NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Rembulan Beku dan Darah yang Mendidih

Bab 6: Rembulan Beku dan Darah yang Mendidih

Gua kapur itu bukanlah tempat untuk manusia. Udaranya tebal dengan bau amonia yang menyengat mata, bercampur dengan aroma amis darah kering yang telah mengendap selama puluhan tahun. Di langit-langit gua, stalaktit runcing menggantung seperti gigi-gigi raksasa yang siap mengunyah siapa saja yang berani melangkah masuk.

Namun, yang paling mengerikan bukanlah bau atau kegelapan itu, melainkan suhunya. Semakin dalam Bara melangkah, semakin dingin udara di sekitarnya. Dinding gua dilapisi kristal es tipis yang berkilauan dalam kegelapan, memantulkan cahaya redup dari mata kuning raksasa yang menanti di ujung lorong.

Bara berdiri di tengah genangan air lumpur setinggi mata kaki. Napasnya mengepul putih di udara beku. Tubuhnya yang demam tinggi akibat luapan energi Garuda kini terasa sedikit nyaman dikelilingi hawa dingin ini, namun ia tahu kenyamanan itu menipu.

Di hadapannya, melingkar di atas tumpukan tulang belulang hewan (dan manusia), adalah Ular Sanca Kembang Bulan (Moonflower Python).

Ular itu indah sekaligus mematikan. Panjangnya mencapai dua puluh meter, dengan sisik berwarna putih perak yang berpendar lembut seperti cahaya bulan. Di kepalanya terdapat mahkota kecil dari kristal biru alami.

"SHHAAAAA!"

Desisan ular itu bukan sekadar suara. Itu adalah gelombang kejut yang membawa partikel es.

Bara tidak menjawab dengan teriakan. Ia hanya mengeratkan genggaman pada kedua Kujang-nya.

"Mitra," suara Garuda terdengar waspada. "Sisiknya mengandung Inti Rembulan. Kerasnya melebihi baja damaskus. Api biasa tidak akan mempan."

"Aku tahu," batin Bara. "Kita tidak akan membakarnya dari luar. Kita akan merebusnya dari dalam."

Ular itu menyerang.

Bukan dengan gigitan, melainkan dengan ekornya. Gerakannya begitu cepat untuk ukuran tubuh sebesar itu. Ekor raksasa itu menyapu horizontal, berniat meremukkan Bara ke dinding gua.

Bara melompat vertikal. Ekor itu menghantam dinding batu di belakangnya.

BLLARR!

Dinding gua runtuh. Pecahan batu tajam berhamburan.

Saat Bara masih melayang di udara, kepala ular itu melesat maju dengan mulut terbuka lebar, memamerkan taring lengkung sepanjang lengan orang dewasa yang meneteskan racun ungu.

Bara tidak bisa menghindar di udara.

"Perisai!"

Bara menyilangkan kedua Kujang di depan dada. Energi panas Garuda ia alirkan sedikit ke lengan untuk memperkuat pertahanan.

TRANG!

Taring ular itu menghantam Kujang Bara. Benturan itu melemparkan Bara kembali ke tanah. Ia terseret mundur lima meter, kakinya membajak lumpur gua, menciptakan parit panjang.

"Kuat sekali..." gumam Bara, merasakan tulang lengannya bergetar hebat.

Ular itu tidak memberinya jeda. Ia kembali menyerang, kali ini menyemburkan kabut berwarna biru pucat dari mulutnya.

"Jurus Siluman: Napas Neraka Beku (Hima Naraka)"¹

Kabut itu menyelimuti area tempat Bara berdiri. Stalagmit batu di sekitar Bara seketika membeku dan pecah menjadi serbuk es.

Bara menahan napas. Ia tahu jika kabut itu terhirup, paru-parunya akan membeku instan. Ia memutar tubuhnya, menciptakan pusaran angin panas kecil untuk menghalau kabut itu.

"Gerak Langkah: Tari Merak Mengelak Badai."

