AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 2: petunia: the way to not lose hope [1]
PENJARA bawah tanah yang dingin dan lembab sore itu berubah menjadi lautan darah. Tempat yang biasanya dipenuhi rengekan para tahanan yang meminta untuk dibebaskan, sumpah serapah kepada sipir penjara dan kaisar, makian yang saling dilontarkan antar penghuni tahanan, maupun suara adu jotos, tiba-tiba menjadi senyap. Lantai penjara yang hanya berlapis semen menyisakan noda darah di mana-mana. Sebagian dari cairan pekat yang kental itu telah mengering, tetapi lantai yang masih basah oleh darah segar lebih banyak lagi–seolah tiap menit darah mengalir dari sel para tahanan sesuai urutan.
Puluhan mayat telah memenuhi bagian depan penjara bawah tanah. Bau amis sertamerta menguar memenuhi seluruh ruangan tanpa terkecuali. Dua orang sipir penjara dan empat orang ksatria yang mengikutiku terdiam kaku di belakang meski mereka telah terbiasa melihat pemandangan menyesakkan ini. Semakin dalam, aku kian ganas membunuh semua orang yang terlihat. Netra biru cerah ini menyala dalam kegelapan. Perlahan, aku melangkahkan kaki memasuki salah satu sel yang baru saja kulewati. Semua tahanannya telah terbunuh dan hanya tersisa dia seorang. Selangkah demi selangkah aku memperpendek jarak dengan tikus kurus yang bersembunyi di sudut ruangan.
“Kau pikir … dengan bersembunyi di balik bayangan aku tak dapat melihatmu?”
“Saya bersalah, Yang Mulia. To–tolong ampuni saya ….”
Aku menarik sudut bibir ke atas bersama dengan sisi pedangku yang merobek bagian pundak hingga sudut kiri perutnya.
“ARGH!”
Percikan darahnya mengenai sebagian rambut dan wajahku sementara itu, seragam putih gading yang kupakai telah berubah warna menjadi kemerahan. Napas yang tersengal memenuhi kesenyapan penjara bawah tanah seolah masih belum puas, ujung pedangku yang telah dipenuhi darah pemuda itu kembali bersarang di dadanya.
Tidak ada lagi suara yang terdengar sekalipun rintihan kecil. Ruangan itu sertamerta menjadi sunyi. Setelah puluhan mayat tergeletak di lantai bersama dengan cairan merah pekat yang menggenangi seluruh ruangan, aku baru bisa bernapas lega. Sakit kepala yang kurasakan perlahan hilang dan kegelapan dalam diriku yang menyiksa kini tenang kembali.
“Bereskan kekacauan ini.”
“Baik, Yang Mulia.”
Perlahan aku melangkah keluar dari dalam sel. Pedang yang kugunakan untuk melepas sakit kepala yang menyiksa kulempar ke sembarang arah. Sakit kepala sialan itu yang akhir-akhir ini sering mnyerang membuatku tidak nyaman. Anehnya, sejak saat itu, kegelapan dalam diriku seolah semakin haus menginginkan darah dan itu dimulai semenjak pertemuan tak sengaja dengan anak perempuan itu.
***
Perbatasan barat Adenium merupakan daerah yang sering mengalami perubahan cuaca sangat ekstrem. Meski telah memasuki musim panas, daerah tersebut tak jarang berubah menjadi musim hujan dengan frekuensi tinggi. Durasinya pun bisa mencapai dua sampai tiga bulan sehingga daerah-daerah di perbatasan barat memiliki musim panas yang lebih singkat dibanding wilayah lain.
Topografi wilayah tersebut termasuk rendah dan dikategorikan sebagai daerah rawan banjir. Anemone, Forsythia, dan Burnet memiliki ketinggian tanah yang sedikit lebih tinggi daripada Petunia sehingga jika terjadi banjir tidak akan terlalu parah. Sebaliknya, Petunia yang dikelilingi sungai-sungai panjang yang membentang menjadi sangat rawan. Sejak bergabung menjadi bagian Adenium tiga tahun lalu, semenjak itu pula Petunia masuk ke dalam konsentrasi rencana pembangunan wilayah. Masalah terbesar yang hingga kini belum mendapat solusi adalah permasalahan banjir.
Hamon Quante dua hari lalu melaporkan bahwa tanggul yang tiga bulan lalu diperbaiki hancur diterjang banjir sementara itu, parit yang dibangun di sepanjang jalan perbatasan barat meluap akibat tidak cukup menampung debit air hujan. Akibatnya, kerugian ditaksir mencapai puluhan triliun koin emas. Berdasarkan catatan yang dibuat Perdana Menteri Leocadio selama aku berada di medan perang, kerugian tahun ini adalah yang terbesar dibanding tahun lalu. Sebanyak enam puluh persen hasil pertanian, pertambakan, perkebunan, dan perikanan yang berasal dari Petunia tak ada satupun yang bisa diselamatkan akibat banjir menerjang tepat sebulan sebelum musim panen besar-besaran tiba.
