NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 27 Sebelum Jawaban Itu Datang

Pagi itu, Naya berangkat sendirian menuju rumah sakit. Ia tidak menjelaskan banyak pada Adit, hanya mengatakan ingin melakukan pemeriksaan kesehatan. Adit yang sedang dikejar target pekerjaan mengangguk singkat, menanyakan apakah Naya akan diantar sopir atau membawa mobil sendiri.

“Mas ada rapat seharian,” katanya sambil merapikan dasi. “Hati-hati di jalan, ya.”

Naya tersenyum kecil dan mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan kesibukan suaminya. Bagi Naya, tidak perlu memaksakan kegelisahan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya untuk dibagi sekarang.

Sepanjang perjalanan, pikirannya tak bisa diam. Kalimat Ratna kembali terngiang, meski ia berusaha keras menepisnya.

Perempuan kalau tidak bisa memberi keturunan…

Naya menarik napas panjang. Ia tak ingin larut, tapi pertanyaan itu tetap muncul tanpa bisa dicegah.

Apa aku yang bermasalah?

Tangannya mencengkeram setir lebih erat. Hampir empat tahun menikah, hidup mereka baik-baik saja. Tak pernah ada konflik besar. Adit bertanggung jawab, pekerjaannya stabil, ekonomi mereka aman. Namun ada satu ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.

Anak.

Setiap bulan Naya berharap. Menunggu perubahan kecil pada tubuhnya. Dan setiap kali harapan itu runtuh, ia memilih diam, menyimpannya sendiri. Tidak ada tangisan berlebihan, tidak ada keluhan.

Ia takut.

Takut jika ternyata masalah itu ada pada dirinya. Takut jika suatu hari Adit lelah menunggu. Takut jika ia menjadi perempuan yang “kurang” di mata keluarga suaminya.

Sampai di rumah sakit, Naya duduk beberapa saat di dalam mobil. Ia menatap gedung tinggi di depannya. Tangannya sedikit gemetar saat mematikan mesin.

Aku harus tahu, batinnya. Daripada terus bertanya-tanya.

Di ruang pendaftaran, Naya mengisi formulir dengan tenang. Ia memilih pemeriksaan dasar lebih dulu. Ketika namanya dipanggil, ia mengikuti perawat menuju ruang dokter dengan langkah agak kaku.

Dokter perempuan paruh baya itu menyambutnya dengan ramah. Setelah mendengar keluhan Naya, ia mengangguk pelan.

“Untuk hasil yang paling akurat,” jelasnya profesional, “pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh suami dan istri bersama.”

Naya menunduk sebentar. Ia sudah menduganya.

“Kalau hanya ibu yang diperiksa,” lanjut dokter itu, “hasilnya tetap bisa jadi gambaran awal, tapi belum bisa disimpulkan sepenuhnya.”

“Tidak apa-apa, Dok,” jawab Naya pelan. “Saya ingin mulai dari sini dulu.”

Dokter tidak memaksa. Ia menjelaskan prosedur dan waktu tunggu hasil.

“Hasilnya sekitar dua minggu,” katanya di akhir.

Dua minggu. Waktu yang terasa panjang, namun Naya menerimanya. Setidaknya, ia sudah melangkah satu langkah ke depan.

Keluar dari ruang dokter, perasaannya campur aduk. Tidak lega, tidak juga sepenuhnya cemas. Hanya hampa.

Wajah Adit terlintas di benaknya. Betapa lelahnya suaminya akhir-akhir ini—pulang malam, makan seadanya, kadang tertidur sebelum sempat berbincang panjang.

Aku belum siap membicarakan ini sekarang, pikirnya. Biarlah aku tahu dulu hasilnya.

Naya berjalan menuju lobi rumah sakit, berniat langsung pulang. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok seorang perempuan muda di sudut ruangan.

Perempuan itu menangis sambil menggendong seorang anak kecil. Anak itu tampak lemas, kepalanya bersandar di dada ibunya, sesekali merengek pelan.

Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di dada Naya.

Wajah itu terasa familiar.

Naya melangkah mendekat, perlahan. Ingatannya menguat seiring jarak yang menyempit.

Kasir swalayan…

“Mbak?” sapa Naya pelan.

Perempuan itu menoleh. Matanya sembap, wajahnya pucat. “Mba… Naya?” ucapnya ragu.

Naya mengangguk. “Mira, kan?”

Tangis Mira kembali pecah. Naya refleks duduk di sampingnya.

“Kenapa nangis di sini? Anaknya kenapa?” tanya Naya lembut.

“Ini anak saya, Mbak. Rafi,” jawab Mira lirih. “Dokter bilang harus operasi. Hernia terjepit. Tapi saya nggak punya biaya.”

Naya menatap anak itu. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Dadanya terasa sesak.

Tanpa banyak pikir, Naya berdiri.

“Kalau begitu jangan ditunda. Bawa anakmu masuk sekarang.”

Mira panik menggeleng. “Tapi Mbak, biayanya—”

“Biar saya urus,” potong Naya tegas tapi tenang. “Sekarang fokus anakmu dulu.”

Mira menatapnya tak percaya. “Mbak serius?”

“Iya. Ayo.”

Naya langsung menuju bagian administrasi. Ia mengurus pendaftaran, memastikan semua berjalan cepat. Mira berdiri di belakangnya dengan tubuh gemetar.

“Silakan anaknya dibawa ke ruang tindakan,” kata petugas akhirnya.

Mira hampir menangis lagi. “Terima kasih, Mbak…”

“Bawa Rafi dulu,” jawab Naya singkat.

Operasi kecil itu dijadwalkan sore hari. Mira menunggu di depan ruang perawatan, wajahnya pucat, tangannya gemetar.

“Terima kasih, Mbak Naya,” ucapnya lirih. “Kalau bukan karena Mbak, saya benar-benar nggak tahu harus bagaimana.”

“Yang penting anaknya ditangani,” jawab Naya.

“Rasanya Allah kirim Mbak ke saya hari ini.”

Ucapan itu membuat dada Naya terasa hangat sekaligus nyeri.

Ia pergi menuju parkiran, masuk ke mobil tanpa langsung menyalakan mesin.

Kenapa aku selalu bertemu anak-anak yang membutuhkan ibu? batinnya.

Bayangan Aluna muncul lagi. Cara anak itu memanggilnya ummi.

Tangannya menyentuh perutnya sendiri.

Aku bahkan belum tahu… apakah aku bisa menjadi ibu.

Di rumah, suasana sunyi menyambutnya. Adit belum pulang. Naya duduk di tepi ranjang, mengeluarkan map hasil pemeriksaan awal. Ia tidak membukanya. Hanya menatapnya lama.

...----------------...

Selamat pagi readers selamat membaca

Like komennya dong terimakasih...

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!