Bara bergerak zig-zag, menghindari gumpalan kabut es itu sambil berusaha mendekati tubuh utama ular. Ia mengincar bagian leher, tempat di mana sisiknya terlihat sedikit lebih tipis.

Bara melompat ke punggung ular itu. Kujang Si Sulung ia tancapkan sekuat tenaga ke sela-sela sisik.

Kring!

Bunyi logam beradu. Kujang Bara terpental. Sisik itu terlalu licin dan keras. Bahkan goresan pun tidak tercipta.

Ular itu menggeliat marah. Ia memutar tubuhnya, mencoba melilit Bara.

"Sial," umpat Bara. Ia melompat mundur sebelum lilitan maut itu meremukkan tulang rusuknya.

Situasinya buruk. Fisik Bara memang kuat, tapi tanpa menggunakan Prana tingkat tinggi, ia tidak bisa menembus pertahanan monster tingkat Bumi Pala ini. Tapi jika ia menggunakan Prana Garuda lebih banyak, tubuhnya sendiri yang akan hancur sebelum ular itu mati.

Bara terengah-engah. Kulitnya mulai memerah, uap panas keluar dari pori-porinya, kontras dengan udara gua yang membeku.

"Gunakan aku, Bodoh!" teriak Garuda. "Biarkan aku mengambil alih satu lenganmu!"

"Belum," tolak Bara keras kepala. "Masih ada cara lain."

Rara Anjani berdiri di mulut gua, tersembunyi di balik bayangan stalaktit besar. Matanya terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya.

Dia pikir Bara hanya mencari mati. Dia pikir pelayan itu sudah dimakan saat dia mendengar suara ledakan tadi.

Tapi yang dia lihat adalah sebuah tarian kematian yang mustahil.

Bara bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang. Pemuda itu melompat dari satu dinding ke dinding lain, menghindari serangan ekor dan semburan racun yang bisa membunuh satu peleton pasukan kerajaan.

"Dia... dia tidak menggunakan pelindung Prana," bisik Anjani, tangannya menutup mulut karena takjub. "Dia menahan hawa dingin gua ini hanya dengan panas tubuh alaminya? Monster macam apa dia?"

Anjani melihat Bara terpojok. Ular Sanca itu mulai memancarkan cahaya terang dari sisiknya. Suhu gua turun drastis hingga minus puluhan derajat.

Anjani tahu teknik itu. Itu adalah persiapan untuk serangan pamungkas siluman tipe es: "Pembekuan Mutlak".

Jika serangan itu dilepaskan, seluruh gua ini akan menjadi balok es abadi. Bara akan mati. Dan mungkin Anjani juga jika dia tetap di sini.

Logika Anjani berteriak: Lari! Biarkan dia mati! Dia sainganmu!

Tapi hatinya—hati seorang pendekar yang menghormati kekuatan—berteriak lain. Dia melihat kegigihan di mata Bara. Mata itu tidak menyiratkan keputusasaan, melainkan perhitungan kalkulatif yang dingin.

"Dasar bodoh," umpat Anjani pada dirinya sendiri.

Tangannya bergerak cepat membentuk segel tangan (Mudra). Aura biru laut meledak dari tubuhnya.

"Jika dia mati, aku tidak akan tahu rahasianya. Ya, itu alasannya. Hanya itu."

Anjani melangkah keluar dari persembunyiannya.

Bara melihat ular itu mengumpulkan energi. Cahaya menyilaukan berkumpul di mulutnya.

"Ini buruk," batin Bara. "Garuda, bersiaplah. Kita harus meledakkan segel—"

Tiba-tiba, sebuah tombak es raksasa melesat dari arah pintu gua. Tombak itu tidak mengarah ke ular, melainkan ke langit-langit gua tepat di atas kepala ular itu.

DUAR!

Stalaktit raksasa seberat lima ton hancur dihantam tombak es, runtuh menimpa kepala ular itu.

