NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman tambahan

"Aduh, gawat!" pekik Renata ketika melihat jam,

"Terlambat lagi deh." Gumamnya panik.

Ia merapikan kamar sekadarnya, mengambil seragam dari lemari. Seragam putih abu-abu ia kenakan terburu; makan pun hanya beberapa suap untuk mengganjal perut, lalu ia melesat keluar.

Langkahnya terhenti di depan gerbang—sesuai dugaannya—pagar sudah tertutup. Satpam yang sedang menjaganya, menggelengkan kepala sembari berkacak pinggang.

"Kamu lagi... kamu lagi..." Satpam tampak geram.

"Maaf, Pak. Saya kesiangan." Renata menjawab.

"Kamu itu terlalu sering terlambat, tahu!"

"Lebih baik saya terlambat ketimbang bolos, Pak." Kilahnya.

"Betul, tapi tiga kali dalam seminggu itu sudah kelewat sering."

"Maaf, Pak. Ayah dan ibu saya sudah meninggal, jadi tidak ada yang membangunkan saya." Jawab Renata, nadanya memelan.

Satpam tersentak ketika mendengarnya. Rasa bersalah yang menghujam dadanya, membuatnya kebingungan untuk meresponnya; Rautnya pun mencari,

"Y-ya sudah. Cepat masuk." Nadanya sedikit tersendat.

Renata mempercepat langkahnya. Mengetuk pintu kelasnya yang telah tertutup. Membuka pintunya perlahan sambil menundukkan kepalanya.

Guru yang sedang menerangkan, melotot ke arahnya; berdecak kesal,

"Cepat masuk!" Sergahnya.

Ia buru-buru duduk di kursinya, mengabaikan tatapan seisi kelas.

"Pokoknya sepulang sekolah kamu harus ke ruang BK, dengar!?" Timpalnya dengan tegas.

Renata hanya bisa menjawab dengan anggukan. Ia mengikuti pelajaran sampai akhirnya bel pulang berbunyi. Namun kali ini, ia tak bisa langsung pulang karena teringat akan perkataan ibu gurunya.

Mau tidak mau, ia harus pergi menuju ruang BK sebagaimana yang telah gurunya itu perintahkan.

Sampai pada ruangan yang dimaksud, ia seketika masuk dengan permisi sebelumnya.

Seorang guru wanita memandangnya dari balik kacamatanya. Sesaat, lalu kembali ke kertas yang dipegang kedua tangannya.

Renata yang ingin buru-buru beranjak, segera buka suara,

"apa yang harus saya lakukan, Bu?" tanyanya.

Ia bertanya seperti sudah paham maksud kehadirannya.

"Duduk saja dulu." Ucap wanita di hadapannya sembari menunjuk dengan dagu.

Renata duduk di kursi terdekat dengan menghela napas panjang. Lima menit berlalu, muncullah sosok lelaki dari luar.

Perawakannya yang tinggi, menyita perhatiannya. Matanya seketika melebar dari balik kacamatanya. Jantungnya seolah tercekat.

Ia kenal dengan lelaki itu: yang bertemu di laboratorium dan di hotel tempo hari.

Debaran dalam dadanya meningkat drastis. Was-was kalau lelaki itu mengenalinya. Memang saat ini wajahnya tanpa riasan, gaya rambutnya juga tak menyembunyikan bekas lukanya. Ditambah oleh kacamatanya.

Ia merasa penyamarannya sudah sempurna. Tapi tetap saja, wajahnya itu sama. Jika lelaki itu orang yang jeli, tidak mustahil jika ia akan mengenalinya. Karena itu, ia tetap membuang muka.

Bagas celingukan. Guru yang melihatnya, menyuruhnya untuk duduk.

"Duduk saja dulu." ucapan senada itu, membuat Bagas menyambangi kursi terdekat.

Ia mendeteksi adanya hawa kehadiran perempuan. Untuk lebih aman, ia memilih duduk di kursi yang jauh dari siapapun dengan pandangan yang masih lekat ke lantai.

Renata melirik kecil. Bernafas lega karena lelaki itu nampak tidak tertarik ke arahnya.

Beberapa menit berlalu, beberapa orang datang sekaligus. Di belakangnya terdapat dua orang guru layaknya pengawal mereka,

"Cepat masuk sana!" Sergah salah seorang.

Kedua orang itu duduk sekaligus dengan raut wajah kesal.

"Sudah semua, Bu."

Guru yang sedari tadi berada di situ, meletakkan kertasnya. Membetulkan kacamatanya yang mulai turun.

