NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rengking Pertama Dan Rengking Terakhir

Lorong depan mading sekolah pagi itu lebih ramai dari biasanya.

“Nilai udah keluar!”

“Serius? Semester satu?”

“Juara umum siapa?”

Aira berdiri agak belakang di kerumunan, berjinjit kecil sambil memegang tasnya.

Aira tidak terlalu bersemangat. Jujur saja, dia sudah menyiapkan diri untuk hasil apa pun.

“Eh, geser dikit dong!”

“Nama gue ketutup!”

Kata salah satu siswa bernama Bonnie, semua orang serentak bergeser, Aira akhirnya bisa melihat papan mading itu.

Matanya langsung melihat daftar dari atas.

Peringkat 1 dari 100 siswa:

DAMAR – 2 A

Aira tersenyum lebar.

“Oh, Damar,” gumamnya ringan. “Pasti.”

Aira tidak kaget. Sama sekali, matanya turun ke bawah, terus ke bawah, sampai baris paling akhir.

Dan di sana-peringkat 100 dari 100 siswa:

AIRA – 2 E

Aira berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu… tersenyum lagi.

“Yah,” katanya pelan. “Sudah lah,"

Di sampingnya Bonnie terkekeh

"Hah gue naik peringkat jadi ke 99," Bonnie melirik ke arah Aira.

"Ada yang lebih bego dari gue,"

Aira mundur selangkah, tidak ikut menertawakan dirinya sendiri, tapi juga tidak menunduk.

“Ya sudah,” gumamnya. “Setidaknya konsisten.”

Saat itulah seseorang berdiri di sampingnya.

“Kamu kelihatan santai.”

Suara itu, Aira menoleh dan langsung tersenyum cerah.

“Selamat ya, Damar!”

Damar berdiri dengan tangan di saku, menatap papan mading tanpa ekspresi.

“Kamu juara umum,” lanjut Aira tulus. “Keren.”

Damar melirik Aira heran,

“Kamu lihat punyamu?”

“Iya."

“Dan kamu masih bisa senyum?”

“Trus aku harus gimana?,” jawab Aira ringan. “Aku harus nangis gitu,"

Damar menatapnya lama, terlalu lama.

“Aneh, urat malunya putus,,” katanya akhirnya.

“Apa?”

“Kamu itu,” Damar menyeringai tipis, “contoh positive thinking yang salah kaprah.”

Aira tertawa kecil. “Terima kasih?”

“Itu sarkas” lanjut Damar datar, “kamu peringkat paling bawah satu sekolah.”

Aira mengangguk.

“Iya. Aku tahu.”

“Dari seratus siswa,” Damar menekankan, “kamu yang paling,”

“Paling bawah,” potong Aira santai. “Aku bisa baca.”

Beberapa siswa mulai melirik, menunggu drama. Damar mendekat sedikit, suaranya diturunkan, tapi tajam.

“Kamu ini aneh,” katanya. “Atau memang bodoh permanen,”

“Kenapa?”

“Harusnya kamu mikir!"

Aira mengangkat bahu.

“Aku baik-baik saja"

Damar tertawa pendek.

“Kamu ini benar-benar,"

Damar berhenti sejenak, menatap mata Aira.

“Gadis paling positive thinking,” katanya sarkas.

Aira menoleh ke Damar, Damar menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.

“Suatu hari,” katanya dingin, “kenyataan bakal lebih kejam dari senyum kamu.”

Aira mengangguk. “Mungkin.”

Lalu Aira melangkah pergi, di belakangnya, Damar masih berdiri di depan mading.

Di Dalam kelas Damar duduk termenung, sambil memikirkan Aira.

"Dia kenapa sih, selalu tersenyum di kondisi paling buruk sekalipun," Gumam Damar dalam hati.

"Ini jelas tidak sehat, sebetulnya dia kenapan sih?" Pertanyaan itu memenuhi pikirannya.

Saat pulang sekolah pun Aira terlihat baik-baik saja, Itu sangat mengganggu Damar.

"Jangan Senyum terus," Kata Damar ketus,

"Lho kenapa, terserah aku lah," Jawab Aira tenang terlalu tenang.

"Kamu tuh pernah mikir nggak Aira?"

Aira terdiam sejenak.

"Ini aku lagi mikir," Katanya dengan nada bercanda.

Tak lama bus datang tepat berhenti di depan mereka pintu bus terbuka dengan suara mendesis.

Damar buru-buru masuk, di susul Aira, Aira hendak duduk di samping Damar.

Namun Damar menyimpan tasnya di kursi, Aira kemudian berjalan menuju kursi persis di belakang Damar.

"Oh, ok,"

Damar sedikit memalingkan wajah.

"Kenapa malu ya duduk sama peringkat terakhir,"

"Kamu ngerti nggak sih maksud aku," Damar menjawab tanpa menoleh.

Aira terdiam sambil menatap punggung Damar.

"Kamu nggak bertanggung jawab sama diri kamu,"

"Hah," Aira sedikit tersentak.

"Itu yang bikin aku nggak suka sama kamu,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!