Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTA DI ATAS AWAN
Setelah menempuh perjalanan selama empat hari dari Lembah Para Leluhur, pemandangan hutan yang monoton mulai berganti dengan barisan tebing batu yang menjulang tinggi menembus awan. Di puncak salah satu tebing raksasa itu, berdirilah Kutha Megamendung. Kota ini bukan kota biasa; ia adalah wilayah netral yang dibangun di atas dataran tinggi yang selalu tertutup kabut, tempat di mana hukum kerajaan tidak berlaku, dan di mana informasi dihargai lebih mahal daripada emas.
Tirta memacu kudanya menyusuri jembatan gantung panjang yang menghubungkan gerbang kota dengan tebing utama. Mayangsari, yang sudah mulai pulih meskipun tenaganya belum pulih sepenuhnya, duduk di belakang Tirta, tangannya melingkar erat di pinggang pemuda itu.
"Tempat ini terasa... bising," bisik Mayangsari di telinga Tirta. "Energi di sini sangat kacau. Aku bisa merasakan ribuan ambisi yang saling beradu."
Tirta mengangguk. "Itu karena Megamendung adalah tempat berkumpulnya para tentara bayaran, pencuri, dan pendekar buronan. Tapi hanya di sini kita bisa menemukan jejak Fraksi Mata Meratap tanpa menarik perhatian langsung dari mata-mata mereka."
Dimas Rakyan dan Sekar Wangi mengikuti di belakang. Dimas nampak antusias melihat keramaian pasar yang mulai terlihat di balik gerbang batu kota, sementara Sekar tetap waspada, tangannya tak lepas dari busur tulang yang ia bungkus kain agar tidak terlalu mencolok.
Begitu mereka memasuki pasar utama, indra mereka segera diserbu oleh berbagai bau dan suara. Penjual senjata langka meneriakkan keunggulan pedang baja hitam mereka, tabib gadungan menawarkan ramuan keabadian, dan di sudut-sudut gelap, para informan berbisik dengan wajah tertutup caping.
"Kita butuh penginapan yang aman sebelum matahari terbenam," ujar Sekar Wangi. "Dan kita butuh pakaian baru. Pakaian kita terlalu mencolok dengan noda darah dan simbol padepokan."
Tirta setuju. Mereka menyewa dua kamar di sebuah penginapan kecil bernama Wisma Angin Sore, yang terletak di bagian kota yang agak kumuh agar tidak menarik perhatian pejabat kota. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan jubah rami cokelat sederhana, mereka berkumpul di kamar Tirta untuk merencanakan langkah selanjutnya.
"Sekar, kau punya koneksi di sini?" tanya Tirta sambil meletakkan Sasmita Dwipa di atas meja kayu yang sudah lapuk.
Sekar Wangi mengeluarkan selembar koin perak yang memiliki lubang berbentuk bintang di tengahnya. "Ayahku dulu sering berdagang kulit binatang dengan seorang pria bernama Ki Juru Tenung. Dia adalah perantara informasi terbesar di kota ini. Jika Mata Meratap pernah lewat atau melakukan transaksi di wilayah timur, dia pasti tahu."
"Di mana kita bisa menemukannya?" tanya Dimas sambil mengunyah roti kering.
"Di Kedai Tuak Naga Mabuk. Tapi ada satu masalah," Sekar menatap Tirta dengan serius. "Ki Juru tidak menerima keping emas. Dia hanya menerima rahasia sebagai bayaran. Atau... dia akan meminta kita melakukan sesuatu yang berbahaya sebagai ganti informasi."
Tirta berdiri, menatap keluar jendela ke arah awan yang bergerak cepat di bawah kaki mereka. "Apa pun harganya, kita harus tahu di mana markas mereka. Mayang tidak aman selama kita buta terhadap pergerakan mereka."
Malam itu, Tirta dan Sekar Wangi berangkat menuju Naga Mabuk, meninggalkan Dimas untuk menjaga Mayangsari di penginapan. Kedai itu jauh lebih riuh dan kotor daripada yang Tirta bayangkan. Asap tembakau memenuhi ruangan, bercampur dengan bau tuak yang menyengat. Di tengah ruangan, dua pendekar sedang beradu panco dengan taruhan sebilah keris tua.
Di pojok paling gelap kedai tersebut, duduk seorang pria tua dengan punggung bungkuk. Wajahnya tertutup bayangan tudung kain, namun jemarinya yang panjang dan penuh cincin batu akik terus bergerak lincah memainkan kelereng kaca di atas meja.
"Ki Juru," sapa Sekar Wangi sambil meletakkan koin bintang itu di meja.
Pria tua itu berhenti bergerak. Ia mendongak, memperlihatkan satu mata yang buta dengan selaput putih, sementara mata satunya menatap tajam seperti mata burung hantu.
"Anak dari si Penjaga Hutan," suaranya parau seperti gesekan ampelas. "Aku mengira kau sudah jadi santapan Banaspati. Dan siapa pemuda yang kau bawa ini? Auranya... sangat tidak asing."
"Namanya Tirta," jawab Sekar pendek. "Kami butuh informasi tentang Fraksi Mata Meratap. Di mana mereka menyembunyikan ritual gerhana selanjutnya?"
Ki Juru tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti batuk kering. "Mata Meratap? Kau bertanya tentang hantu yang bisa mencabut lidahmu sebelum kau sempat berteriak. Informasi itu sangat mahal, Sekar."
"Sebutkan harganya," potong Tirta, suaranya dingin namun mantap.
