Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Kaisar Long Wei
Aula Utama Kekaisaran Daxuan tampak megah dengan pilar-pilar naga emas yang seolah siap menerkam siapa saja yang berniat jahat. Di atas singgasana, duduklah Kaisar Long Wei. Wajahnya tampan namun memiliki garis-garis kesombongan yang kentara. Ia sedang menyesap anggur merah saat sosok hitam muncul dari balik bayang-bayang dan berlutut di depannya.
"Han Shuo melapor kepada Yang Mulia," suara itu rendah dan tanpa emosi.
Long Wei meletakkan cawannya. Matanya yang tajam menatap Han Shuo—pria yang ia anggap sebagai senjata paling mematikan sekaligus paling setia yang ia miliki.
"Bagaimana laporan dari perbatasan? Apakah Bangsa Tang benar-benar sudah lumpuh?" tanya Long Wei dengan nada meremehkan.
"Pasukan Bangsa Tang tidak lagi memiliki taring, Yang Mulia. Mereka sibuk membenahi desa-desa yang hancur. Tidak ada tanda-tanda pemberontakan dalam waktu dekat," jawab Han Shuo. Pikirannya tetap jernih, meskipun sisa bayangan Permaisuri di pemandian tadi masih terngiang di kepalanya.
Long Wei tertawa puas. "Bagus. Tanpa pemimpin, mereka hanyalah sekumpulan domba. Ngomong-ngomong, Han Shuo, aku dengar kau salah masuk ke Paviliun Teratai malam ini? Kabar itu sampai ke telinga pengawal istana dalam."
Tubuh Han Shuo tetap tegap, namun ia sedikit menunduk. "Hamba memohon ampun. Kabut malam ini cukup tebal, dan kelelahan setelah perjalanan panjang membuat hamba kehilangan arah sesaat."
Long Wei melambai-lambaikan tangannya seolah itu hal sepele. "Ah, sudahlah. Tidak perlu terlalu formal. Lagi pula, siapa yang tertarik dengan paviliun itu? Permaisuri gemuk itu pasti sedang mendengkur sambil memeluk piring daging. Aku bahkan hampir lupa kalau wanita itu masih hidup. Bagaimana kondisinya? Masih sebentuk gunung daging?"
Han Shuo terdiam sesaat. Kalimat kaisar yang meremehkan itu memicu sesuatu yang asing di hatinya. "Yang Mulia Permaisuri... terlihat berbeda malam ini. Ia tidak sedang tidur. Ia sadar, dan ia memiliki mata yang waspada."
Long Wei mengernyit. "Berbeda? Maksudmu dia semakin gemuk hingga matanya tidak terlihat? Hahaha!"
Han Shuo tidak ikut tertawa. "Bukan, Yang Mulia. Ada sesuatu dalam tatapannya yang... tidak biasa."
"Sudahlah, Han Shuo. Jangan buang waktumu mengamati tumpukan lemak itu. Tetaplah fokus pada tugasmu," ucap Long Wei dengan senyum licik.
Han Shuo mundur ke dalam kegelapan setelah memberi hormat. Di dalam hatinya, kebencian membara. Long Wei, kau terlalu sombong. Kau bahkan tidak tahu bahwa 'gunung lemak' yang kau remehkan itu sedang mengasah taringnya, sama sepertiku.
Keesokan paginya di Paviliun Teratai.
Matahari baru saja naik, namun Lin Yue sudah bangun. Tubuhnya terasa pegal luar biasa akibat latihan sore kemarin, namun ia tidak menyerah. Seorang petinju tahu bahwa rasa sakit adalah tanda bahwa otot sedang bekerja.
"Xiao Xiao, bawakan aku air hangat. Tanpa gula, tanpa camilan," perintah Lin Yue saat ia duduk di tepi ranjang.
Xiao Xiao masuk dengan wajah cemas. "Yang Mulia, Selir Ning baru saja mengirimkan sarapan. Kali ini adalah bakpao daging babi ekstra lemak dan sup kental manis. Pelayannya bersikeras agar hamba segera menyajikannya kepada Anda."
Lin Yue berdiri perlahan, merasakan berat tubuhnya menekan lutut. Ia berjalan menuju meja di mana nampan mewah itu diletakkan. Aroma bumbunya memang menggoda, tapi bagi Lin Yue, ini adalah racun yang dibungkus kenikmatan.
"Bawa pelayan Selir Ning masuk," ujar Lin Yue dingin.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan senior bernama Bi Er masuk dengan dagu terangkat. Ia adalah tangan kanan Selir Ning dan merasa posisinya lebih tinggi daripada Permaisuri yang dibuang ini.
"Yang Mulia, silakan dinikmati. Nyonya Selir sangat memperhatikan kesehatan Anda," ucap Bi Er tanpa membungkuk hormat dengan benar.
Lin Yue menatap bakpao yang masih mengepul itu, lalu menatap Bi Er. "Bi Er, benarkah ini untuk kesehatanku?"
"Tentu saja, Yang Mulia."
Lin Yue mengambil satu bakpao yang berminyak itu. "Baunya harum sekali. Karena kau yang membawanya dan mengatakan ini sehat, bagaimana kalau kau yang memakannya di depanku? Sebagai bentuk kesetiaanmu."
Wajah Bi Er berubah pucat. "Hamba... hamba tidak berani, Yang Mulia. Ini adalah makanan khusus untuk Anda."
"Makan," perintah Lin Yue. Suaranya rendah namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk Bi Er berdiri. Insting petinju Lin Yue keluar—ia menggunakan intimidasi mental yang biasa ia pakai sebelum pertandingan.
"Hamba... hamba sedang berpuasa untuk doa di kuil, Yang Mulia," kilah Bi Er gemetar.
Lin Yue tertawa sinis. Ia menjatuhkan bakpao itu kembali ke piring. "Puasa? Atau kau takut menjadi sebesar aku? Xiao Xiao, ambil semua makanan ini. Berikan pada anjing-anjing penjaga di gerbang belakang. Aku ingin tahu apakah anjing pun akan menjadi malas setelah makan ini."
"Tapi Yang Mulia, Selir Ning akan marah..." Xiao Xiao berbisik ragu.
"Biarkan dia marah. Mulai hari ini, setiap makanan yang masuk ke paviliun ini harus melalui pengujianku. Dan kau, Bi Er," Lin Yue mendekati pelayan itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Tubuh besar Lin Yue memberikan efek tekanan yang luar biasa. "Sampaikan pada majikanmu. Permaisuri sedang ingin 'diet'. Jika dia ingin mengirim sesuatu, kirimkan sayuran segar dan buah-buahan. Jika tidak, jangan berani menginjakkan kaki di paviliunku."
Bi Er lari keluar dengan ketakutan. Ia belum pernah melihat Permaisuri Lin Yue bersikap seberani ini.
***
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih banyak❤️
🧐