Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hutan yang sebelumnya sunyi kini menjelma arena perburuan.
Gemuruh langkah kaki menghantam tanah, memecah keheningan saat Jihan berlari menembus semak dan dahan.
Daun-daun beterbangan liar, sementara hewan-hewan kecil yang merasakan getaran itu segera bersembunyi ke dalam tanah, naluri mereka menjeritkan satu hal: bahaya sedang datang.
Tak lama setelah penglihatannya pulih dari efek serbuk Buah Lidah Bara, Serigala Taring Panjang menggelengkan kepala dan meraung keras. Raungan itu sarat amarah. Dengan indra penciumannya yang tajam, makhluk buas itu kembali menangkap jejak mangsanya, jejak yang semakin jelas berkat aroma wewangian sang gadis.
Tak butuh waktu lama.
Bayangan besar itu kembali muncul di antara pepohonan, bergerak cepat, gesit, menerjang medan hutan seolah tak ada rintangan yang mampu memperlambatnya.
Jihan terus berlari.
Langkahnya mulai terasa berat. Beban di punggungnya kini bukan sekadar keranjang, melainkan satu nyawa lain. Napasnya memburu, paru-parunya seperti terbakar. Namun ia terus memaksa diri, menghirup udara sedalam mungkin, seakan setiap tarikan napas adalah sumpah untuk tidak berhenti.
Di punggungnya, sang gadis menyadari perubahan itu. Ia melihat wajah Jihan, pucat, berkeringat, namun tetap keras menahan lelah. Ketika ia menoleh ke belakang, jantungnya nyaris terhenti.
Serigala Taring Panjang sudah terlalu dekat.
“Kak… kamu bisa menurunkanku,” ucapnya gemetar.
Jihan menggeleng pelan, tanpa menoleh.
“Tidak. Gaunmu akan memperlambat kita.”
“Tapi—”
“Aku sudah berjanji,” potong Jihan, napasnya terputus-putus.
“Aku akan melindungimu.”
Ucapan itu sederhana. Namun bagi sang gadis, rasanya seperti sesuatu yang menghantam dadanya.
Melindungiku?
Ia terdiam. Perasaan hangat yang asing menyusup di tengah ketakutannya... bukan kegembiraan, bukan pula cinta, melainkan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di tengah bahaya, ada seseorang yang memilih berdiri di depannya.
Jihan merasakan tubuh gadis itu menegang di punggungnya. Ia sempat melirik sekilas, mendapati pipinya memerah. Dahi Jihan berkerut.
‘Gadis ini… kenapa reaksinya seperti itu?’
Namun pikirannya segera kembali lurus. Ia tahu alasan sebenarnya kenapa ia tak berhenti berlari.
Janji itu.
Bagaimana mungkin ia berharap menyelamatkan ibunya suatu hari nanti, jika satu nyawa di depannya saja ia relakan mati?
Langkahnya justru menguat.
Lalu—
BUGH!
Udara di sisi kanan bergetar. Insting Jihan menjerit lebih cepat dari pikirannya. Ia berputar tajam ke kiri, menghindari bayangan besar yang menerjang dari balik semak.
Cakar Serigala Taring Panjang menyayat udara, hanya beberapa jengkal dari wajahnya.
Serangan itu meleset.
Momentum sang serigala justru membawanya menghantam batang pohon besar di sisi jalur.
BRAAAK!
Kayu pecah. Serpihan beterbangan. Beberapa pohon di sekitarnya roboh, tanah bergetar ringan.
“GRRRAAAAAAHHH!”
Raungan penuh amarah mengguncang hutan.
Gadis di punggung Jihan menjerit tertahan.
Jihan tak menunggu. Ia kembali berlari, kini dengan sisa tenaga yang diperas hingga batasnya.
Langkahnya mulai goyah. Detak jantungnya menggedor keras, penglihatannya sedikit berkunang. Matanya menyapu sekitar, mencari apa pun... jalur, celah, peluang sekecil apa pun.
Dan kemudian ia sadar.
Ia telah berlari terlalu jauh ke barat.
Jika ingatannya benar…
Hilir Sungai.
Tanpa ragu, Jihan membelokkan arah, menuruni jalur yang mengarah ke dataran rendah. Di belakang mereka, raungan Serigala Taring Panjang kembali terdengar... lebih dekat, lebih buas.
Lalu, suara lain menyusup.
Bukan raungan.
Bukan derap langkah.
Gemuruh.
Aliran air menghantam batu.
Mata Jihan membelalak.
“Air terjun…”
Cahaya putih berkilauan muncul di sela pepohonan, kabut tipis menari di udara. Jalur tanah berakhir di dataran berbatu... dan di hadapannya, tebing.
Tak ada waktu untuk ragu.
“Pegang yang kuat,” ucap Jihan pendek.
Gadis itu mengangguk cepat, jemarinya mencengkeram bahunya.
Mereka keluar dari hutan.
Di hadapan mereka, air terjun raksasa menjulang, jatuh dari tebing puluhan meter, menghantam batu di bawahnya dan menciptakan kabut putih yang menyelimuti lembah. Indah... dan mematikan.
Raungan kembali terdengar.
Serigala Taring Panjang telah menyusul, berdiri beberapa langkah dari mereka. Mata merahnya menyala, taringnya terbuka, siap menerkam.
Jihan menatap jurang di depannya.
Pilihan itu gila.
Namun hanya itu satu-satunya.
“Kamu… benar-benar mau melompat?” suara sang gadis bergetar.
“Maaf,” jawab Jihan singkat.
“Itu sama saja keluar dari mulut serigala, masuk ke mulut buaya!”
Jihan menarik napas panjang.
“Keranjang kayu itu seharusnya bisa mengapung. Manfaatkan sebaik mungkin.”
“Kamu sendiri?”
Ia tersenyum tipis.
“Aku anak kampung sini. tentu saja aku bisa berenang.”
Dan saat Serigala Taring Panjang menerjang—
Jihan bergerak.
Ia mundur dua langkah, mengencangkan pegangan, lalu melompat.
Tubuh mereka menembus tirai air, jatuh bebas bersama angin dan dingin yang membekukan kulit.
BYURRR!
Air menghantam keras. Dunia terbalik. Suara lenyap.
Di atas tebing, Serigala Taring Panjang berdiri di tepi jurang, meraung penuh amarah saat dua sosok itu menghilang ditelan arus.
Raungannya menggema ke seluruh hutan.
Namun jawaban tak pernah datang.
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"