Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Bukan Duda
“Apa yang sedang anda rencanakan?” tanya Zara dengan suara tegas dan dingin. Wajahnya menatap Reynan, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Maksud kamu?” Reynan kembali bertanya seraya menggosok rambutnya dengan handuk.
“Jangan pura-pura bego, deh.” Suara Zara naik satu oktaf dan itu membuat Reynan terkejut.
Reynan menatap Zara dengan dahi yang mengerut, tangannya masih berada di kepala tanpa pergerakan.
“Jelaskan!” titah Reynan dengan suara rendah tapi tegas.
Seketika bulu kuduk Zara meremang. Namun dengan cepat, Zara menepis semua perasaan itu.
“Liat aja ponsel anda,” kata Zara.
Reynan segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Lalu—
Decakan kasar keluar dari mulut Reynan.
“Jadi … apa yang sedang anda rencanakan? Setelah dipikir-pikir, mana ada orang yang rela menikahi orang yang tidak dikenal, kalo cuma karena rasa kasihan?” tanya Zara. Kali ini suaranya kembali rendah.
“Saya kenal kamu,” balas Reynan.
“Iya, hanya kenal ‘kan? Itu pun cuma tiga minggu,” kata Zara.
“Iya. Pertama saya kenal karena kamu, saat kamu maling mangga saya,” ujar Reynan.
Zara membelalakkan matanya.
“Iya ‘kan? Itu pertama kita kenal,” lanjut Reynan.
“Sudah, jangan membelokkan pembicaraan. Jelaskan! Apa rencana anda?” tanya Zara lagi.
Reynan menghela napas. “Ya … mungkin sesuai dengan dugaanmu,” kata Reynan seraya mendudukkan bokongnya pada sofa.
“Saya tidak mau menduga-duga. Jadi … Tolong jelaskan. Jika anda masih membutuhkan saya untuk—”
“Ya, oke.” Reynan memotong ucapan Zara. “Ya, saya akan dijodohkan. Saya tidak mau, apalagi perjodohan bisnis,” lanjutnya.
“Lalu, apa bedanya dengan nikahin saya?” tanya Zara.
“Lebih baik saya menikahi kamu, daripada menikahi wanita itu.”
Jawaban Reynan tidak membuat Zara puas. “Alasannya?” tanya Zara.
“Gak ada alasan yang spesifik. Hati saya bilangnya begitu,” jawab Reynan.
Zara tersenyum sinis. “Aneh,” ucapnya. “Oh ya … berarti anda terlahir dari orang berada?” tanya Zara.
Reynan menggerakkan bahunya, acuh.
Zara memutar malas bola matanya. “Intinya anda menikahi saya, hanya untuk dijadikan tameng. Supaya anda tidak menikah dengan wanita itu. Cukup licik juga anda,” kata Zara.
“Enggak juga. Justru saya menyelamatkan harga diri, martabat keluargamu, dan menyelamatkanmu dari omongan orang-orang.”
Zara berdecih. “Tidak jadi nikah pun saya gak apa-apa. Jadi pembicaraan orang-orang pun, gak peduli.
“Mungkin kamu, iya. Tapi keluargamu? Apalagi Ayahmu, sampai mau mengemis-ngemis pada lelaki itu, supaya menikahi kamu. Dia rela merendahkan harga dirinya, demi anak dan juga kehormatan keluarganya. Untungnya … ya mungkin, ini sudah jadi jalanNya.”
Seketika Zara teringat, katanya sang Ayah akan meminta Amir untuk menikahinya. Tetapi … kenapa jadi Reynan?
“Kalo saya boleh tahu, kenapa jadi anda yang menikahi saya? Bukannya … Amir?”
“Jadi kamu mau menikah dengan lelaki brengsek itu?” tanya Reynan.
“Eh— ya … ya … enggak. Cuma aneh saja, Ayah bilang—”
“Tanyakan saja sama Ayah kamu,” potong Reynan.
“Sudah. Tapi Ayah gak mau membahasnya,” kata Zara.
“Ya udah kalo gitu, jangan cari lebih jauh lagi. Kalo Ayah gak mau membahasnya.”
“Saya gak mau pernikahan ini lama,” celetuk Zara.
“Jadi kamu mau saya ceraikan? Jadi janda?” tanya Reynan.
Zara menghela napas. “Pernikahan ini terjadi tanpa adanya perasaan. Entah rasa cinta ataupun rasa sayang. Jadi … saya rasa, tidak perlu berlama-lama dengan pernikahan ini. Lebih baik sendiri-sendiri,” ucapnya.