Ki Juru menatap Tirta lama, lalu pandangannya beralih ke pedang yang terbungkus kain di punggung Tirta. "Pedang itu... Sasmita Dwipa. Jadi kau adalah anak si Baskara. Menarik. Sangat menarik."
Pria tua itu mendekatkan wajahnya ke arah Tirta. "Aku tidak butuh emasmu. Tapi, ada seorang pejabat kota bernama Lurah Branjangan yang baru saja mencuri sebuah gulungan kitab dari simpananku. Kitab itu berisi peta aliran energi bumi di Nusantara. Kembalikan kitab itu padaku malam ini, dan aku akan memberitahumu rute menuju benteng tersembunyi Mata Meratap."
"Lurah Branjangan?" Sekar Wangi mengernyit. "Dia punya pengawal pribadi dari sekte aliran hitam. Itu misi bunuh diri."
"Bagi pendekar biasa, mungkin ya," Ki Juru tersenyum licik. "Tapi bagi pemegang Sinar Gadhing? Ini hanya pemanasan."
Tirta tidak ragu. "Di mana kediamannya?"
Kediaman Lurah Branjangan terletak di bagian tertinggi Megamendung, sebuah rumah mewah yang dikelilingi tembok tinggi dan dijaga oleh pria-pria bersenjata tombak. Tirta dan Sekar menyelinap melalui atap-atap rumah warga, bergerak secepat bayangan di bawah perlindungan kabut malam.
"Kau yakin bisa melakukan ini tanpa membunuh mereka?" bisik Sekar saat mereka mengintai dari balik patung singa di atap kediaman.
"Aku akan mencoba," jawab Tirta. "Tapi jika mereka menghalangi jalan kita menuju keselamatan Mayang, aku tidak menjamin apa pun."
Tirta melompat turun tanpa suara. Ia menggunakan teknik Langkah Awan untuk meminimalkan beban tubuhnya. Dua penjaga di depan pintu samping pingsan seketika saat Tirta menghantamkan pangkal pedangnya ke tengkuk mereka.
Mereka memasuki ruang kerja lurah yang dipenuhi dengan barang-barang antik. Di tengah ruangan, di dalam sebuah kotak kaca yang dilindungi oleh jaring-jaring energi tipis, terletak gulungan kitab yang dicari.
"Itu dia," Sekar menunjuk.
Namun, sebelum mereka bisa menyentuhnya, lampu-lampu di ruangan itu menyala terang secara otomatis. Dari balik tirai sutra, muncul seorang pria tambun dengan pakaian mewah, didampingi oleh tiga pendekar berpakaian serba hitam yang memancarkan aura membunuh yang pekat.
"Mencuri dari penguasa Megamendung? Kalian benar-benar punya nyali," Lurah Branjangan tertawa meremehkan.
"Pengawal! Habisi mereka dan bawa pedang perak itu padaku!"
Tiga pengawal itu mencabut pedang lengkung mereka. Mereka adalah Tiga Iblis Megamendung, tentara bayaran kelas atas yang dikenal karena kekejaman mereka.
Tirta tidak menghunus pedangnya sepenuhnya. Ia hanya menariknya sedikit dari sarungnya, membiarkan cahaya perak murni menerangi ruangan. "Aku hanya butuh kitab itu. Jangan paksa aku merusak rumah indah ini dengan darah kalian."
"Banyak bicara!" salah satu pengawal menerjang.
Tirta bergerak. Ruangan itu mendadak dipenuhi oleh sisa-sisa bayangan Tirta. Ia bergerak begitu cepat hingga pedang musuh hanya menebas udara kosong. Dengan satu putaran kaki dan hantaman siku yang presisi, dua pengawal terlempar menghantam lemari pajangan hingga hancur.
Pengawal ketiga mencoba menyerang dari belakang, namun Sekar Wangi sudah melepaskan anak panah tanpa mata yang menghantam pergelangan tangan sang pengawal, membuatnya menjatuhkan senjatanya.
Dalam waktu kurang dari satu menit, ruangan itu sunyi kembali. Lurah Branjangan gemetar di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi melihat pengawal elitnya dikalahkan dengan begitu mudah.
Tirta mengambil kitab itu, menatap sang Lurah dengan tatapan yang membuat pria tambun itu nyaris pingsan. "Katakan pada majikanmu di Fraksi Mata Meratap, bahwa sang Pendekar
Gerhana sedang menuju ke arah mereka."
Tirta dan Sekar menghilang ke dalam kegelapan malam, kembali menuju kedai Naga Mabuk.
Ki Juru Tenung menerima kitab itu dengan tangan gemetar karena senang. Ia mengelus gulungan tua itu seolah-olah itu adalah kekasihnya. "Sesuai janji... dengarkan baik-baik, anak muda."
Pria tua itu membisikkan sesuatu ke telinga Tirta. Sebuah lokasi yang membuat jantung Tirta berdegup kencang. Benteng Karang Bolong. Tempat di mana laut bertemu dengan daratan dalam sebuah labirin gua yang mematikan.
"Mereka sedang mempersiapkan wadah baru di sana," bisik Ki Juru. "Dan mereka tidak sendirian. Mereka telah beraliansi dengan kekuatan dari seberang lautan."
Tirta meninggalkan kedai itu dengan kepalan tangan yang erat. Informasi telah didapat, namun ia tahu bahwa apa yang menanti mereka di Benteng Karang Bolong akan jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Di Megamendung yang dingin, perang yang sesungguhnya mulai memanas.