"GROAAARR!"

Ular itu menjerit kesakitan, konsentrasinya buyar. Serangan pembekuannya batal. Kepalanya tertimpa batu besar, membuatnya pusing sesaat.

Bara menoleh cepat. Di sana, berdiri Rara Anjani. Gaun birunya berkibar, dikelilingi oleh cincin air yang melayang-layang. Wajahnya angkuh, tapi napasnya sedikit memburu.

"Sisiknya kebal terhadap serangan fisik dan es!" teriak Anjani, suaranya bergema di gua. "Tapi hukum alam tetap berlaku! Panas bertemu dingin secara ekstrem akan menciptakan keretakan!"

Bara langsung mengerti maksudnya. Thermal Shock.

Bara menyeringai lebar. "Kau cerewet sekali untuk ukuran seorang putri."

"Lakukan saja, Pelayan Bodoh!" balas Anjani. "Aku akan menahannya selama tiga detik!"

Anjani menghentakkan kakinya. Air genangan di lantai gua bangkit menjadi rantai-rantai air, lalu membeku seketika menjadi rantai es yang menjerat tubuh ular raksasa itu.

"Jurus Tirtamaya: Belenggu Naga Laut!"

Ular itu meronta. Rantai es itu mulai retak. Kekuatan fisik monster itu terlalu besar.

"Satu!" hitung Anjani, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Menahan monster Bumi Pala menguras Prana-nya dengan gila-gilaan.

Bara memejamkan mata. Ia membuang semua keraguannya.

Ia memutar Kujang Si Sulung dan Si Bungsu di tangannya. Ia membiarkan segel di dadanya terbuka sedikit lebih lebar.

WUUSH!

Api keemasan menyelimuti kedua Kujang Bara. Bukan api merah biasa, tapi Api Garuda yang suci dan murni. Panasnya begitu tinggi hingga air di sekitar kaki Bara mendidih seketika.

"Dua!" teriak Anjani, hidungnya mulai mimisan karena tekanan balik energi.

Bara melesat.

Kali ini kecepatannya dua kali lipat dari sebelumnya. Ia meninggalkan jejak api di udara.

"Tiga!" Rantai es Anjani hancur berkeping-keping.

Ular itu bebas. Ia menganga, siap menelan Bara yang terbang ke arahnya.

Tapi Bara sudah ada di depan wajahnya.

"Gabungan Elemen: Kujang Pralaya - Sayap Emas!"

Bara tidak menusuk. Ia menyabetkan kedua Kujang-nya secara menyilang (X) tepat di leher ular yang baru saja dibekukan oleh Anjani.

Perubahan suhu ekstrem terjadi. Sisik yang sangat dingin bertemu dengan bilah yang sangat panas.

KRAK! PYAR!

Suara seperti kaca pecah terdengar nyaring. Sisik rembulan yang tak tertembus itu hancur berkeping-keping. Daging lunak di baliknya terekspos.

Dan bilah Kujang Bara terus melaju, memotong daging, otot, dan tulang leher dengan mulus.

Darah menyembur seperti air mancur. Kepala ular raksasa itu terpisah dari tubuhnya, melayang di udara dengan mata yang masih melotot kaget, sebelum jatuh bergedebuk ke tanah.

Tubuh ular yang tanpa kepala itu masih menggeliat-geliat liar, menghancurkan sisa-sisa dinding gua, sebelum akhirnya diam tak bergerak.

Hening kembali menyelimuti gua.

Anjani jatuh terduduk. Kakinya lemas. Prana-nya nyaris habis.

Ia menatap sosok Bara yang berdiri di atas bangkai kepala ular itu.

Pemandangan itu mengerikan sekaligus memukau.

Bara bermandikan darah ular yang berwarna ungu gelap. Uap panas mengepul dari tubuhnya, menciptakan halo kabut di sekitarnya. Kedua Kujang-nya masih berpendar keemasan, meneteskan darah yang mendesis saat menyentuh lantai.

