Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Terjebak Perasaan
****
Ariana berlari menuju toilet. Detak jantung nya mendadak tak karuan. Sesampai nya di toilet, Ariana langsung menyalakan kran air. Menatap diri melalui cermin, tampak sangat kusut. Padahal sebelum masuk ke ruangan Marvin tadi, Ariana sempat merapikan diri nya.
" Ya Tuhan... kenapa kami harus bertemu kembali?"
Ariana memegang kepalanya dengan kedua tangan, lalu menunduk. Bayangan masa lalu yang bahagia terekam jelas dalam benak nya. Susah payah melupakan kenangan manis itu, tapi Tuhan justru kembali mempertemukan mereka.
Ariana tak menyangka kembali bertemua dengan masa lalu nya. Bertemu dengan orang yang pernah mengisi hati nya. Orang yang waktu itu Ariana tinggalkan begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Ariana membasuh wajah nya dengan air yang mengalir. Memberikan kesegaran pada wajah nya mulai terasa ketat.
Dan sat membuka pintu toilet, dia kaget dengan kehadiran Lily di sana. Lily memandangi Ariana dari bawah ke atas.
" Loe cuci muka? Kenapa? Nggak biasa - biasa nya?" Tanya Lily curiga.
" Gue... lagi gerah saja tadi makanya cuci muka." Jawab Ariana berbohong.
" Loe nggak lagi bohong sama Gue kan? " Tanya Lily mendekat kan wajah nya pada Ariana.
Ariana bergerak mundur satu langkah saat Lily mendekat kan wajah nya.
" Emang ada manfaat nya Gue bohong sama Loe?" Ariana balik bertanya.
" Tapi perasaan Gue nggak enak nih. Udah. Jujur aja sama gue. Loe habis nangis kan?" Tebak Lily.
" Gue nggak habis nangis, Lily. Sok tau Loe." Bantah Ariana.
" Mana ada, Ari. Orang kegerahan mata nya merah gitu. Loe habis nangis kan? Mata loe merah gitu, pipi loe sembab. Pasti habis nangis." Desak Lily agar Ariana jujur.
Ariana tersenyum kecut. Dia memaksakan untuk tersenyum namun tatapan Lily membuat senyum Ariana memudar dan dia menangis memeluk Lily.
" Ariana, loe kenapa?"
Sebagai teman yang paling dekat dengan Ariana, Lily tidak tega melihat Ariana menangis. Di peluk nya Ariana dengan erat. Dia tidak peduli Ariana mau bercerita atau tidak. Namun yang dia pikirkan adalah Ariana perlu pelukan.
" Tenangkan diri loe." Ujar Lily seraya mengusap punggung Ariana.
" Ly, gue. Gue..."
Ariana tak sanggup melanjutkan ucapan nya. Dada wanita itu terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar menghimpit nya sehingga dia sulit sekali untuk bernafas.
" Sstt... udah nggak usah ngomong apa - apa. Kalau loe mau nangis, nangis aja dulu. Luapkan kesedihan Loe di depan gue. Gue janji nggak akan memaksa Loe cerita."
Makin deras lah air mata Ariana mengalir. Dalam dekapan Lily, wanita itu mencurahkan isi hati nya lewat tangis nya. Kehadiran Lily sedikit banyak nya meringan kan beban yang di pikul selama bertahun - tahun.
" Makasih ya, Ly. Loe udah mau jadi sandaran gue kalau Gue lagi sedih."
" Bukan kah tugas sahabat itu memang seperti itu. Harus saling support kan? Loe aja yang nggak setia kawan. Punya masalah bukannya bilang sama Gue malah nangis sendiri."
" Bukan gue nggak mau bilang sama Loe. Cuma belum sempat saja. Biasa lah soal kuliah Amel. Bulan depan Amel mau koas. Masih banyak biaya kuliah Amel yang mesti gue bayar." Ucap Ariana berbohong.