“Tahun ini, Adenium hanya bisa mendapatkan empat puluh persen hasil pertanian dan perkebunan dari Anemone, Forsythia, dan Burnet.” Perdana Menteri Leocadio membalik kertas kemudian melanjutkan, “Kita tidak bisa menarik pajak dari empat puluh persen itu, Yang Mulia.”
Aku menyetujui. Jika istana memecah empat puluh persen itu, maka kekurangan pangan akan terjadi di seluruh perbatasan barat. Sebelum masalah ini diselesaikan, tak ada cara lagi selain membebaskan pajak untuk sementara. Maka dari itu, aku harus segera mencari solusi.
“Mengenai Petunia–” Dia berdeham sebelum melanjutkan, “Hasil panen yang dapat diberikan wilayah itu belum cukup untuk menutupi dana istana sementara pengeluaran istana semenjak Petunia bergabung ke dalam Kekaisaran Adenium terbilang lumayan besar.”
Perkataannya tidak salah, tetapi tidak bisa dibenarkan juga. Meski saat ini, Petunia memang banyak mengambil kas istana, wilayah itu akan memberikan keuntungan yang lebih besar ketika berhasil diperbaiki.
Petunia termasuk ke dalam daerah yang diberkati. Tanahnya sangat subur sehingga sangat cocok dijadikan lahan berkebun dan bertani, sungai-sungai yang terbentang diisi oleh berbagai jenis ikan air tawar sehingga dapat menambah pemasukan daerah. Selain itu, hutan-hutan Petunia memberikan sumber nabati dan hewani yang dapat meringankan dan memudahkan penduduk meski seringkali banjir menutup potensi Petunia.
Jika dilihat dari aspek tersebut, Adenium sebenarnya pun tidak akan rugi kalau melepas Petunia. Hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan dari Petunia mampu didapatkan dari wilayah lain di Kekaisaran Adenium tanpa harus mengeluarkan banyak uang terlebih dulu untuk memperbaiki daerah itu. Tetapi, sebagai kaisar, aku tidak bisa melepas tangan begitu saja hanya karena masalah sepele seperti ini karena bagaimana pun Petunia telah menjadi bagian dari Adenium.
“Sepertinya, para bangsawan melayangkan protes.”
Perdana Menteri Leocadio membenarkan.
“Selalu saja seperti itu.”
Aku akhirnya menghela napas panjang bersamaan dengan gerakan membalik kertas terakhir di dokumen yang diberikan Perdana Menteri Leocadio. Melepas kacamata baca, meletakkan dokumen tersebut di atas meja, punggung tangan kananku menopang dagu, malas. Setelah mempertahankan tahta selama beberapa tahun, aku mulai menyadari bahwa satu hal yang tidak akan pernah berubah, yaitu fakta bahwa permasalahan negara seiring berjalannya waktu akan menjadi semakin rumit dan kompleks. Entah karena akibat bumi yang berubah, faktor campur tangan manusia yang merusak, keserakahan dan kejayaan manusia, atau justru karena ketiganya.
“Lakukan seperti biasa.” Aku berkata setelah beberapa menit terdiam. “Jika mereka tetap bersikerkas–” Ibu jari tangan kiriku terangkat setinggi leher, bergerak perlahan dari kanan ke kiri secara horizontal, berkata, “ Potong lehernya.”
“Baik, Yang Mulia.” Perdana Menteri Leocadio mengangguk. “Lalu, saya telah menyelesaikan rincian anggaran mengenai perbaikan Petunia,” katanya sembari menyerahkan beberapa lembar kertas kepadaku. “Distribusi bantuan telah disalurkan dari hari pertama, tetapi anggaran bantuan kurang memadai sehingga saya membuat rincian mengambil sebagian dari dana darurat istana.”
“Disetujui.”
“Baik, akan saya laporkan ke bagian keuangan.”
Aku mengembalikan proposal yang telah ditandatangani dan dibubuhkan stempel resmi. Dia menerimanya sementara aku membuka mulut seraya menopang dagu dengan tangan kanan. “Karena distribusi bantuan rawan disalahgunakan, maka pergilah bersama Hamon untuk mengurusnya. Aku akan mengirim beberapa orang untuk membantu di lapangan.”
“Baik, saya mengerti.”
Selanjutnya, aku beralih kepada Hamon yang berdiri tegak di samping Perdana Menteri Leocadio. Rambut biru mudanya bersinar seperti langit di siang hari sedangkan netra abu-abu tuanya nampak kelelahan setelah kembali dari Petunia.
“Bagaimana dengan evakuasi penduduk?”
“Evakuasi seluruh penduduk Petunia kemungkinan selesai sore ini, Yang Mulia.”
“Ketiga wilayah lainnya?”
“Evakuasi Burnet telah selesai pagi tadi sedangkan kedua wilayah lainnya sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasa.”
