"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 -Luka Lama
Beberapa hari kemudian, Rosalind akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah membaik, hanya perlu kontrol rutin setiap dua minggu sekali. Aksara datang menjemput bersama Jonathan.
“Biar aku saja,” ujar Aksara seraya mengambil alih kursi roda Rosalind.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, sementara Aylin yang berdiri di sampingnya tampak kaget.
“Eh! Tapi, Mas—” protes Aylin, belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Aksara sudah mendorong kursi roda itu pelan menuju pintu keluar.
“Ayo, Jo,” katanya singkat, seolah tak memberi ruang untuk penolakan.
Jonathan hanya mengangguk dan berjalan mengikuti dari belakang. Aylin pun akhirnya melangkah mengikuti mereka dengan langkah pelan. Pandangannya tanpa sadar menatap punggung Aksara — tegap, tenang, tapi penuh misteri.
Punggung itu... sebentar lagi jadi milikku. Tapi cuma di atas kertas, batin Aylin getir.
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu segera luntur begitu kenyataan menampar hatinya. Semua ini hanya kesepakatan, bukan cinta. Dan untuk pertama kalinya, Aylin takut — takut pada dirinya sendiri yang mulai berharap lebih.
“Jangan bodoh, Aylin,” bisiknya pelan.
“Jangan jatuh cinta pada lelaki yang bahkan bukan milikmu.”
Dug!
“Aduh...” Aylin mengusap keningnya, baru sadar kalau ia menabrak punggung Aksara yang tiba-tiba berhenti.
“Makanya jangan melamun,” tegur Aksara datar, menoleh sekilas dengan tatapan yang entah kenapa membuat jantung Aylin berdetak lebih cepat.
“Masuk,” lanjutnya singkat sambil membuka pintu mobil.
Aylin menunduk, tanpa kata. Ia masuk dan duduk di samping Rosalind di kursi belakang. Sementara Aksara duduk di depan bersama Jonathan, tampak begitu tenang — seolah tak terjadi apa-apa. Padahal, di dalam dada Aylin, semua terasa seperti badai kecil yang belum mau reda.
Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah susun. Cat dinding bangunan itu sudah mulai pudar, sebagian terkelupas dimakan waktu. Suara anak-anak yang berlarian di lorong bercampur dengan kicauan burung di atap membuat suasananya terasa ramai dan hidup.
Aylin turun lebih dulu, membantu Jo menurunkan tas dan kursi roda.
“Maaf sudah merepotkan kamu, Nak,” ucap Rosalind lirih saat Aksara hendak memindahkannya dari mobil ke kursi roda.
Aksara tersenyum tipis. “Siapa yang merepotkan, Tante? Calon ibu mertua harus aku sayangi, dong.”
Rosalind menatapnya dengan mata yang mulai berkaca. Ada rasa hangat yang menjalari hatinya. Betapa beruntungnya Aylin, pikirnya, memiliki calon suami sebaik dan setulus itu.
Setelah Rosalind duduk nyaman, Aksara mendorong kursi roda perlahan menuju pintu masuk. Di dekat gazebo kecil, beberapa ibu-ibu tengah bercengkerama sambil menjemur pakaian.
“Bu Ros, sudah sembuh? Maaf ya, kami nggak sempat nengok waktu di rumah sakit,” sapa salah satu dari mereka.
“Sudah lebih baik, kok. Terima kasih, Bu. Mari, saya pamit dulu,” jawab Rosalind ramah.
Aksara menunduk sopan sebelum kembali mendorong kursi roda itu. Namun, langkah mereka sempat terhenti ketika terdengar bisik-bisik di belakang.
“Itu calonnya Aylin, ya?” bisik Bu Mirna.
“Katanya sih iya,” jawab yang lain cepat.
“Wah, ganteng banget ya. Mirip artis,” sambung yang lain dengan nada kagum.
“Halah, ganteng doang. Ntar kayak bapaknya Aylin lagi—selingkuh!” celetuk seorang ibu dengan nada nyinyir.
Tawa kecil terdengar, ringan tapi menusuk. Aylin yang masih menenteng tas spontan mengepalkan tangannya erat. Nafasnya sedikit tercekat, tapi ia berusaha menahan diri. Wajahnya menegang, tapi matanya memantulkan luka lama yang belum sembuh.
“Aylin, ayo. Kenapa melamun?” tanya Jo, memecah lamunannya.
“Eh, iya—maaf.” Aylin buru-buru masuk ke lift, menunduk dalam diam.
Dari belakang, Aksara sempat mendengar percakapan ibu-ibu tadi. Pandangannya bergeser pada Aylin yang kini berdiri diam di sudut lift, wajahnya dingin dan jauh.
Ada sesuatu di sana — semacam dinding tak kasat mata yang dibangun gadis itu untuk melindungi dirinya sendiri.
"Apa benar hubungan Aylin dan ayahnya tidak baik-baik saja?" tanya Aksara dalam hati.
Pertanyaan itu muncul tanpa diundang, membuat Aksara menatap Aylin sedikit lebih lama sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam lift.
Saat pintu lift terbuka, mereka langsung disambut Anisa.
“Nis.” Rosalind tersenyum lemah.
“Bu, syukurlah sudah sampai.” Anisa sigap memegang pintu. “Ayo masuk.”
“Makasih, Mbak Nisa,” ucap Aylin.
Begitu masuk, aroma mawar dan lemon lembut memenuhi ruang tamu. Rumah susun itu tampak rapi dan hangat—berbeda dari bayangan Aksara tentang lingkungan rumah susun pada umumnya.
“Silahkan masuk, Mas Aksa.” Anisa tersenyum gugup. “Maaf kalau rumahnya agak berantakan.”
Aksara masuk sambil mendorong kursi roda Rosalind. Matanya sempat menyapu ruangan—meja kecil dengan vas bunga plastik, rak sederhana, dan tirai pudar yang tetap terlihat bersih.
“Biar aku saja,” sela Aylin setelah selesai menaruh tas di kamar.
“Mas, sama Asisten Jo istirahat dulu. Kalian pasti capek,” lanjut Aylin.
Anisa juga ikut menyuruh mereka duduk, tapi Aksara justru ikut masuk ke kamar dan membantu Rosalind berbaring di kasur dengan nyaman. Rosalind memegang tangan Aksara dengan mata berkaca.
“Makasih, Nak,” ucap Rosalind pelan.
“Sama-sama, Tante,” jawab Aksara, suaranya lembut. “Dan jangan terus bilang terima kasih. Cepat atau lambat, aku bakal jadi keluarga Tante.” Ujarnya membuat Rosalind tersenyum malu.
Aksara kembali ke ruang tamu. Jo sedang menyicipi kue di meja—pipinya mengembung seperti anak kecil.
“Oh ya,” kata Aksara pelan, “besok Kakek akan menjenguk Tante Rosalind.”
Aylin sontak tersedak. “Ke—kesini? Untuk apa?”
Anisa menepuk punggung Aylin. “Ish, pertanyaan apa itu? Ya jelas mau nengok, masa nanya untuk apa?”
“Bukan gitu maksudku…” Aylin mengacak rambutnya, panik sendiri.
“Sudahlah aku hanya memberi tahu.” Aksara bersiap berdiri. “Jo, kita kembali ke kantor.”
“Tapi, Tuan… saya masih—”
“Jooo.” Nada Aksara datar, menyiratkan perintah jelas.
Jo langsung tegak. “Ba–baik.”
“Mas Jo, bungkus aja kuenya. Bawa ke kantor,” ujar Anisa, mengambil plastik dan membungkus seluruh kue di meja.
Mata Jo berbinar seperti menemukan harta karun, padahal Jo masih ingin menikmati kue-kue yang mengingatkannya pada sang Ibu di kampung.
Aylin hanya bisa menatap Jo dengan tak percaya. “Astaga…”
Kami pamit dulu,” ucap Aksara.
Aylin mengantar mereka sampai lift. Saat pintu tertutup, Aylin langsung ambruk ke sofa, menatap langit-langit kusam rumahnya.
“Kenapa lagi?” tanya Anisa sambil duduk di sampingnya.
“Mbak, aku galau,” gumam Aylin, memeluk bantal. “Aku ngerasa salah… tapi aku gak bisa mundur.”
“Salah kenapa?” Anisa menatapnya penuh selidik. “Ai, kamu menyembunyikan apa dari Mbak?”
Aylin menggigit bibir bawah, ragu harus bercerita atau tidak.
“Kalau aku cerita… semuanya mungkin akan berubah,” bisiknya pelan. Pikiran Aylin berputar—tentang kontrak pernikahan, tentang perasaan yang tidak seharusnya tumbuh. Dan tentang Aksara yang sebenarnya.
“Ya Tuhan… apa yang harus aku lakukan?” gumamnya lirih.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