NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 6

Zahra baru saja selesai membereskan mangkuknya ketika seorang anggota berseragam masuk ke ruang tunggu. Pandangannya sempat berhenti sejenak pada Zahra, lalu bergeser ke Zaidan yang masih duduk santai di seberangnya.

Alis pria itu terangkat.

“Lengkap juga jamuan tersangkanya, Ndan,” celetuknya sambil melirik mangkuk kosong di meja.

Zahra refleks menunduk. Jantungnya kembali berdegup tak nyaman.

Zaidan berdiri, meraih mangkuk dan gelas kaca itu, lalu menyerahkannya pada anggota lain yang lewat.

“Dia bukan tersangka,” ucap Zaidan datar namun tegas. “Dia saksi sekaligus korban.”

Anggota itu mengangkat kedua tangannya. “Siap, siap. Saya cuma bercanda.”

Namun ia tetap mendekat, suaranya direndahkan.

“Tapi serius, Ndan… jarang-jarang komandan nemenin saksi makan. Biasanya cuma nyuruh, terus tinggal.”

Zaidan melirik tajam.

“Kalau kamu yang berdiri di lapangan tadi dan lihat kondisinya, kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama.”

Anggota itu terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke gadis yang tengah duduk kaku itu, kedua tangannya bertaut di pangkuan, matanya sembab meski tangisnya sudah reda.

“Dia yang rebut senjata itu, ya?” tanya anggota itu pelan.

Zaidan mengangguk. “Iya.”

“Berani juga.”

“Bukan berani,” sahut Zaidan cepat. “Putus asa.”

Nada suaranya membuat anggota itu tak lagi tersenyum. Ia mengangguk paham.

“Maaf kalau tadi mulut saya kebablasan,” ucapnya, kali ini lebih sopan, entah pada siapa.

Zaidan menghela napas, lalu menepuk bahu anggotanya pelan.

“Lain kali becandanya lihat situasi,” katanya. “Kita ini aparat. Kadang yang kita hadapi bukan penjahat… tapi orang yang sudah terlalu lama terluka.”

Anggota itu tersenyum kecil, agak kikuk.

“Siap, Kanit.”

Ia lalu melirik jam tangannya. “Ruang pemeriksaan sudah siap. Petugas PPA juga sudah siap. Kalau Mbak Zahra sudah agak mendingan, kita bisa mulai.”

Zaidan menoleh ke Zahra.

“Gimana? Masih pusing?”

Zahra menggeleng pelan. “Sedikit… tapi sudah lebih baik.”

“Kalau capek atau nggak kuat, bilang,” ucap Zaidan. “Kita bisa berhenti.”

Zahra mengangguk. Untuk pertama kalinya semenjak menginjakkan kaki di gedung ini, ada rasa tenang yang tumbuh, meski ia duduk di kantor polisi, di tengah situasi yang seharusnya menakutkan.

Saat mereka melangkah keluar ruangan, anggota tadi mendekat lagi ke Zaidan dan berbisik pelan,

“Ndan… hati kamu itu terlalu lembut buat jadi polisi.”

Zaidan mendengus kecil.

“Justru karena itu saya masih layak jadi polisi.”

Langkah mereka berlanjut menuju ruang pemeriksaan, dengan Zahra yang kini berjalan sedikit lebih tegak karena di sampingnya, ada sseorang polisi yang berdiri, bukan untuk menghakiminya seperti yang lalu, tetapi polisi ini datang untuk membelanya.

*

*

*

Ruang pemeriksaan unit PPA terasa lebih tenang dibanding ruang-ruang lain di kantor itu. Dindingnya berwarna lembut, tak sepenuhnya putih. Sebuah meja kayu memisahkan Zahra dengan seorang polisi wanita berpangkat Iptu, berusia sekitar akhir tiga puluhan, wajahnya teduh namun matanya tajam dan berpengalaman.

“Nama saya Iptu Maya,” ucap polwan itu lembut. “Saya dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Di sini kamu aman, Zahra.”

Zahra mengangguk pelan, kedua tangannya masih saling menggenggam.

“Kamu tidak wajib menjawab kalau belum siap,” lanjut Maya. “Tapi ceritamu penting. Bukan hanya untuk proses hukum, tapi juga untuk melindungi kamu.”

Zahra menarik napas panjang. Dadanya naik turun tak beraturan.

“Kasus yang dulu,” kata Maya perlahan, “yang melibatkan pria bernama Darman. Apakah itu orang yang kamu lihat di lapangan tadi?”

Air mata Zahra langsung luruh.

“Iya…” suaranya nyaris tak terdengar. “Itu dia.”

Maya tak memotong. Ia membiarkan keheningan bekerja.

“Dia tetangga lama,” Zahra melanjutkan dengan suara bergetar. “Waktu itu saya pulang malam. Ibu lagi sakit… saya kerja apa saja yang bisa saya dapat. Dia nawarin antar.”

Zahra terdiam. Tangannya mulai gemetar hebat.

“Kalau terlalu berat—”

“Tidak apa-apa,” Zahra menyela cepat. “Saya harus cerita.”

Matanya memerah, namun tatapannya mengeras.

“Dia bawa saya ke rumah kosong. Katanya cuma mau ambil motor. Tapi…” Zahra menelan ludah. “Dia kunci pintu. Saya teriak. Tidak ada yang dengar.”

Maya mengepalkan bolpoinnya perlahan.

