NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji untuk Kanara

Baru saja Nura akan memutar gagang pintu, pintu itu sudah terbuka dari dalam. Wajah Zoya, teman satu kontrakannya, muncul dengan wajah penasaran.

“Di antar siapa kamu, Ra?” tanya Zoya. Nada suaranya naik satu oktaf.

Nura masuk begitu saja, melepas sepatu, kemudian menyusunnya di rak dengan tenang. “Bukan siapa-siapa, Zoy.”

“Masa bukan siapa-siapa, bisa diantar sampai depan pintu?” Zoya mengedipkan mata, jelas tidak percaya.

Ia mengabaikan godaan itu, menyampirkan tas di sofa lalu melangkah menuju meja makan. “Ada makanan nggak?”

“Lho, bukannya tadi mau makan di hotel sama Abangmu? Kamu nggak makan di sana?”

“Nggak jadi. Abang nggak datang,” jawab Nura singkat, tanpa menceritakan kejadian di hotel tadi.

Zoya ikut duduk di meja makan. “Habis aku makan. Pesan online saja sana.”

Nura mengambil ponsel lalu mengetikkan sesuatu. “Kamu mau juga nggak?”

“Nggak.”

Zoya kemudian mencondongkan tubuh. “Jadi, siapa yang di luar tadi? Jangan bilang itu pacar rahasiamu?”

“Orang tua pasienku, Zoy.”

Zoya melotot. “Hah?! Sejak kapan terapis anak boleh diantar pulang orang tua pasien?”

Nura hanya menghela napas, lalu berdiri. “Ceritanya panjang. Aku mau mandi dulu.”

“Ra! Ceritain dulu!” Teriakan Zoya hanya memantul di pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

Malam itu, Nura berbaring menatap langit-langit yang berwarna putih kusam. Pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi siang. Hatinya masih berpusat pada satu nama, Kanara.

Melihat Kanara breakdown di tempat umum benar-benar mengusik ketenangannya. Nura tahu persis rasanya.

Nura merenungkan bagaimana perasaan Kanara saat melihat pantulan dirinya di cermin. Rasa takut yang tiba-tiba menghantui, sesuatu yang menyakitkan timbul dalam ingatannya.

Saat kecil dulu, ia punya trauma serupa pada suara lonceng. Hanya karena bunyi itu, ia bisa mendadak sesak napas dan menangis histeris tanpa alasan yang jelas bagi orang lain.

Nura ingat betapa malunya dipandang aneh oleh orang-orang di sekitar. Rasa tidak berdaya itu yang membuatnya sangat dekat dengan Kanara.

“Aku tahu sesakit apa,” gumamnya pelan.

Nura memejamkan matanya, dan seketika suara dari masa lalu menariknya.

Flashback on

Saat itu, ia baru berusia tujuh tahun. Ia sedang berdiri di sebuah toko kerajinan bersama ibunya. Semua tampak normal, sampai seseorang mendorong pintu masuk, membuat lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring.

Tring.

Bunyi denting itu seperti palu yang menghantam kepalanya. Seketika paru-paru Nura terasa menyempit. Dadanya sesak.

Di matanya, bayangan setahun lalu muncul tumpang tindih. Lampu jalanan yang pecah, dan suara benturan logam dan jeritan ketakutan. Adiknya menangis karena kesakitan, sedangkan dirinya tidak bisa bernapas. “Tolong…,” ucapnya lirih kala itu.

Nura menutup telinganya rapat-rapat, lalu mulai menjerit histeris. Ia jatuh terduduk di lantai toko.

“Nura? Ada apa?” Ibunya panik, mencoba memeluknya.

Tapi, Nura tidak bisa mendengar suara ibunya. Ia hanya mendengar denting lonceng itu berulang-ulang di kepalanya.

Orang-orang yang ada di toko berhenti beraktivitas. Semuanya berkerumun mengelilinginya, menonton dengan wajah kasihan atau terganggu.

“Anaknya kenapa, Bu? Kesurupan?” bisik seorang pembeli.

Nura ingin berteriak kalau ia hanya takut, tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa menangis sampai dadanya sakit, dan merasa aneh di bawah tatapan orang-orang asing. Rasa malu itu membekas sama dalamnya dengan rasa takutnya.

Flashback off

Nura membuka mata kembali ke kamarnya. Napasnya memburu.

Itulah alasan kenapa ia tidak melepaskan tangan Kanara tadi siang. Karena dulu, tidak ada yang benar-benar paham kenapa ia menangis hanya karena sebuah lonceng. Ia tidak ingin Kanara merasakan kesepian yang sama.

Saat Kanara memegang ujung jarinya tadi, Nura merasakan sesuatu yang berbeda. Itu bukan sekadar pegangan pasien ke terapisnya, tapi pegangan seorang anak yang sangat ketakutan dan butuh perlindungan.

Ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa bahwa membantu Kanara adalah hal yang benar.

Nura bangkit dari tempat tidur, membuka lemari kecil dan mengambil sebuah buku catatan yang sudah agak lusuh. Di dalamnya, ia menuliskan pengalaman setiap hari dengan anak-anak yang ditemuinya di tempat terapi.

Ia mulai menulis.

“Melihat Kanara hari ini, seperti melihat diriku yang dulu. Dia sedang berjuang melawan ingatannya sendiri. Aku ingin dia tahu kalau dia tidak sendirian, karena aku pernah ada di posisi itu.”

Nura menutup buku catatannya, mematikan lampu dan mencoba tidur.

**********

Mobil mewah itu membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan rendah. Elang belum ingin pulang. Ia membutuhkan waktu untuk meredakan gelisah di dalam dadanya.