"Apa kalian sudah tahu alasan kalian dikumpulkan di sini?"

Tak ada satupun dari mereka yang menyahut.

"Bagas, kamu tahu kenapa?"

"Karena sering tidak mengumpulkan PR."

Oh ternyata namanya Bagas ya?

"Dito?"

"Sering bolos." Sahut seorang lelaki tanpa semangat.

"Renata?"

"Sering terlambat?" Nadanya malah terdengar bertanya.

"Baguslah, saya tidak perlu menjelaskan lagi. Banyak laporan masuk soal kalian, padahal sudah diperingatkan, dihukum juga sudah, ternyata tidak ada perubahan. Terpaksa saya harus memberi hukuman tambahan untuk kalian."

Bagas menghela nafas sementara Renata pasrah.

"Hukumannya kalian semua kami kirim ke panti asuhan sebagai relawan. Kami sudah koordinasi dengan komunitas relawan juga agar kalian membantu mereka di sana."

"Kapan itu, Bu?" Tanya laki-laki yang bernama Dito.

"Sekarang."

"Sekarang!? Yah." Dito menunjukkan ekspresi keengganan yang terpapar jelas.

"Suruh siapa bolos? Pokoknya harus berangkat sekarang! Paham?"

Mereka semua mengangguk hampir bersamaan, kecuali Dito.

...----------------...

Mereka semua berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Tempatnya tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga cuma butuh 30 menitan untuk sampai.

Bahkan, Renata tahu persis di mana tempatnya karena ia kerap kali melewatinya ketika pulang.

Begitu sampai, di sana telah ada banyak orang. Beberapa remaja, segelintir dewasa, sisanya anak-anak yang duduk rapi di atas matras lebar. Di hadapan mereka papan tulis yang penuh tulisan.

Pak Syawal, guru yang menemani mereka, berbincang dengan salah seorang yang ada di sana. Menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Setelah perbincangan singkat, pak Syawal mendekat bersama seseorang pria.

"Jadi mereka ya, Pak?"

"Iya, Mas."

"Kenalkan saya Fery. Salah satu anggota komunitas relawan. Kebetulan kami sedang kekurangan tenaga, kami sangat terbantu dengan kehadiran kalian." Ucapnya dilanjutkan dengan senyum ramah.

"Nah, langsung saja, Mas. Berikan anak-anak nak—maksud saya murid kami ini kegiatan."

"Baik, karena kita sedang di tengah kegiatan, kita langsung saja bagi-bagi tugas. Bagaimana, Pak? Saya atau bapak yang bagi?"

"Silakan, saya serahkan semuanya ke anda."

"Baik, Pak. Kamu siapa namanya?" Tanyanya sambil menunjuk.

"Dito, Kak."

"Ok, Dito. kamu bantu kak Mila bebersih."

"Kamu?"

"Renata, Kak."

"Renata, kamu bantu mengajar anak-anak membaca."

"Kamu?"

"Saya Bagas, Kak."

"Bagas, kamu bantu kak Mona membereskan gudang."

Aduh, sama perempuan. Aku mana bisa!

"Permisi, Kak. Jadi tidak? Katanya mau beli roti untuk anak-anak." Tanya seseorang yang datang tiba-tiba.

"Oh iya, sampai lupa. Karena kak Aqila tidak bisa hadir, terpaksa kita beli deh."

Ia mengambil dompet dari saku celananya. Mengeluarkan lembaran kertas berwarna merah.

"Maaf, Kak. Bisa saya saja yang mengurus makanannya?" Bagas mengajukan diri.

"Kamu mau membelikan?"

"Tidak, maksudnya, saya bisa buatkan asal ada bahannya."

"Yakin kamu bisa?"

"Iya, kebetulan saya bisa memasak kue."

"Kamu serius?" tanya Fery masih tak percaya.

"Serius. Saya jamin, kalau hanya kue rumahan saya sudah sering membuatnya."

"Baiklah, tapi jangan sendirian agar tidak terlalu lama."

Fery melirik ke arah kawan-kawannya, semuanya sedang sibuk masing-masing. Hanya ada para siswa yang bisa ia mintai tolong. Matanya berhenti di satu orang karena ia satu-satunya perempuan yang ada di sana.

"Kamu, bantu Bagas di dapur ya." Tunjuknya pada Renata.

Bagas menepuk kening, ia sengaja mengajukan diri agar terhindar dari perempuan, namun usahanya menjadi tak berarti apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!