“Setelah itu?” tanyanya sangat hati-hati.

“Setelah itu… hidup saya nggak pernah sama lagi,” Zahra tersenyum pahit. “Ibu tahu, tapi saya bohong bilang cuma dirampok. Sejak hari itu ibu sering sakit. Saya… saya benci diri saya sendiri.”

Maya menggeser tisu ke arah Zahra.

“Yang salah bukan kamu,” ucapnya tegas namun hangat. “Tidak pernah.”

Zahra terisak, bahunya bergetar.

“Dulu… apakah kamu pernah melaporkan kasus itu?”

Zahra mengangguk pelan. “Diam-diam saya melaporkannya, tanpa sepengetahuan Ibu. Tapi… petugas pada saat itu bilang saya tidak punya cukup bukti. Mereka curiga, saya sengaja melaporkannya karena…” Bahu Zahra kembali bergetar, tangannya mengepal menahan emosi.

“Mereka pikir saya ingin memeras pria itu. Mereka kira… saya seperti perempuan lain yang pekerjaannya seperti itu, lalu melaporkan Darman karena tidak dibayar dengan harga yang disepakati. Mereka kira… saya seperti itu.”

Tangis Zahra semakin kuat dan Iptu Maya hanya diam, memberikan waktu untuk Zahra mengeluarkan seluruh rasa yang telah lama dipendam. Zahra menangis bukan karena takut, melainkan karena akhirnya ia merasa didengar.

*

*

*

Di ruangan lain, suasananya berbanding terbalik.

Zaidan duduk berhadapan dengan Darman. Borgol masih melingkar di pergelangan tangan pria itu. Wajahnya santai. Bahkan… terlalu santai.

“Kamu tahu kenapa kamu ditahan?” tanya Zaidan datar.

Darman menyeringai. “Narkoba. Sama cewek tadi, ya?”

Nada suaranya membuat rahang Zaidan mengeras.

“Kamu kenal Zahra?” tanya Zaidan, masih berusaha profesional.

Darman tertawa kecil. “Kenal banget.”

“Lima tahun lalu,” lanjut Zaidan, “kamu memperkosanya.”

Darman menyandarkan punggungnya. “Ah, itu? Dia nikmatin juga kali. Badannya aja masih saya ingat.”

Darah Zaidan langsung mendidih.

“Mulut kamu dijaga,” ucapnya rendah dan tajam.

“Tinggi, putih, ada tanda lahir—”

BRAK!

Tangan Zaidan menghantam meja. Ruangan itu bergetar.

Anggota di balik kaca refleks berdiri.

Zaidan bangkit perlahan, kedua tangannya bertumpu di meja. Wajahnya dingin, namun matanya menyala marah.

“Kamu tidak sedang bicara dengan teman mabukmu,” ucap Zaidan pelan namun mengancam. “Kamu bicara dengan perwira polisi yang sedang berusaha menahan diri.”

Darman tertawa mengejek. “Kenapa? Kamu juga kepikiran, ya?”

Napas Zaidan memburu. Satu detik. Dua detik.

Ia duduk kembali.

“Kamu tidak menyesal?” tanyanya.

“Menyesal apa?” Darman mengangkat bahu. “Perempuan itu hidupnya juga berantakan dari dulu.”

Kalimat itu menjadi pemicu terakhir.

Zaidan berdiri lagi. Kali ini lebih dekat.

“Kamu tahu kenapa kamu masih bisa duduk santai di sini?” ucapnya dengan suara nyaris berbisik. “Karena hukum masih memberi kamu hak sebagai manusia.”

Ia mencondongkan tubuh.

“Tapi jangan salah. Hak itu bisa berubah jadi neraka yang sangat panjang.”

Zaidan melangkah mundur, memberi isyarat pada anggotanya.

“Bawa dia ke sel. Saya tidak mau dengar suaranya lagi hari ini.”

Saat Darman ditarik keluar, pria itu masih sempat melontarkan satu kalimat terakhir,

“Cewek itu milik saya dulu. Tubuhnya sangat indah dan nikmat. Kamu cuma telat kenal. Tapi tidak apa-apa, ‘kan jika bekasku.”

Zaidan yang sedari tadi menahan amarahnya, akhirnya menempatkan satu pukulan keras, tepat di wajah Darman. Darman sempat oleng, namun karena tubuhnya dipegang kiri-kanan oleh petugas, ia dipaksa untuk berdiri kembali.

“Sekali lagi kuingatkan,” ucap Zaidan berbisik, namun penuh penekanan. “Jangan sesekali mulut busukmu itu mengucapkan kata menjijikkan tentang Zahra. Dan satu lagi… aku sendiri yang akan memastikan kau akan membusuk di penjara.”

Usai mengucapkan kalimat itu, dengan lirikannya Zaidan menyuruh anggotanya untuk menyingkirkan Darman dari hadapannya.

Pintu ditutup keras.

Zaidan berdiri kaku. Dadanya naik turun. Tangannya masih mengepal hingga buku-bukunya memutih.

Ia menutup mata sesaat.

Di ruangan sebelah, seorang perempuan sedang berjuang menceritakan luka hidupnya.

Dan Zaidan bersumpah—

selama ia masih mengenakan seragam ini, tidak akan ada satu pun kata kotor lagi yang menyentuh Zahra tanpa dibayar mahal.

****

Guys jangan lupa like dan komen kalian ya sebagai tanda bentuk dukungan terhadap author 🥰🥰

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!