Aku berdeham kemudian memejamkan mata. Menyandarkan punggung di sandaran kursi, berkata, “Baiklah, jika laporan kalian sudah selesai, keluarlah.”
Pintu ruang kerja yang ditutup rapat tiba-tiba terbuka lebar dan menimbulkan bunyi yang lumayan keras ketika daun pintu bertabrakan dengan dinding. Perdana Menteri Leocadio mendobrak masuk setelah beberapa saat lalu keluar bersama Hamon.
“YANG MULIA!”
Tatapan menusuk sertamerta terhujam kepadanya. “Kau akan kubunuh jika yang kau sampaikan tidak mendesak.”
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, “Keluarga bangsawan yang mengajukan putri mereka sebagai calon permaisuri tiba-tiba datang kepada saya dan melakukan protes. Saat ini, istana heboh dan kemungkinan mereka telah berkumpul untuk menemui Yang Mulia. Anda harus ke sana, Baginda!”
Matanya tertutup ketika aku melempar pena tepat setelah dia menyelesaikan kalimat. Menargetkan pipinya yang mulus, tetapi sialnya jari tanganku licin dan lemparan tersebut meleset sejauh kurang lebih satu senti dan tertancap manis di tembok.
“Babi-babi itu tidak pernah memberiku waktu istirahat.” Bangkit dari duduk, berjalan ke samping meja, dan berhenti di sebelah Perdana Menteri Leocadio yang masih berdiri di ambang pintu.
“Suruh mereka ke aula sekarang juga. Akan kudengar apa yang babi-babi itu ributkan.”
Sekawanan manusia yang mengeluarkan suara babi di depan istana mendadak diam membisu ketika aku duduk di singgasana. Mereka berbarik di sebelah kiri dan kanan, saling melirik satu sama lain seolah memberi kode untuk membuka suara. Sebagian lainnya mengalihkan pandangan ke sembarang arah, menghindari tatapan tajam yang kulayangkan kepada mereka semua.
Duke of Astello yang berdiri di barisan depan–barisan yang paling dekat denganku–mulai mengamati situasi sementara Perdana Menteri Leocadio pun juga melakukan hal yang sama sembari menunggu para babi itu bersuara.
“Katakan.”
Melipat kaki kannan di atas kaki kiri sembari punggung tangan kananku menopang dagu, para babi itu berbisik pelan. Sebagian melirikku takut sebelum kembali menundukkan pandangan sementara yang lain pura-pura membersihkan tenggorokan mereka.
“Katakan sebelum aku memotong lidah kalian.”
Marquess of Matheo maju selangkah dan berdiri di hadapanku dengan patuh sebelum mengangkat kepala dan berkata, “Yang Mulia, bagaimana bisa Anda memberikan garis keturunan kaisar kepada orang yang tidak jelas asal-usulnya? Bagaimana bisa Yang Mulia Kaisar menolak seorang lady dari keluarga terpandang dan memilih wanita lain yang tidak jelas di luar sana?”
“Katakan dengan jelas.”
“Ini tentang anak Baginda yang tiba-tiba muncul di depan gerbang istana.”
Aku mengerutkan dahi. “Anak?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Yang Mulia Kaisar tidak mungkin melakukan hal tersebut.” Duke of Astello menyela. Dia melirik tajam Marquess of Matheo. “Apakah Anda dapat membuktikan perkataan Anda, Marquess?”
Pria gendut itu tersenyum. “Bawa anak itu ke hadapan Yang Mulia Kaisar!”
Salah satu bangsawan keluar dari barisan. Dia berjalan menuju pintu, membuka pelan daun pintu, dan berbicara kepada seseorang. Tidak lama kemudian, anak mungil yang dikawal oleh seorang ksatria muncul dari sana. Mereka berjalan ke depan sementara bangsawan tadi kembali ke dalam barisan. Penampilan anak itu langsung mengambil banyak perhatian dan menyita banyak pandangan: Rambut kuning yang tetap berkilau walaupun kusam dan kotor serta mata biru cerah yang menyegarkan tetapi terkesan tajam.
Bersamaan dengan kemunculannya, bisik-bisik dari sebelah kiri dan kananku kian terdengar. Sepanjang dia melangkah, banyak mata bangsawan yang mengikut, memperhatikan dengan seksama tiap tindakannya sementara aku membeku di tempat ketika menyadari bahwa dia telah berdiri di hadapanku.
“Yang Mulia, anak ini mengaku sebagai anak Anda.”
Perkataan Marquess of Matheo membawaku kembali kepada realita yang cukup mengejutkan. Tidak pernah terpikir bahwa anak yang tidak sengaja kutemukan akan muncul di hadapanku kembali. Anak yang kutemui seminggu lalu di hutan, anak yang berada dalam karung goni dan tidak kubunuh, anak yang memiliki penampilan fisik yang sama denganku![]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak