Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ryan memang tidak mengizinkan Dahlia tinggal di rumah mamanya tapi bukan berarti tidak boleh menginap di sana. Malam ini sepulang dari kantor, Dahlia menginap di rumah mama tanpa Ryan.
Dahlia tidur di atas meja pangkuan mama, tempat ternyaman yang ada di dalam hidupnya.
"Kamu udah cek lagi ke dokter belum kandungannya?."
"Nanti aja ah, ma."
"Berarti baru ketahuan pas di pengadilan itu 'kan?."
"Iya."
Mama terus mengusap rambu kepala Dahlia sampai Dahlia merasa mengantuk namun pertanyaan mama membuat segar kembali.
"Siapa Pak Adnan?."
"Pak Adnan itu, bos aku. Pak Adnan sangat baik, perhatian, dewasa, berwibawa, aku sangat nyaman bersamanya."
"Kalian dekat?."
"Dekat setelah aku tahu Ryan selingkuh dan semakin dekat saat Ryan selingkuh yang kedua kalinya. Ingin membalas sih nggak, tapi aku sangat nyaman dan merasa diratakan."
Lalu Dahlia bangun, menatap mamanya.
"Aku juga salah, tapi aku nggak melewati batas seperti Ryan. Dan tadinya aku mau menikah dengannya kalau udah janda, eh, akunya malah hamil anaknya Ryan."
"Dia single apa..."
"Single, ma, tapi dua udah punya ada dua dan cerai hidup. Lucunya hubungan mereka masih sangat baik, ma, sampai aku kira mereka masih saling cinta."
Tiba-tiba saja Dahlia menyeka sudut matanya yang basah.
"Aku udah jatuh cinta sama Pak Adnan tapi aku harus sadar diri siapa aku, statusku, itu sangat sakit, ma."
"Lebih baik kamu lupakan aja, Pak Adnan, terima hidupmu yang sekarang. Itu akan jauh terasa lebih baik kamu rasakan."
Kemudian Dahlia mengangguk karena tidak memiliki pilihan lain sambil menghapus air matanya.
"Aku tidur di sini aja."
Dahlia dan mama sama-sama merebahkan tubuh di atas kasur yang sama di kamar mamanya. Dahlia langsung memeluk sang mama dan mereka tidur.
Keesokan paginya.
Sebelum jam enam Dahlia sudah berangkat ke kantor sebelum Ryan datang mengantarnya. Sebab pagi itu dia sudah ada janji sarapan bersama Pak Adnan.
Perasaannya tidak bisa diatur apalagi dicegah untuk menolak ajakan Pak Adnan. Katakan saja gila atau salah, tapi itu perasaannya yang kuat.
Dahlia tersenyum lebar saat bertemu Pak Adnan di lantai di mana mereka bisa sarapan bersama tanpa harus takut ada yang mengganggu.
"Pak Adnan tidur di sini?."
"Iya, kalau nggak mana bisa aku ajak kamu sarapan dan menyiapkan ini semua untuk kita."
"Memangnya kenapa, Pak?."
"Oh, iya, aku belum bilang, ya?."
Dahlia menggeleng.
"Anak-anakku dan mama mereka tinggal di rumah. Akhir aku mengizinkan, Susan merengek dan aku nggak bisa melihatnya bersedih."
Dahlia mengangguk setuju.
"Udah bener itu apa yang Pak Adnan lakukan."
"Kamu setuju."
"Iya, demi anak-anak."
Lirihnya.
"Bagaimana kalau aku dan Vera rujuk?."
Dahlia memegangi erat sendok yang ada di tangannya. Rasanya dia mau teriak jangan, namun bibirnya tersenyum lalu berkata.
"Setuju juga aku, sebab aku percaya masih ada cinta di antara kalian."
Lalu tanpa diduga Dahlia, Pak Adnan melepas pakaian atasnya, memperlihatkan dada yang tidak lagi mulus karena di sana sudah ada sebuah nama yang terukir dengan sangat cantik, Dahlia.
Tentu saja si pemilik nama sangat bahagia, rasanya dia mau mencium ukiran namanya.
"Aaahhh...so sweat."
Dahlia memegangi kedua pipinya.
"Buat apa diukir coba? Orang kita nggak akan bisa bersama."
Tawa kencang Pak Adnan memecah kesunyian di gedung itu.
"Memangnya ini Dahlia kamu?. Pede bangat sih kamu, Ia, nama Dahlia kan pasti banyak, bukan kamu aja."