Ia berhenti di sebuah kafe kecil, duduk di kursi paling sudut, memesan kopi hitam. Pikirannya kembali melayang pada momen Kanara histeris di hotel tadi.

“Aku harusnya lebih hati-hati,” bisiknya pelan, mengulang permintaan maaf yang sudah ia ucapkan pada Nura.

Seberapa seringpun Elang bersiap dan bersiaga, melihat Kanara hancur selalu membuatnya merasa tidak berdaya. Ia selalu merasa ditarik ke hari itu–hari di mana ia kehilangan istrinya dan Kanara kehilangan dunianya.

Ia menatap pantulan dirinya di permukaan kopi hitam.

“Aku gagal lagi ya, Tari?” bisiknya lirih.

Setiap kali, Kanara ketakutan, rasa bersalahnya semakin membuncah. Selama ini, Elang merasa sedang bertarung sendirian di tengah badai, mencoba menjadi ayah sekaligus ibu, namun tidak pernah cukup.

Namum kemudian, bayangan Nura muncul di benaknya.

Cara Nura menangani Kanara dengan ketenangan yang tidak biasa dan kepekaan yang dalam, membuat beban di pundak Elang sedikit terangkat.

Selama ini, ia sudah mencoba segalanya. Dokter terbaik, terapis ternama, hingga menyembunyikan semua cermin di rumah. Tapi tadi, Nura menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar teknik medis.

Saat Nura berlutut di samping Kanara, ada sesuatu yang berubah. Elang melihat bagaimana Nura tidak memandang Kanara dengan tatapan kasihan seperti orang lain, melainkan dengan pemahaman mendalam.

Elang menyandarkan punggungnya ke kursi,ia merasa aneh. Selama ini, ia menutup diri hanya fokus pada kesembuhan Kanara. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya memikirkan kesembuhan putrinya.

ia juga memikirkan, wanita muda itu, Nura , dengan sorot mata yang tenang dan tangan yang begitu kokoh memegang Kanara yang hancur.

Elang memejamkan matanya, masih tergambar jelas wajah Mentari, mendiang istrinya, dalam pikirannya. Namun lama kelamaan wajah itu memudar digantikan oleh Nura.

Ia tersentak membuka mata, menarik napas panjang. Jantungnya berdetak kencang.

“Kamu itu sebenarnya siapa, Nura?” ucapnya sambil mengaduk kopi dengan tatapan kosong.

Elang meninggalkan kafe saat jarum jam menyentuh angka delapan. Sesampainya di rumah, langkahnya langsung tertuju pada kamar Kanara.

Di sana, putrinya terlelap dengan wajah tanpa beban, seolah badai tadi siang tidak pernah datang. Elang duduk di tepi ranjang, menatap lekat garis wajah yang sangat dicintainya itu.

“Ayah tidak akan menyerah, Kanara,” bisiknya. Sebuah janji yang lebih berat dari sekadar kata-kata.

Ia bangkit, lalu menutup pintu dengan gerakan sepelan mungkin, seakan takut suara sekecil apapun bisa merusak kedamaian yang baru saja terjadi.

1
yrputri
kanara kayaknya punya feeling gak enak ya /Cry/
Yani Sri
aku nangis di bab ini...... /Sob//Sob/
Ririn Nursisminingsih
nura kmu masuk jebakan aditya cintamu wah aditya bahagia liat kaluan hancur
Ririn Nursisminingsih
lebih baik. jujur aja sebelum aditya mnghancurkan semuanya
Ririn Nursisminingsih
nura benar2 bidari yg menolong kanara sama sama ayahnya
Ririn Nursisminingsih
dendam masa lalu ayolah lang selidiki aditya
Ririn Nursisminingsih
kok nikah siri seh langsung yg sah aja dong lang
Ririn Nursisminingsih
elang👍👍👍
Ririn Nursisminingsih
kok gregeten juga sama nura udahlah ndak usah denger ancaman dermawan kanara sakitt nura egois kmu..
Ririn Nursisminingsih
langsung nikahin aja lang biar nura ndak pergi
Ririn Nursisminingsih
visualnya kereennn👍👍
Ririn Nursisminingsih
thor nura ini dokter yaa
Nuri_cha: terapis kakak
total 1 replies
Yati Susilawati
akhirnya...
selamat atas kebahagiaan kalian.
Terima kasih ceritanya.
ditunggu cerita yang lainnya.
selamat berkarya...
Nuri_cha: Sama-sama kak Yati... terima kasih juga sudah suka sama kisah mereka bertiga 🙏
total 1 replies
Yuningsih Nining
adududuhh thooorr bikin degdegan lagi aja ini dgn segala kelakuan jg niat jijik si aditya semoga pwean utama elang nura kanara selamat dari si aditya Gila
Yati Susilawati
ada lagi badai?
baru aja. bernafas... jangan bikin deg degan lagi... ya thor ya🤣
Nuri_cha: biar seru terus kak 😅
total 1 replies
Aisyah Nabila
uwAaaww
Aku aja
Lanjut Ya Thorrr... jan nunggu Besok. Udah Lama Hiatus ini.. tkut keburu Lupaaa Alurnya🤭🤭🤭
Dini Anggraini
Sonia sebesar apa ya kemarahan elang nanti sama kamu apalagi gara2 video kamu nura keguguran bisa marah besar ortunya saja dia masukkan ke penjara gara2 nura apalagi cuma kamu.
Dini Anggraini: 👍👍👍👍 ya kak
total 2 replies
Yati Susilawati
ya Alloh apalagi ini..

kadang takut baca.. takut mereka berpisah.. 🤣
Nuri_cha: Wkwkwkwk, kakak lebih pilih sad ending atau happy ending? 🤭
total 1 replies
Yati Susilawati
kalau masih cinta.. jangan gengsi, nura!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!