Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bakat yang Terpendam
Setelah badai energi di depan gerbang mereda, suasana di dalam kediaman menjadi sunyi. Jian Wuyou melangkah masuk ke aula dengan jubah yang sedikit berkibar ditiup sisa angin pertempuran. Matanya langsung tertuju pada Li Hua. Gadis itu masih duduk bersila, matanya terpejam rapat, dan di sekeliling tubuhnya tampak riak udara tipis yang bergetar secara ritmis.
Jiwu berdiri, menyambut kakaknya dengan anggukan kecil. "Dia memiliki sesuatu yang tidak kita duga, Kak. Lihatlah."
Jian Wuyou mendekat. Ia meletakkan dua jarinya di atas dahi Li Hua tanpa menyentuhnya. Seketika, ia merasakan getaran halus yang sangat murni di dalam tubuh Li Hua.
"Jalur Meridian Giok?" gumam Jian Wuyou, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Bagaimana mungkin seorang gadis desa di Alam Fana memiliki bakat spiritual selangka ini?"
Li Hua perlahan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, dan entah bagaimana, wajahnya yang tadi pucat kini tampak lebih segar dan bercahaya. Saat ia melihat Jian Wuyou berdiri di depannya, ia refleks berdiri dan memegang tangan pria itu.
"Wuyou! Kau tidak terluka? Tadi suaranya sangat mengerikan..." ucap Li Hua khawatir.
Jian Wuyou menatap tangan Li Hua yang memegang lengannya. Ia merasakan aliran Qi yang hangat dan lembut mengalir dari tangan Li Hua ke tubuhnya sendiri, seolah-olah tubuh gadis itu secara alami mencoba menyembuhkan kelelahan Jian Wuyou.
"Aku baik-baik saja," jawab Jian Wuyou lembut. "Tapi, Li Hua... kau baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa. Teknik yang diajarkan Jiwu tadi, kau melakukannya dengan sempurna."
Li Hua tampak bingung. "Aku hanya... aku hanya mengikuti kata-kata Tuan Muda Jiwu. Aku mencoba membayangkan cahaya itu, dan tiba-tiba rasa takutku hilang. Rasanya seperti ada air sejuk yang mengalir di pembuluh darahku."
Jiwu terkekeh di sudut ruangan. "Air sejuk itu adalah energi spiritual, Li Hua. Kak, dia menyerap energi dari udara sekitar secara otomatis tanpa teknik pernapasan tingkat tinggi. Bakatnya adalah 'Wadah Suci'. Itulah sebabnya di masa depan... atau di garis waktu lain, dia selalu menjadi incaran banyak orang."
Jian Wuyou terdiam. Ingatannya kembali ke masa lalu yang pahit. Ia sadar bahwa kecantikan Li Hua bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian para kultivator jahat; bakat alaminya adalah harta karun yang diincar oleh mereka yang ingin mencapai keabadian.
"Li Hua," Jian Wuyou memegang kedua bahu gadis itu, menatapnya dengan sangat serius. "Dalam tiga hari ke depan, aku harus pergi ke markas Sekte Awan Hitam untuk mengakhiri ancaman ini sepenuhnya. Aku tidak bisa membawamu ke sana karena itu akan terlalu berbahaya."
Wajah Li Hua berubah cemas. "Kau akan pergi sendiri? Mereka punya ribuan murid!"
"Aku tidak sendiri, Jiwu akan tetap di sini menjagamu, Mei Lian, dan Jian Han," jawab Jian Wuyou. "Tapi selama tiga hari ini, aku ingin kau berlatih. Bukan untuk menjadi petarung, tapi agar kau bisa melindungi dirimu sendiri dengan energi yang kau miliki."
Jian Wuyou kemudian mengeluarkan sebuah kristal kecil berwarna ungu dari sakunya—satu-satunya sisa dari Mustika Naga yang hancur yang masih menyimpan sedikit esensi.
"Pegang ini saat kau bermeditasi. Jika kau bisa memicu energinya, kau akan memiliki perlindungan yang bahkan seorang ahli Ranah Transformasi Bumi pun tidak bisa tembus."
Sementara itu, jauh di puncak Gunung Hitam, markas Sekte Awan Hitam sedang dalam kondisi siaga satu. Han Zo diseret kembali ke aula sekte dalam kondisi yang mengenaskan; seluruh jalur kultivasinya hancur, menjadikannya manusia biasa yang tak berdaya.
Seorang pria tua bertubuh kurus dengan jubah hitam yang disulam benang emas berdiri dari singgasananya. Dialah Ketua Sekte Han Mo, ayah dari Han Zo dan Tetua Han. Matanya menyipit, memancarkan aura membunuh yang sanggup membekukan genangan air di lantai.
"Seorang pemuda di desa terpencil... menghancurkan dua putraku dan sepuluh algojo bayangan?" suara Han Mo terdengar seperti gesekan tulang.
"D-dia... dia mengancam akan datang dalam tiga hari, Ayah," rintih Han Zo sebelum pingsan.
Han Mo tertawa dingin, suara tawanya bergema di seluruh aula yang gelap. "Bagus. Jika dia berani datang, maka dia akan masuk ke dalam Formasi Penelan Arwah Sepuluh Ribu Iblis. Aku akan menguliti kulitnya hidup-hidup dan menjadikan kepalanya sebagai hiasan gerbang sekte."
Han Mo menoleh ke arah salah satu tetua di sampingnya. "Siapkan seluruh murid. Dan panggil 'Dia' dari gua meditasi terlarang. Jika musuh kita memiliki kekuatan sebesar itu, maka kita akan menggunakan monster untuk melawannya."
Tiga hari menuju kehancuran mulai berdetak. Di kediamannya, Jian Wuyou mulai mengasah sebuah pedang besi biasa yang ia beli dari pasar, namun di tangannya, pedang tumpul itu mulai memancarkan cahaya ungu yang mematikan.