NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seputih Buah Persik

Malam di Jakarta begitu indah malam ini. Kesunyian merayap di antara gedung-gedung tinggi, namun di balkon kamar utama mansion Aditama, udara terasa statis dan penuh beban pikiran. Brian Aditama berdiri tegak di sana, hanya berbalut bathrobe sutra berwarna gelap yang dibiarkan terbuka sedikit di bagian dada bidangnya.

​Di jemarinya, sebatang cerutu Kuba menyala, bara merahnya menjadi satu-satunya titik terang di tengah kegelapan balkon. Asap putih tebal membumbung tinggi, menelan kesunyian malam yang dingin setelah sisa hujan tadi. Pandangan Brian jauh menembus kerlap-kerlip lampu kota, namun pikirannya tertuju pada satu nama. Reno.

​Sudah enam bulan sejak sahabat karibnya itu menghilang tanpa kabar. Reno benar-benar memegang kata-katanya. Sebuah janji gila yang lahir dari obsesi, bahwa dia akan menghilang sementara waktu dan hanya akan kembali jika sudah berhasil menghamili Jessy, mantan kekasihnya yang sudah membuat playboy itu terhina.

​"Dia lebih bajingan dariku," gumam Brian pelan.

​Senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di sudut bibirnya. Ada rasa hormat sekaligus ngeri pada kegilaan sahabatnya itu. Brian menghisap dalam cerutunya untuk terakhir kali, mengepulkan asapnya ke udara dengan perlahan, seolah melepaskan sisa-sisa ketegangan belakangan ini.

​Brian membalikkan badan. Melalui pintu kaca balkon yang sedikit terbuka, matanya tertuju pada ranjang king size di tengah ruangan. Di sana, di bawah cahaya temaram lampu tidur, Arumi berbaring lelap. Selimut sutra putih yang seharusnya menutupi tubuhnya hampir merosot ke lantai, menyingkap kulit seputih buah persik yang tampak bercahaya di bawah cahaya.

​Keindahan tubuh istrinya, sisa-sisa percintaan panas yang baru saja mereka lalui, seolah memanggilnya kembali. Brian mematikan cerutunya di asbak kristal, lalu berjalan pelan menuju nakas. Ia menuangkan sisa wine ke dalam gelas, meminumnya dalam satu tegukan besar, merasakan sensasi hangat yang membakar tenggorokan sekaligus membangkitkan kembali gairahnya.

​Dengan gerakan lambat, Brian melepas tali bathrobenya. Jubah itu jatuh tanpa suara ke lantai, memperlihatkan tubuh atletisnya yang tegang dan penuh hasrat. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Arumi dengan tatapan lapar yang tidak terpuaskan.

​Brian mengulurkan tangan, punggung tangannya menyusuri lekuk tubuh Arumi. Mulai dari bahu, turun ke pinggang, hingga ke paha bagian dalam. Sentuhan itu sangat lembut, namun penuh tuntutan.

​Arumi terusik. Ia menggeliat kecil, merasakan sensasi dingin dan hangat bergantian di kulitnya. Matanya yang sayu terbuka sedikit, bibirnya yang ranum mengeluarkan igauan lirih.

​"Brian... please... aku lelah sekali," cicitnya dengan suara serak, mencoba menarik sisa selimut untuk menutupi tubuhnya.

​Brian tidak menjawab. Alih-alih berhenti, ia justru naik ke atas ranjang dengan gerakan mengunci yang tenang. Ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Arumi, membukanya lebar-lebar tanpa ragu. Arumi mencoba memprotes, namun suaranya tenggelam saat Brian membenamkan wajahnya di sana.

​"Brian... akh!"

​Sentuhan perasa Brian yang terjulur, menggelitik titik paling sensitif milik Arumi, menciptakan sengatan yang menjalar ke seluruh saraf wanita itu. Lenguhan-lenguhan kecil mulai meluncur dari bibir Arumi, tangan kecilnya meremas sprei dengan kuat saat Brian semakin menggila.

​"Tidurlah biar aku yang melayani mu, sayang," bisik Brian di sela kegiatannya.

​Perasa pria itu bergerak lincah, menusuk ujungnya di kuncup bunga yang merekah dan menggerakkannya dengan ritme yang cepat dan presisi. Arumi benar-benar terjaga sekarang. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu saat gelombang dahaga kembali menghantamnya tanpa ampun.

​"Akh... Brian... akh! Cukup... ahhh!"

​"Belum, sayang. Belum cukup," goda Brian.

​Ia mendongak sebentar, menatap istrinya dengan mata yang menggelap karena api yang menyulut. "Kamu pikir aku akan membiarkanmu nyenyak tidur setelah apa yang kamu lakukan dengan Dona kemarin malam? Kamu membuatku bekerja keras, sayang. Sekarang, bayar harganya."

​Arumi mendongakkan kepalanya, leher jenjangnya menegang saat Brian kembali melakukan serangan yang lebih intens. "T- tapi... Dona sudah... ahhh... aman, kan?"

​"Dona aman. Frans aman. Sekarang giliranmu yang tidak aman dariku," bisik Brian dengan suara serak yang sangat menggoda.

​Brian menarik tubuh Arumi hingga posisi mereka sejajar, lalu mencium bibir istrinya dengan kasar dan menuntut. Di tengah ciuman itu, ia berbisik lagi, "Katakan padaku, Arumi. Apa kamu menyesal membela mereka?"

​Arumi mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Di bawah kungkungan tubuh besar suaminya, ia merasa sangat kecil sekaligus sangat diinginkan. "Aku... aku tidak menyesal. Mereka berhak bahagia."