Perlahan, cahaya emas di senjata itu meredup. Bara terhuyung, lalu jatuh berlutut.

Anjani memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan mendekat.

"Kau..." Anjani memulai, tapi suaranya tercekat.

Bara tidak mempedulikannya. Pemuda itu merobek dada ular itu dengan tangan kosong, mencari sesuatu di antara organ dalamnya.

"Menjijikkan," gumam Anjani, menahan mual.

Akhirnya, Bara menarik keluar sebuah benda bulat seukuran bola tenis. Benda itu bersinar putih pucat, dingin, dan berdenyut.

Mustika Rembulan (Moon Core).

Itu adalah sumber kekuatan kultivasi sang ular. Benda yang harganya setara dengan satu kota kecil jika dijual di pasar gelap.

Tanpa ragu, Bara memasukkan mustika itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

"KAU GILA?!" teriak Anjani histeris. "Mustika itu mengandung racun Yin murni! Tubuhmu akan beku dan hancur!"

Seorang manusia tidak bisa memakan mustika siluman secara langsung tanpa diolah menjadi pil oleh ahli alkimia. Itu adalah pengetahuan umum!

Bara tidak menjawab. Ia jatuh terlentang di atas bangkai ular. Tubuhnya kejang-kejang.

Kulit Bara yang tadinya merah membara, kini perlahan berubah menjadi normal. Uap panas yang keluar dari tubuhnya mereda. Rasa sakit di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi lega yang luar biasa.

Mustika dingin itu sedang bertarung melawan Api Garuda di dalam perutnya. Dua kekuatan ekstrem itu saling menetralkan, menciptakan keseimbangan baru.

Yin dan Yang.

Anjani mengamati proses itu dengan mulut ternganga. Dia bisa merasakan aura Bara berubah. Yang tadinya liar dan panas tak terkendali, kini menjadi tenang, dalam, dan padat.

Kultivasi Bara... naik.

Dia menerobos.

Dari Adhikara (menurut pandangan umum) langsung melonjak. Aura di sekelilingnya bergetar.

Prana Vayu... Wira Sukma... Wira Sukma Menengah...

Aura itu berhenti stabil di tingkat Wira Sukma Tahap Puncak.

Bara membuka matanya.

Anjani tersentak mundur satu langkah. Mata itu... hitam legam, tapi kini ada cincin perak tipis yang mengelilingi pupil emasnya. Mata yang mengandung kebijaksanaan ular tua dan keganasan burung pemangsa.

Bara bangkit duduk, mengusap darah di wajahnya. Dia menatap Anjani.

"Kau berisik sekali," ucap Bara, suaranya parau tapi bertenaga. "Tapi terima kasih rantai es-nya. Lumayan berguna."

Anjani merasakan wajahnya memanas. Dia, Putri Jenius Wangsa Tirtamaya, dibilang "lumayan berguna" oleh pelayan?

"Siapa kau sebenarnya?" tuntut Anjani, menodongkan jarinya yang gemetar. "Teknik api itu... cara makanmu... kau bukan manusia biasa. Kau dari sekte sesat mana?"

Bara berdiri, berjalan mendekati Anjani hingga jarak mereka hanya setengah meter. Anjani harus mendongak sedikit untuk menatap matanya.

"Aku hanya orang yang ingin hidup tenang, Nimas," jawab Bara. Dia mengulurkan tangannya yang berdarah, bukan untuk menyerang, tapi untuk mengambil sehelai daun kering yang tersangkut di rambut Anjani.

Gerakan itu begitu tiba-tiba dan intim hingga Anjani lupa bernapas.

"Tapi dunia ini tidak membiarkan orang tenang," lanjut Bara, membuang daun itu. "Sama sepertimu. Kau tidak ingin berada di sini, kan? Kau muak menjadi boneka politik ayahmu."

Mata Anjani membelalak. "Bagaimana kau..."

