintang mendekati dinding kaca itu, lalu meletakan kedua tangannya didinding dan tersenyum melihat keindahan malam yang diterangi bulan dan lampu taman.
Namun saat dirinya berbalik karena mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya, tapi saat berbalik Dia melihat Xavier yang masih memakai handuk mandi, lalu dengan cepat kembali membalikkan tubuhnya menghadap hutan kecil itu.
Tampak Bintang yang menutup matanya dengan rapat serta wajah yang memerah, dirinya sempat melihat sekilas otot dada Xavier dari balik piyama mandi yang tidak tertutup rapat.
walaupun itu hanya sekilas, namun bagi gadis polos dan lugu seperti dirinya, itu termasuk kedalam hal yang memalukan dan kategori sangat tidak sopan.
Bintang dapat merasakan punggungnya menempel pada dada hangat Xavier yang menghimpitnya Kedinding, lalu tangan Xavier menekan tangan Bintang yang masih menempel didinding kaca.
Sementara tangan yang satu lagi melingkari perut rata Bintang, membuat Bintang seketika tegang, dengan mata yang melotot serta refleks menahan nafasnya.
Xavier tersenyum miring melihat ekspresi wajah Bintang yang terkejut bercampur takut.
"Sepertinya penilaianku padamu sebelumnya terlalu tinggi, malam ini Kau sudah memperlihatkan apa tujuan sebenarnya Kau masuk dalam keluarga ini." Ucap Xavier datar sambil menundukkan tubuhnya dan berbicara tepat disamping telinga Bintang membuat Bintang semakin takut dan gemetar.
'Astaga... Apakah benar kata Aurora jika Dia ini iblis hidup, dia tidak akan menggigit telingaku kan?' Tanya Bintang dalam hatinya sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
"Tidak... Bintang tidak ada niatan seperti itu, Tuan muda... Sungguh..." Ucap Bintang dengan yakin dan lirih dengan suara yang bergetar.
"Lihat wajah manis ini, siapa yang tahu apa rencana yang ada di otak kecil ini, tapi, aku kembali mengingatkan, kalau sampai aku mengetahui kau punya niat jahat pada keluarga ini, maka aku tidak segan-segan untuk memotong tangan indah ini,"
"Lalu mencongkel mata bening ini, dan memotong-motong kaki mu yang indah ini, lalu akan aku berikan pada peliharaan ku yang ada dalam kolam itu," Ucap Xavier dengan jemari tangan yang menelusuri bagian-bagian tubuh yang disebutkan nya itu, dan berakhir dengan mencengkram pipi Bintang.
"Tidak... Bintang sungguh tidak ada niat untuk memanfaatkan keluarga Alexander untuk popularitas. Sungguh..." Ucap Bintang semakin bergetar dengan dibarengi dengan lelehan air mata.
"Bagus... Jika sampai aku menemukan nya, maka kau harus bersiap-siaplah..." Ucap Xavier sambil menjilat air mata yang meleleh di pipi mulus Bintang.
Tindakan itu membuat Bintang semakin tertekan, termasuk Xavier sang pelaku, bahkan Dia sangat terkejut dengan tindakannya itu, mengapa Dia bisa se impulsif itu.
Dan keduanya masih dalam posisi yang intim jika dilihat oleh orang luar, tapi tidak bagi Bintang.
"Kak! Ka... Hei apa yang sedang kalian lakukan!"
"Nek...! NENEk...! Kak Xavier mesum! Dia menindas gadis kecil didalam mansion, kita!" Teriak pria itu, tapi tak lama kemudian semua gelap, dan ternyata tangan besar Kenzo menutupi mata Bintang dan tangan yang satu lagi Dia gunakan untuk menonjok wajah pria itu.