Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rama
Syamsuddin membawa Kiara Pulang. Saat gadis itu memasuki rumah, sontak saja Halimah terkejut.
Ia mengusap matanya, memperhatikan dengan seksama siapa sedang berdiri menatapnya. Benarkah puterinya? Atau hanya halusinasi saja.
"Mak," ucap Kiara dengan suara sendu. Ia berlari mengejar wanita tersebut, dan mendekapnya.
Halimah yang selama ini dirundung duka dan kesedihan, perlahan menghapus air matanya. Wanita itu merasakan degupan jantungnya yang memburu dan tak dapat ia ceritakan dengan kata, tentang rasa bahagia yang saat ini dirasakannya.
"K-Kiara? Kamu masih hidup, Nak?" Halima tak hentinya mengecup sang anak dengan ungkapan rasa syukur yang tak terhingga.
"Iya, Mak. Maafin Kira udah buat Mamak cemas," gadis itu melepaskan dekapannya.
"Kamu kemana saja?" Halimah mengusap bulir bening disudut matanya. Ia tak lagi dapat mengutarakan rasa bahagianya.
"Maafin Kiara, Mak. Kiara pergi ke kota buat cari, dan kehabisan uang," ucapnya berbohong. Ia tak ingin orangtuanya tau apa yang sudah terjadi, sebab ia akan membalas dendam dengan caranya sendiri.
"Hah! Cari kerja? Emangnya kamu kurang uang? Yang ada kamu ngabisin duit ayahmu, iya--kan?" cecar Halimah.
"Iya, Mak. Maafin Kiara, uangnya buat Kiara pakai ke salon, Kiara mau tampil cantik dihari pernikahan Kiara," ia kembali menutupi apa yang terjadi sebenarnya.
Halimah terdiam sejenak, dan tampaknya Syamsuddin tak jadi marah, meskipun anaknya sudah menguras isi saldonya.
Baginya, Kiara kembali pulang sudah membuatnya sangat bahagia.
"Pantas saja kamu tambah cantik, samapi mamak tak kenal tadi. Kamu bukan operasi plastik--kan?" cecar Halimah, yang memperhatikan wajah puterinya.
"Mana cukup uang segitu buat operasi plastik, Mak. Aku cuma ke klinik kecantikan saja."
Halimah menggelengkan kepalanya. Tetapi ia merasa jika penampilan puterinya cukup menarik, ternyata untuk cantik perlu modal," bathinnya, sembari memperhatikan penampilan puterinya.
"Tapi kenapa hampir tiga minggu kau menghilang? Tak kau kasih kabar, sampai hampir gila mamak dan ayah mencarimu," tanya Halimah dengan ceceran.
Kiara tercengang. Mengapa bisa selama itu? Sebab ia merasa hanya semalam saja pergi bertemu dengan Nyai Punden Ronggeng.
"Oh, iya. Kan perawatannya membutuhkan waktu lama, dan maaf gak kasih kabar ke mamak," gadis itu kembali mencari alasan untuk dapat menyembunyikan fakta yang terjadi.
"Ya, sudah. Kita ke pesta pernikahan Reva hari ini," ucap Halimah, ia sudah bersemangat, dan akan pergi le rumah iparnya untuk menghadiri pernikahan keponakannya.
"Hah? Reva menikah? Dengan siapa?" tanya Kiara. Tetapi sepertinya ia sudah dapat menebak siapa orangnya.
"Kamu jangan patah semangat. Mungkin berita ini sangat menyakitkan bagumu. Tapi yakinlah, gak ada gunanya juga kau pertahankan si Mokondo itu, nanti akan ada ganti yang lebih baik," Halimah justru terlihat kesal dengan apa yang akan disampaikan.
"Haha," Kiara tertawa renyah. Ternyata benar dugaannya, jika kedua pengkhianat itu sudah menikamnya dari belakang.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu beneran gak patah hati--kan?" Halimah ingin memastikan kondisi puterinya. Ia tidak mau jika tawa yang tadi ia dengar adalah bentuk rasa frustasi yang membawa ke arah depresi.
"Tenang, Mak. Jangan risaukan aku. Mamak berdan-lah, pergi dengan ayah, nanti aku menyusul," jawab Kiara dengan senyum misterius.
Halimah semakin ragu, ia takut jika puterinya bertindak diluar nalar. "Kamu jangan sampai bunuh diri karena ditinggal nikah si Rama. Mamak dan Ayah tak marah kau sudah habiskan uang itu untuk mempercantik dirimu, tapi jangan sampai kau putus asa, lalu melakukan tindakan bodoh. Ingat, laki-laki tidak cuma Rama, masih ada banyak diluaran sana, si Bejo, si Tejo, siap menerimamu apa adanya," wanita itu memberikan ceramah panjang kali lebar, dan berharap jika Kiara mendengarkannya.
"Sudahlah, Mak. Jangan khawatirkan aku, tak mungkin aku bunuh diri karena hanya si Rama. Mamak pergi saja undangan sama ayah. Nanti aku ke sana," Kiara berusaha meyakinkan Halimah, jika ia adalah gadis yang kuat.
Meskipun Halimah merasa ragu, akhirnya ia menuruti ucapan puterinya, sebab apa yang dikatakan oleh Kiara terdengar begitu manis, bagaikan hipnotis yang membuatnya patuh, dan itu sebab dari susuk yang ditanamkan oleh Nyai Ronggeng dibibirnya.
Akhirnya Halimah pergi berdandan dikamarnya, mengganti pakaian kebaya dan berpamitan pergi kepada Kiara.