" Ya ampun, Ari. Loe yang sabar ya. Gue tau kok selama ini Loe mampu berjuang sendiri untuk kuliah Amel. Maaf, Gue nggak bisa bantu, loe kan tahu sendiri Gue juga bayarin uang sekolah adek - adek gue."
Ariana tersenyum.
" Nggak papa, Ly. Loe udah mau dengerin cerita gue aja, itu sudah sangat membantu Gue." Ucap Ariana tersenyum.
*
*
*
Menjelang maghrib, Ariana terlihat sangat sibuk di meja kerja nya. Dia membereskan tumpukan berkas yang harus kembali dia periksa besok pagi.
Tak berapa lama Marvin yang baru keluar dari ruangan nya menghampiri Ariana.
" Ariana, sudah mau pulang?" Tanya Marvin penuh senyum.
" Iya, Pak."
" Ayo, kita pulang sama. Saya antar ya. Sudah sore begini pasti kamu susah dapat bus yang kosong." Tawar Marvin.
" Tidak usah, Pak. Terima kasih. Tapi saya bisa naik taksi online saja pak." Tolak Ariana dengan sopan.
" Saya bukan nya menawarkan tumpangan sama kamu. Tapi saya memaksa kamu untuk mau saya antar pulang." Ujar Marvin dengan nada memaksa.
Ariana mendesah pelan seraya tersenyum kecil.
" Ya sudah kalau di paksa. Memang nya saya bisa nolak? Terpaksa ikut kan?" Jawab Ariana.
" Pak Marvin..." Panggil suara bariton dari arah kanan.
Ariana dan Marvin bersamaan menoleh ke arah datang nya suara.
Rocky yang berjalan beriringan dengan Jhony, assisten nya mendekati Marvin.
" Pak Rocky. Saya pikir bapak sudah pulang tadi?" Sapa Marvin dengan ramah.
" Saya baru datang hari ini, tidak mungkin saya pulang secepat itu. Banyak hal yang membuat saya betah berlama - lama di tempat ini."
Ariana menajamkan ekor mata nya melirik Rocky.
" Besok pastikan lagi semua tim hadir dalam pertemuan yang sudah kita atur. Peluncuran iklan yang baru itu harus berhasil dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun sehingga membuat kita menunda nya lagi. " Ucap Rocky tegas kepada Marvin.
" Baik Pak Rocky. Saya bisa pastikan proyek kita kali ini berhasil di luncurkan sesuai dengan agenda kita." Sahut Marvin mantap.
Lantas Rocky melirik jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
" Sudah mau pulang kan? Ayo." Ajak Rocky yang berjalan lebih dulu.
Mereka pun bersamaan memasuki lift. Selama berada di dalam lift Rocky tampak asyik membaca email penting yang di kirim oleh papa nya mengenai klien penting. Dia menggerakkan jari nya membalas email tersebut hingga lupa dengan orang lain yang berada di dalam lift dengan nya.
" Aneh... kenapa jantung gue jadi dag dig dug gini sih? Apa karena sari lift sana Rocky? Nggak nggak. Jangan kepedean Ariana, emang loe kebanyakan minum kopi saja sampai jantung loe berdebar kencang gitu." Bathin Ariana kemudian menggelengkan kepala nya.
Marvin yang melihat Ariana menggeleng menjadi heran pada Ariana. Takut Ariana kenapa - kenapa.
" Kamu nggak papa, Ariana?" Tanya Marvin penuh ke khawatiran.
Rocky hanya melirik tajam ke belakang. Hanya mendengar kan tanpa mau merespon apa pun.
Ariana menggeleng kikuk.
" Nggak pak. Saya nggak kenapa - kenapa kok. Cuma bari ingat saja kalau Amel pulang cepat hari ini." Jawab Ariana berbohong.
" Iya, bagaimana dengan kuliah Amel? Kapan dia akan mulai koas?"
