NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBELAS

Di kota baru ini, Mikhasa tidak menyewa apartemen. Ia memilih tinggal di sebuah kontrakan sederhana berlantai tiga, keputusan yang ia ambil demi menekan pengeluaran, setidaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan baru.

Hari-harinya diisi dengan melamar dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Namun kota ini berbeda. Lebih banyak pabrik daripada gedung perkantoran.

“Apa aku kerja di office pabrik aja ya?” gumamnya suatu sore. “Yang penting kerja. Dapat duit.”

Dua minggu berlalu, tidak ada panggilan. Tiga minggu dan sampai satu bulan.

Sore ini, Mikhasa duduk di trotoar, menyesap es teh jumbo yang mulai hambar.

“Susah banget nyari kerja,” keluhnya pelan.

Padahal ia pernah bekerja di Luminary Dataworks, perusahaan bergengsi di bidang data dan teknologi, nama besar yang seharusnya membuka banyak pintu. Nilai akademisnya pun bagus. Riwayat kerjanya bersih. Namun kenyataan menamparnya tanpa ampun.

Hingga hari ini, Mikhasa masih berstatus pengangguran. Sebenarnya bukan karena ia tidak layak. Hanya saja, di kota ini, banyak perusahaan masih bermain dengan sistem yang tidak adil.

Lowongan kerja sering kali sudah memiliki nama bahkan sebelum diumumkan. Orang dalam lebih berharga daripada kemampuan. Dan Mikhasa... tidak memiliki siapa pun.

Waktu terus berjalan. Matahari terbit, tenggelam, lalu terbit lagi. Hampir tiga bulan berlalu dan tak satu pun tawaran datang.

Siang menuju sore, Mikhasa duduk di bangku taman di bawah pohon rindang, dia baru saja keliling mencari lowongan kerja. Hampir tiga bulan yang melelahkan.

"Ternyata lebih lelah mencari kerja daripada lelah setelah pulang kerja." Gumamnya. Menyesap teh manis jumbo yang kebanyakan es batu tapi segar.

“Huff… lama-lama tabunganku bisa habis.” Ia menyesap es teh lagi.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya. Terlalu mencolok untuk sekadar lewat. Pintu terbuka, dan seorang pria berjas hitam rapi turun dengan sikap formal.

“Selamat sore, Nona Mikhasa.”

Jantung Mikhasa langsung berdegup kencang. Ia berdiri refleks, matanya waspada. Bagaimana pria berjas hitam ini tahu namanya?

“S-sore, Pak,” jawabnya hati-hati.

Pria itu membungkuk sopan. “Nyonya Besar Mercier ingin bertemu dengan Anda. Silakan ikut saya.”

Ucapan itu membuat Mikhasa terpaku. “Nyonya… Mercier?” ulangnya pelan.

“Benar, Nona.”

“Untuk apa?” suara Mikhasa meninggi tanpa sadar. “Saya tidak pernah mengusik keluarga Mercier.”

“Saya tidak diberi penjelasan, Nona,” jawab pria itu tenang. “Saya hanya diminta menjemput Anda.”

Kecemasan merambat cepat di dada Mikhasa. Nama Mercier bukan nama sembarangan. Terlalu besar. Terlalu berkuasa. Otaknya dipenuhi kemungkinan terburuk, penculikan, ancaman, atau sesuatu yang lebih mengerikan.

Ia menelan ludah, lalu memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar, “Kalau… kalau saya menolak?”

Pria berjas hitam itu tersenyum tipis, bukan senyum yang ramah, tapi lebih mirip dengan ancaman.

“Penolakan tidak dilarang, Nona,” ucapnya sopan. “Namun Nyonya Besar Mercier jarang meminta dua kali," lanjutnya.

Kalimat itu jatuh seperti beban di pundak Mikhasa. Jika dia menolak, apakah dia akan dihabisi? Tapi untuk apa Nyonya besar Mercier ingin bertemu dengannya?

