Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Daun
Suatu pagi, pengumuman singkat dipasang di papan kristal Academy:
“Murid terpilih diminta menghadap Gram Blackfullet.”
Nama-nama tercantum rapi.
Reyd Aclica.
Grack Lyvonalis.
Lysa Freylan.
Dorna Ginarcis.
Roselein Tescarossa.
Lein menatap daftar itu lama.
Mengapa Dorna ikut juga?
Jawabannya muncul saat mereka berkumpul di ruang persiapan luar.
Gram berdiri dengan jubah gelapnya, tangan terlipat di belakang punggung. Tatapannya menyapu mereka satu per satu.
“Kita akan keluar wilayah Academy,” katanya langsung. “Mengumpulkan tanaman sihir untuk keperluan riset dan ramuan.”
Ia berhenti sejenak saat matanya bertemu Dorna.
“Dan kau, Dorna” lanjutnya datar, “ikut bersamaku agar aku bisa mengawasimu langsung.”
Wajah Dorna menegang. Namun ia menunduk. “Aku mengerti.”
Gram kembali menatap yang lain. “Ini bukan misi berbahaya. Tapi bukan juga perjalanan santai. Kalian akan bekerja sebagai satu kelompok.”
Reyd melirik Lein singkat... seperti memastikan ia baik-baik saja. Lein membalas dengan anggukan kecil.
Grack menyeringai. “Kedengarannya seperti tugas lapangan pertama yang benar-benar menarik.”
Lysa menggenggam tas kecil berisi peralatan pendukung. “Aku akan mendukung dari belakang.”
Gram mengangguk. “Bagus.”
Saat mereka meninggalkan gerbang Academy, Lein merasakan udara berubah lebih liar, lebih jujur. Alam di luar tembok tidak teratur seperti taman Academy, namun lebih hidup.
Raksha mengamati dengan tenang.
Tempat seperti ini… sering menyimpan petunjuk.
Dorna berjalan agak terpisah, ekspresinya tertutup. Tidak ada provokasi. Tidak ada kata-kata.
Gram berjalan di depan, sesekali menjelaskan tanaman apa yang mereka cari: daun bercahaya, akar berdenyut mana, bunga yang hanya mekar di senja.
“Perhatikan,” katanya, “tanaman sihir merespons niat, bukan hanya mantra.”
Lein mendengarkan dengan saksama.
Reyd tetap di sisinya... mengamati dan melihatnya setiap ada kesempatan.
***
Hutan tempat mereka mencari tanaman sihir lebih sunyi dari yang dibayangkan.
Cahaya matahari tersaring oleh dedaunan tebal, membentuk bayangan lembut di tanah. Gram berjalan paling depan, sesekali berhenti untuk menandai tanaman tertentu dengan segel mana kecil.
“Jangan menyentuh tanaman ini,” katanya, menunjuk sekelompok tanaman berdaun biru pucat. “Akarannya sensitif.”
Lein mengangguk, memperhatikan dari jarak aman. Ia bisa merasakan denyut mana halus dari tanaman itu; lemah, tapi rapuh.
Rombongan berpencar sedikit, masih dalam jarak pandang.
Suara dengung kecil terdengar dari balik semak.
Lein menoleh... terlambat.
Serangga-serangga kecil berwarna kehijauan keluar berkelompok, mengerumuni tanaman berdaun biru itu. Dalam hitungan detik, daun-daun mulai menghitam, layu, dan rontok satu per satu.
“Apa yang terjadi?” seru Lysa.
Gram berbalik cepat.
Dorna berseru lebih dulu, suaranya tinggi. “Lein! Kau yang menyentuh tanaman itu, bukan?”
Semua mata tertuju pada Lein.
Ia berdiri membeku sejenak... bukan karena takut, melainkan karena menyadari pola yang terlalu familiar.
“Aku tidak menyentuhnya,” kata Lein tenang.
“Jangan bohong,” balas Dorna. “Kau selalu saja memanipulasi alam. Itu pasti sihirmu!”
Grack mengernyit. “Tunggu dulu... ”
Namun Gram sudah berlutut di dekat tanaman yang rusak. Tangannya menyentuh tanah, mata setengah terpejam, membaca sisa mana.
Dengung serangga mereda. Makhluk-makhluk itu menghilang seperti kabut.
Reyd melangkah ke depan Lein. “Lein tidak melakukannya.”
Dorna menatap Reyd tajam. “Kau selalu membelanya, pangeran Reyd!”
Lein menarik napas panjang. Ia berlutut di sisi tanaman yang rusak, mengabaikan tatapan orang lain.
“Hati Peri Malam.”
Cahaya redup menyelimuti tanah. Namun kali ini tanaman itu tidak merespons. Daunnya tetap hitam.
Lein membuka mata. Dadanya terasa sesak.
“Ini bukan kerusakan alam biasa,” katanya pelan. “Ini racun.”
Gram berdiri. Tatapannya kini tertuju pada Dorna: tajam, tidak bisa ditipu.
“Racun serangga,” ucapnya datar. “Sihir yang sama seperti insiden di Academy.”
Wajah Dorna memucat. “Aku—aku tidak... ”
“Cukup,” potong Gram. “Aku menyaksikan sisa mananya.”
Keheningan turun berat!
Lein berdiri perlahan. “Aku tidak ingin ada yang disalahkan,” katanya. “Tapi aku juga tidak ingin diam saja.”
Dorna menggigit bibirnya, menunduk. Tidak ada permintaan maaf baginya.
Gram menghela napas. “Tanaman ini tidak bisa diselamatkan. Kita lanjutkan saja perjalanan.”
Ia menatap Dorna lama. “Dan kau… tetap di dekatku. Setiap saat.”
Dorna mengangguk kaku.
Saat mereka kembali berjalan, Reyd menoleh pada Lein. “Kamu baik-baik saja kan, Lein.”
Lein tersenyum tipis. “Aku tidak apa kok, Reyd.”
Raksha merasakan sesuatu berubah pada dirinya...
Tubuh Roselein semakin lama, membuatnya semakin terlena.
Bukan karena memikirkan penyihir kuno, tapi perasaannya seperti manusia biasa pada umumnya... Mudah merasakan berbagai emosi.