NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Bertahan Dan Melepaskan

Pagi datang tanpa banyak perasaan. Tidak ada semangat berlebihan, tidak juga rasa sedih yang menekan. Hanya kesadaran datar bahwa hari terus berjalan, meski beberapa hal di dalam diriku belum benar-benar selesai. Aku membuka jendela kamar, membiarkan udara masuk, mencoba mengusir sisa-sisa pikiran semalam yang masih menggantung.

Sudah beberapa hari ini aku tidak lagi menjadi orang pertama yang mengirim pesan. Bukan karena aku ingin menguji, bukan juga karena aku ingin bermain peran dingin. Aku hanya ingin tahu satu hal yang sederhana: apakah ia akan mencariku ketika aku berhenti mendekat.

Jawabannya datang perlahan, lewat jarak waktu yang semakin panjang.

Ia tetap menghubungiku, iya. Tapi tidak seintens dulu. Pesannya hadir seperti pengingat bahwa aku masih ada di hidupnya, bukan sebagai bagian penting, melainkan sebagai seseorang yang masih diingat jika sempat.

Dan anehnya, itu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan sepenuhnya.

Aku duduk di halte yang sama seperti tempat pertama kali kami berbincang. Suasananya tidak berubah, masih ramai oleh orang-orang yang saling menunggu tanpa saling mengenal. Tapi aku berubah. Aku datang dengan kesadaran yang lebih berat, seolah tempat ini kini bukan lagi simbol pertemuan, melainkan simbol penantian.

Aku menatap jalan, memperhatikan kendaraan yang lewat satu per satu. Semua bergerak menuju arah masing-masing, tidak ada yang benar-benar berhenti. Aku tiba-tiba berpikir, mungkin hubungan manusia juga seperti itu. Kita bertemu di satu titik, berjalan berdampingan beberapa saat, lalu perlahan mengambil jalur sendiri-sendiri tanpa perlu perpisahan yang dramatis.

Ponselku bergetar. Pesan darinya muncul:

“Kamu lagi di mana?”

Aku mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu berhenti. Untuk pertama kalinya, aku tidak langsung merasa ingin menjelaskan keberadaanku. Aku membalas dengan jujur, tapi singkat:

“Di halte.”

“Oh. Sendirian?”

Pertanyaan itu terasa sederhana, tapi ada sesuatu yang membuat dadaku menghangat dan sekaligus kosong. Ia peduli, tapi tidak cukup untuk datang. Ia bertanya, tapi tidak melangkah.

Aku menatap langit yang mulai mendung, lalu membalas:

“Iya, sendirian.”

Ia tidak membalas lagi setelah itu.

Aku tersenyum kecil, bukan karena lucu, tapi karena akhirnya aku mengerti. Ada perbedaan besar antara orang yang ingin tahu keadaanmu dan orang yang ingin hadir di dalamnya. Selama ini aku menyamakan keduanya, dan menyebutnya sebagai perhatian.

Aku membuka buku catatan yang selalu kubawa. Di halaman baru, aku menulis dengan tangan yang sedikit gemetar:

"Bertahan itu mudah jika masih ada harapan. Tapi melepaskan membutuhkan keberanian untuk menerima bahwa tidak semua yang nyaman harus dimiliki."

Aku menutup buku itu dan menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin mempertahankan apa pun. Bukan karena aku tidak peduli lagi, melainkan karena aku mulai lelah memegang sesuatu yang tidak pernah benar-benar memegangku kembali.

Aku berdiri dari bangku halte, melangkah pergi tanpa menunggu bus yang seharusnya kutumpangi. Aku memilih berjalan, membiarkan kakiku membawa ke mana saja, tanpa tujuan yang jelas. Rasanya aneh, tapi juga ringan.

Mungkin inilah awal dari melepaskan.

Bukan dengan tangisan, bukan dengan perpisahan besar, tapi dengan kesadaran sunyi bahwa aku pantas mendapatkan hubungan yang tidak membuatku terus bertanya tentang posisiku sendiri.

Dan di antara bertahan dan melepaskan, aku akhirnya memilih satu hal yang paling jarang kupilih sebelumnya:

memilih diriku sendiri.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!