“Tenang saja,” lanjut pria itu. “Nyonya besar tidak bermaksud jahat. Justru beliau ingin bicara baik-baik dengan anda.”

Ragu-ragu Mikha bertanya, "Nyonya besar Mercier yang anda maksud apakah Ibu dari Axel Mercier?"

Pria itu mengangguk, "benar Nona."

Mikha menghela nafas dalam. "Baik saya bersedia bertemu dengan beliau."

Pria berjas mengangguk sekali lagi menyetujui keputusan Mikha. Dia segera membukakan pintu untuk Mikhasa. "Silahkan, Nona."

Mobil melaju tenang. Mikha menatap jalanan dengan diam tapi pikirannya berisik. Membayangkan Nyonya besar yang elegan dan cantik meletakkan cek bertuliskan nominal yang fantastis. Lalu memintanya untuk menjauhi Axel.

Mikhasa tersenyum lebar membayangkan itu. Dengan senang hati ia akan menerima tawaran itu. Dapat uang cuma-cuma, siapa yang nolak?

Mobil terus melaju melewati deretan rumah-rumah elit. Mikhasa yang tadinya cemas, kini malah senyam-senyum sendiri sambil membayangkan adegan dramatis ala short drama.

“Bayangkan kalau ceknya ada nol sampai sepuluh. Waduh, aku bisa langsung pensiun muda. Beli rumah, beli mobil, tiap pagi tinggal rebahan sambil nonton drama china yang ceritanya hampir sama. Hahaha, terima kasih Nyonya Mercier.”

Mikhasa sampai ngakak kecil sendiri. Sopir yang duduk di depan melirik lewat kaca spion, sementara pria berjas hitam tetap duduk tegap seolah tidak terganggu.

“Ehem,” Mikha buru-buru merapikan wajahnya yang penuh senyum. “Sial, jangan ketahuan kalau aku berharap disogok. Tetaplah cool, Mikha. Tetap cool.”

Tak lama, mobil melewati gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis. Sebuah mansion megah berdiri menjulang dengan taman luas dan air mancur yang berkilau diterpa sinar sore.

Mikhasa terperangah. “Wahhh, ni rumah apa istana?” bisiknya pelan, nyaris tak percaya.

Begitu mobil berhenti, pintu langsung dibukakan. Mikhasa melangkah keluar dengan hati-hati, jantungnya berpacu.

Ia dibawa masuk melewati lorong panjang berhiaskan lampu kristal yang berkilau. Aroma wangi mawar samar tercium, membuat suasana semakin megah sekaligus menegangkan. Hingga akhirnya, pintu ganda yang tinggi itu terbuka, menyingkap sebuah ruangan luas dengan dekorasi mewah.

Di tengahnya, seorang wanita anggun duduk tenang di kursi berukir emas. Wajahnya teduh namun berwibawa, dialah Nyonya besar Mercier.

Mikhasa menegakkan tubuh, lalu menunduk dalam-dalam.

"Selamat sore, Nyonya besar Mercier. Saya Mikhasa memberi salam kepada Anda. Semoga Nyonya besar panjang umur," ucapnya gugup, mencoba menirukan adegan dalam drama kerajaan Korea yang pernah ia tonton.

Nyonya besar terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut. Ada gurat kehangatan sekaligus sedikit rasa geli pada caranya menyapa.

"Silakan duduk, Nona Mikhasa," ucapnya lembut.

Mikhasa segera duduk dengan sopan, menegakkan punggungnya. Tangannya saling meremas di atas pangkuan, berusaha terlihat tenang meski keringat dingin membasahi telapak.

Tak lama, Nyonya besar mengulurkan tangan. Jemarinya yang ramping memegang selembar kertas. Dan benar saja, sebuah cek dengan nominal yang begitu besar kini terbentang di hadapan Mikhasa.