" Bulan depan, Pak. Sekarang lagi menyusun program nya."
" Kalau begitu nanti saya mau mampir sebentar ya. Sudah lama tidak ngobrol - ngobrol dengan Amel."
Ariana menatap punggung Rocky lalu mengangguk pelan. Dia sebenar nya takut menjawab apa - apa. Takut Rocky akan berpikir yang tidak - tidak tentang nya.
Ting
Pintu lift terbuka. Rocky keluar lebih dulu lalu di susul oleh Jhoni lalu Marvin dan Ariana.
" Kalau begitu sampai bertemu besok pak Marvin." Ujar Rocky.
" Apa besok pak Rocky alan datang kesini lagi? Bukan nya pak Rocky stay di perusahaan pusat?" Tanya Marvin heran.
Rocky melirik ke arah Ariana sejenak yang langsung di balas tatapan dingin dari Ariana.
" Tidak, pak. Seperti nya saya akan stay di anak perusahaan saja. Agar anak perusahaan bisa berkembar sama pesat nya dengan perusahaan pusat." Jawab Rocky.
" Gila nih gila. Yang ada gue bakal makin gila di kantor. Satu kantor sama Rocky. Dan bakal ketemu tiap hari. Ya Tuhan... rencana apa yang sedang Engkau susun ini?" Bathin Ariana.
" Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi duluan." Pamit Marvin.
Ariana hanya menunduk dan menetap Rocky sebentar saat Rocky malah membuang wajah nya ke arah Jhoni. Dia pun mengikuti langkah Marvin menuju basemen.
Saat merasakan kalau Ariana dan Marvin sudah jauh, Rocky kembali meluruskan pandangan nya menatap punggung Ariana yang semakin jauh.
" Huh..." Desah Rocky.
" Tadi saja sok jual mahal. Sekarang malah ngelihatin sampai segitu nya. Bilang saja kalau rindu. Tinggal samperin orang nya, udah. Gampang kan? Nggak perlu lah sok - sok jual mahal gitu. Yang ada rugi." Cibir Jhoni menyenggol lengan Rocky.
" Sok tau Loe. Punya pacar saja nggak, sok ngerti perasaan gue lagi." Sanggah Rocky yang mulai berjalan.
" Ya tahu lah. Justru kadang saya bisa lebih tahu perasaan bos dari pada tuan dan nyonya besar. Sekalian lebih peka."
" Nggak semudah itu, Jhon. Siapa bilang gue rindu dengan dia. Justru gue begitu benci dengan dia. Dia yang sudah berani menghancurkan perasaan gue dulu. Sekarang saat gue membalaskan rasa sakit hati gue selama tiga tahun ini."
Jhoni tersenyum seraya menggeleng.
" Bos, bos. Benci dan cinta itu hanya beda tipis. Bahkan kadang susah untuk di bedakan. Awas... salah sasaran. Yang ada hanya akan semakin melukai."
*
*
*
Saat Rocky dan Jhoni sampai di basemen, mobil Marvin lewat dari hadapan nya. Rocky bisa melihat senyuman Ariana yang menggantung dengan bahagia di sana.
" Bisa - bisa nya dia tersenyum dengan laki - laki lain di saat aku begitu menderita karena dia selama tiga tahun ini." Bathin Rocky mengepalkan tangan nya.
Dengan cepat Jhoni pun melajukan mobil nya keluar dari area perusahaan.
Saat di jalan, Rocky yang sibuk dengan ponsel nya karena terus berdering akibat panggilan dan chat dari Nelly membuat Rocky membuang pandangan nya ke jalan. Menatap gedung - gedung yang menjulang tinggi.
" Kenapa tidak di angkat?" Tanya Jhoni melirik ponsel yang di genggam Rocky.
" Dari Nelly. Paling dia cuma mau tanya sampai rumah jam berapa." Jawab Rocky.