“Dengarkan saya. Mungkin pernikahan ini didasari tanpa perasaan, tapi asal kamu tahu, saya menikahi kamu tulus, tanpa paksaan apalagi keraguan. Saya benar-benar ingin membangun rumah tangga denganmu, Za.”
“Kenapa? Kita aja kenal baru tiga minggu,” kata Zara.
“Entah,” jawab Reynan.
Zara menyipitkan matanya. “Karena anda duda. Lihat cewek semok, cantik begini, jadi anda … sang—”
“Saya jadi curiga, kalo kamu bukan peraw—”
“Heh, sembarangan!” Zara segera memotong perkataan Reynan.
“Boleh saya buktikan?” goda Reynan.
“Enak saja.”
Reynan tertawa keras. Namun tidak lama, tawa itu mereda. Wajahnya berubah serius.
“Saya minta maaf, Za.” Perkataan itu keluar dari mulut Reynan.
“Untuk?” tanya Zara.
“Ya … saya sadar. Saya menikahi kamu bukan semata-mata ingin. Tetapi ya benar, sesuai dengan dugaanmu, saya mengambil kesempatan itu untuk masalah pribadi.”
“Sudah kuduga.”
“Tapi ya, sesuai dengan perkataan saya tadi. Saya menikahimu karena saya ingin dan tulus,” lanjutnya.
“Ya, intinya anda mengambil kesempatan dalam kesempitan,” kata Zara.
“Mungkin. Tapi saya serius, Za. Saya ingin menikah sekali seumur hidup,” ucap Reynan.
“Sekali seumur hidup? Bukannya anda duda? Ini pernikahan anda yang kedua.” Zara kekeh dengan status Reynan yang sebelumnya, duda.
Reynan berdecak kecil. “Kamu terus saja menuduh saya duda, mau saya buktikan?” tanya Zara.
“Ogah.”
“Serius, kamu gak mau?”
“Gak!”
“Yakin?” tanya Reynan lagi, seraya berjalan mendekat pada Zara.
“Ya.”
“Mau ngapain?” tanya Zara dengan panik, masalahnya jarak Reynan sudah berada setengah meter darinya.
Senyum seringai keluar dari bibir Reynan.
“Bukannya lelaki kalo belum pernah itu, lututnya geter-geter?” Celetuk Zara.
Seketika Reynan membulatkan matanya, lalu ia tertawa terbahak seraya memegangi perutnya.
Sedangkan Zara, ia langsung menutup mulutnya.
“Hahahahaha … ya ampun, Zara … dari mana kamu punya pikiran gitu,” kata Reynan disela tawanya.
“E-eh. I-itu bukan kata saya, tapi kata Kiky Saputri. Anda tahu ‘kan Kiky Saputri? Itu loh, pelawak Indonesia.” Zara bicara dengan gugup. Selain karena malu, ia juga merasa bodoh. Kenapa bisa, pikiran itu jadi terucap.
Reynan masih dengan tawanya. Tapi tangannya terulur menarik laci, lalu mengambil dompet dan mengambil kartu identitas dan memberikannya pada Zara. “Nih, lihat,” ucapnya.
Masih dengan perasaan ragunya, Zara pun mengambil kartu identitas itu.
Reynan Ghani Utama, usia dua puluh tujuh tahun, kelahiran Jakarta dan status belum kawin.
“Gimana?” tanya Reynan.
“Pantes kok, kalo duda juga. Usianya cocok,” ucap Zara.
Reynan menyentil kecil dahi Zara. “Mulutmu.”
Zara menaruh kartu identitas itu di atas nakas dan Reynan kembali mengambilnya.
“Jadi pekerjaanmu apa?” tanya Zara.
“Nanti juga tahu sendiri,” kata Reynan.
Terdengar pintu utamanya di ketuk, lekas Reynan keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang bertamu malam-malam.
“Bos,” ucapnya, kala pintu itu terbuka.
“Masuk, Hen.”
“Iya.”
“Gimana?” tanya Reynan pada Hendri.
“Ini, bos. Lihat.” Hendri memberikan ponselnya pada Reynan.
“Brengsek!”
“Jadi, langkah selanjutnya gimana, bos?”
“Kita tunggu dulu, mau sampai kapan dia berbuat seperti itu. Dan kamu, cari barang bukti sebanyak-banyaknya, biar dia tidak bisa mengelak lagi.”
“Siap, bos.”
Reynan menganggukan kepalanya, dan Hendri pun pamit undur diri.
Reynan memijat pangkal hidungnya. Ternyata tidak perlu sampai empat bulan, dalam waktu dua bulan pun, semuanya bisa selesai.
Namun yang jadi pikiran Reynan sekarang adalah masalah perjodohan dan pernikahannya bersama Zara.