“Nyonya besar… saya menerima ini dengan senang hati. Saya berjanji akan meninggalkan ibu kota dan tidak tinggal di kota-kota dekat sini. Saya janji, saya akan pergi ke pelosok desa,” ucap Mikhasa terburu-buru, seolah ingin segera menuntaskan kesepakatan yang belum diminta. “Saya janji tidak akan menampakkan diri saya di hadapan Tuan Muda Axel.”

Nyonya besar mengerutkan kening, lalu terkekeh pelan. Senyumnya bukan marah, melainkan seperti seseorang yang baru mendengar kesalahpahaman yang menggelikan.

“Kenapa kamu berpikir kalau aku memintamu untuk menjauhi Axel?” tanyanya lembut.

Mikhasa terdiam. Kata-kata itu membuatnya goyah. “Jika bukan untuk menjauhi Tuan Muda, lalu untuk apa, Nyonya?” suaranya kecil, penuh kebingungan.

Nyonya besar menarik napas dalam-dalam, lalu menggeser cek itu ke samping. Tangannya yang terawat rapi mengeluarkan sebuah foto dari map tipis, kemudian meletakkannya di hadapan Mikhasa.

“Lihatlah.”

Pelan, Mikha menunduk. Pandangannya tertumbuk pada foto seorang gadis muda yang cantik, anggun, dengan senyum lembut yang terasa hidup. Ada sesuatu di wajah gadis itu yang membuat Mikhasa tercekat, seolah ia pernah melihatnya, entah di mana. Atau ia seperti tengah memperhatikan dirinya sendiri di cermin.

“Namanya Liora,” ucap Nyonya besar tenang.

Mikhasa mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari foto itu. “Dia… siapa?”

“Dia adalah kekasih Axel. Kini sudah tenang di surga.” Suara Nyonya besar mendadak berat.

Mikhasa langsung mengangkat kepalanya, terkejut. “Kekasih Tuan Muda Axel?”

Nyonya besar mengangguk perlahan. Kemudian menjelaskan. “Mereka mengalami kecelakaan tiga tahun yang lalu. Malam itu Axel kehilangan kendali, mobilnya terpelanting. Liora meninggal di tempat.” Suaranya makin pelan, namun tajam menusuk.

Nafas Mikhasa tertahan. Kata-kata itu menghantam dadanya. Ia merasa ada yang menusuk di ulu hatinya, jantungnya berdenyut nyeri. Tiba-tiba, rasa hangat yang tadi ia rasakan berubah jadi dingin menusuk.

“Sejak kejadian itu…” Nyonya besar menatap jauh, ke arah jendela besar yang memandangi kebun mawar. “Axel selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia pernah beberapa kali berniat mengakhiri hidupnya. Dia depresi. Kesehatannya memburuk.”

Suasana ruangan mendadak berat. Mikhasa membatu, menatap foto Liora yang kini terasa seperti potongan sejarah yang mengikat Axel dengan erat.

“Dan karena kecelakaan itu…” Nyonya besar menahan napas sebelum melanjutkan. “Dokter mengatakan jika mungkin…” Nyonya besar berhenti, menarik napas dalam, menatap Mikhasa dengan mata lembut namun tegas.

“Mikhasa... Karena kecelakaan itu, Axel mengalami cedera pada jantungnya. Benturan keras membuat otot jantungnya terluka, dan beberapa katup juga terganggu."

Mikhasa terdiam. Mengigit bibir dengan rasa sesak dalam dada yang tiba-tiba menyeruak.

"Belakangan, ia terlihat semangat. Dia juga rajin ke dokter tanpa dipaksa. Kupikir itu setelah dia bertemu denganmu, Nona Mikhasa." Ucap Nyonya besar Mercier. "Karena kamu memiliki wajah yang mirip dengan Liora."

Mikhasa kembali menunduk, menatap wajah dalam foto itu.

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!