" Gue nggak tahu lagi, Jhon. Harus bilang bagaimana dengan orang tua gue. Mereka terus saja memaksa gue agar segera bertunangan dengan Nelly. Padahal gue udah bilang kalau gue nggak suka sama Nelly. Tapi mama malah bilang kalau cinta itu bisa datang seiring kita terus bersama." Desah Rocky putus asa.
" Kenapa tidak mencoba menjalani nya saja? Coba menerima nona Nelly dengan baik. Dekati dan kenali dia. Mungkin bos bisa mulai suka dan menerima nona Nelly menjadi calon istri bos Rocky." Usul Jhoni.
" Gue udah pernah coba. Tapi gue tetap nggak punya perasaan apa - apa dengan dia."
" Itu karena bos masih terikat dengan masa lalu. Masih berharap bisa bersama lagi dengan nona Ariana. Kisah bos dan nona Ariana itu, belum selesai. Saya rasa masih banyak tanda tanya yang menggantung untuk segera di jawab."
Rocky membuang nafas nya kasar. Dia menggusar rambut nya dan meluruskan pandangan nya ke jalan.
Dia tersentak saat dia menyadari jika jalan yang mereka lewati sekarang ini bukan lah jalan menuju rumah.
" Kita mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah." Rocky menatap Jhoni heran.
" Kita memang tidak pulang. Saya hanya mengikuti mobil nya pak Marvin saja. Tuh... Biar bos bisa tahu dimana tempat tinggal nona Ariana sekarang." Jhoni memajukan dagu nya menunjuk mobil Marvin yang melaju di depan nya dengan santai.
" Tapi saya nggak mau tahu dimana rumah dia, Jhoni."
" Mungkin bos tidak mau tahu. Tapi saya perlu tahu. Kali saja nanti saya bakal di suruh jemput nona Ariana ke rumah nya. Jadi saya tidak akan repot - repot lagi mencari alamat nona Ariana. Karena saya sudah tahu duluan."
Rocky memandang Jhoni dengan heran. Tidak habis pikir jika Jhoni menebak isi pikiran nya sekarang. Yang sejak tadi dia juga penasaran kemana Marvin akan membawa Ariana pergi.
*
*
*
" Loe yakin ini alamat nya?" Tanya Rocky memandangi kiri dan kanan nya.
Jhoni menatap Rocky dan mencibirkan bibir nya.
" Ck... kata nya nggak mau tahu. Tapi kepo juga."
" Gue nggak kepo. Gue takut saja loe salah jalan atau salah ngikutin mobil. Kan jadi nyasar kita." Elak Rocky dengan wajah tak bersalah nya.
" Sudah lah bos ngaku saja. Apa susah nya sih." Celetuk Jhoni tersenyum.
" Tuh..." Tunjuk Jhoni memajukan dagu nya ke arah depan.
Rocky menoleh ke arah kiri dan dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Marvin yang masih berdiri di depan pintu rumah Ariana tersenyum lebar seraya bincang dengan Amelia.
Begitu juga dengan Ariana yang ikut tersenyum. Posisi nya masih berdiri di sebelah Marvin membuat hati Rocky terbakar api cemburu yang membara.
" Masih nggak mau ngaku sama perasaan bos sendiri?" Tanya Jhoni.
" Kalau begini terus, bos bakal benar - benar kehilangan nona Ariana selama nya." Sambung Jhoni lagi.
Rocky menggeram, otot-otot tangannya menegang, urat-uratnya menonjol seakan hendak meledak. Rasa cemburu membara dalam dadanya, namun dia harus menyembunyikan amarah itu di hadapan asistennya.
Tapi, semakin dia berusaha untuk menahan, semakin kuat pula cemburu itu menerkam hatinya, mengoyak ketenangan batin seakan-akan api yang tak terpadamkan menyalak dalam dirinya hanya karena Ariana.
* Monggo merapat buat yang galau... Hatur nuhun...