NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP6

“Aku sudah menyusuri area sekitar, Ram. Hampir di setiap tempat di pulau ini, terpasang kamera CCTV dan beberapa kamera tersembunyi.”

Bella berdiri di atas bebatuan karang di tepi pantai belakang penginapan. Ombak memecah keras di bawah sana, menciptakan deru konstan yang menelan percakapan manusia. Angin laut meniup rambutnya ke belakang, memperlihatkan sosoknya yang tampak tenang—padahal matanya waspada.

“Aneh, bukan?” lanjutnya. “Sinyal di ponsel kita mati total, tapi kamera-kamera itu tetap aktif. Artinya mereka tidak bergantung pada jaringan publik, sepertinya ... mereka memiliki jaringan internal dengan sistem tertutup.”

Abirama berdiri dua langkah di sampingnya, seolah hanya sedang menikmati laut malam. Tangannya masuk ke saku jaket, sikapnya santai bagi siapa pun yang mungkin mengamati dari kejauhan.

“Kau benar. Semuanya terasa aneh,” sahutnya singkat, bibirnya hampir tak bergerak. “Tapi ... kau berbicara selancar itu, apa di sini aman?”

Bella mengangguk tipis. “Aku sudah memeriksa hampir radius sepuluh meter. Nggak ada sinyal aktif. Ombak juga memutus perekaman suara jarak jauh.”

Abirama menghela napas pelan. “Jadi seketat itu kah pengawasan di pulau ini?”

Bella kembali mengangguk. “Warga lokal di sini, rata-rata memiliki tato yang sama di beberapa bagian tubuh mereka.” Ia menoleh perlahan. “Tato yang juga dimiliki oleh ... Edwin.”

Abirama terkesiap, menoleh cepat.

“Maksudmu ... psikopat gila itu kembali kumat dan berulah?” Kedua tangannya mengepal.

“Entahlah ....” Bella menatap nanar ke lautan luas. “Aku berharap tidak.”

Keduanya terdiam cukup lama, sampai akhirnya Abirama kembali bersuara.

“Berapa banyak kamera di pulau ini?” tanyanya.

Bella mengedikkan bahu. “Tak terhitung. Tapi dari penyelidikan ku, kamera-kamera itu dipasang di titik-titik yang tidak masuk akal. Jalur nelayan, jalan tanah setapak, bahkan dekat rumah warga. Beberapa disamarkan — di papan kayu, di lampu jalan, di hiasan balai desa.”

Abirama terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras, tatapannya menyapu gelap laut di depan mereka, namun jelas bukan ombak yang sedang ia pikirkan.

Ia menoleh, menatap Bella. “Lantas ... bagaimana dengan dua mahasiswi yang hilang itu?”

“Lala dan Rani?” Bella balas menatap. “Malam ini juga aku akan menemui perangkat desa.”

“Kepala desa?”

“Sekretaris desa lebih tepat,” koreksi Bella singkat. “Dia yang biasanya pegang data, log pemasangan CCTV, dan akses administrasi.”

“Tempat misterius seperti ini ... bukankah perangkat desa itu jelas hanya boneka?”

Bella mengangguk, membenarkan.

“Dan aku melakukan ini juga demi formalitas penyamaran. Dua gadis muda itu ... aku nggak yakin mereka masih hidup, Ram.”

Abirama mendengus sambil melirik jam di pergelangan tangannya.

“Sekarang udah larut malam, Bell. Apa nggak besok aja? Mendatangi sekretaris desa jam segini justru bisa menarik perhatian.”

“Justru sebaliknya,” jawab Bella seraya mengangkat sudut bibir. “Kalau aku nggak ke sana sekarang, penyamaranku bisa dicurigai, Ram.”

Bella berbalik badan.

“Seorang DPL kehilangan dua mahasiswi yang dibimbingnya, tapi bersikap terlalu tenang? Itu mencurigakan, Ram,” jelas Bella. “Orang normal akan panik. Akan datang malam-malam, mengetuk pintu siapa pun yang punya wewenang.”

Wanita cantik itu segera melangkah setelah menepuk pelan bahu sahabatnya.

“Aku ikut, Bell,” ujar Abirama akhirnya. “Meskipun visi dan misi kita berbeda, kamu jangan bertindak sendirian.”

...***...

“CCTV itu ... milik Mas Andika, CCTV pribadi,” ujar Galih, sekdes muda di pulau tersebut. “Saya tidak punya wewenang untuk mengatur atau membuka aksesnya.”

Bella menyipitkan mata. “Milik pribadi?” ulangnya tenang. “Tapi kamera-kamera itu terpasang di jalur umum. Jalur nelayan, akses dermaga, bahkan dekat rumah-rumah warga. Bukannya ... CCTV pribadi hanya boleh dipasang di area milik sendiri?”

“Benar,” sahut Galih. “Namun, pemilik CCTV sudah mendapatkan izin resmi langsung dari instansi setempat. Jadi saya rasa, itu bukan lagi sebuah masalah.”

Dengan mata yang masih setengah mengantuk, Galih memindai penampilan Bella dari ujung kaki—lalu tatapannya berhenti terlalu lama di bagian dada montok wanita cantik itu. Sorot matanya yang semula redup mendadak berubah terang benderang, bibirnya menyunggingkan senyuman aneh.