Kini Dahlia memutar bola matanya, dia malas dengan Pak Adnan yang mengelak sekaligus mengejeknya.
"Tapi kan Dahlia aku yang sekarang di sini, di deket Pak Adnan. Menerobos batas yang nggak seharusnya. Tapi aku di sini, sebab aku mau melihat Pak Adnan, bersama Pak Adnan."
Pak Adnan berjalan lalu berdiri di belakang Dahlia yang tengah duduk di kursi. Mengecup pucuk kepala Dahlia dengan penuh perasaan.
Kemudian secara tiba-tiba Dahlia mengangkat wajahnya ke belakang sehingga hampir saja bibir mereka bertemu.
Lalu mata mereka saling tatap, kemudian Pak Adnan tersenyum iseng.
"Cium aja kalau mau cium aku, Ia."
"Repot kalau ketagihan, Pak."
"Kenapa repot? Orang kalau mau tinggal minta aja. Kita kan masih ketemu tiap hari."
Lalu Pak Adnan dan Dahlia sama-sama menarik diri dan kembali duduk tenang di tempat masing-masing.
Mulai sarapan tanpa ada yang bicara, hanya mata mereka yang sesekali saling tatap atau melirik curi pandang.
Dahlia dan Pak Adnan sudah keluar dan menuju lantai di mana tempat kerja mereka.
"Aku duluan, Pak."
Tiba-tiba saja tangan Pak Adnan menahan pinggang Dahlia untuk tetap di dekatnya saat lift akan terbuka.
Lift terbuka, mereka langsung berhadapan dengan Vera yang pandangannya ke dalam lift.
Barulah Dahlia keluar sambil tersenyum, berjalan melewati Vera yang menatapnya tajam. Yang kemudian diikuti oleh Pak Adnan yang berdiri di depan Vera.
"Kamu masih mau sama dia?. Dia kan istri orang dan sedang hamil pula, seperti nggak ada perempuan lain aja."
"Jangan mencampuri yang bukan urusanmu."
Lalu Pak Adnan mulai berjalan. Vera melangkah mengikutinya.
"Kalau kamu bukan pimpinan dan seorang papa, aku nggak akan ikut campur. Paling nggak perempuannya harus se-level denganmu."
Pak Adnan tidak lagi bicara supaya tidak merembet ke mana-mana. Tapi sepertinya Vera belum puas mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"Kamu harus memikirkan anak-anak sebelum melangkah jauh, jangan menimbulkan rasa malu pada Richard dan Melodi serta keluargamu. Coba kamu pikir ulang sama siapa harus kencan dan menjalin hubungan."
Sampai duduk di kursi kerja pun Pak Adnan tidak ada bicara, dia hanya diam tapi bukan untuk menerima ceramah Vera. Ini adalah hidup dan kebahagiaannya, mau sesulit apa pun jalannya dia harus bisa melewatinya dan berjuang sampai akhir hayatnya.
"Nan..."
"Tolong keluar kalau kamu nggak punya kepentingan, di sini aku nggak mau bicara yang sifatnya pribadi. Ini kantor dan aku harus bekerja."
Sambil memasang wajah kesal sekaligus marah Vera keluar dari ruangan Pak Adnan, seolah terusir dengan kata-kata Pak Adnan. Dia tidak memiliki kesempatan untuk bicara ini, di rumah pun Pak Adnan selalu tidak ingin dengan topik ini.
Dia senang mantan suaminya tidak mau membicarakan Dahlia tapi melihat pagi ini, rasanya dia harus bicara.
Vera menatap tajam Dahlia sebelum memasuki lift.
"Kenapa dia?."
Lusi merapat.
"Nggak tahu."
Lusi pun menatap Dahlia dari atas lalu ke bawah lalu kembali ke atas.
"Mungkin dia cemburu sama kamu."
"Ish, kalau ngomong suka bener."
Dahlia menimpali dengan mengiyakan tebakan Lusi, mereka pun tertawa cekikikan.
Vera menemui Liana di kantornya.
"Serem amat tuh muka, ada apa?."
"Kalau nggak masih cinta nggak mau aku di sini lagi deket Adnan."
"Lagi pula kamu nolak terus, jadinya, ya, begini."
"Tapi kan ada alasannya."
"Kalau udah begini mana mau Adnan tahu apa alasannya. Coba dulu, mungkin ada bisa memaafkan."