"Matamu," potong Bara. "Matamu sama sepertinya." Bara menunjuk bayangan dirinya sendiri di genangan air. "Mata orang yang terpenjara."

Bara berbalik, berjalan menuju pintu gua.

"Ambil kulit dan taring ular itu. Itu cukup untuk membuat ayahmu senang dan memenangkan ujian ini. Aku sudah kenyang dengan mustikanya."

Anjani terpaku. Kulit dan taring ular tingkat Bumi Pala? Itu harta karun! Dan Bara memberikannya begitu saja?

"Tunggu!" panggil Anjani.

Bara berhenti tanpa menoleh.

"Kenapa... kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Anjani pelan. "Aku melihat rahasiamu. Aku bisa melaporkanmu."

Bara menoleh sedikit, memperlihatkan profil wajahnya yang tajam terkena cahaya bulan dari luar gua.

"Karena kau membantu. Aku tidak membunuh orang yang membantuku," jawab Bara. "Dan... kau satu-satunya yang tidak melihatku sebagai 'Bara si Pembawa Sial'."

Setelah sosok Bara menghilang ditelan kegelapan hutan, Rara Anjani masih berdiri di sana dalam diam. Jantungnya berdetak kencang, sebuah perasaan aneh menjalar di dadanya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan terhadap pangeran manapun yang pernah melamarnya.

Rasa takut, rasa hormat, dan... rasa penasaran yang membakar.

Lima ratus meter dari gua, di atas pohon tertinggi.

Nimas Sekar menurunkan teropong bambu buatan Wangsa Bayu Aji. Tangannya gemetar hebat.

Dia tidak mendengar percakapan di dalam gua, tapi dia melihat pertarungannya. Dia melihat api emas itu. Dia melihat kepala ular raksasa putus.

"Gila..." bisik Sekar. "Dia memakan mustika mentah-mentah..."

Sekar merogoh saku bajunya, mengeluarkan kertas surat dan pena tinta arang. Dia harus menulis laporan.

Laporan untuk Ketua Klan:

Target: Raden Bara Wirasena.

Status: MONSTER.

Rekomendasi: Jangan dijadikan musuh. Rekrut dia. Atau bunuh dia dengan sepasukan penuh sebelum dia tumbuh dewasa.

Sekar menatap kertas itu lama. Teringat saat Bara melepaskannya semalam. Teringat tatapan mata pemuda itu.

Perlahan, Sekar meremas kertas laporan itu hingga hancur.

"Tidak," bisiknya. "Jika Ayah tahu, dia akan mengirim pembunuh tingkat tinggi. Bara akan mati."

Entah kenapa, bayangan kematian Bara membuat dadanya sesak.

"Aku akan menyimpan rahasia ini sebentar lagi," putus Sekar. "Aku ingin melihat... seberapa tinggi elang ini bisa terbang."

Nimas Sekar menghilang menjadi hembusan angin, meninggalkan Hutan Maya dengan rahasia yang kini mengikat nasib tiga manusia: Sang Garuda, Sang Putri Es, dan Sang Bayangan.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 6

Hima Naraka: Berasal dari bahasa Sansekerta. Hima berarti dingin/salju, Naraka berarti neraka. Secara harfiah berarti "Neraka Dingin". Sebuah konsep dalam mitologi di mana neraka tidak hanya api, tapi juga kebekuan abadi.

Mudra: Gerakan tangan simbolis yang digunakan dalam meditasi atau rapalan jurus untuk mengarahkan aliran energi (Prana) dalam tubuh.

Wira Sukma Tahap Puncak: Posisi Bara sekarang. Setara dengan level 3 akhir. Namun dengan fisik Garuda dan teknik bertarungnya, kekuatan tempur aslinya bisa menandingi level 5 awal (Bumi Pala).

Mustika (Core): Inti energi dari siluman/hewan buas. Biasanya terletak di jantung atau kepala. Mengandung esensi elemen makhluk tersebut.

##Jangan lupa vote like and coment##

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!