Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Dua Minggu
Dua minggu menjelang Ujian Murid Luar.
Bagi sebagian orang, itu waktu yang terlalu singkat untuk berharap.
Bagi Ren Tao, itu cukup asal tidak ada satu pun langkah yang salah.
Pagi hari, lapangan latihan dipenuhi murid-murid luar. Suasana berbeda dari biasanya. Tidak ada teriakan sombong, tidak ada ejekan terang-terangan. Yang ada hanya kewaspadaan.
Semua tahu, ujian kali ini bukan sekadar formalitas.
Ren Tao berdiri di pinggir, memegang pedang kayu yang sama seperti sebelumnya. Auranya tetap ditekan, napasnya diatur rapi. Di mata orang lain, ia masih Ren Tao yang sama lemah, biasa, mudah diabaikan.
Dan itu bagus.
“Ren Tao.”
Ia menoleh. Seorang murid bernama Han Li mendekat. Wajahnya pucat, mata cekung.
“Kamu dengar kabar?” bisik Han Li.
Ren Tao menggeleng pelan. “Tentang apa?”
“Ujian kali ini… katanya bukan cuma tes kekuatan,” ujar Han Li ragu. “Ada simulasi perburuan. Beberapa murid boleh saling menjatuhkan.”
Ren Tao menyipitkan mata.
Jadi begitu.
Ia sudah menduga. Sekte Awan Hitam tak pernah peduli soal keselamatan murid luar. Ujian hanyalah cara menyaring yang berguna dan membuang sisanya.
“Terima kasih,” kata Ren Tao sederhana.
Han Li ragu-ragu. “Kamu… hati-hati.”
Ren Tao hanya mengangguk.
Saat Han Li pergi, Luo Feng muncul dengan senyum canggung. “Kamu tenang banget. Aku aja nggak bisa tidur.”
Ren Tao meliriknya. “Kalau panik sekarang, di ujian nanti lebih parah.”
Luo Feng menghela napas. “Kamu berubah.”
Ren Tao tidak menjawab.
Berubah, ya.
Atau mungkin… hanya berhenti berpura-pura bodoh.
Malamnya, Ren Tao kembali ke barak dan membuka Cincin Retak. Informasi mengalir pelan, seperti bisikan lama.
Ujian tipe perburuan.
Lingkungan buatan.
Ancaman utama bukan binatang… tapi manusia.
Ren Tao mengingat satu catatan kecil yang hampir terlewat.
Dalam ujian semacam ini, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling tenang.
Ia tersenyum tipis.
Hari-hari berikutnya, Ren Tao berlatih dengan pola aneh. Ia tidak fokus meningkatkan kekuatan mentah. Sebaliknya, ia mengasah pengendalian qi sembunyi, lepaskan, sembunyi lagi.
Ia juga mulai memperhatikan orang-orang.
Siapa yang sering berkumpul dengan siapa.
Siapa yang terlalu agresif.
Siapa yang diam-diam mengikuti perintah murid inti.
Nama Wei Kang muncul berulang kali.
Suatu sore, Ren Tao sengaja melewati jalur belakang gudang obat. Ia mendengar suara.
“pastikan bocah itu ikut,” suara Wei Kang terdengar jelas.
“Kalau dia mati?” tanya seseorang.
“Kalau mati, berarti memang pantas,” jawab Wei Kang ringan.
Ren Tao berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya seolah tak mendengar apa pun
Jadi target utama.
Ia tidak marah. Tidak kaget.
Justru sebaliknya ia merasa tenang.
Malam sebelum ujian, hujan turun deras. Barak murid luar sunyi.
Ren Tao duduk bersila, qi mengalir stabil. Ia tidak mencoba menembus batas baru. Tidak perlu.
Stabil lebih penting daripada cepat.
Ia membuka mata dan memandangi pedang kayu di sampingnya.
“Besok,” gumamnya pelan, “aku bukan yang terkuat.”
Ia tersenyum.
“Tapi aku juga bukan yang paling mudah mati.”
Keesokan paginya, semua murid luar dikumpulkan di gerbang batu besar. Kabut tipis menyelimuti lembah buatan di baliknya.
Seorang tetua berdiri di depan, suaranya dingin.
“Ujian dimulai saat kalian masuk.”
“Keluar hidup-hidup… jika bisa.”
Gerbang terbuka perlahan.
Satu per satu murid melangkah masuk.
Saat giliran Ren Tao, Wei Kang menatapnya dari kejauhan. Senyum tipis terukir di wajahnya.
Ren Tao menunduk hormat.
Di dalam hatinya, ia menghitung.
Tiga hari.
Dua puluh tujuh peserta berbahaya.
Empat kemungkinan jebakan.
Dan satu rencana yang tidak boleh gagal.
Kabut menelan sosok Ren Tao saat ia melangkah masuk.
Permainan telah dimulai.
semangat terus ya...