Abirama menangkap jelas tatapan mesum itu. Tanpa berkata apa pun, ia meraih pergelangan tangan Bella dan menarik wanita itu ke belakang tubuhnya. Bukan karena ia khawatir Bella akan dilecehkan—melainkan karena ia lebih takut, Bella akan menghajar Sekretaris Desa itu hingga babak belur jika tatapan menjijikkan itu berlanjut sedetik lebih lama.

“Jadi,” ucap Abirama kemudian, “apakah Anda bersedia mengantarkan kami untuk menemui pemilik CCTV tersebut?”

Galih berdehem pelan, menarik napas sambil menata ulang sikapnya. Senyum di bibirnya jelas terpaksa.

“Bisa,” jawabnya singkat. “Kebetulan rumah Mas Andika juga tak jauh dari sini.”

Ia melirik Abirama sekilas.

“Mari saya antar.”

...***...

Hunian Andika berdiri paling mencolok di antara rumah-rumah lain di pulau itu. Bangunannya luas, berpagar tinggi, dengan lampu-lampu luar yang menyala terang.

Bella kini duduk di sebuah kursi putar di dalam ruangan khusus. Di hadapannya, lima layar monitor menyala bersamaan, menampilkan berbagai sudut Pulau Darasila—dermaga, jalan setapak, jalur nelayan, hingga sudut-sudut gelap yang tak seharusnya diawasi.

Abirama berdiri tepat di belakangnya seraya bersedekap. Tatapannya tajam, bergantian mengamati layar dan sang pemilik rumah.

Andika duduk tak jauh dari Bella, sedikit menyamping. Sikapnya tampak santai, namun jari-jarinya terus mengetuk sandaran kursi—gerakan kecil yang tak luput dari perhatian.

Bella sama sekali tak memedulikan keduanya. Fokusnya terkunci pada layar. Jarinya bergerak lincah di panel kontrol, memutar ulang rekaman, mempercepat, lalu menghentikannya mendadak.

“Ini mereka,” gumamnya pelan.

Andika mendekat, Abirama maju selangkah, keduanya serentak mencondongkan tubuh — mengamati rekaman ulang cctv.

Di salah satu monitor, dua sosok perempuan terlihat berjalan bersama dua pria lokal, menyusuri jalur menuju area pertunjukan budaya malam itu.

Tak ada yang tampak mencurigakan dari rekaman itu. Rani dan Lala justru terlihat sesekali tertawa dan berbincang ringan dengan dua pria tersebut. Gestur mereka tak menunjukkan paksaan sedikit pun.

“Di sini,” ucap Bella pelan, matanya menyipit tajam. “Ini terakhir kali mereka terlihat bersama.”

Di layar lain, Rani dan Lala tampak berpisah dari kedua pria tersebut. Keduanya melangkah ke arah berbeda—lebih tepatnya, menuju area yang tak lagi terjangkau kamera. Titik buta.

“Sial, ke mana mereka?!” dengus Abirama.

“Kalau dilihat dari arah hilangnya,” sahut Andika sambil mengusap pelan dagunya, “mereka sepertinya menuju dermaga.”

Pria itu lebih mencondongkan tubuhnya, lalu tanpa aba-aba, ia meraih mouse di tangan Bella—keduanya spontan tersentak ketika jemari mereka tak sengaja bersentuhan.

“Ah, m-maaf. Saya nggak sengaja,” ucap Andika cepat, lalu menarik tangannya sejenak sebelum kembali meraih mouse dengan lebih hati-hati. “Permisi.”

Andika lekas menggeser kursor ke ikon CCTV area dermaga, lalu meng-kliknya. Layar pun berganti.

Rekaman dari sudut lain dermaga muncul. Rani dan Lala sempat terlihat kembali, berjalan berdampingan di bawah lampu pelabuhan yang temaram. Namun beberapa langkah kemudian, keduanya menghilang di ujung dermaga, tepat di area yang tak terjangkau CCTV mana pun.

“Astaga! Kemana gadis-gadis itu pergi di larut malam seperti ini?!” Abirama meraup kasar wajahnya, setengah frustasi. “Anak-anak zaman sekarang kenapa pada nggak kenal takut sih?!”

‘Mereka pasti sudah ....’

Pikiran itu melintas singkat di benak Bella. Meskipun belum ada bukti pasti, tetapi instingnya yang terasah, mulai merangkai kemungkinan terburuk.

Sebagai anggota BIN yang terlatih dan profesional, Bella jelas handal bersikap tenang dalam situasi apapun. Namun kali ini, ia bukan Bella sang mata-mata. Ia adalah Niken, seorang DPL yang kehilangan dua mahasiswinya. Maka kepanikan itu harus ditampilkan.

Bella menutup mulutnya dengan tangan, matanya memanas.

“Pak Rama, tolong bantu saya cari mereka, Pak. Saya takut kalau sampai terjadi apa-apa sama mereka berdua.” Bella mengguncang lengan Abirama.

“Tenang, Bu Niken, tenang.” Abirama mengimbangi. “Saya pasti akan membantu Anda. Pasti.”

“Saya juga,” sela Andika tiba-tiba.

Keduanya menoleh bersamaan.

“Saya kenal dua pemuda itu,” lanjutnya. “Mereka sering mondar-mandir di sekitar dermaga. Besok pagi-pagi sekali, saya akan cari mereka. Kalau perlu, saya bawa langsung ke penginapan Seruni Laut.”

Bella spontan menaikkan alisnya.

“Dari mana Anda tau kami menginap di Penginapan Seruni Laut?” tanya Bella dengan kening berkerut. “Saya bahkan belum mengatakan kami menginap di mana.”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!