"Mak, jangan bilang aku sudah pulang," pesan Kiara pada Halimah, sebelum wanita itu pergi meninggalkan rumah.
Halimah menganggukkan kepalanya, dan pergi menggunakan mobil untuk menghadiri pesta pernikahan ponakan suaminya.
****
Sepasang pengantin duduk dipelaminan. Rama mengulas senyum bangga karena sudah dapat menikahi gadis cantik yang ada didesanya.
Mendapatkan Reva adalah sebuah cara dari pertaruhan yang dilakukannya bersama Reno.
Dengan membobol gawang milik Reva, dan juga memeras Kiara, ia akhirnya dapat mencapai apa yang diinginkannya.
Sementara itu Halimah dan Syamsuddin bergabung dengan keluarga inti lainnya.
Meskipun ada banyak pertanyaan tentang keberadaan Kiara, Halimah hanya menanggapi dengan senyuman. Bahkan mereka menyinggung mengapa Rama bukan menikahi Kiara yang terlihat sudah lama dipacari, tetapi justru menikahi Reva.
Sebagaian ada yang menduga, mungkin karena Kiara belum ditemukan, atau minggat dengan pria lain, sehingga banyak praduga yang mengarah pada puterinya.
Ketika acara sedang berlangsung. Tiba-tiba seorang gadis cantik berkebaya merah maron yang dipadu dengan kain songket datang memasuki meja tamu.
Orang-orang menatapnya dengan rasa penasaran. Sebab penampilannya sangat berbeda, terlihat lebih berisi dan penuh pesona.
Ketika mengenali jika yang menjadi pusat perhatian itu adalah Kiara, orang-orang mengerumuninya. "Kiara, kamu masih hidup? Kemana saja selama ini?" tanya para tamu yang mengenalinya, dan begitu juga dengan keluarga yang mengenalinya.
"Kamu yang sabar, ya. Jangan patah hati karena sudah ditinggal nikah si Rama," celetuk salah warga yang mengetahui hubungan keduanya.
"Tenang, aku gak akan nangis, apalagi patah hati. Pengkhianat itu akan berpasangan dengan pengkhianat juga," sabutnya dengan datar.
"Iya, laki-laku gak cuma satu. Lagian kamu kemana aja selama tiga minggu? Ayah dan Mamakmu sampai bingung mencarimu," tanya Dewi, yang merupakan salah satu sepupunya.
"Oh, aku pergi ke kota, merawat diri ke klinik kecantikan," sahut Kiara dengan berbohong.
"Wow, pantas saja hasilnya sangat bagus. Tapi sayangnya kamu udah cantik, justru Rama nikahi su Reva,"
"Ah, biasa saja. Lagian juga gak rugi gak jadi nikah sama Rama, CEO bukan, pengangguran iya," sahut Kiara dengan nada berkelakar, sehingga membuat suasana semakin riuh.
Saat bersamaan, Rama tersentak kaget saat melihat gadis cantik yang saat ini sedang dikerumuni oleh warga dan keluarga mereka adalah Kiara. Ia berulang kali mengusap matanya, memastikan jika gadis itu benar adalah Kiara.
"Kamu liat apaan, Bang?" tanya Reva dengan rasa penasaran.
"Coba lihat cewek yang berbaju kebaya merah maron itu, dia Kiara atau bukan?" bisik Rama pada sang istri.
Ini adalah makam Nyai Punden Ronggeng yang dikeramatkan oleh warga. Dahulunya ia adalah penari Ronggeng yang didatangkan dari Sunda ke daerah perkebunan tembakau oleh Para Belanda. Tujuannya untuk menghibur para pekerja dan menghabiskan uang gaji, hingga terus terikat dengan kontrak kerja.
Diantara penari ronggeng lainnya, beliau adalah yang paling cantik dan banyak diminati oleh para pria, dan juga mendapatkan uang saweran yang paling banyak pula.
Suatu saat Nyai Ronggeng ditemukan menunggal dunia jauh dari area perkebunan. Lalu dimakamkan dan dikeramatkan.
Demikian kilas balik kisah makam tersebut, dan sampai saat ini masih dikunjungi banyak para wanita yang memberikan sesaji dengan tujuan agar mendapatkan banyak penggemar.
Rama butuh gol. darah O+ ,, aku nti ikutan nyumbang darah yaa Krn aku jg gol. darah nya O+ 🤣
tp spt nya Rama nti koit deh Krn sdh mau ikut sama iblis Nyai Ronggeng 🤣
apakah iblis Nyai Ronggeng mnta Tumbal yaaa ❓❓
maaf yaa kak ,, mmg TDK ada warga yg ngomong / ngadu ke orang tua nya Kiara yaa kalau anak nya JD Jalang Sampah Masyarakat 😤😤
Mungkin di mata Rama, Nyai Punden Ronggeng seperti Kiara kali yah.. 😁😁🤏
apakah kata-kata Kiara itu akan mjd kutukan untuk Beidah ❓❓
Bagus Rama gak mati di dalam galian kuburan yg di buat nya sndri 🤣🤣
Uang Gajian sebulan malah di berikan PD Kiara ,,, mmg nya nti mo d kasih makan apa tuh keluarga di rumah ,,, tp Alhamdulillah untung nya dh ketahuan duluan 💃
si Kiara di suruh nyari 100 orang laki-laki ,, sdgkan Kiara baru dpt 2 orang ( Tarman dan Rama ) ,,, tinggal 98 laki-laki lagi ,,, mmg kudu ke kota kau Kiara ,,,,,,, gaskeun 🤣🤣
Kiara untung bgt tuh , gak di garap tp ttp dapat uang 5jt dr Rama 💃💃