Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kopi pertama harapan baru
Darrel membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata. Namun, pikirannya terus berkelana. Dia memikirkan banyak hal: "Bagaimana jika tidak ada yang membeli kopi nanti? Bagaimana jika nanti motor mogok di tengah jalan? Bagaimana jika anak-anaknya rewel saat aku sedang melayani pembeli?"
Keraguan mulai menghantui Darrel. Dia merasa takut serta cemas. Takut gagal dan mengecewakan anak-anaknya. Akan tetapi, dia tidak punya pilihan lain selain mencoba. Dia harus berjuang untuk masa depan mereka.
Darrel bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Dia menatap langit malam yang gelap dan sunyi. Bintang-bintang berkelip dengan indahnya dari kejauhan, seolah memberikan semangat kepadanya.
"Aku harus yakin," bisiknya pada diri sendiri. "Aku tidak boleh menyerah."
Kemudian Darrel teringat akan kata-kata Mami Mia, saat dirinya masih kecil. "Jangan pernah takut untuk bermimpi, Bang Rel. Tapi jangan lupa juga untuk bekerja keras demi mewujudkan mimpimu."
Kata-kata itu memberinya kekuatan baru. Dia sadar tidak bisa hanya bermimpi, tetapi harus bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Agar dapat membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa berhasil, meskipun tanpa bantuan keluarganya.
Darrel kembali ke tempat tidur dan mencoba memejamkan mata. Kali ini, dia berhasil terlelap dan tertidur pulas.
.
.
.
Keesokan harinya, Darrel bangun pagi dengan semangat baru. Dia mempersiapkan diri dan anak-anaknya untuk berjualan. Setelah membuatkan sarapan sederhana untuk mereka, dia memandikan Zayn dan Zoey bergantian lalu memakaikan mereka pakaian yang bersih.
"Papa, hari ini kita jadi jualan kopi?" tanya Zoey pada saat mereka sarapan bersama.
"Iya, Sayang. Hari ini kita mulai berjualan kopi," jawab Darrel sambil tersenyum.
"Yeaaa....!" Zoey dan Zayn berseru dengan semangat.
Selesai makan, Darrel di bantu Zayn dan Zoey membawa perlengkapan dagangannya ke atas sepeda motor. Setelah semua siap, Darrel menaikkan Zoey dan Zayn ke atas gerobak di bagian belakang. Dia memastikan mereka duduk dengan nyaman dan aman.
"Siap?" tanya Darrel.
"Siap!" jawab Zoey dan Zayn serentak.
Saat Darrel akan menyalakan mesin motornya, seorang tetangga yang sering dimintainya tolong menjaga si kembar, lewat depan rumahnya dan menyapa, "Loh, Mas Darrel mau jualan, nih?"
"Aaa...iya, Bu. Hari ini mulai," jawab Darrel sambil tersenyum.
"Terus si kembar sama siapa?" tanya Bu Murni.
"Mereka ikut saya jualan, Bu."
"Apa Mas Darrel yakin mengajak mereka? Kasihan loh, bagaimana jika mereka di rumah bersama saya saja?" tawar Bu Murni.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya akan mencobanya dulu," kata Darrel. "Terima kasih tawarannya. Mari."
Darrel lantas menyalakan motornya kembali dan mulai melaju dengan lambat meninggalkan halaman rumahnya yang telah terkunci.
Bu Murni menatapnya dengan pandangan prihatin. "Kasihan sekali Mas Darrel. Padahal mah, sudah tampan, sabar, mau merawat anak-anak pula. Kalau masalah harta kan, bisa dicari bareng-bareng," gumamnya sembari menggelengkan kepala.
"Apapun usahamu, semoga Tuhan memudahkan segala urusanmu. Aamiin." Sedikitnya wanita paruh baya itu tahu permasalahan dalam rumah tangga Darrel, tetapi karena ia bukan orang yang mulut ember jadi tidak pernah membicarakan hal tersebut pada orang lain.
.
Darrel membawa motornya menyusuri jalanan kota, mencari tempat yang strategis untuk berjualan. "Semoga hari ini membawa berkah," gumamnya dalam hati.
Setelah beberapa saat, Darrel menemukan sebuah taman kecil di pinggir jalan. Taman itu cukup ramai oleh orang-orang yang sedang berolahraga pagi.
"Sebaiknya aku mangkal di sini saja," gumamnya lalu turun dari motor setelah memarkirkannya di pinggir taman.
"Kita turun, yuk!" ucapnya kemudian menurunkan Zoey dan Zayn dari atas motor.
"Kita berjualan di sini, Pa?" jawab Zoey seraya menatap papanya dengan mata berbinar.
"Iya, Sayang. Kalian boleh main di sini, tapi jangan jauh-jauh, ya. Harus tetap dalam pengawasan Papa," kata Darrel sambil menunjuk ke arah sarana permainan yang ada di taman.
"Kalian, Paham?" tanyanya memastikan anaknya menuruti intruksinya.
"Oke, Papa!" jawab Zayn dan Zoey.
"Zayn kan, Abang. Jaga adiknya ya, Sayang," pesan Darrel kemudian.
"Siap!" ucap Zayn seraya memberi hormat ala militer kepada sang ayah, membuat pria itu tersenyum sambil mengacak pucuk kepala putranya.
Setelah anak-anak pergi bermain, Darrel kemudian berdiri di sisi motornya "Semoga ada yang beli," gumamnya sambil menatap orang-orang yang sedang berolahraga di taman.
Darrel menarik napas dalam-dalam dan mulai menawarkan kopinya kepada orang-orang yang lewat.
"Kopi, Pak, Bu? Murah meriah," katanya dengan ramah.
Awalnya, tidak ada yang tertarik. Beberapa orang bahkan hanya melirik ke arah Darrel dan motor roda tiganya. Ada yang tersenyum, tetapi ada juga yang hanya lewat begitu saja sambil menggelengkan kepala. Darrel mulai merasa cemas.
"Jangan menyerah, Darrel," bisiknya pada diri sendiri. "Yakinlah, kamu pasti bisa!"
Darrel terus menawarkan kopinya kepada orang-orang yang lewat. Dia sudah melepaskan egonya, semenjak memutuskan untuk berjualan kopi. Tekadnya hanya satu memberikan penghidupan yang layak untuk anak-anaknya meskipun dengan cara yang sederhana.
Sampai akhirnya, seorang bapak tua berhenti di depan motornya.
"Kopi apa saja, Mas?" tanya bapak itu.
"Ada kopi hitam, kopi susu, kopi mocca, Pak," jawab Darrel dengan ramah.
"Kopi hitam satu ya, nggak pakai gula," pesan bapak itu.
Darrel tersenyum lebar. "Siap, Pak!" serunya.
Dengan cekatan Darrel membuatkan kopi hitam untuk si bapak itu. Dia membuka satu sachet kopi hitam dan memasukkannya ke dalam gelas plastik lalu menuangkannya air panas ke dalam gelas tersebut, kemudian mengaduknya hingga rata.
"Ini kopinya, Pak," kata Darrel sambil memberikan gelas kopi kepada bapak itu.
Bapak itu menyeruput kopinya perlahan-lahan. "Wah, enak juga kopinya," ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pak," jawab Darrel dengan bangga.
Bapak itu membayar kopinya lalu duduk di bangku taman sambil menikmati kopinya.
"Alhamdulillah... penglaris," ujar Darrel dengan senyum mengembang.
Dirinya merasa senang karena ada orang yang mau membeli kopinya. Harapan mulai tumbuh dan ia berharap ini menjadi awal yang baik.