​Brian tertawa rendah, sebuah tawa yang bergetar di lekuk ranum mereka yang bersentuhan. "Keadilan mu itu mahal harganya, Sayang. Dan malam ini, aku akan menagih setiap detiknya."

​Tangan Brian mencengkeram kedua tangan Arumi ke atas kepala, menguncinya dengan kuat. Ia menatap Arumi dengan intens yang mampu melelehkan siapa saja.

​"Brian, aku benar-benar... ah!"

​"Shhh. Jangan bicara lagi. Cukup bisikan namaku sampai matahari terbit," perintah Brian mutlak sebelum ia kembali membenamkan dirinya dalam kehangatan tubuh istrinya, mengabaikan urusan diluar, mengabaikan urusan Reno, dan mengabaikan segala urusan Aditama demi memiliki Arumi sepenuhnya malam itu.

​Di luar, hujan kembali turun rintik-rintik, membungkus mansion itu dalam keheningan yang kontras dengan bara yang menyala di dalam kamar utama.

...***...

Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang cerah menembus jendela kaca sebuah suite mewah di Hotel Hipton. Di dalam kamar, suasana terasa haru sekaligus penuh kelegaan. Dona tampak sibuk memasukkan beberapa potong pakaian terakhirnya ke dalam koper besar yang terbuka di atas tempat tidur.

​Meskipun sifat bar-bar dan keras kepalanya masih ada, pagi ini gurat wajahnya tampak jauh lebih lembut. Keberhasilannya memenangkan hati Frans dan kebebasan pria itu adalah kemenangan terbesar dalam hidupnya.

​Di sudut ruangan, Tiwi, sahabat sekaligus orang kepercayaan yang membantu Dona selama pelariannya dari New York, berdiri menatap Dona dengan senyum tipis. Tanpa bantuan Tiwi yang mengurus penerbangan dan menyembunyikan keberadaannya dari pandangan Brian di awal kedatangannya.

​Dona menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan cepat ke arah Tiwi dan langsung menghambur memeluknya dengan sangat erat.

​"Tiwi... aku tidak tahu harus bilang apa. Terima kasih, ya. Terima kasih banyak," bisik Dona tulus. Suaranya sedikit bergetar, menunjukkan sisi emosional yang jarang ia perlihatkan.

​Tiwi membalas pelukan itu sambil menepuk-nepuk punggung Dona. "Sudahlah, Don. Aku senang melihatmu akhirnya tersenyum seperti ini. Kamu sudah berjuang sangat keras untuknya."

​Dona melepaskan pelukannya, matanya berbinar. "Kalau bukan karena kamu yang menyiapkan tempat ini dan membantuku mengecoh orang-orang Papi, aku mungkin sudah diseret pulang ke New York sejak hari pertama."

​Tepat saat itu, suara ketukan pintu terdengar. Dona langsung tersenyum lebar, ia tahu siapa yang datang. Ia bergegas membuka pintu dan mendapati Frans berdiri di sana dengan kemeja rapi, tampak lebih segar seolah beban berat berton-ton telah terangkat dari bahunya.

​"Frans! Masuklah," ajak Dona sambil menarik lengan Frans masuk ke dalam kamar.

​Dona kemudian membawa Frans ke hadapan Tiwi. "Tiwi, kenalkan, ini Frans."

​Frans membungkuk sedikit dengan sikap hormat yang menjadi ciri khasnya. "Halo, Nona Tiwi. Saya Frans. Saya banyak mendengar tentang bantuan Anda untuk Nona maksud saya, untuk Dona. Terima kasih sudah menjaganya selama saya tidak bisa berada di sisinya."

​Tiwi menjabat tangan Frans sambil mengamati pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidiki khas seorang sahabat. "Jadi ini yang namanya Frans? Pantas saja Dona sampai mau nekat."

​Dona tertawa renyah mendengar godaan Tiwi. "Dia memang pantas diperjuangkan, Wi."

​"Tolong jaga dia, Frans," lanjut Tiwi dengan nada yang lebih serius. "Gadis ini mungkin terlihat tangguh dan keras kepala, tapi hatinya sangat rapuh kalau sudah menyangkut orang yang dia cintai. Jangan buat dia kabur lagi, karena mungkin kali ini aku tidak akan membantunya bersembunyi."

​Frans menatap Dona dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh janji. "Saya tidak akan memberinya alasan untuk kabur lagi. Kali ini, saya yang akan menjaganya, ke mana pun dia pergi."

​Dona tersenyum puas, ia kembali melanjutkan kemas-kemasnya dengan bantuan Frans. Ia harus kembali ke New York untuk menghadap Papinya, kali ini ia pergi dengan kepastian bahwa Frans akan bersamanya.

1
Miss Kay
Hai readers, Pernikahan Panas Sang Aktor sedang mempersiapkan season dua. Ceritanya nanti lebih hot and danger. Di tunggu yah... 👍
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
masak udh tamat thor, bagus in, knp tamatnya gantung
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
top
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
in sebenarnya yg lbh kaya siapa ya diantara ke 3 sahabat in, brian, reno, apa juan, harusnya yg kaya raya jadi raja kan brian sang tokoh utama, kok sprtinya dsn yg paling berkuasa si juan, mulai àgak ilfill sm jl critanya, maaf thor sekedar bertanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰: jg tamat dl ya soalnya bnr2 buagus
total 2 replies
kal sum
lanjut toorr
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ini kok ceritanya gt juan ya, juan ini sapa ya, terus kelanjutan yg reno gimana ya, kok kd2 bingung, tokoh utama brian dan arumin jg gak ad
Miss Kay
nice
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!